Keduanya terkesiap saat Vira menjadikan mereka pembantu di kediaman yang akan beralih menjadi miliknya.
"Sherly, sekarang cuci semua piring kotor di dapur!"
"Dan kamu, Mas. Silahkan bersihkan semua rumah ini. Kamu tahu kan jika perbuatanmu ada undang-undangnya. Perselingkuhan itu ada undang -undangnya loh!" Irfan marah namun tak bisa mengungkapkannya karena semua sudah berada dalam kendali Vira. Vira tahu jika Irfan begitu marah padanya. Bahkan tidak bisa membalas perintah Vira.
"Apa-apaan ini, Vira? Aku tak mungkin mengerjakan yang kau perintahkan!"
"Kenapa tidak? Kamu bisa menghianati pernikahan kita kenapa aku tidak bisa bertindak sesukaku?" Vira begitu tenang membalas ucapan Irfan.
"Mas Irfan, aku tidak mau cuci piring!" Sherly merengek pada Irfan. Irfan sendiri tak ada pilihan lain selain menuruti perintah Vira.
"Pergi atau kerjakan semua tugas rumah!" Satu kata yang membuat Irfan dan Sherly tak bisa berkata.
"Mas, apa kamu tidak punya aset yang lain? Aku tidak mau serumah dengan wanita gila itu!"
"Semua aset termasuk kepemilikan dua ruko sudah aku alihkan. Semua sebagai hukuman atas penghianatan yang Mas Irfan lakukan!" Sherly dan Irfan bahkan hanya bisa menelan ludah mendengar kenyataan pahit yang mereka alami.
"Lakukan perintahku atau pergi!" Keduanya terpaksa melakukan perintah Vira.
Vira menyesap teh hangat sembari melihat keduanya bekerja sama membersihkan rumah. Vira sengaja tidak membersihkan rumah dari kemarin untuk menyiapkan kejutan untuk mereka berdua.
Ting
[Pengalihan aset atas namamu sudah beres] pesan dari Arif. Tentu saja membuat Vira tersenyum puas karena saat ini suaminya tak lagi mendapatkan apapun.
[Terimakasih, Arif] kini apa yang direncanakan Vira sudah tercapai, yaitu membuat Irfan dan Sherly tersiksa.
"Aku belum puas dengan semuanya, Mas. Masih banyak lagi kejutan untukmu dan istri barumu," gumam Vira dalam hati saat menyaksikan suami dan madunya sedang melaksanakan tugas yang dia sampaikan.
"Mbak, aku lapar!" Tanpa tahu malu, Sherly masuk ke rumah dan meminta makan kepada Vira.
"Terus?"
"Ya Mbak siapin lah!" Vira hanya tersenyum simpul mendengar ucapan Sherly.
"Kamu istri kedua yang tak pernah kuharapkan, statusmu tak lebih dari seorang pembantu. Kamu tahu kan jika Mas Irfan akan diturunkan jabatannya jika terbukti melakukan poligami?" Wajah Sherly berubah merah mendengar ucapan Vira. Saat ini status Sherly masih menjadi istri siri, bukan istri sesuai status negara.
"Hissh, akan kuadukan pada Mas Irfan" Sherly menjauhi Vira sembari menghentak - hentakkan kakinya seperti anak kecil. Vira tersenyum simpul ketika melihat Sherly seperti sedang mengadu kepada Irfan. Bagi Vira, mengadupun percuma karena semua berada dalam kendalinya.
Sherly begitu serius ketika mengadu perihal sikap Vira padanya. Vira menunggu Irfan menegurnya seperti yang diadukan Sherly padanya. Vira sudah mempersiapkan kejutan jika saja Irfan mengadu kepada keluarga besarnya
"Vira, tolong dong siapkan makan untuk kami berdua. Kami sudah menuruti kemauan kamu!" Irfan terdengar memelas kepada Vira, namun Vira tak mudah iba kepada dua orang yang telah menyakitinya.
"Maaf Mas, ini sudah menjadi kewajiban kalian. Semua sudah berada dalam kendaliku, surat perjanjian bermaterai juga sudah kuserahkan kepada pengacaraku. Jadi tak ada lagi yang bisa merubah semuanya," Vira tersenyum puas melihat wajah kedua orang yang ada di depannya menjadi pias.
Irfan tak habis pikir jika Vira kini bukan Vira yang dulu. Vira yang selalu diam ketika dia menuntutnya menjadi istri yang baik dan pendiam. Vira yang selalu dihina oleh keluarga besar suaminya karena Vira bekerja sebagai staff biasa di kantor Irfan bekerja.
"Vira, Mas akan bersikap adil pada kalian berdua!" Irfan tetap memohon supaya Vira mau menerimanya dan Sherly menjadi bagian dari kelurag kecilnya.
"Sekali penghianat tetap penghianat, aku tak sudi harus kembali bersamamu, Mas! Sekalipun kamu memintaku rujuk usai menceraikanku," Vira beranjak meninggalkan mereka berdua.
"Vira!" Irfan berusaha mengejar Vira namun ditahan oleh Sherly.
Sherly tau jika Vira kini menjadi ancaman baginya, bahkan tidak menutup kemungkinan Irfan bisa kembali pada Vira dan mengabaikannya.
"Mas, biarin dia pergi, sekarang aku istri kamu juga! Ceraikan dia," Sherly merajuk ketika tatapan Irfan tetap tertuju pada Vira.
"Akan Mas pikirkan, siapkan aku makan, Sherly. Aku lapar!" Irfan duduk di kursi sambil memijit pelipisnya.
Keinginan Irfan memiliki istri cantik seperti Sherly dan membuat Vira menjadi pembantu yang akan melayaninya kini berbalik kepadanya. Semua kacau ketika Vira ternyata lebih cerdas dari yang dia bayangkan.
"Kenapa harus aku!" Sherly terpaksa menyiapkan makan siang untuk Irfan dan dirinya. Tak banyak yang bisa dilakukan Sherly termasuk menyiapkan makanan.
"Kamu masak apa, Sherly? Gosong begini," Irfan mendapati telur mata sapi yang bagian pinggirnya menghitam.
"Sudahlah, Mas. Dimakan aja, syukur - syukur aku bisa masak buat kamu!"
Sikap Sherly berubah ketika kini dia harus menyiapkan makanan untuk Irfan. Semula Sherly membayangkan akan menjadi ratu yang akan dilayani oleh Vira, namun semua tak sesuai yang diharapkan Sherly. Ditambah lagi Irfan tidak punya apa - apa karena semua sudah jatuh ke tangan Vira.
"Vira, mau kemana?" Irfan melihat Vira berpakaian rapi dengan tas jinjing miliknya.
"Mau makan di luar, Mas. Kenapa?" Kedua mata Sherly membulat sempurna ketika melihat Vira akan makan di luar, sedangkan dirinya dan Irfan makan dengan telur gosong.
"Mana kunci mobil?" Vira menengadahkan tangannya kepada Irfan. Mau tidak mau Irfan menyerahkan kunci mobilnya daripada berita pernikahan keduanya terbongkar dan pekerjaannya terancam.
Vira mengendarai mobil milik Irfan menuju ke restoran yang cukup terkenal. Disana sudah ada Lisa, Kakak kandung dari Irfan namun beda Ayah. Sikap Lisa berbeda dengan Irfan serta Ibunya, terlebih lagi keluarga besar Irfan saat ini.
"Bagaimana?" Lisa menunggu kabar dari Vira mengenai sikap Irfan dan istri barunya saat ini.
"Semua bisa kukendalikan," sahut Vira sembari menyesap teh yang dipesan Lisa untuknya.
"Kamu harus memberi pelajaran kepada mereka berdua, Vira. Kakak mendukung penuh!" Lisa memberi dukungan penuh kepada adik iparnya.
"Siap, Kak!"
Mereka berdua sibuk bercengkerama di sela-sela makan siang. Lisa kurang suka dengan sikap keluarga Ibunya yang selalu mengukur kesuksesan seseorang dengan materi. Hal itu yang membuat Lisa tak menyukai, bahkan lebih suka hidup mandiri daripada harus mengandalkan ayah sambungnya.
"Hai Vira, Hai Sayang!" Farhan datang menemui istrinya dan adik iparnya.
"Hai Kak Farhan."
"Bagaimana dengan Irfan?"
"Ya gitu deh, Sayang. Sekarang Vira sedang mengerjai mereka berdua," sahut Lisa disertai tertawa ketika mengetahui cara Vira mengerjai adik dan adik ipar barunya.
"Kalau ada kesulitan, kamu bisa laporan sama Kak Lisa, Vira," sahut Farhan.
"Vir, nih buat kamu. Kamu jangan kalah cantik dengan si ulat bulu itu!" Lisa memberikan satu set skincare kepada Vira.
"Buat dirimu cantik dan buat Irfan menyesal, setelah itu tinggalkan! Biar menyesal sudah membuang berlian dan mendapatkan batu kali!" Lisa terlihat begitu gemas sekali dengan adiknya itu.
Lisa bahkan tidak hadir dalam pernikahan Irfan dengan Sherly karena dirinya selalu dijauhi oleh keluarga besar Ayah sambungnya. Lisa tahu jika menikahi Sherly bukanlah pilihan yang baik. Lisa pernah bekerja satu tempat dengan Sherly, wanita yang sering bergonta ganti pasangan.
"Siap, Kak!" Vira memasukkan skincare ke dalam tas jinjingnya.
Usai makan Vira kembali pulang dan bersiap mengerjai suami dan istri keduanya. Vira terkejut melihat mereka berdua bermesraan di halaman belakang. Mereka berdua tak tahu jika Vira sudah datang.
Byur
Vira pura-pura tak melihat keberadaan mereka berdua. Mereka basah kuyup ketika Vira membuang air satu ember melalui balkon. Vira tertawa puas melihat mereka berdua seperti kucing kena air
"Rasain," gumam Vira sembari terkekeh melihat mereka berdua gagal bercinta di halaman belakang.