Vira gegas masuk ke kamarnya mengganti baju dan membersihkan diri usai keluar menemui Kakak iparnya. Vira begitu tenang ketika dirinya mendapat dukungan penuh dari Kakak iparnya.
Vira keluar kamar dan melihat Sherly sedang menuangkan minyak goreng di bawah tangga. Vira tertawa kecil memergoki Sherly sore-sore begini ingin mengerjainya. Vira kembali ke kamar dan merencanakan sesuatu untuk mengerjai balik Sherly.
Vira kembali mengintip dan memastikan jika Sherly sudah tidak berada di lokasi yang tadi.
"Mbak Vira, aku sudah siapin makan nih. Yuk makan bareng!" Sherly dengan sikap lemah lembutnya memanggil Vira, namun dirinya tidak naik ke lantai dua melainkan tetap di bawah tangga.
Vira terkekeh melihat Sherly menunggu dirinya termakan jebakan yang dibuatnya. Vira tidak kehabisan akal dan mengerjai balik pada Sherly.
"Sherly, kecoak!" Seketika Sherly melangkah ke arah tangga.
Dugh
"Aduh!"
Tubuh Sherly ambruk ke lantai ketika terpeleset minyak goreng yang dia tuangkan untuk mengerjai Vira.
"Mas, tolongin!" Sherly kesakitan, kepalanya kebentur di dinding dan kakinya keseleo.
"Syukurin!" Vira tertawa puas telah mengerjai balik Sherly.
Irfan segera membopong tubuh Sherly ke kamar sebelah. Sherly sedari tadi merengek dan menangis karena merasa kesakitan di bagian kakinya.
"Mas Irfan, keluar dong!" Vira memanggil Irfan layaknya pembantu di rumah ini.
"Ada apa sih, Vira?"
"Tuh, bersihin bekas minyak goreng yang dituangkan istri tercintamu untuk mengerjaiku."
Dengan terpaksa Irfan membersihkan minyak goreng yang dituangkan Sherly. Baru saja membersihkan, Sherly kembali memanggil Irfan.
"Bersihin dulu, bisa bahaya itu, Mas!" Entah kenapa, Irfan begitu takut pada Vira sehingga mengabaikan panggilan Sherly sedari tadi merengek di kamarnya.
Meski ada rasa puas, tetap saja hati seorang istri akan terasa sakit ketika melihat suaminya satu kamar dengan wanita lain.
"Lima tahun aku mengabdikan diriku padamu, namun begitu mudahnya kamu menduakan aku, Mas!" Vira memukul dadanya yang terasa sesak mengingat kehancuran rumah tangganya yang dia bina selama lima tahun.
Semalaman Vira bahkan tak bisa tidur, membayangkan suaminya sedang b******u mesra dengan wanita kedua. Vira beranjak dari tempat tidurnya dan memasukkan semua isi lemari suaminya ke dalam koper.
Keesokan harinya Vira meletakkan koper milik suaminya di ruang tamu dan menunggu kemunculan suaminya saat ini. Yang diharapkan datang juga, Irfan dan Sherly ke ruang tamu dan mendapati koper besar teronggok disana.
"Kenapa dengan koperku, Vira?" Irfan tak menyadari jika dirinya akan segera diusir olehnya.
"Ini uang untuk kalian berdua dan silahkan pergi cari kontrakan. Sebentar lagi pemiliknya akan datang!" Vira sengaja membohongi mereka berdua dengan menjual rumah ini. Wajah Sherly terlihat begitu murka dengan keputusan Vira.
"Kenapa kita yang pergi, harusnya kamu dong, Mbak!"
"Mau aku laporkan ke polisi atau pergi?" Seketika Sherly diam dan Irfan tak bisa berkata apapun lagi. Vira berhak atas semuanya ketika dia melakukan kesalahan yang cukup fatal.
"Baiklah, aku akan pergi, Vira!" Irfan mengambil koper dan membawanya pergi. Vira masih punya hati ketika Irfan pergi membawa mobil yang seharusnya menjadi miliknya. Vira menatap lekat punggung suaminya yang kini mulai menghilang di balik pintu mobil berwarna hitam.
"Kenapa sesakit ini, Mas?" Vira kembali bersedih, tak ada lagi orang yang menjadi pendampingnya saat ini.
Tak berapa lama, Lisa dan Farhan datang ke kediaman Vira. Lisa turun dan menyeret dua koper miliknya.
"Hai Vira," seperti biasa, Lisa dan Vira akan bercipika cipiki jika bertemu. Farhan akan tugas keluar kota beberapa minggu dan Lisa memutuskan menginap di kediaman Vira.
"Mereka kemana?"
"Sudah pergi, Kak!"
"Kalian ini Kakak beradik ternyata kompak mengerjai Irfan!" Bahkan Farhan salut dengan kekompakan istri dan adik iparnya.
Usai mengantar istrinya menginap di kediaman Vira, gegas Vira melanjutkan perjalanan Dinasnya. Kini Vira dan Lisa asik bercengkerama sambil menjalankan rencana jika orang tua Irfan datang ke kediamannya.
Drrtt
Vira menatap layar ponselnya, begitu juga dengan Lisa. Wajahnya muram ketika mertua Vira menghubungi Vira, Lisa menekan tombol loundspeaker untuk mengetahui apa yang dibicarakan Ibunya.
"Halo, Ibu!" Vira menerima panggilan dari mertuanya. Jantung berdegub kencang ketika Ibu mertua menghubunginya. Lisa bahkan ikut menguping pembicaraan Ibu dan adik iparnya.
"Lancang sekali kamu!" Suara terdengar seperti bentakan hingga membuat Lisa mengucek telinganya.
"Kenceng amat," Lisa gemas sekali mendengar bentakan Ibunya.
"Lancang kenapa, Bu?" Vira tetap melunak saat berbicara pada Ibu mertuanya.
"Alaa, dasar orang miskin! Sengaja kau menjebak anakku untuk memberikan semua asetnya padamu, bukan?" Vira dan Lisa tak menyangka jika Irfan akan mengadu pada ibunya.
"Maaf, Bu. Saya tidak pernah menjebaknya, perjanjian dibuat dengan sadar dan setujui kedua belah pihak, jadi tidak ada kata menjebak disini, Bu!" Vira tetap berusaha sabar dengan hinaan Ibu mertuanya.
"Cepat kembalikan rumah itu, karena akan ditempati oleh Irfan dan Sherly!" Lisa gemas sekali dengan sikap ibunya yang selalu silau akan harta. Orang tua Sherly adalah seorang pejabat di daerahnya sehingga Dewi, mertua Vira lebih suka menikahkan Sherly dengan Irfan.
"Jadi Ibu tahu tentang perselingkuhan Mas Irfan?"
"Ibu sengaja menjodohkannya, bukankah itu bagus?" Dewi bahkan mengabaikan perasaan seorang wanita yang dihianati suaminya.
"Asal kamu tahu, Sherly itu cinta sama Irfan sejak sekolah. Irfan saja yang matanya juling gak bisa membedakan mana mutiara mana batu kerikil!" Ucapan Dewi benar-benar menguji kemarahan Vira. Lisa mengusap bahu Vira supaya tidak lepas kendali.
"Sekarang mau Ibu dan Irfan apa?"
"Saya ingin kalian bercerai dan kamu pergi dari sini!" Vira mulai bisa mengendalikan emosinya namun Lisa yang mondar mandir sembari mengepalkan tangannya seakan ingin menonjok seseorang.
"Sabar, sabar!" Kini giliran Vira berdiri dan menghampiri Lisa untuk meredakan emosinya hingga Lisa kembali duduk dan mendengarkan ucapan Ibunya sendiri.
"Kalau soal bercerai saya sangat senang hati, namun untuk mengambalikan aset ini, Vira tidak bisa. Perjanjian tetaplah perjanjiankan, Bu?" Lisa mengacungkan jempolnya kepada Vira, Lisa mengakui keberanian Vira kepada Ibu mertuanya.
"Dasar benalu, batu kerikil jelek!" Umpatan - umpatan diucapkan kepada Vira.
"Kita lihat, siapa yang benalu dan siapa batu kerikil, Bu!" Sambungan telepon diputus sepihak oleh Dewi karena keberanian Vira.
Selama ini Dewi mengira menantunya adalah wanita penurut sehingga Dewi dengan mudah meminta jatah lebih besar dibanding Vira.
"Tos!" Lisa dan Vira beradu telapak tangan karena bisa melawan Dewi tanpa meluapkan rasa emosi.
"Sungguh dia benar-benar Ibu yang aneh!" Lisa heran dengan sikap ibunya.
"Dia Ibu Kak Lisa juga!"
"Andai bisa ditukar maka akan aku tukar tambah, Vira. Kapan tobatnya coba, sejak ayah masih hidup tetap saja kelakuannya tidak bisa berubah!"
"Sabar, sabar! Vira pasti bisa kok menghadapinya.
"Pasti besok atau lusa Ibu akan datang, kita siapkan kejutan untuk Ibu suri, Vira." Lisa sudah bisa memastikan jika Ibunya tidak akan menerima hal ini, terlebih lagi dengan keputusan surat perjanjian yang menyebabkan Irfan bangkrut.