Bab 5. Kedatangan Orang tua Sherly

1145 Words
Lisa sibuk mondar mandir memikirkan kedatangan Ibunya yang tak akan lama lagi. Vira hanya tersenyum melihat sikap Kakak iparnya yang sedari tadi menahan amarah karena sikap ibu kandungnya. "Kenapa mondar-mandir tidak jelas begitu, Kak. Kayak setrikaan rusak, tau gak?" "Bukannya begitu, aku yakin pasti besok Ibu suri akan memberikan kata mutiara yang menyakitkan padamu. Aku tidak bisa diam jika Ibuku memperlakukanmu seperti itu!" Lisa kembali mondar mandir karena belum menemukan ide sama sekali. "Tenang saja, Vira bisa menghadapi Ibu mertua besok, Kak"! Lisa kembali tenang meski ada perasaan mengganjal dalam hatinya. Dirinya takut jika Vira akan tertekan dengan perkataan Dewi. "Kak, aku lapar!" "Kakak pesenin ya, mumpung ada diskon tujuh puluh persen!" Lisa segera memesan makanan melalui aplikasi hijau. Tak lama pesanan mereka datang, dan segera menyantapnya. Mereka sedang menikmati makan pagi yang telat sembari bercanda. Tiba-tiba deru mobil memasuki halaman rumah, Vira dan Lisa lantas menghentikan aktifitas makan dan mengintip di balik jendela. "Kayaknya itu orang tuanya Sherly, deh!" Lisa berbisik ke telinga Vira. "Kak, Vira ada rencana!" Vira membisikkan rencananya ke telinga Lisa. Lisa hanya mengangguk sembari tersenyum mendengar rencana yang Vira bisikkan padanya. Gegas Vira membuka pintu untuk berpura-pura menyambut tamu yang tidak dia kenal. Harun dan Linda dengan sikap arogannya turun dari mobil. "Pagi, Bu. Ada yang bisa saya bantu?" Vira berpura-pura baik menyambut kedatangan kedua orang tua Sherly. "Oh, jadi kamu yang merebut paksa semua aset Irfan?" Linda menatap penampilan Vira dari atas ke bawah tak lupa kedua tangannya berkacak pinggang ditambah tatapan yang menyeringai. "Kamu orang miskin, tak pantas bersanding dengan Irfan. Harusnya kamu mengalah dan menceraikan Irfan dong!" Lisa gemas sekali mendengar ucapan orang tua Sherly yang notabene adalah seorang pejabat dan tidak pantas mengatakan hal itu kepada Vira. "Heh Vira, lihat dong wajahmu mirip pembantu yang belum mandi," Linda bahkan mendorong bahu Vira, namun Vira tetap diam dan membiarkan Linda bersikap semaunya karena Lisa sedang merekam aksi mereka berdua. "Kok tahu jika saya belum mandi?" Sahut Vira sambil nyengir kuda. Lisa menepuk jidat mendengar pengakuan Vira. "Dasar jorok!" Bukannya malu, Vira lagi-lagi hanya nyengir kuda di depan Linda. "Saya tidak mau tahu, kamu sebagai istri pertama harus merelakan semua yang kamu miliki termasuk suamimu jatuh ke tangan Sherly!" Vira tetap diam dan membiarkan semuanya terjadi di depannya. Sedangkan Lisa masih sibuk mengambil video kedua orang tua Sherly. "Tapi, Pak.. "Saya tidak mau tahu, kamu istri pertama harus mengalah!" Kedua orang tua akhirnya pergi meninggalkan kediaman Vira sembari menendang pot bunga hingga pecah. Usai mobil yang dikendarai kedua orang tua Sherly pergi, Lisa segera keluar dari tempat persembunyiannya. Lisa menunjukkan hasil rekamannya kepada Vira. "Lihat, deh!" "Kak Lisa emang top!" Vira bahkan mengacungkan jari jempolnya kepada Lisa karena hasil rekaman sesuai dengan ekspektasinya. "Kita akan gunakan ini untuk mengancam siapapun yang mengganggumu, Vira!" Lisa dan Vira dulunya adalah kakak tingkat saat sekolah dan tergabung dalam ekstra teater sehingga mereka akan selalu kompak saat bertemu. Untuk menjaga keamanan, Lisa mengirim file rekamannya kepada Farhan dan juga Vira. Lisa juga meminta Vira menyimpan rekaman itu di laptop. "Pasti mereka mengira kamu takut dengan ancaman mereka!" Tak berapa lama sebuah sedan hitam parkir di halaman rumah Vira. Vira dan Lisa gegas memeriksa tamu yang datang melalui jendela. "Om Hamzah." Wajah Vira berubah cerah ketika salah satu pamannya datang berkunjung ke rumahnya. "Siapa dia?" "Adik dari almarhum ayahku, Kak!" Vira dan Lisa gegas membuka pintu dan menyambut pamannya yang datang mengunjunginya. "Om Hamzah!" Vira mencium punggung telapak tangan Hamzah begitu juga dengan Lisa. "Vira, bagaimana kabarmu?" "Alhamdulillah, masuk dulu, Om!" Hamzah masuk ke kediaman Vira. Lisa menyuguhkan teh dan biskuit untuk Vira dan pamannya. "Kak, disini aja kali. Temenin Vira," terpaksa Lisa kembali duduk di samping Vira. Hamzah mengeluarkan beberapa dokumen dan menyerahkannya kepada Vira. Vira dan Lisa bahkan saling pandang karena terkejut tiba-tiba Hamzah memberikan dokumen padanya. "Apa ini, Om?" "Itu aset milik Ayahmu, Om sengaja menjalankannya tanpa sepengetahuanmu, Vira. Sekarang saatnya kamu yang mengurusnya." Vira membuka dokumen itu dan berisi dua puluh empat outlite makanan siap saji milik almarhum ayahnya yang dikelola Hamzah. "Tapi, Om. "Vira harus belajar, Om akan mengajari Vira cara mengatur dua puluh empat outlet ini." "Baiklah, Vira akan menurut!" "Calon jutawan nih!" Celetuk Lisa yang menambah suasana canggung menjadi ramai kembali. "Om juga tahu jika keadaan pernikahanmu sedang tidak sehat." Lisa dan Vira semakin terkejut mendengar ucapan Hamzah yang mengetahui soal pernikahannya. Lisa tidak enak hati kepada Hamzah atas perlakuan saudara dan Ibunya kepada Vira. "Sebelumnya saya sebagai Kakaknya Irfan meminta maaf karena perbuatan Irfan membuat Vira seperti ini, Om!" "Jangan begitu, Lisa. Om sudah tahu semuanya termasuk kamu, tidak sulit bagi Om untuk mencari informasi mengenai kalian semua." Lisa kembali bernafas lega setelah Hamzah memberikan keterangan pada mereka berdua. Lisa mengeluarkan ponselnya dan menunjukkannya kepada Hamzah. "Om tahu orang ini kan?" Hamzah meraih ponsel Lisa dan mengamatinya. "Si lintah darat!" Gumam Hamzah tanpa ada rasa terkejut sedikitpun. "Lintah darat?" Vira dan Lisa bahkan serempak bicara karena terkejut. "Iya, dia lintah darat. Dia akan memanfaatkan siapa saja demi keuntungan mereka!" Kini Lisa dan Vira semakin yakin jika keluarga besar Irfan dimanfaatkan oleh orang tua Sherly bahkan sampai rela menjadikan anaknya istri kedua. Hamzah menceritakan semua latar belakang keluarha Sherly dan meminta Vira dan juga Lisa untuk berhati-hati kepada kedua orang tua Sherly. "Akan Om kirim ke nomor ponsel sebagai bukti jika mereka mengancam kalian berdua!" Lisa dan Vira bagai mendapat perlindungan setelah menunjukkan video rekaman kepada Hamzah. Hamzah adalah sosok pengacara sekaligus merangkap menjalankan bisnis milik mendiang kakaknya. "Oh ya, Vira. Mulai besok kamu harus datang kerumah Om, Tante Nirmala sangat merindukanmu sambil belajar mengatut bisnismu bersama Tantemu. Ajak juga kakakkmu jika kamu tidak berani sendirian!" "Baik, Om!" "Om pamit dulu, apapun yang dilakukan suamimu atau keluarga Sherly jangan sampai bertindak gegabah. Jika saatnya sudah tiba, Om akan membantumu!" Hamzah kemudian pergi meninggalkan kediaman Vira. Lisa dan Vira sibuk memeriksa kepemilikan Vira. Terdapat beberapa lembar cek berisi rarusan juta serta buku tabungan yang nilainya hampir ratusan miliar. "Kamu tajir sekarang, Vir. Hebat kamu!" "Kak Lisa bisa aja, aku baru tahu kalau ayah punya aset sebanyak ini!" Vira gegas menyimpan semua dokumen miliknya ke lemari yang ada di kamarnya. * Harun dan Linda begitu senang setelah mengancam Vira supaya mengalah pada Sherly selaku istri kedua Irfan. "Kita beruntung mendapatkan besan juragan tanah yang nantinya bisa kita gunakan untuk mencalonkan menjadi pejabat lagi!" Linda tersenyum bahagia dengan rencananya. "Mama dari mana?" Sherly melihat kedua orang tuanya sudah pulang dari kepentingannya. Sherly tidak tahu jika kedua orang tuanya pergi ke kediaman Vira untuk memberikan penekanan padanya. "Sherly, sebentar lagi kamu akan menjadi istri satu-satunya dan si miskin itu sebentar lagi akan menjadi gembel. Semua aset milik Irfan yang jatuh ke tangan istri pertamanya akan jatuh kepadamu!" Sherly tersenyum puas karena sebentar lagi akan menjadi istri satu-satunya dan akan menguasai aset Irfan. Sherly sangat mencintai Irfan karena Irfan adalah karena ketampanan yang di miliki Irfan yang membuat Sherly jatuh cinta.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD