“APA YANG membuat kau sangat suka duduk di sini sebenarnya?” tanya aku suatu hari saat lagi – lagi, aku menghampiri dia yang sedang duduk di bawah pohon yang rindah tersebut. Langit hari ini tidak terlalu biru. Tapi juga tidak kelam. Hanya ada di tengah memberikan keindahan yang tiada tara. Antariksa seperti tahu kalau hati Angelo itu bukan hati yang cerah dan sebagainya, bukan juga hati yang mendung dan suram. In between, begitu kira – kira. Kalau memberi deskripsi perkara Angelo Bronze memang tidak akan pernah bisa. Dia bagaikan sebuah anomali yang tidak bisa dijelaskan dengan benar. Pada dasarnya, sosok Angelo Bronze itu memang sebuah misteri.
Berkali – kali aku mencoba menatap pohon ini dalam angle yang berbeda – beda. Mulai dari atas, samping, bawah. Aku mencoba melihat dari posisi yang berbeda, mulai dari berdiri tegak, meringkuk, jongkok, bahkan dari bawah saat aku sedang tiduran di rumput yang tebal. Pohon itu tetap terlihat seperti pohon biasa tanpa ada sisi istimewanya. Jadi, aku selalu bingun kenapa Angelo selalu memilih untuk duduk di sini ketimbang di kursi taman dan kursi lain yang sudah disediakan oleh pihak sekolah bagi murid yang ingin ada di taman ini. Aku menelan protes yang sudah akan keluar saat Angelo masih tidak menjawab.
Seberapa lama juga sih aku harus selalu menunggu sampai dia bisa menajwab pertanyaan dari aku?
Dengan kesal, aku ikut duduk juga akhirnya di samping pria itu. Walau aku juga masih bertanya – tanya, kenapa dia sangat suka di sini, tapi aku juga tidak bisa memungkiri kalau aku mulai merasa nyaman di sini. Pohon ini memberikan banyak angin dan kenyamanan. Aku melirik Angelo yang diam. Pria itu tidak memberikan tanda akan menjawab pertanyaan aku dalam waktu dekat. Aku sandarkan kepala aku tepat di sebelahnya, satu – satunya waktu di mana tinggi kita bisa similar dan sama. Aku menoleh ke sebelah. “Sedang tidak fokus lagi?”
Angelo tidak sedang melakukan hal secara berulang. Dia tidak sedang memutar pulpen, memainkan bola basket, atau sekedar menggigit kukunya hingga rusak dan berdarah. Dia juga tidak sedang memejamkan mata dan menengadah ke atas seperti meminta jawaban dari langit. Angelo mengumbang pelan. “Hmh . . .”
Aku berdecak. “Apa aku harus selalu menunggu sampai kau bisa menjawab pertanyaan dari aku?”
“Apa yang ingin kau tahu?” tanya dia pelan. Aku bersungut. Sekarang dia bahkan tidak mendegar inkuiri dari aku sama sekali?
Aku membenarkan posisi duduk agar lebih tegak. “Aku tanya, kenapa kau sangat suka di sini?” ulang aku dengan frustasi.
Damon mengangguk kecil. “Ah,” dia berpikir sejenak. “Entah.”
“Jawaban macam apa itu?” protes aku keras. Aku berputar dan menghadap ke arahnya. “Apa kau tidak tahu kenapa kau suka duduk di sini?”
“Rasanya nyaman,” kata dia. “Dan aku selalu menemukan hal menyenangkan di sini.”
Aku mengerutkan alis. Di sini hanya ada rumput dan ilalang besar. Hanya ada anak – anak yang lewat dari gedung sekolah ke kafetaria. Hanya ada pohon lain dan hiasan sekolah. Aku mendengus. “Hal menyenangkan apa yang bisa kau temukan di sini?” tanya aku lagi. Jika dia pikir dia bisa memberikan aku alasan palsu, maka dia salah.
Damon hanya tersenyum tipis sekali sembari menatap aku. “Banyak sekali.”
Aku mendengus lagi. “Kalau tidak mau menjawab bilang saja.”
“Loh, kenapa?”
“Di sini tidak ada hal yang menyenangkan, Angelo.” Aku berdiri dengan kesal sembari menghentakkan kaki.
Angelo menggurat garis harsa lagi sembari menutup mata dan menyandarkan kepalanya di pohon. “Salah. Di sini ada banyak hal yang aku suka.”
***
HANTAMAN di pintu yang menggema keras kemudian diikuti oleh jeritan nyaring dari Ibu membuat aku segera menutup telepon setelah memberitahu segalanya pada Angelo.
“Muse? Muse! Muse ada apa? Apa yang terjadi? Apa kau terluka?”
Aku menarik napas panjang, berpikir sejenak, kemudian mengangguk, setuju kalau Ibu ada benarnya. Lagi pula, jika aku menghubungi polisi, itu berarti aku harus menjelaskan kenapa ada laki – laki hilang akal yang mau mendobrak masuk ke dalam rumah.
Dan itu berarti aku harus membeberkan rahasia Angelo Bronze dan saudara – saudaranya. Aku harus menceritakan segalanya dari awal, dan selain karena aku sudah berjanji kalau aku tidak akan bilang pada siapa – siapa perihal kasus ini, aku juga masih dilema sebab aku tidak ingin melihat Angelo ditangkap pihak yang berwajib.
Aku tahu itu terdengar gila, tapi apa yang bisa aku lakukan?
“Muse!” suara vokal Angelo membawa aku kembali ke realita.
“Ada seseorang yang ingin memaksa masuk ke rumah,” ujarku dengan napas memburu. “Laki – laki. Dia menggunakan masker hitam dan—“
Angelo menyumpah kasar. “Di mana kau?”
“Di rumah—“
“—aku belum jauh!” dia berteriak dari sambungan di seberang sana. “Cobalah untuk bertahan. Kunci semua pintu dan jendela—“
“—aku tahu, Angie.” Kali ini aku yang memotong dia. “Just . . . come here. Please.”
“I will be there.” Angelo mendesis. “I will be there so please, hang on.”
Aku mengangguk sembari menjawab, “Aku mohon cepat.”
Lalu teriakan Ibu meresonasi ke seluruh ruangan. Aku segera menutup telepon, tidak peduli dengan apa yang Angelo masih coba katakan. Ketika aku sampai di pintu depan, kubiarkan mataku membulat besar tatkala benak menafsirkan premis kalau laki – laki itu sedang mencoba untuk mendobrak pintu.
“Kita sudah menghubungi pihak yang berwajib!” Ibu mengancam. “Kau harus segera pergi sebelum mereka datang!”
Satu detik, dua detik, tiga detik berlalu. Aku pikir laki – laki itu akan memakan buaian tersebut, tapi dia kembali mencoba mendobrak masuk. Aku dan Ibu seketika mundur.
“Kami tidak bohong!” Ibu berteriak lagi. “Kau akan—“
Laki – laki itu mengerang dan menderap. Kami berdua berteriak kencang ketika pintu rumah kami bergetar hebat, dan kayu – kayu berserakan. Ada lubang kecil di bagian tengah pintu, kayu pintu rumah kami berserakan di mana – mana.
“Kau sudah gila?” Ibu menjerit. Aku ingin mengatakan padanya kalau tidak ada gunanya bertanya begitu pada orang asing yang sedang mencoba melukai kita, tapi aku tetap diam.
Lalu, untuk menambah horor yang sudah menyelimuti tubuh, kami melihat laki – laki itu terdiam dari lubang kecil yang muncul di pintu. Dan satu detik kemudian, dia berjalan ke sampign. Aku tahu rencananya sebelum aku melihatnya benar – benar melakukan itu.
Laki – laki menghantam kaca jendela rumah kami hingga hancur berkeping – keping dalam satu kali pukulan. Aku membeku, begitu juga Ibu. Salah satu tangannya sudah dililit oleh jaket hitam yang dia kenakan. Laki – laki itu menghancurkan kaca – kaca lain yang masih utuh, memberikan dia akses untuk melompat masuk.
Begitu dia sudah merasa cukup, dengan cepat dan mudah dia naik ke atas jendela dan mencoba masuk ke dalam rumah.
Saat itu aku menarik Ibu, saraf motorik bekerja maksimum.
Wanita setengah baya itu tertatih, berusaha mengikuti manuver tubuhku yang panik dan penuh adrenalin. Kami berdua naik menelusuri tangga rumah, langkah kaki kami menderap tatkala sedang berlari untuk menyelematkan hidup. Samar aku mendengar suara sepatu boot menginjak serpihan kaca, dan tidak berapa lama kemudian, suara langkah kaki yang berlari mengejar di belakang kami terdengar keras.
Aku memacu langkah, tidak membiarkan kepala untuk menoleh ke belakang dan melihat teror yang sedang mengejar kami.
Ibu terengah, berusaha menyamakan langkah kaki denganku. Tapi aku bisa merasakan kalau wanita itu sudah berada di ujung kekuatannya.
Aku menatap pintu kamarku yang masih terbuka lebar. Ketika aku sudah meraih kenop itu, napas terbuang panjang. Aku menarik Ibu masuk ke dalam kamar, lalu bergerak untuk menutup pintu. Mataku melebar ketika melihat laki – laki itu tidak jauh berada di depan kami. Dia mengerang, dan aku membanting tutup pintu sekeras mungkin. Aku menguncinya, mendorong duvet milikku ke depan pintu sebagai partisi untuk menjaga kami dari monster di luar.
Aku mendengar dia mendesis dan memukul pintu keras.
“Kau tahu dia siapa?” tanya Ibu dengan napas terengah – engah, dadanya naik dan turun tidak karuan.
“Mana aku tahu?” aku membalas seperti Ibu baru saja mengatakan hal yang tidak masuk akal. “Aku . . . aku mungkin pernah melihatnya.”
“Pernah melihatnya?”
“Beberapa hari yang lalu, aku melihat mobil di seberang rumah kita. Laki – laki itu sedang duduk di kursi pengemudi, memandang ke arah sini, menggunakan pakaian yang sama.” Jelasku panjang. Aku tidak mengatakan hal yang terjadi dengan pengantar pizza.
“Dan kau tidak mengatakan ini padaku?” Ibu terlihat merah dan marah.
Aku mengedikkan bahu. “Tidak semua orang yang mengenakan pakaian serba hitam adalah orang jahat. Lagi pula, aku pikir aku hanya paranoid saja. Aku tidak bisa membiarkan kasus ini mengganggu hidupku terus – menerus!”
Ibu terdiam. Baru saja dia akan membuka mulut, suara dobrakan seperti di pintu depan tadi terdengar. Aku mundur dan menghalangi tubuh Ibu di belakang aku.
“Kau . . . kau sudah tamat! Aku menghubungi Angelo Bronze!” teriakku keras dan lantang, berharap dia mendengar dan percaya hal itu.
Hening. Tidak ada lagi suara dobrakan dan semacamnya.
“Dia masih dekat, dan dia akan segera ke sini.” Lanjutku karena merasa hal ini berhasil. Aku tidak tahu harus merasa apa melihat laki – laki itu ragu setelah aku menyebut nama Angelo. “Jika kau ingin selamat, aku sarankan kau pergi sekarang.”
Tidak ada jawaban, tapi aku merasa suasana di luar menjadi hening, seperti tidak ada makhluk hidup sama sekali. Segalanya begitu senyap hingga aku pikir jika ada yang menjatuhkan koin, suara itu akan menggema ke seluruh ruangan.
Aku mengambil satu langkah maju ke depan. Ibu menarik lenganku keras. “Muse!” dia mendesis di belakangku, menahan aku di tempat.
“Tenang, aku hanya ingin memeriksa—“
“Tidak!” Ibu memotong.
“Tapi bagaimana kita akan tahu jika dia sudah pergi atau belum?” tanyaku kesal.
“Kita tunggu saja di sini.” Ibu bersikeras.
Tapi aku bukan aku jika tidak keras kepala. Aku melepas jari – jari ibu di lenganku dan berkata selembut mungkin, “Aku tahu.”
“Lantas?”
“Aku hanya ingin melihat—“
“Tidak. Jangan bodoh, Muse. Kau diam di sini.” Dan itu nada yang final lagi. Tidak ada ruang untuk argumen. Itu nada bicara ibu yang mengatakan aku harus patuh atau aku akan dikutuk menjadi batu.
Jadi aku diam. Diam dan diam dan diam . . .
Waktu yang mungkin hanya beberapa menit saja itu terasa seperti berjam – jam, interval paling lama di hidupku. Kami berdua berdiri di tengah kamarku, menatap pintu yang di barikade dengan duvet.
Setelah beberapa menit berlalu, hening itu akhirnya terpecahkan. Kami mendengar suara langkah kaki yang frantik, lalu kenop pintu kamarku di naik – turunkan oleh seseorang.
Ibu berteriak, diikuti aku yang menjerit.
“Muse! Muse, ini aku!” vokal Angelo bisa aku kenali di mana saja. Jika aku tersesat di tengah banyak orang, dan Angelo memanggil aku entah dari mana, aku bisa memastikan kalau itu adalah suara miliknya.
Vokal itu akan selamanya tertanam di dalam benak.
“Muse!” dia mendobrak pintu.
Aku segera maju dan memindahkan duvet. “Aku di sini!” balasku agar dia tahu kalau aku dan Ibu baik – baik saja.
Kubuka kunci pintu dan membiarkan Angelo membukanya. Dia terlihat panik. Wajahnya memerah, tangan dikepalkan di sisi tubuh. Sorot matanya belingsatan dari ujung kepala hingga ujung kaki aku, mencari tanda – tanda jika aku terluka. Begitu juga saat melihat Ibu. Begitu dia yakin kalau kami memang benar – benar tidak terluka dan baik – baik saja, Angelo membuang napas panjang.
Dia maju dan mengulurkan tangannya padaku. Entah kenapa aku menerimanya, dan Angelo secara otomatis menarik aku ke dalam pelukannya.
Tubuhku berkhianat. Aku meluluh di dalam dekapan itu. Kepalaku menemukan pijakan di dadaya. Dan aku bisa merasakan dagu Aneglo mendarat di pucuk kepala.
“I was so worried . . .” Dia berbisik pelan. “Aku pikir—God, aku bisa gila.”
“Aku baik – baik saja,” jawabku pelan. Aku tidak tahu mengapa, tapi mendengar suaranya yang bergetar dan penuh panik meninggalkan rasa pahit di lidah. Jadi aku ingin memastikan padanya kalau aku tidak terluka sama sekali, dan dia bisa berhenti merasa seperti itu.
“Ketika kau menghubungi aku—aku pikir—“ Angelo menarik napas. “Aku sangat lega kau baik – baik saja.”
“Aku juga,” balasku singkat.
Selama beberapa saat kami terdiam dalam posisi itu, sebelum Ibu berdeham keras.
Aku melepas Angelo seperti baru saja disengat oleh ribuan lebah sadis. “Eomma . . .”
“Kau bisa menjelaskan apa yang baru saja terjadi?” tanya Ibu dengan nada bicara ibu beruang khas – nya. Aku meringis di dalam hati.
“Aku—“
“Jangan mencoba untuk berbohong dan mencari alasan. Kita berdua tahu penyerang tadi ada hubungannya denganmu.” Ibu menunjuk Angelo penuh sangsi.
Dia menunduk, melumat bibirnya seperti berpikir keras. “Jujur? Aku tidak tahu dia siapa.”
“Tebak.”
“Terlalu banyak,” Angelo menelan ludah, memberanikan diri untuk menatap kami. “Terlalu banyak musuh hingga aku tidak bisa menebak siapa yang mengirim orang itu.”
Aku tidak bisa berkomentar apa – apa.
Ibu menggeram. “What did you get my daughter into?”
“Hidupku.” Angelo menyeka wajahnya. “Aku membiarkan dia masuk ke dalam hidupku.”
“Keluarkan dia!”
Angelo menggeleng. “Ada alasan kenapa Muse ada di dalam daftar No Harm milikku.”
Aku menunggu dia melanjutkan. Wajahnya terlihat murung, sedih, cemas dan menyesal. Tapi beberapa detik berlalu, namun laki – laki itu masih belum menbuka mulutnya.
Dengan vokal yang lirih, aku bertanya, “Kenapa?”
“Karena ketika dia masuk ke dalam hidupku, dia masuk dalam daftar Harm List orang – orang yang ingin melukai aku.”
Ibu menarik napas, terkesiap. Aku membeku.
“Muse adalah target untuk menjatuhkan aku.”