PART 25

2587 Words
“SUDAH aku bilang, ‘kan?” Ibu menggerutu. “Tapi kau tidak pernah mau mendengar aku.” Wanita itu berjalan dengan dua tangan berkacak – pinggang, nada bicaranya tinggi—mengomel bak ibu tiri jahat, kening mengerut, dan sorot mata sudah siap membakar hidup – hidup siapa pun yang berani adu argumen dengannya. Aku ingat dulu ibu tidak begitu benci pada Angelo. Setidaknya, aku pikir begitu. Aku ingat dulu Angelo pernah datang ke rumah aku, denagn niat mengantar aku pulang dan ibu menyambut dia dengan baik. Mungkin, semua wanita setengah baya akan menyambut Angelo dengan baik mengingat pria itu adalah orang yang sangat tampan dan gagah. Mungkin semua ibu akan menerima Angelo dengan baik, secara pria itu terlihat seperti calon menantu yang baik dan punya masa depan yang cerah. Aku sendiri juga tidak akan memungkiri kalau memang beanr Angelo itu terlihat sangat mirip dengan semua idaman para lelaki di dunia. Yang artinya, Angelo sangat tampan. Siapa juga yang bisa memungkiri itu? Toh, aku sendiri sudah tahu dan sudah merasakan seberapa banyak orang yang merasa hal yang sama. Nyaris semua gadis di sekolah bisa merasakan sentimen yang sama dengan aku. Nyaris semua gadis di sekolah itu merasa kalau Angelo adalah malaikat yang dikirim untuk menyesatkan semua jiwa di bumi. Pada dasarnya, aku sendiri sudah mendengar banyak pengakuan dari para gadis itu kalau mereka suka dan kagum pada sosok Angelo. Mereka menganggap karena aku dekat dengan pria itu, aku bisa menjadi jembatan dan batu lompatan bagi mereka agar bisa dekat dengan Angelo. Intinya, Sarah Low bukan gadis terakhir yang menjadi korban kekejaman Angelo Bronze. “Memilih – milih teman itu penting,” Ibu berkontinyu. “Tidak peduli jika kau akan dicap tukang pilih teman, atau sombong, atau lebih parahnya—rasis.” Ibu menggeleng kesal dan turun tangga. Aku mengikutinya dari belakang, menahan untuk tidak memutar dua bola mata dan menghembuskan napas panjang. Wanita ini akan selalu membuat segala sesuatu menjadi ajang memberikan nasihat dan omelan tiada ujung, seperti rel kereta api tanpa destinasi tentu. Kali ini ajang dramatiknya adalah nasihat dia dulu sekali tentang bagaimana caranya memilih teman yang benar. Aku ingat dulu sekali, ketika aku akan masuk sekolah menengah pertama. Dia membuat aku duduk di depannya dan menatapku serius. “Dengar, Muse.” Ibu melipat dua tangannya di depan d**a. “Jangan pedulikan apa yang orang katakan. Tapi memilih teman itu sesungguhnya penting. Jika kau salah pergaulan, maka hidupmu akan selamanya terkoneksi dengan mereka. Jika kau memilih pergaulan yang bernar, maka percayalah kau akan punya sesuatu yang bermanfaat dari pertemanan itu.” Tentu saja aku tidak mendengarkan apa yang Ibu katakan. Karena setelah mengetahui seberapa besar masalah yang sering menghampiri Angelo dan gosip yang menerpa hidupnya—dan belakangan aku tahu kalau mereka terlalu dilebih – lebihkan serta tidak benar—seharusnya aku menjauhi laki – laki itu. Angelo jelas masuk dalam kategori salah pergaulan seperti yang Ibu katakan. Aku tidak menjawab apa yang dia katakan sampai kita tiba di bawah. Bisa aku rasakan presensi Angelo di belakangku, mengobservasi dalam diam dan aura yang mencekam laiknya hantu gentayangan. Aku tidak menggubris dia juga. “Well . . . apa kau akan mengatakan sesuatu?” Apa yang akan aku katakan? Kalau aku memang sudah salah pergaulan dan berteman dengan Angelo? Di depan orangnya langsung? Aku mengedikkan bahu. “Kita tidak bisa kembali ke masa lalu dan memutar waktu.” Tidak ada yang menjawab setelah itu. “Siapa yang akan membereskan semua ini?” Ibu bertanya tak secara spesifik pada siapa – siapa. Aku melihat jendela yang sudah pecah berantakan, membuat angin masuk menerpa epidermis. Keningku menyatu tatkala pintu yang copot memasuki visual. “Er . . . apa yang terjadi dengan pintunya?” Ibu terkesiap, terlalu terlambat. “Apa yang terjadi dengan pintuku?” vokal Ibu terdengar seperti dia baru saja dikhianati oleh pasangan jiwanya. “Er . . . aku rasa itu salahku.” Angelo maju beberapa langkah sembari mengangkat tangan. Aku mengerang. Ibu melotot tajam. “Aku bisa memperbaikinya,” ujarnya cepat. “In fact . . . aku bisa mengatur segalanya, memperbaiki kerusakan dan—yah—semacamnya.” Angelo berdeham, canggung ketika sorot tajam mata Ibu masih terarah padanya. “Bagus.” Hanya itu yang terlepas dari bibirnya. Tentu saja Ibu bilang bagus. Orang lain mungkin akan repot – repot mengatakan “Oh, tidak perlu. We got this” atau “Tidak masalah, kita bisa mengatasi ini” tapi Ibu tidak akan melewatkan sesuatu yang gratis. Lagi pula, ini memang ada sangkut – pautnya dengan Angelo. Jadi dia harus tanggung jawab. “Sementara itu, kalian bisa tinggal di hotel,” kata Angelo ragu. Ibu tidak menjawab. Begitu juga aku. “Ini sudah mulai larut, dan aku rasa memperbaiki jendela ini tidak akan bisa selesai dalam waktu beberapa jam saja. Lebih baik jika kalian menginap di sebuah hotel, atau semacamnya.” Or something . . . wow, Angelo benar – benar canggung di depan Ibu. “Setidaknya dengan begitu, kalian juga akan tersembunyi untuk beberapa hari. Stay low, just in case, laki – laki tadi datang lagi. Atau orang lain.” “Aku tidak akan lari dari rumahku sendiri,” Ibu menyahut. Nada bicaranya rendah. Aku mundur satu langkah, menunduk. Melihat aku—yang anak gadisnya sekali pun—mundur satu langkah, Angelo secara otomatis mengikuti manuver itu, menyelamatkan dirinya dari amarah yang siap keluar. “Aku buka menyuruh kalian untuk lari.” Angelo meneruskan. “Hanya saja, kalian tidak mungkin tinggal di sini untuk sementara waktu, ‘kan? Jendelanya rusak. Begitu juga pintunya—“ “Dan salah siapa itu?” Ibu memotong Angelo. Aku menahan lidah. Sejujurnya, aku tahu dia juga ikut andil dalam kasus ini. Tapi bukannya Angelo juga mau atau sengaja membuat aku dan Ibu celaka. Terlebih aku. Sudah berkali – kali dia mengatakan kalau dia tidak ingin melihat aku terluka. Aku tidak bisa menahan untuk merasa kalau Ibu sedikit tidak adil di sini. Tapi siapa aku untuk protes? Wanita yang sudah siap meledak itu menunjuk jari telunjuknya pada Angelo. “Karena kau.” Dan itu cukup membuatku kehabisan kesabara. “Eomma . . .” “Don’t Eomma me!” dia mengalihkan pandangannya padaku. Sekilas, posisi ini terlihat lucu sebab dua orang dewasa—dan salah satunya terlibat dalam kasus kriminal besar—sedang dimarahi oleh wanita setengah baya yang bisa kami lumpuhkan kapan saja. Tapi ini tidak lucu. Nowhere near funny, mengingat nyawa aku dan Ibu baru saja di ambang bahaya. Aku tidak berkata apa – apa lagi. “Apa aku salah? Ini secara teknis adalah salahnya.” Ibu melanjutkan. Sungguh, aku sudah pernah bilang kan kalau ibu itu bukan wanita yang suka kekerasan? Tapi dalam waktu singkat, dan dalam waktu yang dekat, aku berkali – kali melihat tatapan ibu yang tajam dan membunuh. Dan semua itu tentu saja dia arahkan pada Angelo, si pria yang tidak diundang ini. Dia mengalihkan pandangan dari ibu yang jelas – jelas sedang mencoba membuat pria itu terintimidasi. Mungkin ibu adalah satu – satunya orang yang tdak peduli kalau Angelo itu bukan tandingan yang sepadan dengan wanita setengah baya yang mungil seperti dia. Aku sendiri kagum melihat ibu yang tidak gentar di depan Angelo yang masif dan tinggi. “Aku tidak pernah berniat membuat Muse dalam bahaya.” Aku mendengar kalimat itu dan menahan diri agar tidak meringis. Tidak ingin aku ada dalam bahaya? Apa dia lupa kalau dia sudah mengunci aku dan mengurung aku di kamat tidurnya sendiri? Apa dia sudah lupa kalau dia membuat aku seperti tahanan di dalam rumahnya sendiri? Apa dia sudah lupa kalau dia sudah menyuruh dua adiknya sendiri untuk menjaga aku agar aku tidak kabur? Oh, tidak. Apa dia sudah lupa kalau dulu sekali dia sudah meninggalkan aku sendiri ketika aku membutuhkan dia? Ketika aku butuh yang namanya pelukan dan dekapan hangat dari Angelo Bronze? Apa dia lupa dulu saat dia menghilang dan membuat aku kehilangan? Dia yang bahaya. Dirinya sendiri adalah bahaya untuk diri aku sendiri. “Kalau kau tidak pernah berniat seperti itu, maka Muse tidak akan pernah menjadi temanmu dari awal!” “Oh, itu tidak adil—“ “Apa yang tidak adil?” Ibu memotong aku. “Pertemanan itu mutual! Dia tidak memaksa aku atau memanipulasi aku untuk berteman dengannya. Itu tulus!” Entah kenapa aku membela laki – laki yang sudah menahan aku berhari – hari di dalam kamarnya itu, tapi aku merasa kalau aku harus menjastifikasi fakta kalau pertemanan aku dan Angelo dulu memang tulus. Jika tidak, aku tidak paham seberapa kecewanya aku. “Aku tidak peduli!” Ibu mengibaskan tangan. “Intinya, semua ini terjadi karena dia,” ditunjuknya Angelo. “Sekarang kita harus terlibat dengan sesuatu yang terasa ilegal.” Penyesalan terbesit di sorot mata Angelo. Aku segera mengambil alih. “Kita harus mendengarkan dia.” “Jadi kau sekarnag memebelanya?” tanya Ibu penuh sangsi. “Bukan begitu,” jawabku. “Aku hanya berpikir kalau alasan dia ada benarnya. Dengan menginap di hotel selama beberapa hari, we can stay low and maybe stay safe.” “I will keep you safe.” Angelo menambahkan. “All of you.” Pada dasarnya, Angelo itu memang selalu memenuhi janjinya. Walau dulu sekali dia sudah mematahkan satu janji yang dia katakan padaku dalam jangka waktu satu hari saja, aku yakin kalau Angelo adalah orang yang selalu memegang kata - katanya. Dia memang tidak mungkin akan membiarkan aku terluka. Entah kenapa aku masih percaya pada hal itu. Setelah apa yang dia lakukan padaku, bukankah sudah seharusnya aku merasa ragu pada pria ini? Ibu tidak memedulikan perkataannya. “Anggap saja ini akan menjadi sebuah vakansi,” ujarku lagi. “Sudah lama kau tidak liburan, ‘kan?” Dia menggigit bibir. Aku tahu gestur itu. Paham betul apa yang sedang dia pikirkan. Ibu sedang menimbang opsi kami. Opsi yang memang terdengar gila, tapi apa lagi yang bisa kami lakukan? Aku harap Angelo akan membayar semua pengeluarannya. Beberapa detik kemudian, Ibu menggeram kesal. Dia menatap kami satu per satu, lalu berjalan melewati kami seperti anak kecil sedang jengkel. “Kau harus membayar semua pengeluarannya!” Ibu berteriak keras tanpa peduli. Hey, jika sudah menyangkut masalah uang, kau tidak bisa menjadi orang yang lembut dan membiarkan hal itu begitu saja. Ibu adalah orang yang sangat teliti. I knew it. Like mother like daughter. Aku mengikutinya ke kamar. *** “Ada masalah apa dia?” tanyaku tanpa memedulikan jika orang lain bisa mendengar aku atau tidak. “Apa aku melakukan kesalahan? Aku tidak ingat jika aku melakukan sesuatu. Apa aku membuatnya ilfeel? Apa aku bau badan?” aku terkesiap. “Oh my God . . . apa aku waktu itu terlihat begitu buruk rupa sehingga dia tidak mau lagi berteman denganku?” Ekspresiku mungkin berlebihan sebab satu detik kemudian Esme melempar pulpennya padaku. Aku menangkis dan menangkap pulpen merah itu. “Jangan dramatis,” dia menggerutu. “Apa yang kau lakukan di sini? Kau tidak pulang?” Aku menendang meja kerja Esme. “Aku kesal!” “Aku bukan tempatmu menuangkan kekesalan, Muse.” “Aku tidak punya teman lain,” kataku keras. “Aku tidak peduli,” Esme berkata datar. “Esme! Aku serius,” rengekku putus asa. “Dia sudah mendiamkan aku lebih dari dua hari. Rasanya seperti kita tidak pernah berteman sebelumnya. Seperti apa yang terjadi beberapa minggu belakangan hanya halusinasi aku saja.” Aku terkesiap lagi. “Apa jangan – jangan aku selama ini hanya berhalusinasi?” Esme mengerang kesal. “Kau dan kata – katamu yang selalu hiperbola. Dan perasaanmu yang selalu melebih – lebihkan situasi. Mungkin dia sedang sibuk, sedang tidak mood atau semacamnya, sedang ada masalah—“ “Masalah apa yang bisa membuatnya tidak bicara padaku selama lebih dari dua hari?” Esme melotot karena aku sudah memotongnya. “Semua orang punya masalah sendiri – sendiri, Muse.” “Tapi ini tidak adil.” “Kau pikir semua hal di dunia ini tidak adil,” katanya dengan mata diputar. “Apa aku salah?” “Well . . . tidak juga.” Aku menghempaskan tubuh di kursi kerja Esme yang nyaman. Teman kerjanya sudah pulang lebih dulu, seorang laki – laki bernama Kang Guri atau semacamnya. Aku tidak ingat namanya. Lagi pula dia terlihat tidak ramah, dan hanya beberapa kali menyapa aku dengan kepala yang menunduk. “Ini menyiksaku,” kataku keras. Baiklah, aku memang hiperbola. Dan melebih – lebihkan. Tapi memang benar, ini menyiksa. Setelah mengantar aku pulang beberapa hari yang lalu, dan basah kuyup pula karena hujan, Angelo bersikap seperti aku ini tidak ada di dunia. Tidak pernah bertemu dengannya. Tidak pernah menghabiskan waktu beberapa minggu bersama di pojok atas perpustakaan mengerjakan tugas kelompok. Begitu peresentasi selesai, dia menjadi Angelo yang pertama aku temui. Dingin, datar, dan tidak berbicara sama sekali. Aku pikir aku melakukan sesuatu yang salah, tapi apa? Segalanya berjalan lancar waktu itu. Ibu memperlakukan dia dengan baik. Bahkan Angelo beberapa kali tertawa. Dia bilang dia suka masakan Ibu. Dia suka interior rumahnya yang hangat. Dia suka segalanya. Aku pikir setelah itu kita akan menjadi sahabat selamanya. Tapi seperti ada yang memutar balikkan situasi setelah dia pulang. Mendadak dia menjauh, bersikap seperti aku ini bukan siapa – siapa. Apa salah aku beprikir kalau ada sesuatu yang terjadi padanya? “Jika kau begitu penasaran, kau bisa tanya langsung pada orangnya,” kata Esme dari sampingku. “Mana bisa? Setiap kali melihatku dari jarak jauh, dia selalu lari dan berputar.” Esme mendorong daguku agar menghadap pintu depan. “Itu dia targetmu.” Aku membulatkan netra. Angelo melihatku di meja Esme. Dia berputar arah dan keluar dari perpustakaan. “Sudah kubilang!” aku mendesis kesal. “Kejar dia bodoh.” Aku menepuk kening dan berdiri dari kursi kerja Esme. Samar aku mendengarnya berteriak, “Go get him, girl!” Masih aku lihat figur Angelo yang berjalan di koridor yang membawa murid - murid dari gedung sekolah ke gedung perpustakaan. Aku mempercepat langkah, dan jika aku tidak salah, Angelo juga meningkatkan kecepatannya berjalan. “Angelo!” aku berteriak. “Angie!” Dia tidak menggubris aku. Dan tentu saja aku menjadi tambah nekat. Aku sekarang berlari, dan tidak lama, aku menyamai langkah dengannya. Aku hentikan dia dengan berdiri di depan laki – laki itu. “Apa masalahmu?” tanyaku. “Apa?” “Ada masalah apa?” ulangku lagi, semakin frustasi. “Aku tidak tahu apa yang kau bicarakan,” jawabnya sembari mencoba melewati aku. Aku menghalanginya. “Katakan padaku kenapa kau tidak mengabaikan aku?” “Aku ada urusan, Muse.” Dia mengatupkan rahang. “Oh,” aku mengangguk. “Apa urusanmu ada hubungannya dengan menghindari aku?” Dia menari napas panjang dan memijat keningnya. Bagus. Dia sama frustasinya. Aku tidak akan membiarkan diriku sendiri yang memikirkan hal ini. Dia juga harus merasakan hal yang sama. Setidaknya aku membuat dia banyak pikiran. “Apa?” tantangku. “Apa yang kau mau, Muse?” “Aku hanya ingin kita berteman!” seruku jujur. “Aku tidak tahu apa yang terjadi padamu. Apa aku berbuat salah?” “No!” Angelo membalas cepat. “Kau tidak berbuat salah sama sekali.” “Lantas, apa yang terjadi?” “Aku hanya . . .” Dia tidak menerusakannya. “Angelo, apa sesulit itu bagimu untuk berteman denganku?” dia tidak menjawab. Aku membuang napas. “Baiklah.” Aku berjalan meninggalkannya. Tapi tidak lama, lenganku ditarik. Aku terkesiap ketika tubuhku berputar dan menatap sorot mata yang tajam. “Maafkan aku.” Katanya pelan. Aku mengangguk. “Friends?” Angelo mengelus pipiku. “Friends.” Itu tidak buruk, kan?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD