AKU DAN ANGELO mungkin adalah sepasang teman paling eksentrik yang pernah ada di muka bumi ini. Jangan bilang aku berlebihan. Tapi siapa yang tidak akan melihat pertemanan antara dua orang yang saling jauh berbeda sekali dunianya? Satu orang adalah pria yang misterius, penuh banyak dengan rahasia yang tidak diketahui siapa pun, dan dingin. Dia datar dan punya reputasi buruk di sekolah. Dia juga tidak suka bicara, membuat banyak orang tak tahu apa pun tentan dia. Dia terlihat mengerikan, dan bisa menghabisi siapa pun. Angelo Bronze itu seperti atraksi tersendiri bagi sekolah ini, dan aku tidak bisa memungkiri hal itu. Angelo memang selalu menarik perhatian orang.
Lantas, apa yang dia lakukan bersama aku yang sederhana ini? Gadis yang selalu duduk paling belakang di sekolahnya. Gadis yang memilih untuk menunduk setiap kali ada guru yang berusaha agar muridnya berinteraksi. Gadis yang memilih untuk tidak berbicara sama sekali jika ditanya oleh guru. Gadis yang sedikit tidak ramah sebab dia tidak pandai basa – basi. Gadis tidak populer yang tidak punya banyak teman, dan hanya selalu ingin pulang agar bisa menonton film thriller kesukaan dia. Gadis yang tidak tahu apa bedanya sangat baik hati dan bodoh. Garis yang tidak pernah bisa dia lihat di hidupnya.
Mereka terdengar seperti dua pasang yang jauh sekali dari ekspetasi orang banyak, kan? Ya, tentu saja. Mungkin akan lebih baik lagi jika Angelo bergaul dengan orang yang lebih populer, seperti misalnya gadis yang banyak disukai orang, dan gadis yang punya banyak teman. Gadis yang punya nilai akademis bagus, atau gadis yang atletis. Atau gadis yang bergabung dalam pemandu sorak di sekolah. Gadis yang punya banyak koneksi, dan gadis yang periang serta ramah. Bukan berrsama aku yang hanya membawa dia tambah murung. Harusnya, itu lebih baik dari pada aku yang tidak spesial sama sekali.
Setidaknya, begitulah menurut aku. Dan aku yakin, semua orang juga pasti berpikir hal yang sama.
“Aku takut untuk bertanya apa yang sedang kau pikirkan,” kata Angelo sembari bersungut. Dia menarik hidungnya keras seperti sedang tersumbat. Pria itu menengadah lagi ke atas, menatap langit yang hari ini biru dan cerah sekali. “Tapi, apa yang sedang kau pikirkan?”
“Kau tahu itu pertama kalinya kau bertanya hal padaku? Tentang apa yang aku rasakan dan pikirkan?” balas aku dengan pertanyaan lain. Aku ikut menatap langit ke atas. “Kau tidak pernah bertanya tentang apa yang aku rasakan sebelumnya.”
“Jangan ngaco.”
“Aku serius.”
“Apa yang sedang aku pikirkan?” ulang dia lagi.
“Kau.” Kata aku jujur. Angelo menoleh ke arah aku sangat cepat, tapi aku tidak menatapnya balik. “Kau dan sejuta alasan kenapa kau sangat berbeda dari yang lain.”
“Beda apanya?”
“Apa yang kau sembunyikan dari orang banyak?”
Dia terdiam. Lama sekali. “Aku tidak menyembunyikan apa pun.”
“Itu saja sudah cukup untuk membuat aku berpikir kalau kau memang menyembunyikan banyak hal,” aku menarik napas panjang. “Tapi aku tidak peduli. Kau hanya harus terus berjanji padaku kalau kita akan terus berteman selamanya. Bagaimana?”
Angelo mengedikkan bahu. “Aku tidak pernah berniat untuk berhenti berteman denganmu.”
“Janji?” tanya aku pelan.
“Janji.”
***
“PRESIDENTIAL suit?”
Aku tidak bisa menyalahkan nada bicara Ibu yang terkesan berlebihan, tapi aku sama terkesiapnya. Ketika Angelo menyarankan kami untuk tinggal di hotel dulu selama beberapa hari sementara dia tanggung jawab memperbaiki jendela dan pintu rumahku, aku pikir yang dia maksud ya hotel apa saja asalkan Ibu dan aku bisa tidur nyaman dan ada atap yang melindungi kami.
Tapi aku tidak pernah menyangka kalau dia akan membawa kami ke hotel yang besar dan megah. Hotel luksurius yang tidak pernah terbayangkan bisa aku datangi.
Terlebih, bukan hanya itu saja. Angelo membawa kami ke kamar yang rupanya “sudah aku pesan, kita tinggal naik saja” dan ternyata adalah kamar paling mahal di hotel ini.
Aku mungkin menganga.
Begitu juga ibu.
Kami memang terlihat seperti pasangan yang norak, tapi siapa yang bisa menahan ketika melihat kamar yang seperti kamar raja begini? Istana mungkin adalah terma yang tepat.
Segalanya terbuat dari kristal. Kaca – kaca besar menghiasi partisi kamar. Terdapat meja dan kursi yang megah, dua pintu kamar, dan kandelir di atas kami. Aku menghirup udara, dan mencium wangi aromatik vanilla.
Ini seperti mimpi yang indah.
“Iya,” jawab Angelo pada pertanyaan Ibu tadi. “Ini, er . . . aku tidak tahu apa yang akan membuat kalian nyaman jadi aku menyewakan yang paling terbaik di hotel ini.”
“Yang paling terbaik . . . huh.” Ibu terdiam dan mengobservasi seluruh ruangan. “Dua kamar, kandelir, dan . . .” Ibu berjalan ke arah bar kecil yang terletak di depan jendela masif yang memberikan panorama lampu – lampu malam berkelip di tengah kota. “Wow, Angelo, what exactly do you do for a living?”
Kali ini giliran Angelo yang terdiam.
Aku bahkan tidak tahu harus memberikan komentar apa. Memangnya apa yang Angelo lakukan?
Jauh di lubuk hatiku, aku tahu dia terlibat dengan sesuatu yang tidak baik. Sesuatu yang besar dan ilegal. Aku tahu dia ada sangkut – pautnya dengan kasus kriminal kemarin, heck, dia secara tidak langsung adalah kepala sindikat yang merampok salah satu bank terbesar di Mapo-Gu itu.
Aku tahu dia bukan seorang malaikat. Dia tidak benar – benar mendapatkan semua ini dengan adil. Tapi apa yang harus aku katakan? Itu hidupnya.
Dan aku sudah berjanji tidak akan membeberkan ini pada siapa – siapa. Itu, dan fakta lain kalau aku tidak bisa membiarkan Angelo ditangkap pihak yang berwajib.
Laki – laki itu menghindari tatapan menghakimi dari Ibu. “Itu . . . er, aku rasa—“
“Angelo, berapa lama yang kau butuhkan untuk memperbaiki rumah kami?” tanyaku untuk memotong apa pun itu jawaban yang akan dia berikan.
Ibu melirik aku penuh sangsi, tapi aku tidak menoleh ke arahnya. Dari ujung mataku, aku bisa merasakan panas sorot matanya memenuhi tubuhku. Biarkan ibu berpikir kalau aku melindungi laki – laki ini.
Karena memang sebagian dari diriku yang masih terjebak di masa lalu ingin melindungi Angelo dari segala macam bahaya. Walau pun itu adalah hal yang tidak benar sekali pun.
“Mungkin dua sampai tiga hari?” kata Angelo lebih seperti pertanyaan dari pada pernyataan.
Aku mengangguk. Itu tidak buruk, kataku dalam hati. Dalam dua atau tiga hari, setidaknya bayaran kamar ini tidak akan sebanyak yang aku pikirkan. Benar ‘kan?
Berapa harga kamar ini dalam satu hari?
Aku membuyarkan lamunan itu. Sudah jelas aku tidak ingin tahu berapa nominalnya. Berapa angka kosong di belakangnya. Aku bergidik. Biarkan Angelo melakukan apa yang dia mau. Aku dan Ibu tidak pernah meminta. Dia yang menawarkan.
Kami akan baik – baik saja dengan kamar motel yang murah, asalkan ada tempat tidur untuk kami istirahat.
Tapi laki – laki ini berpikir lain, jadi siapa aku untuk menolak?
Ibu membuka salah satu pintu kamar yang paling dekat dengan kami. “Hmh . . .” Dia mengumbang pelan. “Aku harap kau tidak menganggap ini sebagai tanda terima dariku.”
“Tanda terima?” tanya laki – laki itu heran.
“Iya. Tanda terima kau dan Muse. Aku masih tidak suka padamu. Aku menyesal memberikanmu makan waktu itu—“
“Eomma!” aku berseru tak percaya. Bagaimana bisa wanita setengah baya ini menyimpan dendam seperti itu?
Aku pikir semua orang tua bijaksana dan pemaaf?
“—oh sudahlah, Muse. Dan aku juga tidak suka kau masih berada di sisi anakku. Ingat, setelah semua ini selesai, aku mau kau pergi. Pergi dan jangan pernah kembali.”
Aku ingin berkata tenang saja, Eomma, dia akan pergi tanpa disuruh, itu yang dia lakukan bertahun – tahun lalu, tanpa memberikan aku penjelasan sama sekali, tapi aku hanya diam saja. Tidak ada yang bisa aku katakan untuk menyanggah perkataan Ibu.
Dia benar. Aku tidak bisa terus – menerus bersama Angelo. Aku bisa mati.
“Karena dia bertemu denganmu lagi, semua ini terjadi. Aku masih belum memaafkan apa lagi lupa dengan apa yang kau lakukan pada Muse. Membawanya pergi dan menyekapnya—“
“Aku bukan menyekapnya—“
“—apa pun itu yang kau pikirkan.” Ibu mengibaskan tangan, vokalnya tegas. Nada bicara seseorang yang menahan amarah. “Kau membawanya dariku, memisahkan kami, mengurungnya di kamarmu—dan walau pun kau tidak menyakitinya, melindunginya sekali pun, itu tetap penculikan. Kau mengambil haknya. Dan aku akan selamanya membencimu untuk itu.”
Suasana di kamar menjadi sangat hening. Jika ada koin jatuh, aku yakin bunyi nya akan meresonasi ke seluruh ruangan.
“Aku tahu itu,” laki – laki itu menunduk, seperti biasa, menyembunyikan ekspresi di wajahnya. “Aku tidak bermaksud apa – apa. Aku hanya ingin kalian berdua nyaman di sini.”
Ibu mengangguk, lalu masuk ke dalam kamar sembari berkata, “Aku tidak tahu apa yang kau pikirkan, tapi tidak akan ada masa depan untuk kalian berdua.”
Dan dia menghilang, bersama fakta yang baru saja dia layangkan pada kami. Tidak ada masa depan untuk kami berdua.
Seperti kami tidak tahu fakta itu.
Ketika hanya ada aku dan Angelo di ruang tamu yang bisa menampung hampir dua puluh orang itu, atmosfer menjadi tidak nyaman. Canggung. Seperti ada penghalang di antara aku dan dia, padahal jarak tubuh kami tidak jauh, melainkan proksimal.
Angelo berdeham. “Apa kau baik – baik saja?”
“Aku baik – baik saja,” jawabku. “Laki – laki itu tidak pernah menyentuh kami.”
“Baiklah,” kata Angelo. Dia mengantungkan dua tangan di celana.
“Apa ini tidak masalah? Maksudku, aku dan eomma bisa tinggal di mana saja. Motel kecil atau mungkin tempat menginap yang tidak—“
“Aku akan selalu memberikan yang terbaik untukmu, Muse.”
Sekarang aku yang terdiam. Sungguh, apa keahlian kami semua berubah menjadi tidak bisa bicara dalam waktu yang singkat?
“Well . . . aku harap kau tahu bahwa aku tidak perlu kemewahan seperti ini.”
“Kau perlu kemewahan seperti ini.”
“I’m not worth it.”
Angelo menarik napas panjang. Dia menghampiri aku pelan, seperti ragu dan takut kalau aku akan lari sekuat tenaga. Dia tidak salah. Aku memang ingin lari. Lari dari tubuhnya yang semakin dekat. Lari dari kenyataan ini. Lari dari segalanya.
Tapi aku diam. Diam di tempat laiknya imbesil yang tidak bisa melakukan apa – apa dengan benar.
Aku menahan napas.
Angelo berdiri di hadapanku, begitu dekat aku bisa merasakan suhu tubuhnya. Dia membasahi bibir. “Muse, kau pantas menerima segala hal yang terbaik di dunia ini.” Dia berkata dengan pelan sekali, aku nyaris tidak mendengar pria itu.
Aku menutup mataku, mendengarkan vokalnya yang mengirim segala macam bentuk memori ke dalam benak. Ketika dia menghiburku di kelas, ketika kami adu argumen di perpustakaan, ketika dia mengeluh tentang olahraga basket, ketika dia terus bertanya kenapa bisa aku suka pada New Kids on The Block. Segalanya tentang Angelo masih tersimpan rapih di sel serebrum.
Seperti mereka memaksa untuk tidak pernah dilupakan.
Aku mundur satu langkah, sesaat merasa seperti sedang di kurung oleh presensinya.
“Yang aku mau hanya kau, tapi aku tidak bisa memilikimu, ‘kan?”
Aku meninggalkan dia sendiri di ruang tamu kamar hotel luksurius ini.