PART 16

2130 Words
PINTU yang menjadi jalan keluarku entah berada di mana. Sial memang. Seberapa besar rumah ini sebenarnya? Aku sedari tadi berjalan mencari jalan keluar. Aku tahu aku setidaknya berada di lantai . . . lantai berapa? Dua? Tiga? Aku lupa. Sial lagi. Aku sering yang namanya menonton film thriller. Oh, bukan sering lagi. Aku maniak. Bisa dibilang begitu. Baiklah, aku tahu itu mungkin berlebihan. Aku bukan seorang maniak. Tapi aku candu. Setiap hari, nyaris setiap hari, aku pasti akan menonton satu film dengan genre thriller. Jika sudah kehabisan bahan, aku akan browsing sampai aku menemukan film yang cukup bagus. Itu sebabnya aku selalu mendedikasikan barang dua jam saja dari hidup aku agar aku bisa menikmati film thriller yang akan membuat aku senang setelahnya. Panggil aku gila, tapi itu memang benar. Aku obsesi. Jika aku sudah lelah, maka menonton film dengan genre tersebut adalah obat yang paling ampuh. Aneh bukan? Menonton film seram malah menjadi obat agar aku kembali normal. Dulu sekali, aku selalu membayangkan berbagai macam skenario buruk yang mungkin terjadi padaku di hidup ini. Mungkin aku akan menjadi salah satu korban, mungkin tidak. Mungkin aku akan menjadi salah satu dari puluhan orang di dalam sekolah yang harus menjadi target pengemar rahasia yang obsesif. Mungkin aku akan menjadi karakter utama dalam sebuah film yang menceritakan tentang seorang psikopat yang menyukai seorang gadis cupu. Mungkin aku akan masuk dalam sebuah cerita fantasi yang punya genre supernatural, seperti misalnya vampir dan manusia serigala. Ah, banyak sekali skenario bodoh yang selalu aku pikirkan. Tapi jujur saja, memangnya aku pernah berpikir kalau aku akan menjadi salah satu dari mereka secara benar? Aku tidak akan pernah berpikir kalau aku akan menjadi salah satu dari karakter utama itu dan benar – benar diculik. Parahnya, aku harus diculik sama orang yang dulu pernah aku percayai. Aku pernah percaya kalau Angelo akan menyelematkan aku dari segala macam bahaya. Aku pernah mempercayai nyawa aku sendiri pada pria itu. Saking aku yakinnya kalau dia tidak akan pernah melukai aku. Aku yakin kalau Angelo tidak akan pernah membuat aku dalam bahaya. Pria itu seperti sebuah lifeline yang aku punya. Ada kalanya aku pikir justru Angelo yang akan menyelamatkan aku dalam situasi seperti ini. Miris, bukan? Mengingat kalau justru pria itu yang sekarang membuat aku ada dalam situasi seperti ini. Setelah berhasil keluar dari kamar, aku menghabiskan waktu dan kesempatan dengan naik – turun tangga, menelusuri lorong yang panjang dan gelap, berbelok ke sana – kemari—sampai aku terkena jalan buntu. Rumah mana yang bahkan ada jalan buntunya? Aku berputar lagi dan malam mendapati pintu ke luar, taman yang luas dan lebar. Di samping, aku berani taruhan ada taman yang seperti tempat permaianan golf. Sial lagi. Seberapa kaya Angelo? Baiklah mungkin bertanya – tanya seberapa kaya Angelo bukanlah waktu yang tepat saat ini. Dia mungkin mendapatkan ini semua sebab hal – hal yang dia lakukan sekarang, yang by the way, sepertinya dia itu pelanggar hukum. Tentu saja dia pelanggar hukum, Muse! Dia otak dari kejahatan di bank saat itu. Aku bisa merasakan hati berdegup kencang, lalu mataku menemukan pintu dobel besar yang sedari tadi belum aku lihat. Ruang tamu besar dengan kandelir megah tergantung di tengahnya. Tanpa banyak berpikir aku menyeberangi ruang tamu itu dengan berlari. Begitu dua tanganku sudah menyentuh kenop pintu yang panjang, aku segera menekannya. Nihil. Aku menariknya kencang. Tapi nihil juga. Aku ingin tertawa keras. Berteriak. Tertawa lagi. Dan menangis sejadi – jadinya. Pintu keluarku terkunci. Ha. HA. Muse, aku tahu kau bodoh, tapi seberapa bodoh hingga kau tidak bisa berpikir tidak mungkin jalan keluarmu semudah itu? Aku benar – benar imbesil. Dengan napas yang terengah, aku membiarkan diriku terjatuh bersandar di pintu. Ini nasibku sekarang. Terkunci di rumah sebesar ini dengan laki – laki yang aku benci. Oh, dan bersama saudara laki – lakinya yang banyak sekali itu. Siapa yang bisa menebak kalau hidupku akan berubah tiga ratus enam puluh derajat begini? Serius, garis hidupku seperti berputar terus – menerus seperti penari – penari balet itu, dan terjebak di sana. Tidak berputar lagi. Pertama, Ayah harus pergi. Sakit bertahun – tahun dan meninggalkan kami. Membuat kami menghabiskan setiap won yang kita punya dan membuat kami sedih setengah mati. Bukannya aku menyesal. Aku tidak akan pernah menyesal. Jika aku bisa membuat Ayah kembali lagi dengan memberikan semua uang di dunia, aku akan melakukannya. Dan dari sana, segalanya bak domino yang tidak bisa dihentikan. Ke dua, aku tidak bisa kuliah. Jujur, hal itu membuatku depresi. Kuliah adalah cita – citaku sejak dulu. Aku sudah membayangkan menjadi pelajar kampus yang sibuk, punya kehidupan sendiri, mengembangkan sayap, mulai berani bersosialisasi dengan orang – orang banyak, dan akhirnya lulus dengan nilai yang bagus. Aku sudah memimpikan setiap momennya. Tapi lagi, tetap saja, jika aku harus merelakan kuliah agar Ayah kembali, aku akan melakukannya. Ke tiga, aku harus trauma karena berada di tengah perampokan bank yang brutal. Dan bodohnya, aku berhasil menjadi salah satu korban mereka. Di bawa ke basemen gelap markas mereka. Dan dipukuli. What the heck? Ke empat . . . Angelo. Tidak. Angelo itu ada di atas segalanya. Di awal segalanya. Aku seharusnya memulai dari Angelo. Semenjak laki – laki itu datang, baru hidupku berubah, menari dan berputar seperti belarina sejauh tiga ratus enam puluh derajat. Pertama itu Angelo. Jika dia mucul di hidupku, dia tidak akan pernah pergi dari hidupku. Dan jika rasa sakit ketika dia pergi begitu saja tidak hadir di dalam hati, aku mungkin akan menjadi wanita yang berbeda sekarang. Aku tidak menyangka likuid netra berjatuhan di pipi. Aku menyandarkan diri di pintu, membiarkan segalanya tumpah ke permukaan. Kubiarkan jari – jari invisibel merekat di jantung, meremuknya hingga pecah berkeping – keping, menghancurkannya menjadi ribuan fragmen menyedihkan seorang Muse. Tak lama, aku mendengar langkah kaki yang mendekat. Aku tahu lebih dulu siapa yang datang bahkan sebelum aku melihat sosoknya. Aku bisa mengenali wangi tubuhnya dari jarak jauh. Wood dan wangi maskulin yang bercampur menjadi satu. Aku menyeka wajah dan melengos, menghadap ke kanan agar tidak perlu menangkap korteks visual wajah Angelo Bronze. Dia meringkuk di depanku. “Muse . . .” Ada nada bicara yang tidak pernah aku dengar sebelumnya. Lirih. Angelo mengulurkan tangan seperti akan menyentuhku tapi laki – laki itu mengurungkan niatnya. Aku tidak berkata apa – apa. “Ayo kembali ke—“ Angelo terhenti. Satu detik kemudian dia berkontinyu, “—kamar.” Aku nyaris tersedak menahan tawa yang terlepas di labium. “Kamar? Kamar siapa? Kamarmu yang terkutuk itu? Kamarku ada di rumahku! Bersama Ibu! Bersama—“ Aku ingin mengatakan bersama kenangan – kenangan kamu di rumahku, tapi aku menutup mulut. Angelo tidak bergeming, masih meringkuk di hadapanku. “Lihat aku.” Tentu saja aku tidak melakukan itu. Tangan Angelo kini benar – benar terulur, dan dia memegang daguku secara lembut. Jari – jarinya terasa dingin, mungkin sebab tubuhku terasa hangat dari emosi yang memuncak. Dia menarik wajahku ke arahnya, agar kami bisa saling adu tatap. Tapi aku yang memang keras kepala mengalihkan pupil dari wajahnya. Angelo membuang napas berat. Dua tangannya menelungkup wajahku, jari – jarinya yang panjang membuat kepalaku ditutupi oleh tangannya. “Muse, apa gunanya menangis di sini?” “Dari mana kau tahu aku ada di sini?” “Aku tahu segalanya,” dia mengedikkan bahu. Aku memutar dua bola mata kesal. “I never had a chance, did I?” tanyaku ketika realisasi masuk ke dalam otak. Angelo tidak menggeleng, tidak menjawab. Dia hanya menunjuk ke atas, ke suatu tempat di pojok ruangan. Aku mengikuti arah tangannya dan mendapati titik merah di pojok atas ruangan. Kamera CCTV. Aku kali ini benar – benar tertawa. Tawa yang pahit dan kecut. Tawa yang tidak ada rasa humor sama sekali. Tawa yang diiringi tangisan keras. Angelo menyumpah rendah lalu menarik tubuhku agar berada di dalam dekapannya. Aku tidak menolak. Aku tidak bisa menolak. Dia Angelo, dan seberapa bencinya aku pada laki – laki ini, aku merindukannya. Aku rindu wanginya, rindu dekapannya, rindu vokalnya yang halus dan berat dan merdu, rindu mendengarnya membisikkan kata – kata manis dan menenangkan. Aku rindu segalanya tentang laki – laki ini. I miss him too much. Aku sangat rindu pada pria ini. Rindu yang membuat hati remuk. Rindu yang membuat benak tak bisa lagi berpikir jernih. Rindu yang membuat aku tidak bisa bergerak normal. Rindu yang memakan lara. Hiperbola. Tapi nyata. Jangan menghakimi aku untuk perasaan yang tidak kalian mengerti. Jadi aku menangis di dalam pelukannya, berkali – kali sesenggukan sementara dia mengelus punggungku halus. Sentuhan darinya subtil, tapi kapabel membuatku seluruh tubuhku yang tegang sebab adrenalin menjadi rileks. Dia membisikkan kata – kata manisnya. Aku kalah. Lagi. Karena mau bagaimana pun juga dia Angelo Bronze. Dan aku selalu luluh di bawah sentuhan laki – laki ini. *** Aku tidak ingat bagaimana aku bisa kembali di kamar. Yang aku ingat hanya terisak di dalam pelukan Angelo, menangis sejadi – jadinya hingga tubuhku bergetar. Aku ingat Angelo membisikkan berbagai macam kata – kata manis, mengelus punggungku, bersabar walau aku terus mengumpat namanya dan menyumpahi eksistensi laki – laki itu di bumi ini. Tapi aku tidak ingat momen aku kembali ke kamar. Dengan kepala yang berat, aku bangun dari posisi berbaring. Aku lirik jam ruang di sampingku. Kosong. Tidak ada siapa – siapa di sana. Sejemang, aku merasa kosong, tapi pikiran itu aku buang jauh – jauh sebab bagaimana bisa aku menginginkan presensi dia? Aku bangkit dan berjalan ke arah kamar mandi laiknya mayat hidup. Ketika aku mendapati proyeksi dari refleksi tubuhku di cermin kamar mandi, aku nyaris terhuyung jatuh. Tidak, aku lebih arah dari mayat hidup. Zombie adalah sebutan yang bagus. Aku segera membasuh wajah, bersih – bersih, dan keluar dengan pakaian yang baru. Aku melirik tumpukan bajuku dan tersadar mereka mulai habis. Aku harus mengingatkan Linda lagi untuk membawakan aku baju yang baru. Ide itu hilang ketika aku baru tersadar kalau ada nampan makanan yang sudah diletakkan di atas meja kerja. Aku bersungut. Di atas nampan terdapat secarik kertas dengan tulisan breakfast. Aku melirik suguhan makanan yang diberikan padaku. Panekuk yang masih hangat sebab ada uap panasnya, jus jeruk, beberapa buah seperti stroberi dan blueberry, dan sirup maple. Menangkap wangi yang sedap, perutku segera bergejolak. Kontras dengan visi misi beberapa hari lalu, kali ini aku makan. Makan dengan lahap dan banyak, sebab sekarang aku tersadar, aku tidak akan bisa ke mana – mana jika tidak punya kekuatan. Sarapan itu habis dalam waktu singkat. Setelah puas, aku kembali naik ke kasur dan . . . tidak melakukan apa – apa. Aku hanya menatap dinding. Melihat segala macam putih. Aku melihat kekosongan. Aku hanya melihat konkret. Aku hanya melihat bangunan yang dibuat sedemikian rupa, hingga menjadi datar dan menjadi partisi. Lagi dan lagi. Dan lagi. *** Saat Linda masuk membawa nampan makan malam, aku turun dari kasur dan menyuruh wanita itu meletakkan makanannya di meja kerja. Makan di tempat tidur hanya membuatku mual. Membuatku ingat kalau aku adalah tahanan. Itu semua hanya membuat aku ingat kalau Angelo melakukan ini padaku. Aku segera mencuci tangan di kamar mandi dan keluar. Tanpa banyak bicara, aku melahap semua makanan yang dibawa Linda. Dari ujung mataku, aku bisa melihat wanita itu tersenyum tipis. Dia mengelus suraiku satu kali, tapi manuver itu kapabel membangun rasa sakit di hati. Ibu sering melakukan itu. Aku ingin Ibu. Linda tidak berkata apa – apa, dia hanya meneruskan aksinya sembari memperhatikan aku. “Ini enak,” pujiku di sela – sela mengunyah. Baru Linda membuka mulut. “Itu bagus.” “Linda?” “Iya?” “Aku butuh . . . er, baju baru.” Kataku ragu. Linda menoleh dan berjalan ke lemari. Tempat bekas dia mengelus seketika terasa hampa. Wanita itu mengumbang pelan dan mengangguk. “Akan aku bawakan pakaian lebih untukmu besok.” Aku mengangguk. “Muse?” panggilnya. Aku menoleh dan menatap wanita itu. Dia berkontinyu, “Kau baik – baik saja?” Jujur, aku tidak tahu harus menjawab apa. Jadi aku hanya mengatupkan rahang. Setelah beberapa saat keheningan melanda kami, aku membuang napas. “I miss my Mom.” “Of course you do.” Ada nada sedih di vokal Linda. “I’m sorry honey.” Aku menggeleng. “Ini bukan salahmu. Kau tidak perlu minta maaf.” “Aku yakin apa pun yang terjadi, Angelo selalu memastikan itu adalah hal yang terbaik untukmu.” Aku tersenyum pahit. “If you say so.” “Ibumu . . .” Linda berkata. Atensiku langsung terenggut. Makanan terlupakan. Aku berdiri dari kursi kerja, menatapnya penuh harap. “Ibuku? Ada apa dengan Ibuku? Apa kau tahu kabarnya? Kau tahu apa tentang Ibuku, Linda?” “Angelo sudah memastikan kalau dia baik – baik saja.” Jawab Linda. “Aku butuh lebih dari itu.” Kataku keras. Linda menarik napas panjang. “Angelo menemuinya hari ini.”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD