AKU SUDAH PERNAH bilang kan, kalau aku sangat mahir membuat Angelo Bronze mengatakan yang sejujurnya? Sungguh, baru saja aku merasa itu adalah sebuah pencapaian di hidup. Baru saja aku merasa kalau itu semua adalah award yang sangat luar biasa. Siapa lagi yang bisa membuat seorang Angelo Bronze berbicara dengan baik dan jujur jika bukan karena seorang Muse Lee? Mungkin di masa depan, aku bisa mendapatkan perkerjaan dengan titel “Orang yang bisa membuat Angelo berkata jujur”. A
ku yakin akan sangat banyak bayaran yang aku terima. Pada dasarnya, Angelo selalu menolak untuk bicara. Aku yakin pasti banyak orang di luar sana yang masih menunggu penjelasan dari pria ini karena banyak hal. Aku di sini karena dia punya pekerjaan yang mencurigakan, kan?
Aku tidak tahu harus berkata apa tentang fakta itu. Sejujurnya, aku tahu pasti ada yang tidak beres di sini. Bagaimana tidak? Seorang pria menculik aku. Iya, pada dasarnya, walau aku kenal dengan pria ini, bahkan dengan semua saudara laki – lakinya, ini masih masuk dalam kategori penculikan, kan? Angelo sudah merebut aku secara paksa.
Baiklah, merebut mungkin terlalu berlebihan. Angelo sudah membuat aku diam di sini secara paksa. Aku tidak pernah bilang kalau aku mau tinggal di sini. Aku tidak pernah bilang kalau aku mau bersama dengan pria itu. Aku tidak pernah secara tulus mau tinggal di sini. Segalanya adalah paksaan. Dan itu berarti ini adalah penculikan. Pengambilan secara paksa. Mutlak, Angelo itu kriminal.
Ayolah, aku sudah mencoba kabur beberapa kali. Apa itu kurang cukup bukti? Pria ini sedang berada dalam posisi yang berbahaya, aku tahu itu. Ada sesuatu di balik lengan bajunya. Aku tidak mengenal siapa pria yang ada di depan aku ini. Dia bukan Angelo Bronze, pria yang pernah mengisi hati aku dulu. Jujur saja, aku tahu kalau semua orang pasti akan berubah. Aku pun bukan gadis yang dulu lagi. Aku bukan Muse Lee yang dulu Angelo kenal.
Tapi siapa pria ini?
Who is this new guy standing right in front of me?
Dia menggunakan wajah Angelo, tapi aku tidak mengenali siapa dia. Dia terlihat seperti Angelo, tapi aku yakin bukan dia yang berdiri di depan aku saat ini.
***
“AKU akan menjelaskan segalanya padamu.”
Aku tidak menyangka segalanya akan semudah itu. Angelo duduk dengan kepala menunduk, menyerah seperti tidak ada jalan keluar lagi. Maksudku, aku tahu dia secara praktis bertekuk lutut di hadapan aku—dan iya, aku tidak akan pernah berhenti mengatakan itu, tapi sesuai dengan konversasi aku, Felix, dan Lucky beberapa saat yang lalu, meminta penjelasan ke seorang Angelo Bronze itu sangat sulit.
Menurut aku—yang aku kutip kata – kata aku sendiri—sekalian saja kau meminta aku menggantung diri dari pada mencoba membuat Angelo Bronze menjelaskan apa yang sedang terjadi di isi kepalanya.
Tapi melihat Angelo seperti itu, entah aku merasa bangga atau tidak.
Aku tidak duduk di tempat tidur, menjauhi kasur tersebut seperti itu adalah wabah yang mematikan. Tidak terlewat dari mataku kalau wajah Angelo terlihat sakit dan kecewa ketika aku tidak mendekatinya, terutama ketika dia dengan sengaja menyisakan spasi yang luas di kasur dan menepuk ruang di sebelahnya.
Menggeleng, aku tetap tidak bergeming dan berdiri di samping kasur. Kalau saja aku tahu Angelo akan menangkap aku dengan sangat mudah—dengan mudah maksudku dia bahkan tidak perlu angkat kaki dan bersusah payah karena aku yakin di luar sana banyak anak buahnya yang dengan cepat akan mengembalikan aku ke kamar ini lagi—aku sudah akan berlari ke luar pintu kamar. Tidak perlu menyusahkan diri sendiri. Yang ada aku hanya akan terengah dan lelah sendiri.
“Jadi? Penjelasan apa yang ingin kau buat kali ini?”
Angelo sudah akan membuka mulut, tapi menutupnya lagi. Dia terlihat bergelut dengan pikiran sendiri. Dua tangannya terkepal di atas pangkuan. Aku menaikkan alis, menunggu penuh ekspetasi.
Saat dia mencoba lagi, aku mengangkat satu jari ke arahnya. Dia menoleh dengan kening berkerut.
“Kalau kau mencoba – coba untuk mengatakan hal tidak masuk akal seperti ini untuk kebaikan dirimu sendiri, Muse—“ Aku meniru gaya bicaranya yang datar dan vokal yang berat. “—aku akan gantung diri, di sini dan sekarang.”
Ujung bibir Angelo naik beberapa inci. Dia pikir ini lucu? Apa dia menertawakan aku?
“You want to test me?” tantang aku, dua alis sudah terangkat naik. Aku berkacak pinggang di samping kasur, terlihat seperti seorang Ibu yang sedang memarahi anaknya.
Ibu . . . apa yang sedang dia lakukan? Apa dia baik – baik saja? Apa dia meminum obat sesuai dengan anjuran dokter? Apa dia mencari – cari aku dengan panik? Ibu hanya seorang diri dan dia—
Aku menggeleng. Ini bukan saatnya.
“Bagaimana caranya menggantung diri tanpa tali?” Angelo menelengkan kepalanya. “Memangnya kau pikir bisa melakukan itu dengan aku di sini?”
“Diam,” aku berseru keras. “You know what I mean.”
Angelo membuang napas panjang. “Aku tidak tahu harus mulai dari mana.”
“Oh, aku punya banyak ide. Bagaimana dengan inkuiri kenapa kau mengurung aku di sini dari awal?”
Dia mengitari bagian dalam bibirnya. “Aku punya alasan untuk itu.”
“Apa?”
“Ketika wajahmu terekspos di bank, semua orang melihatnya. Bukan hanya Four, Eight—“
“Mereka punya nama asli, ‘kan?”
“—aku tidak akan memberitahu kau nama asli mereka.”
“Kenapa?” tanyaku heran.
Angelo menatapku datar. “Mereka menggunakan nama samaran karena sebuah alasan, Muse. Jika nama asli mereka bisa diberikan secara mudah seperti itu, lalu apa gunanya menggunakan alias selama ini?”
Oh . . . benar juga. Tapi aku tidak mengatakan itu keras – keras. Aku melumat bibir di depan Angelo.
“Anyway, semua orang bisa melihatmu. Maksudku, anak – anak buah di sana. Dan melihat apa yang Four lakukan—yang by the way, itu baru namanya bunuh diri.” Api membara di dua obsidian cokelat milik Angelo. “Aku nyaris menghabisinya saat itu juga.”
“Segalanya tidak bisa diselesaikan dengan kekerasan, Angie.”
“Bertahun – tahun lewat dan kau masih repot – repot mengatakan itu padaku?” Angelo tersenyum tipis lagi, kali ini dua ujung terangkat naik. “You are something else.”
“I am. Lanjutkan.”
Angelo menggeleng menahan garis kurva harsa di bibir. “Meliihat apa yang Four lakukan, aku menjadi tidak yakin dengan segalanya. Kami pikir, kami sudah membuat mereka paham kalau melawan perintah atau mengingkari daftar yang sudah kami kirim ada konsekuensi yang fatal. Bayangkan seberapa kagetnya aku melihat Four—“ Dia menyebut nama alias itu dengan venom di vokalnya. “—berani mengingkari daftar aku.”
“Daftar ini . . . apa itu?”
“Ketika kami memulai ini semua—“ Aku menahan untuk tidak memotong dan berteriak sejadi – jadinya apa ini semua? Tapi aku tidak mengeluarkannya. Aku takut jika aku memotong Angelo dia akan berhenti dan tidak berkontinyu memberikan aku penjelasan. “—kami sepakat bahwa ada orang – orang yang tidak kami inginkan terluka.”
“Jadi, ini semacam daftar – daftar orang yang kalian . . . “ Aku mencari – cari kata yang tepat, tapi hanya satu kata yang muncul di otak. “Pedulikan?”
Angelo menoleh ke arahku, sorot matanya tajam. Ada berbagai macam emosi berkelebatan di dalam sana. Aku tidak bisa menentukan satu per satu, mereka berlarian begitu cepat. Sampai akhirnya Angelo memalingkan wajah, menunjukkan atensi pada dinding yang sudah menjadi sahabatku beberapa hari ini.
“Iya.”
“Oh.”
“Semuanya punya daftar masing – masing. Biasanya kita akan mengingatkan mereka sesaat sebelum . . . misi. Satu per satu kami ingatkan wajah – wajah orang yang off – limits.”
“Dan mereka harus menghapal itu semua?”
Angelo mengangguk. “Tentu saja. Kalau tidak, seperti yang sudah aku katakan, ada konsekuensinya.”
“Bagaiamana bisa mereka semua menghapal wajah - wajah ini?”
Laki – laki itu hanya mengedikkan bahu. “Harus bisa kalau tidak ingin mati.”
“Itu brutal!”
“Itu hidup,” Angelo mengatupkan rahang. “Lagi pula, mereka sudah terbiasa dengan itu, sebab kita terus mengingatkan bahkan jika tidak ada misi sekali pun. Kau harus lihat daftar Vincet, sangat banyak. Dan laki – laki itu tidak pernah menyia – nyiakan waktu kosong bagi anak – anak yang lain untuk menghapal nama – nama itu.”
“Banyak? Memangnya siapa saja yang ada di hidupnya?”
Angelo terkekeh. Iya, terkekeh. Aku mencoba untuk tidak ikut tersenyum.
“Konyol. Daftar – daftarnya itu terlalu ambigu dan tidak masuk akal. Serta bodoh jika kau tanya aku. Suatu saat, daftarnya bertambah banyak dan ketika aku tanya, orang – orang itu hanya penjual makanan di kedai – kedai yang dia sukai. Ong dari penjual Samgyettang. Jul dari pen penjual pasta di restoran kesukaannya. Bahkan ada seorang Nenek tua bernama—siapa ya? Aku lupa. Tapi menurut Vincent, Nenek ini sangat handal dalam membuat makanan khas Seoul, jadi tentu saja dia off – limits. Terkadang aku pikir dia melakukan ini, just to mess with the boys.”
“Untuk apa juga mereka off – limits?” tanyaku bingung.
“Agar Vincent bisa terus makanan masakan mereka tentu saja.”
Kali ini aku yang terlepas dan terkekeh geli. Angelo menengok ke arahku begitu cepat, hingga aku secara otomatis terbungkam. Dia menelengkan kepalanya. “Aku rindu itu.”
“Apa?”
“Your laugh.”
Aku tidak menggubris diktum tersebut. “Kau masih belum menjelaskan kenapa aku dikurung di sini.”
Laki – laki itu menghela napas panjang. “Itu dia, Muse. Itu alasanku. Four melukaimu. Jika Four kapabel untuk melakukan itu, bagiamana dengan orang lain?” Angelo merentangkan dua tangan lebar. “Dia menyerangmu di sini, di kamarku. Aku tidak akan mengambil resiko dengan membiarkanmu bebas sementara anak – anak yang lain memiliki akses untuk melukaimu.”
“Mereka tidak akan melukaiku, kau bisa memastikan itu.”
“Aku pikir aku bisa, tapi lihat apa yang terjadi?” dia menunjuk sisa – sisa lebam di tubuhku.
Aku menutup mata sejemang sebelum membukanya lagi. “Four berbeda—“
“Aku tidak akan mengambil resiko. Kau mendengar itu, ‘kan? Anak – anak ini . . . mereka memang loyal kepada kami. Tapi aku tahu, ada rasa kompanyon terhadap sesama bagi mereka. Bisa saja mereka merasa Four tidak pantas mendapatkan hukuman atau semacamnya. Dan aku tidak bisa menjagamu dua puluh empat jam kecuali jika kau berada di sini, dua puluh empat jam.”
Aku menganga. “Dan karena itu kau mengurung aku di sini? Menyekap aku di sini?” kontras dengan apa yang aku katakan, aku akhirnya habis kesabaran dan berteriak. “Karena kau pikir aku akan aman di sini? Kau bisa menjagaku dua puluh empat jam?”
Angelo berdiri dari kasur. “Muse, apa kau punya ide lain? Bagaimana jika aku lepaskan kamu dan satu sekon begitu kau pulang, One, Two, Three, oh the numbers go on, melukaimu?” laki – laki itu menyibak surainya ke atas. “Tidak. Itu kalau kau selamat sampai di rumah. Kalau kau diserang di jalan bagaimana?”
“Kau tidak masuk akal!”
“Kau yang tidak masuk akal!” Angelo membalas. Tapi vokalnya tidak naik beberapa oktav, hanya lebih tegas dan keras. Angelo tidak pernah menaikkan nada bicaranya pada siapa – siapa. Termasuk aku.
“Dan kenapa kau harus berbohong?” tanyaku penuh sangsi. I’m not going to lie, that hurts. Rasanya sakit dibohongi seperti itu di depan Angelo. Terlihat bodoh dan menyetujui apa yang dia katakan.
“Karena aku tahu kau tidak akan menurut,” Angelo menunduk. “Aku minta maaf untuk itu. Hanya saja, dengan mengatakan kalau aku tidak punya pilihan lain, aku pikir itu akan membuatmu luluh.”
“Kau berbohong!”
“Tapi aku memang tidak punya pilihan lain, Muse!” Angelo sudah frustasi di titik ini. “Aku tidak mau melihatmu terluka.
“Well, aku terluka sekarang.”
Angelo terlihat sedih. Lalu, laki – laki itu berjalan ke arahku. Dia berhenti beberapa inci saja sebelum membuka mulut. “Ini lebih baik dari pada kau terluka karena orang lain.”
Aku tidak menjawabnya. Tidak juga menatapnya.
Angelo bergerak ke arah pintu, bermaksud untuk pergi. Tentu saja. Aku akan protes keras kalau sampai dia pikir, aku akan rela berbagi spasi tempat tidur dengan nya malam ini. Laki – laki itu berputar badan dan menatap aku sekilas, lalu menggeleng, seperti menahan apa pun itu yang akan dia katakan.
Ketika dia sudah berada di luar dan akan menutup pintu, aku mencegahnya. “Angie?”
Dia menunggu seperti hewan yang menunggu instruksi dari majikannya. Aku tidak tahu harus merasa senang atau aneh. Tidak tahu harus merasa familiar, sebab Angelo selalu bertingkah seperti itu di sekitar aku, atau merasa sedih. Angelo bukan Angelo. Dia bukan pria yang aku pikirkan. Dia sudah berubah. Berbeda dari yang aku tahu. Dia bukan Angelo yang dulu pernah mengisi hati aku.
“Just so you know, tersakiti karena kamu lebih sakit dari pada puluhan luka fisik.”
***
Di sela – sela argumen itu, aku lupa satu hal yang seharusnya menjadi pusat atensiku. Bagaimana dengan Ibuku? Apa kau tahu kabarnya? Apa Ibu baik – baik saja? Apa kau memberitahunya di mana aku berada? Apa Ibu sehat? Apa Ibu tidak menangis?
Seharusnya itu yang aku tanyakan, bukan inkuiri bodoh seperti kenapa kau melakukan ini? Angelo tidak butuh alasan. Yang dia butuhkan hanya niat dan apa yang dia mau.
What Angelo wants, Angelo gets.
Itu hukum yang telak. Dan aku menghabiskan waktu dengan beradu argumen bersama laki – laki keras kepala itu.
Sejemang aku merasa kalah. Kalah sebab tidak ada hasil dari konversasi ini. Yang ada hanya konfirmasi kalau Angelo memang berbohong, dan walau pun dia melakukan ini untuk meliindungi aku, dia tetap saja salah.
Tapi satu detik kemudian, aku tersadar.
Angelo pergi tanpa mengunci kamarnya.
Aku melirik pintu besar itu. Kenopnya menggiurkan, memanggil – manggil namaku berkali – kali dalam bisikan penuh goda. Muse . . . Muse . . . Muse!
Apa yang aku pikirkan? Diam saja dan menurut apa kata Angelo? Aku harus kembali. Bertemu Ibu, menjalani hidup, kuliah! Aku tidak bisa tinggal diam saja. Berada di sini pun, aku tetap terluka. Angelo tidak bisa menjagaku setiap saat, apa lagi dua puluh empat jam.
Masa bodoh dengan anak buah. Aku akan melawan hingga titik napas terakhir.
Dan dengan niat bodoh itu, tekad asing yang menyelimuti tubuh, dan sisa adrenalin dari argumen bersama Angelo, aku memantapkan diri dan menderap ke pitnu.
Aku menelan ludah.
Menghirup napas panjang.
Lalu membukanya.