ALMEERA-3

1359 Words
Sah? SAAAAAHH orang yang hadir mengucap alhamdulillah secara bersama-sama. Semua orang berbahagia dengan pernikahan hari ini. Pengantin perempuan yang sedari tadi menahan gugup kini menghembuskan nafas lega nya. Begitu pun pengantin pria yang sedang mengangkat kedua tangannya membaca do'a, tak lupa Almeera pun melakukan hal yang sama. Almeera merasakan sesuatu yang berbeda. Berkali-kali ia melirik calon suaminya dari sudut mata. Wanita itu masih merasa ini mimpi, sesuatu yang tak pernah terlintas untuk terjadi kini benar-benar terjadi. Terlihat mata Almeera menggenang, ada rasa haru menyelimuti dirinya. Sungguh dia tak menyangka, sosok yang baru dikenalnya mampu meyakinkan dirinya untuk melangkah lebih jauh. Rasa takut yang sebelumnya hadir sudah terobati. Rasa kecewa yang berulangkali muncul, kini sudah hilang. Luka yang dulu disimpannya seolah menguap entah kemana. Dia sangat bersyukur, Tuhan masih mau mengasihaninya. Pria yang sudah menjadi suami Almeera pun sesekali melirik istrinya dengan ekor mata, dia begitu bahagia. Pria itu merasa beruntung karena bisa menikahi wanita yang selama ini ia kejar dari dulu. Setelah menandatangani buku pernikahan mereka, kini pasangan pengantin itu saling berhadapan. Penyerahan mas kawin, pengucapan serah terima, kemudian menyalami satu sama lain. Almeera tertunduk karena malu. Ini untuk pertama kalinya Almeera akan menyentuh tangan laki-laki yang belum begitu dekat dengannya, belum pernah ia kenal sebelumnya. Laki-laki yang sekarang sudah sah menjadi suaminya. Ahnaf Agam Rajendra pria itu tengah tersenyum menatap Almeera. Agam terkekeh pelan saat wanita didepannya terkejut dikala seorang wanita dewasa menoel bahunya memberi isyarat. Almeera malah melamun saat penghulu menyuruh mereka untuk bersalaman. "Apaan sih teh?" bisik Almeera pada wanita itu. "Itu suaminya disalami, bukan cuman nunduk doang ade!" ujar wanita itu pada Almeera, membuat semua orang terdiam dan menatap kearah mempelai wanita. Almeera malah kembali diam sambil menggaruk pelipisnya yang sudah jelas tidak gatal. "Aku malu teH, salaman nya__ bisa diwakilin dulu gak?" ujar Almeera pelan, kemudian__ HAHAAHAHHAHAH... semua orang tertawa riuh. Tak ada satu orang pun yang tidak tertawa, untuk pertama kalinya seorang mempelai wanita meminta untuk diwakili bersalaman dengan suaminya sendiri. Almeera semakin menunduk malu. Almeera semakin dibuat gugup. Ini memang kali pertama pernikahannya benar-benar terjadi. Jadi mana pernah ia bersalaman dengan yang namanya suami. Itu hal wajar. Begitulah isi pikirannya. Sungguh konyol seorang Almeera. Bahkan seorang Ahnaf Agam Rajendra pun ikut tertawa melihat tingkah konyol istrinya itu. Tak percaya jika sang istri punya sikap lucu seperti barusan. Yang ia tahu, Almeera sosok dingin, cuek dan pekerja keras. Sering bertemu pun Agam ingat betul bahwa Almeera tak pernah tersenyum. Almeera malah nyengir kuda sembari menatap kagum laki-laki yang ada didepannya. Tersenyum saja Agam begitu tampan dimatanya, kini malah tertawa. Almeera mengeratkan genggaman tangannya. Agam membuatnya gugup setengah mati. Wanita itu terpesona dengan suaminya sendiri. "Tuhan. Sebelumnya aku tak pernah menatap kagum Agam. Tapi, setelah ia mengucapkan ijab qobulnya dalam satu tarikan nafas, sebuah rasa muncul secara tiba-tiba. Tuhan, rasa lega ini menyelimuti ku." Ungkap nya dalam hati. Tatapannya masih mengarah pada Agam, menatap takjub ciptaan Tuhan yang satu ini. Agam sadar dan membalas tatapan itu seraya memberi senyuman padanya. Bukannya membalas senyum, Almeera malah gelagapan. Pura-pura membenarkan hijab yang bahkan masih rapih. "Emang kebiasaan nih anak. INGET UMUR WOOOYY!" teriak Ridwan menggema, pemuda itu berada disamping saksi yang lain. Almeera menatap sepupunya dengan tatapan tajam, seolah mengisyaratkan dia untuk berhenti mengoceh " diem lu." ucap Almeera namun hanya dengan gerakan bibir sahaja. "Udah, cepet salam sama Agam, jangan minta buat diwakilin!" ujar teteh Almeera tegas. "Heem.." gumam Almeera. Dengan menahan semua kegugupan, menahan rasa malunya, menahan rasa ingin teriaknya, Almeera menatap Agam sekilas dan menjulurkan tangannya perlahan. Agam tersenyum senang, mengira Almeera akan benar-benar menyuruh orang untuk mewakili menyalaminya. Suasana kembali hening. Semuanya menatap Almeera yang sedang menyalami tangan suaminya, dan Agam yang kini mengecup kening Almeera mesra. Keduanya tampak terdiam, pipi Almeera kini sudah memerah, begitu pun Agam yang tersenyum bangga. Bangga pada dirinya karena berhasil mempersunting sang pujaan hati. Sebuah bisikan Agam lontarkan ditelinga sang istri " saya akan berusaha membimbingmu selama saya mampu. Saya harap kamu bertahan disisi saya. Semoga Allah memberikan perlindungan dan anugerah untuk rumah tangga kita." Almeera terpaku dengan kata-kata yang Agam ungkapkan untuknya. Rasa bahagia dalam diri Almeera semakin menjadi. Tak salah ia menerima Agam untuk menjadi suaminya. Almeera tersipu. Terdengar kembali suara riuh dari para keluarga. Akhirnya pernikahan berjalan dengan lancar. Agam dan Almeera kini bersalaman dengan orang tua, meminta restu atas pernikahan mereka. "Selamat ya nak. Jadilah istri shalihah. Bahagiakan suamimu dengan apa yang kamu miliki." Kata Abah, ayah Almeera. Wanita itu mengangguk. Air matanya mendesak keluar, Almeera tak bisa menahan tangis bila berhadapan dengan sang ayah tercinta. Almeera menghambur memeluk sang ayah " maafin Ade belum bisa bahagiain Abah." Katanya berat. Ayahnya adalah kekuatan yang selama ini ia punya. Tak pernah bosan ayah selalu mengajaknya mengobrol lewat ponsel. Kini, apakah semua hal itu masih akan ia rasakan?. Ayahnya pasti akan merasa tak enak. *** Setelah acara sungkeman, kini keluarga Almeera dan Agam sedang berkumpul untuk makan bersama, tampak begitu harmonis. sesekali candaan datang dan meramaikan suasana. Tak terkecuali Almeera yang sedari tadi hanya diam. Wanita itu terus melamun, entah apa isi pikirannya sekarang. Dia belum mau bergabung dengan sanak keluarga, karena memang dia tak suka dengan keramaian. Ia lebih suka keheningan, itu alasannya ia memisahkan diri. Bagi Almeera itu sangat merepotkan, telinganya terasa panas karena bising. Belum lagi harus banyak berbasa-basi, itu hanya akan membuatnya jengkel saja. Almeera yang sedari tadi hanya diam di samping suaminya. Mereka sedang berada di ruang tamu, tak berniat mengajak mengobrol atau apalah seperti pasangan lain. Almeera malah menangkup dagunya dengan sebelah tangannya, sesekali ia menguap tanpa malu. Tak ada pembicaraan diantara mereka, mengingat Agam pun baru selesai menelpon. Agam melirik sang istri yang hanya diam dan tidak berkutik sama sekali. Entah apa yang dipikirkan istrinya hingga tak berbicara sepatah kata pun padanya. Itulah keseharian Almeera. Dia bukan wanita seperti kebanyakan. Dia lebih suka menunjukkan apa adanya. Dia bukan gadis yang mudah dalam jatuh cinta, bahkan bisa dibilang kisah cintanya sungguh merumitkan. Kemudian sekarang tiba-tiba Tuhan mempertemukannya dengan jodohnya ini. Almeera adalah perempuan yang cuek, apa adanya, dan tak pernah muluk-muluk. Mungkin hal itu yang membuat banyak laki-laki menyukainya, tapi juga sikap itu yang membuat Almeera mudah sekali untuk ditinggalkan. wanita itu terlalu menempatkan hatinya dalam posisi tulus walau sudah berkali-kali dilukai. Bahkan setelah ditinggalkan pun Almeera hanya bisa menghela nafas dan mengikhlaskannya. "Dek?" panggil Agam pelan seraya mendekatkan tubuhnya ke arah Almeera. kata itu akan menjadi panggilan sayang untuk sang istri, meski nama itu memang sering digunakan orang-orang yang mengenal istrinya dekat, apalagi istrinya itu adalah anak bungsu. "Hemmm" jawab Almeera dengan malas. "Kamu nggak ada niat ngajak suami mu ini ngobrol?" tanya Agam seraya menyindir. Almeera melirik Agam malas. Almeera hanya tersenyum tipis "apa kabar?" tanya Almeera datar. Dia sedang dalam mode mager. Lebih tepatnya, dia masih belum percaya sepenuhnya, jika dirinya sudah menikah. Dia bingung sendiri harus berbuat apa. Tidak tahu harus membicarakan apa untuk menghilangkan kecanggungan diantara mereka. Agam tersenyum geli melihat reaksi sang istri yang malas-malasan menanyakan kabarnya, Agam gemas di buatnya. Tanpa pikir panjang Agam mencubit pipi cubby Almeera, membuat wanita itu meringis kemudian menatap Agam tajam saat pria itu melepas cubitan nya. "Kamu terlalu gemas kalau cuma dianggurin." ucap Agam. Almeera menggerlingkan matanya malas. Agam kembali menatap dalam Almeera "kamu diam gini bukan karena menyesalkan?" tanya Agam. Almeera langsung melirik Agam. Refleks tangan Almeera memegang lengan besar Agam, terlihat ekspresi takut diwajah istrinya. Pria itu mengernyitkan dahinya, tidak ada sebuah ungkapan dari Almeera, melainkan hanya ekpresi yang begitu sulit diartikan. "Almeera Adeira? Kamu___" belum sempat Agam menyelesaikan ucapannya, seorang wanita datang memotong. "Dek, Agam. yuk makan dulu, ini udah mau menjelang siang!" ujar salah satu bibinya Almeera. "Iya,bi. kami segera ke sana." jawab Agam, sedang Almeera masih tetap dengan posisi. "Yuk dek, semua orang udah pada nungguin." ajak Agam yang kini sudah berdiri di depan sang istri. Tangan itu terulur untuk membantu Almeera bangkit dari duduknya. Almeera menatap agam kemudian berdehem "heem.." dan kemudian Almeera berdiri dengan malas, berjalan gontai menuju ruang keluarga. Agam tak pernah berhenti tersenyum melihat Almeera yang benar-benar membuatnya sangat gemas tapi juga membuatnya penasaran. Almeera tidak banyak berbicara, hanya diam dan melamun. Tapi saat ditanya, terlihat Almeera seperti ketakutan. Ini jadi misteri yang harus ia pecahkan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD