ENAM

1701 Words
Arissa berdiri, lalu mendekatkan tubuhnya ke arah Mario untuk kembali memperhatikan foto orang yang dimaksud Mario. Tadi ketika Amara memberikannya, Arissa tidak terlalu memperhatikannya dengan baik dan teliti. Sekarang setelah dia melakukannya, Arissa tersadar kalau pria di foto itu memang familiar buatnya. Ah tidak hanya familiar, tapi dia memang mengenal pria itu. "Iya, sepertinya aku kenal siapa ini. Ini Rajata kan? Pimpinan dari Empire group." Mario tidak mengatakan tidak ataupun iya, pria itu hanya menyandarkan tubuhnya sebelum menghembuskan napasnya berat. "Aku pernah bertemu beberapa kali dengannya karena perusahaan kakek bekerja sama dengan perusahaan mereka." Tambah Arissa kali ini terlihat sangat yakin kalau dia memang mengenal orang di foto itu. "Tapi apa kira-kira hubungan mereka, sampai nenek Angelo yakin kalau Magdalena memang pergi menemui pria ini." Lagi-lagi Mario diam, pria tersebut hanya diam menatap dalam pada foto pria bernama Rajata tersebut. "Aku akan mencari taunya langsung nanti," katanya kemudian sambil menatap Arissa. "Aku bisa ikut?" Mario tidak langsung menjawab, sebelum kemudian menganggukkan kepalanya. Saat itu Arissa langsung tersenyum lebar. "Kapan kita kesana?" Tanya Arissa tampak tidak sabar. "Sekarang." Kepala Arissa mengangguk semangat, kemudian dia berdiri untuk mengikuti Mario yang sudah berjalan ke luar ruangan dan menuju parkiran dimana motor pria itu berada. "Aku nggak ada helm," ujar Arissa saat Mario sudah memasang jaket dan naik kemotornya. Tangan Mario yang tadinya akan memasang helm terhenti, hanya untuk melihat Arissa yang berdiri meringis di samping motornya. Untuk sesaat dia terlihat berpikir sebelum kemudian berkata, "Nanti kita bisa beli di toko dekat sini." "Oke," jawab Arissa kemudian naik diboncengan Mario. Saat dia sudah duduk dengan baik, dia menepuk punggung pria itu pelan. Dan ketika Mario menoleh Arissa kemudian berkata, "Ini kita sudah benar-benar baikankan kak?" Bibir Mario membentuk senyum miring nan tipis, lalu katanya, "Sejak awal aku tidak pernah merasa ada masalah diantara kita." *** Bertemu dengan seorang konglomerat. Apa yang ada dibayanganmu jika harus kalian yang harus melakukan itu? Entah kalian sama dengan Arissa atau tidak yang pasti kalau dia yang disuruh melakukannya, bayangan ‘repot’ langsung terbayang dikepalanya. Dimulai dari ijin bertemu, lalu pencocokan jadwal dan yang paling menyebalkan adalah kesediaan si konglomerat untuk mau bertemu atau tidak. Sama seperti orang pejabat tinggi negara mungkin bahkan lebih, orang dengan embel konglomerat ini biasanya memang sulit ditemui. Kecuali yang orang yang ingin bertemu dengan mereka adalah orang yang sama pentingnya dengan para konglomerat tersebut atau orang-orang yang memiliki hubungan khusus dengannya. Jadi sudah taukan bagaimana nasibnya Arissa dan Mario saat mereka ingin bertemu dengan Rajata? Tidak hanya sulit mendapatkan ijin, keduanya bahkan mendapatkan hal yang paling menyebalkan dari bertemu konglomerat tadi. Rajata tidak bersedia bertemu dengan mereka, pria itu katanya sibuk dan tidak bisa meluangkan waktuuntuk mereka yang tidak membuat janji temu terlebih dahulu. Sebenarnya mereka bisa menggunakan pekerjaan Mario sebagai polisi untuk memaksa bertemu dengan Rajata, namun Mario tidak mau menggunakannya. Ada beberapa alasan yang membuat mereka akhirnya memutuskan untuk menyembunyikan identitas mereka. Namun kegagalan mereka hari itu tidak membuat Arissa dan Mario berhenti berusaha untuk bisa berbicara secara privat dengan pengusaha itu. Mereka sudah berjanji untuk menemukan mama Angelo dan Rajata adalah satu-satunya petunjuk yang mereka punya untuk mencari tahu keberadaan mama anak itu. Dan disinilah Arissa sekarang, di depan pintu sebuah ballroom hotel menunggu Mario yang katanya sedang berjalana menuju tempatnya. "Kamu bawa undangannyakan?" Suara Mario dari seberang membuat Arissa segera membuka tasnya dan memeriksa barang yang dimaksud Mario. "Iya aku sudah bawa kok. Kak Mario dimana?" Tanya Arissa dengan mata yang mengedar untuk mencari keberadaan pria tersebut. Bukannya mendapatkan jawaban, Mario malah memutuskan sambungan telepon mereka. Membuat Arissa mengumpat karena kesal. Walau Mario sudah memberitahunya kalau dia akan datang terlambat karena harus bertemu Leon dulu, tetap saja Arissa merasa kesal kalau harus menunggu. Apalagi tidak ada orang yang dikenalnya disini, Jadi dia harus menunggu Mario dalam kebosanan. "Ughhh, jerk. You are not changes at all." Katanya sibuk mengomel pada layar handphonenya. Sampai dia tidak sadar kalau orang yang dia katai sudah berada di belakang tubuhnya. Puk...puk... Tepukan dipundaknya, menghentikan omelannya. Arissa berniat melanjutkannya pada orang yang mengganggunya itu. "AP..." Omelan Arissa terhenti saat didapatinya Mario sudah berada dihadapannya, lengkap dengan setelan pestanya. Untuk sesaat Arissa terpesona dengan penampilan Mario malam ini. Penampilan yang baru kali ini dilihat olehnya. Biasanya Mario hanya menggunakan pakaian biasa saja, bahkan menggunakan dinas kerjanya saja, Arissa bisa menghitung dengan jarinya berapa kali dia melihat Mario menggunakan pakaian resmi pekerjaannya itu. Senyum Arissa tersungging lebar. Memang Mario tidak serapi pria lain yang ada di pesta itu, tapi entah kenapa Arissa merasa Mario malah lebih menarik dari pria lainnya disana. "Ada apa? Ada yang salah dengan penampilanku?" Arissa mengerjap, "Ya? Eh.... enggak, ngga ada yang salah kok." Jawabnya secepat mungkin menguasai dirinya agar Mario tidak menyadari kalau dia tadi sempat terpesona. "Ya udah, masuk yuk." Ajak Arissa segera karena tadi dia melihat kalau Rajata dan istrinya sudah muncul daritadi. "Apa?" Arissa bertanya karena Mario tidak kunjung beranjak dari posisinya semula. Mario tidak menjawab. Pria itu malah menoleh pada tangan kanannya, seolah memberi isyarat pada Arissa untuk melakukan sesuatu. Rasanya Arissa dumbfounded, tidak berpikir kalau Mario akan semaksimal itu dalam penyamaran mereka. 'Baiklah Arissa, fighting!!! Lo jangan baper hanya karena gandengan doang. Ingat doi pernah ngenolak elo dan elo bukan kriteria doi.'  *** Mengikuti pesta bisnis sebenarnya bukanlah hal baru bagi Arissa. Dalam beberapa kesempatan, Arissa beberapa kali mewakili kakek dan orangtuanya jika mereka tidak dapat menghadiri undangan bisnis rekan mereka. Jadi dia sangat tau bagaimana harus bersikap dan menghadapi orang-orang yang berkecimpung didunia bisnis. Sebenarnya Arissa tidak pernah tertarik sama sekali dengan dunia bisnis, tapi sedikit banyak dia harus tau tentang bisnis karena kakek, papanya dan abangnya adalah pebisnis. Dan sekarang pekerjaannyapun berhubungan dengan bisnis karena dia memang lebih memilih untuk mengambil kasus perusahaan. "Rasanya aku tadi sudah melihat om Rajata datang deh." Kata Arissa dengan nada pelan karena dia memang tidak menujukan perkataannya pada siapapun. Tapi tetap saja, orang disebelahnya yang tangannya Arissa gandeng mendengarnya. "Mungkin dia sedang bersiap-siap. Ini acara ulang tahun perusahaannyakan." Balas Mario sambil mengambil minuman dari stand dan menyodorkannya pada Arissa sebelum mengambil untuk dirinya sendiri. Kepala Arissa mengangguk kecil mengiyakan. Kemudian dia mengedarkan pandangannya kemana saja yang penting tidak kelengannya yang saat ini bertaut sempurna dengan lengan kekar Mario. Dia harus melawan keinginan hatinya yang sangat memalukan. Bagaimana tidak memalukan, jika yang diinginkannya sekarang adalah mengamati tangannya yang sedang bergandengan dengan Mario. Bukankah itu membutnya seperti amatir? Ini hanya gandenganloh, bukan skinship intim yang perlu membuatnya berbunga-bunga. Entah Mario menyadarinya atau tidak, tapi yang pasti dia sedang salting. Membuat Arissa seperti robot yang badannya sangat kaku karena dia tidak tau harus bagaimana. Dia takut kalau dia memeluk lengan Mario kuat, pria itu mengira dia belum move on atau sedang cari kesempatan. Kalau dia memeluknya ogah-ogahan, Arissa takut penyamaran mereka terbongkar dan Mario juga berpikir kalau dia masih baper soal penolakannya. Sedihkan jadi Arissa? Untuk memeluk lengan Mario saja dia merasa serba salah. Makanya Arissa akhirnya manusia setengah robot karena tangannya yang menggandeng Mario dia buat sekaku mungkin. Walau rasanya sangat menyiksa karena ternyata memaksa tubuh kaku itu membuat lelah dan kebas. "Loh itu bukannya dokter Nayla?" Ujar Arissa saat dia mendapati sosok tak asing di pesta itu. Lalu kepala Arissa mendongak untuk melihat Mario, apakah pria itu melihat apa yang dilihatnya. Mario tidak menjawab, tapi jelas sekali arah pandangnya sama ke arah dimana Arissa melihat tadi. Bedanya hanyalah reaksi yang mereka tunjukkan. Jika tadi Arissa sedikit terkejut dan tidak menyangka dengan keberadaan Nayla, Mario terlihat tenang, seolah keberadaan dokter yang baru dikenal Arissa beberapa hari tersebut adalah sebuah kewajaran. Oh tidak, tidak hanya itu yang berbeda. Jika diperhatikan dengan baik seperti yang dilakukan Arissa sekarang, titik fokus tatapan Arissa dan Mario berbeda. Jika tadi Arissa berfokus pada Nayla, maka fokus Mario jelas pada wanita di sebelah Nayla yang kini juga sudah balas memandang Mario sambil tersenyum. Senyum yang sulit diartikan Arissa, sesulit mengartikan arti tatapan Mario saat ini. Sialnya Arissa tidak bisa membohongi dirinya kalau ada sedikit rasa sakit dihatinya melihat hal tersebut. Namun perasaan itu berusaha dia tepis dengan cepat karena dia merasa tidak pantas merasakannya. Arissa berulangkali mengingatkan hatinya kalau dia sudah ditolak, Mario tidak akan pernah mau dengannya dan dia sudah tidak menyukai Mario lagi. Ketika Arissa akan mengalihkan tatapannya dari wanita yang menjadi fokus Mario, tidak sengaja matanya menangkap sesosok pria yang juga sedang melihatnya. Pria itu tersenyum padanya, kening dan alis Arissa berkerut sesaat. Mengingat-ingat apakah dia pernah mengenal pria itu, tapi dia tidak merasa pernah mengenalnya. Walau begitu Arissa tetap membalas senyumannya dan segera berpaling karena entah kenapa dia merasa tidak nyaman dengan tatapan dan senyuman si pria. Memfokuskan dirinya pada MC yang memberitahukan kalau pemilik acara akan muncul, Arissa berharap kalau bisa segera menjalankan rencanya dengan Mario. Dia ingin penyamaran ini segera berakhir. Ah tidak, dia ingin masalah Angelo segera berakhir agar dia dan Mario tidak perlu lagi berinteraksi seintens sekarang. Bukan karena dia masih benci atau marah, tapi dia takut dan tidak akan bisa menerima kenyataan akan perasaannya. Rajata adalah orang yang tidak sembarangan bisa kamu sentuh. Begitu pesan kakek Arissa kepadanya saat dia menceritakan alasannya kenapa dia ingin mewakili kakeknya di pesta yang diadakan Rajata. Jelas itu adalah sebuah peringatan dan tanda tersirat agar Arissa menghentikan niatnya dan tidak mencari masalah dengan pengusaha besar itu. Tapi tentu saja dia tidak melakukannya karena dia sudah berjanji pada Angel untuk menemukan mama si anak dan Arissa sangat yakin kalau Rajata berhubungan dengan hilangnya Magdalena. Selain itu, entah mengapa Arissa merasa ada sesuatu yang besar dibalik kasus yang tengah ditanganinya sekarang. "Hfffttt..." Arissa menghembuskan napasnya berat sambil melap tangannya yang basah dengan tissue yang memang sudah disiapkan disana. "Apakah ini memang akan baik-baik saja?" Tanya pelan pada bayangan dirinya di cermin. Ada sedikit keraguan pada dirinya untuk lanjut mencari Madgalena karena Arissa merasa ada sesuatu yang tidak enak pada perasaan Arissa ketika tadi berhadapan langsung dengan Rajata. Kalau ini tentang dia saja, mungkin dia bisa mengabaikannya perasaan tidak enak itu karena kakek dan papanya tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padanya. Lagipula, meskipun perusahaan keluarganya tidak sebesar perusahaan milik Rajata, tapi hubungan kakek dan ayahnya dengan orang-orang lebih besar sangatlah baik. Jadi ya, Arissa tidak terlalu khawatir kalau dia harus berhadapan dengan Rajata. Tapi, bagaimana dengan Mario, Angelo dan Amara. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD