SEBELAS

1561 Words
"Macet nggak kesininya?" Tanya Arissa saat dia sudah berada di sisi jalan, dimana Mario tengah menunggunya di atas motornya. "Nggak terlalu kok buat ukuran jam pulang kerja." Jawab Mario tersenyum singkat. "Oh iya tunggu sebentar," kata Mario kemudian memindahkan sebuah kantongan berukuran cukup besar dari stang kanannya. Kemudian dia mengeluarkan isinya. "Buat kamu," lanjutnya lagi sembari memberikan sebuah helm berbentuk cukup feminim dan berwarna kuning muda, warna kesukaan Arissa. Senyum Arissa mengembang lebar menyambut helm itu dengan senang. "Terimakasih," katanya bersemangat. Tidak menungg lama, dia segera memasang benda itu dikepalanya. Namun entah karena terlalu bersemangat atau memang pengaitnya susah di 'ceklek' karena masih baru, Arissa kesulitan menyambung tali penghubung helmnya itu. "Ckkk..." keluhnya tampak tidak sabar dengan kerumitan tali helm, padahal dia sudah ingin sekali helm itu terpasang dikepalanya. Ini adalah hadiah pertama Mario buatnya, jadi dia ingin segera menggunakannya. "Sini biar aku pasangkan," saat Arissa hampir menangis karena saking kesalnya dia pada pengait helm yang tidak kunjung terhubung, Mario akhirnya menawarkan bantuan. Sejujurnya dia sudah ingin membantu Arissa sejak dilihatnya wanita itu kesulitan memasang helm pemberiannya, tapi entah kenapa dia malah sangat menikmati wajah kesal Arissa. Sampai dia mendengar cebikan sangat kesal keluar dari mulut wanita itu, barulah dia tersadar harus segera membantu Arissa. Dengan mudah Mario memasang helm pemberiannya dikepala Arissa. 'Klik,' bunyi tanda pengait helmnya sudah terpasang. "Sudah," katanya kemudian menatap wajah Arissa yang sedari tadi sudah menengadah kepadanya. "Loh kok kak Mario bisa memasangnya dengan mudah sih," Arissa memasang pengait helm untuk memastikan kalau pengait yang menyusahkannya tadi memang sudah terhubung. Mario kembali tersenyum singkat sebelum menjawab, "Itu karena aku tidak terburu-buru memasangnya. Kalau kamu tadi santai aja memakainya, kamu akan menyadari kalau ada ada yang harus kamu tekan dulu disana biar pengaitnya masuk." Bibir Arissa membulat. "Ohhh... pantes," Arissa merasa bodoh sendiri karena dia pikir dia hanya perlu memasukkan besi pengaitnya saja tadi. "Naik, kita harus segera menemui seseorang." Perintah Mario setelah dia juga memasang kembali helmnya yang tadi sempat dilepasnya saat menunggu Arissa turun dari gedung kantornya. Memastikan Mario sudah memasang dengan helmnya dan menurunkan kakinya untuk menumpu motor, barulah Arissa naik ke boncengan belakang Mario. Ketika Arissa sudah duduk dengan baik di belakang Mario, Mario segera menghidupkan mesin motornya, namun pria itu tidak langsung menjalankannya. Arissa melihat ke spion motor pria itu untuk melihat apa yang dilakukan Mario hingga mereka belum kunjung berjalan. Tepat ketika Arissa hendak memiringkan tubuhnya untuk melihat spion Mario, pria itu membalikkan tubuhnya. ... Entah bagaimana Arissa harus mendeskripsikan helm yang digunakannya ini. Apakah ini keberuntungan atau malah kesialan karena helm yang mereka gunakan berhasil memberi jarak antara wajahnya dan Mario. "Terimakasih untuk kotak makan siangnya," ucap Mario tanpa mau repot-repot menjauhkan kepalanya. Arissa tersenyum canggung dan menjawab, "Hmmm... sama-sama." Kemudian dia berdeham sebelum kemudian menjauhkan wajahnya dari Mario karena ini bukan waktu yang tepat untuk berpacaran ataupun salah tingkah. "Jadi kita mau bertemu siapa kak?" Katanya berusaha menghilangkan kecanggungan yang dia rasakan. Karena ternyata seagresif apapun dia pada Mario, dia tetap memiliki rasa malu yang teramat sangat jika dia mendapat sedikit saja perlakuan yang berbeda dari pria tersebut. Mario memutarkan kembali tubuhnya, lalu menjawab, "Saksi mata yang mungkin tau siapa pembunuh Magdalena." Arissa terdiam, sebelum kemudian dia menghembuskan napasnya pelan dan berpegang pada jaket jeans hitam Mario karena kini pria itu sudah mulai membelah jalanan ibukota. 'Sepertinya kak Mario sangat yakin kalau Magdalena memang sudah meninggal dan mayat kemarin itu adalah mama Angelo.' Arissa berucap dalam hatinya dengan sedih karena membayangkan Angelo dan neneknya. 'Lalu apa yang harus aku lakukan selanjutnya kalau memang kak Mario benar? Akan sulit buat mereka menerima berita ini, apalagi penyebab kematian Magdalena adalah sesuatu yang tidak wajar.' Melemparkan tatapannya pada jalanan yang macet Arissa memikirkan bagaimana dia akan memberitahu aAngelo dan neneknya. *** Berjalan menuju TKP dengan tangan yang berpegang pada tangan Mario, Arissa melihat sekelilingnya. Mencari sesuatu yang janggal pada tempat dimana tubuh Magdalena ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa. Mudah buat mereka masuk tempat itu karena Mario adalah salah satu orang yang bertanggung jawab untuk kasus ini. Setelah jenazah Magdalena ditemukan diteritorial kepolisian tempat mario bekerja, kasus Madalena resmi ditangani oleh divisi dimana Mario berada. Bicara soal tangan mereka yang saling berpegang, jangan mengira itu adalah hasil permintaan Arissa. Mario lah yang menawarkan tangannya sebagai pegangan Arissa karena Arissa sering kali hampir terjatuh karena sepatu hak tingginya. Mungkin kalau tidak berpegangan pada Mario, tubuhnya sudah pasti bau dan penuh lumpur karena ternyata tempat mayat Magdalena ditemukan ada disebuah tempat pembuangan sampah yang sedikit jauh dari pemukiman penduduk dan masih tertutup ilalang. Apalagi hujan baru saja turun tadi, membuat tempat itu semakin tidak kondusif untuk didatangi. "Kak bukankah penjelasan bu Narti tadi sedikit janggal." Tanya Arissa ketika mereka sudah sampai ditempat yang dibatasi dengan tali kuning yang biasanya digunakan polisi untuk membatasi TKP, tempat yang pastinya tidak bisa dimasuki dengan sembarangan. "Kamu juga berpikir begitu?" Balas Mario tanpa melihat pada Arissa karena mereka berdua fokus untuk mencari bukti yang berhubungan dengan kejanggalan yang mereka pikirkan. Setelah tadi mereka bertemu Narti, orang yang katanya Mario mungkin jadi orang terakhir yang melihat Magdalena sebelum meninggal, dia dan pria tersebut segera ke lokasi kejadian. Arissa tidak peduli dengan kenyataan tempat itu kotor, bau dan menjijikkan karena ada beberapa kesaksian Narti yang terasa cacat menurutnya. Menjauh dari ilalang tempat dia mencari bukti, Arissa kemudian mendekat pada Mario. Lalu ditunjuknya jalan raya yang posisinya sedikit jauh dari TKP. "Jika apa yang bu Narti katakan benar kalau dia melihat Magdalena meninggalkan tempat ini berselang beberapa menit dia datang kesini, bukankah itu artinya Magdalena tidak terbunuh disini?" Mario tidak menjawab, namun kini dia memusatkan perhatiannya sepenuhnya pada Arissa. "Sedari tadi aku selalu memikirkannya," lanjut Arissa dengan tiba-tiba meletakkan tangannya pada Mario seolah ingin mencekik pria itu. Gerakan yang jelas membuat Mario terkejut, namun kembali terlihat tenang dan seperti dia yang biasanya saat sadar kalau Arissa tidak mungkin menyakitinya. "Kalau benar Magdalena meninggal karena kehabisan udara karena lehernya terjerat tali, tidak mungkin sipembunuh bisa membunuhnya dalam beberapa menit saja." Lagi-lagi Mario tidak memberi tanggapan, membiarkan Arissa yang dalam mode serius melanjutkan mengeluarkan apa yang dalam pikirannya. "Ada beberapa kemungkinan yang aku pikirkan tentang kematian Magdalena setelah menggabungkan beberapa bukti dan kesaksian yang kita miliki. Dan aku perlu mencari bukti yang lebih banyak untuk menentukan mana yang paling berhubungan dengan kematian mama Angelo. Tapi... aku yakin akan dua hal..." Arissa mendirikan jari telunjuk dan tengahnya, sebelum menjauh dari Mario dan melihat kembali pada jalan raya dengan raut yakin. "Pembunuhnya adalah wanita dan si pembunuh mencoba membuat alibi palsu." Sebelum Arissa menyelesaikan ucapannya Mario sudah terlebih dahulu menyelesaikan apa yang ingin disampaikannnya. Arissa tersenyum setelah tadi menunjukkan wajah sedikit terkejut karena tidak menyangka memiliki pemikiran yang sama sengan pria tersebut. "Dengan jarak sejauh ini dari jalan raya dan kondisi langit yang masih gelap karena masih jam 4 pagi ada kemungkinan yang dilihat bu Narti saat itu bukanlah Magdalena. Bu Narti berpikir kalau itu adalah Magdalena karena si pembunuh menggunakan pakaian yang mungkin sama atau dengannya." Senyum Arissa semakin lebar, apa yang dipikirkannya sama dengan apa yang dipikirkan Mario. Kasus Magdalena ini memang sedikit menemukan titik terang setelah mereka bertemu Narti tadi. Penjual sayur yang Arissa dan Mario yakini melihat si pembunuh Magdalena, tapi mengira itu adalah Magdalena karena pakaian yang digunakan si pelaku dan Magdalena mungkin sama atau mirip ketika wanita itu ditemukan meninggal. Menurut pengakuan Narti tadi, dia tidak melihat langsung wajah wanita yang dikiranya Magdalena, dia bilang wanita itu adalah Magdalena karena dia menemukan kesamaan pakaian antara foto mayat Magdalena dengan wanita yang dilihatnya saat pergi belanja untuk dagangannya. "Kita harus menunggu hasil authopsi keluar dulu sebelum menyimpulkan lebih lanjut,” tambah Arissa setelah merasa cukup dengan TKP dimana jenazah Magdalena ditemukan. Lama keduanya berdiam di tempat itu, tidak peduli kalau keadaan sudah gelap. Baik Mario maupun Arissa mencoba untuk mengurai kembali kemungkinan-kemungkinan yang yang ada diotak mereka masing-masing. Sampai Arissa mendengar Mario mendesah pelan dan mengajaknya meninggalkan TKP. "Pulang yuk," ajak pria itu sambil kembali mengulurkan tangannya. "Kita sepertinya harus menunggu hasil authopsi dari tim forensik untuk menyimpulkan yang lainnya." Arissa mengangguk menyetujui perkataan Mario karena mereka memang membutuhkan waktu kematian magdalena sebelum menyimpulkan kamungkinan lainnya untuk melanjutkan penyelidikan. Dalam perjalan menuju rumah Narti, tempat dimana motor Mario dititipkan. Mario tiba-tiba bersuara. Mengatakan sesuatu yang tidak pernah disangka oleh Arissa."Kamu tau, kamu terlihat keren saat sedang serius di TKP tadi." Kata Mario yang berjalan sedikit lebih di depan Arissa. Langkah Arissa terhenti sejenak, sebelum kemudian lanjut dengan senyum yang menghias lebar diwajahnya. "Benarkah?" "Hmmm..." Mario berdeham. "Kamu banyak berubah dari Arissa yang dulu aku ingat." Kata Mario tetap berjalan menuntun Arissa. Arissa terkekeh pelan mengingat bagaimana dia yang dulu. Mahasiswa yang bepikir kalau dia akan bisa seperti Hootmaen Pariz hanya dengan tau tentang UU, tanpa harus susah-susah turun ke TKP begini. Mengeratkan pegangannya pada tangan Mario, Arissa kemudian berkata "Itu semua berkat kak Mario dan kapten Leon." Kemudian dia mempercepat langkahnya agar bisa mengimbangi Mario. Dipeluknya kemudian lengan Mario dan berkata, "Terimakasih untuk mulut pedas kak Mario." Arissa tidak membalas tatapan Mario yang tertuju padanya karena kata-katanya barusan. "Kalau bukan karena itu mungkin sekarang aku hanya akan menjadi sarjana hukum yang berprofesi sebagai selebgram, bukan jadi pengacara." Ya, Arissa selalu mensyukuri pertemuannya dengan Mario dulu, terlepas dari penolakan Mario yang membuat Arissa sempat tidak ingin membuatnya bertemu dengan Mario, Arissa banyak mendapat pelajaran dari pria itu. Pelajaran yang mungkin tidak pernah disadari oleh pria itu pernah diberikannya pada Arissa. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD