Sepanjang perjalanan menuju parkiran rumah sakit, Arissa berjalan seperti orang bodoh dan linglung. Akalnya seolah pergi meninggalkan tubuhnya, sampai dia sudah diparkiran saja Arissa tidak sadar.
"Kamu pakai ini," kata Mario sambil melepas jaketnya.
Seperti yang baru kebanyakan orang yang akalnya baru kembali setelah berkelana pergi meninggalkan otaknya, Arissa mengerjap. Terlihat kebingungan dengan apa yang Mario katakan. "Ngg... euh ya?" Ekspresi Arissa jelas menunjukkan kalau dia kebingungan.
Untuk sesaat dia dan Mario saling tatap, pria itu tampak tidak ingin mengulang perkataannya.
Dan Arissa...
Dia ingin mengumpat dirinya saat itu juga karena entah kenapa dia merasa jantungya malah berdegup. Jenis degup yang membuatnya tidak nyaman karena dia tidak ingin mengakuinya. Dia terlalu takut sakit hati kalau dia sampai membuat ekspetasi tinggi dengan apa yang dilakukan Mario. Apa yang dipikirkannya tentang apa yang dilakukan Mario kepadanya, mungkin saja berbeda dengan apa yang dipikirkan Mario. Dia yakin pria tersebut tidak berniat membuatnya terpesona atau kembali menyukainya.
Hhhfffttt...
Helaan napas berat Mario mengembalikan fokus Arissa.
"Maaf," ucap pria itu otomatis disambut kernyitan dalam di kening Arissa.
"Kenapa kak Mario minta maaf." Katanya Arissa dengan suara deffensive.
Arissa akan sangat marah sekali pada Mario kalau sampai pria itu meminta maaf atas perasaannya yang tidak berbalas. Apalagi kalau nanti pria itu sampai memintanya untuk menghilangkan perasaaannya karena setidak ingin apapun dia mengakui perasaan itu, tapi tetap saja Arissa menganggapnya berharga.
None can control her feeling.
"Maaf sudah membuatmu bingung," ucapan Mario terpotong karena pria itu tampak ingin lebih santai berbicara dengan Arissa, dengan mendudukkan sedikit dirinya di badan motornya. "Selain itu, aku pasti membuatmu tidak nyaman tadi karena aku seperti menggunakan kamu untuk menghindar."
Mario memang tidak menjelaskan secara rinci apa maksud dari perkataannya, namun tidak sulit buat Arissa kemana arah permintaan maaf pria itu.
"Aku..." Mario sudah akan menjawab Arissa ketika Arissa memotongnya.
"Apakah kak Mario masih suk..." kepala Arissa menggeleng cepat. "Ah bukan suka, tapi apakah kak Mario masih mencintainya?"
Arissa tau betapa tidak sopannya dia sekarang pada Mario. Pertama, dia memotong perkataan Mario. Lalu kemudian bertanya soal kehidupan percintaan orang. Sesuatu yang jelas bukan urusannya dan tidak pantas untuk dia campuri, tapi apa yang bisa Arissa lakukan? Karena ada disuatu waktu bagian tubuhnya Arissa yang bekerja tanpa proses berpikir dahulu. Seperti sekarang, mulut Arissa bicara bahkan tanpa dia tau apa yang dia katakan. Dan ketika dia menyadari apa yang baru saja telah dilakukannya, Arissa menyesal. Apalagi saat dia mendapati wajah kaku Mario, walau raut wajah pria itu dengan cepat kembali seperti Mario yang biasanya, tenang. Tiba-tiba saja Arissa merasa canggung dan dia melihat Mario tidak ada niatan untuk memecah kecanggungan tersebut.
"Aku..."
"Kak Mario..."
Mario dan Arissa berbicara berbersamaaan. Kemudian keduanya terdiam dengan posisi Arissa yang membuang muka untuk menghindari perasaan salah tingkahnya. Lalu dengan memasang senyum terpaksa dan memasang wajah tak enak, Arissa berkata, "maaf sudah bertanya yang bukan urusan aku. Kak Mario tidak perlu menjawabnya, that's not my bussiness at all."
Munafik memang Arissa berkata begitu karena dia sebenarnya ingin tau apa jawaban pria tersebut, tapi dia tidak ingin merusak hubungan baik yang baru mereka jalin. Arissa sudah akan mengajak Mario untuk pulang karena urusan mereka disini sudah selesai dan juga, dia tidak mau terjebak lebih lama lagi dengan suasana canggung tak mengenakkan ini.
"Aku tidak tau." Kata Mario sambil menatap Arissa dengan tatapan yang Arissa tidak bisa baca. 'Well, lo tidak pernah bisa membaca dia. Bahkan ketika lo banyak menghabiskan waktu dengannya.' Arissa meledek dirinya sendiri dalam hatinya. "Aku tidak tau bagaimana perasaanku saat ini kepadanya."
Arissa diam menunggu apalagi yang akan dikatakan Mario. Lagipula dia tidak tau harus menanggapi seperti apa pengakuan pria itu. Rasanya serba salah buat Arissa jika bicara ataupun bertingkah untuk pengakuan Mario barusan. Bahkan untuk menentukannya saja dia harus sibuk sendiri dengan pikirannya sendiri sampai dia mengabaikan beberapa ucapan Mario. Dan ketika dia kembali dari kesibukan berpikirnya, Mario sudah diujung ucapannya yang mengulang inti dari pengakuannya tadi.
"... kalau bisa ingin aku ingin lepas dari semua ini."
Kepala Arissa kemudian terasa kosong. Lalu matanya mengedip polos, seperti anak yang tidak ada dosa. Seharusnya ketika ciri-ciri itu muncul pada dirinya, Arissa harus segera menguasai dirinya dengan mengembalikan pikirannya. Karena kalau dia membiarkannya, kebiasaan ajaibnya yang bicara tanpa berpikir dan spontan selalu muncul dan tidak terkendali. Saking tidak terkendalinya seperti tadi, apa yang keluar dari mulutnya kadang biasanya adalah hal yang gila.
"Bagaimana kalau kak Mario mencoba dengannya dengan aku? Beri aku kesempatan untuk membantu kak Mario lepas dari perasaan apapun itu yang kak Mario miliki pada kak Nadira."
See, Arissa memang seajaib dan segila itu kalau pikirannya sudah meninggalkan kepalanya. Mungkin setelah sadar setelah mengucapkan hal tadi, Arissa akan menjedotkan kepalanya ke tembok terdekat dengannya agar dia segera pingsan dan hilang ingatan.
***
"Nggghhh..." sambil meregangkan tubuhnya, Arissa yang baru saja bangun dari tidurnya melenguh. "Ugh... capek," lanjutnya lagi dengan mata yang masih menutup, Arissa mengeluh sambil menggerak-gerakkan kepalanya ke kiri dan ke kanan.
Namun rasa lelah itu segera hilang saat diingatnya apa yang telah terjadi kemarin. Membuka matanya cepat, senyum langsung menghias wajahnya, lalu dengan sangat cepat pula dia turun dari ranjangnya untuk mengambil handphone-nya yang seingatnya belum diambilnya dari tas kerjanya sejak sampai dirumahnya. Kepalanya terlalu kosong untuk mengingat keberadaan benda itu. Pasalnya untuk mengingat perjalan dari rumahsakit, sampai dia bisa tidur diranjangnya saja dia tidak bisa ingat. Beruntung alam bawah sadarnya sangat baik padanya, hingga dia masih bisa bangun dalam keadaan baik setelah otaknya sempat meninggalkan kepalanya tadi malam.
Selamat pagiJ
Ketik Arissa pada handphonenya, begitu dia mengambil benda tersebut dan menemukan nomor pria yang berhasil membuat otaknya meninggalkan kepalanya kemarin.
Berjalan menuju ranjangnya dengan wajah yang masih menampilkan senyum lebar, Arissa lalu duduk disana dengan kaki yang terlipat. Matanya tidak sedikitpun meninggalkan layar handphonenya karena pesan yang dikirimnya tadi sudah bercentang biru dengan tulisan 'mengetik...' terlihat di sudut atas sudut ruang apikasi berkirim pesan yang digunakannya.
Maaf aku lagi sibuk, nanti aku hubungi.
Untuk sesaat kening Arissa mengernyit kecil dan senyumnyapun sedikit memudar ketika membaca pesan itu. Namun semua rekasi itu segera dihilangkannya dengan berpikir kalau mungkin Mario sangat sibuk.
Baik.
Nanti sebelum ke kantor, aku ke tempat kak Mario dulu buat mengantar kotak makanan buat makan siang.
Ketik Arissa kemudian.
Sampai beberapa menit Arissa menunggu, tidak ada tanda-tanda kalau Mario akan membalas pesannya karena untuk tanda pesan tersebut dibaca saja belum ada.
"Mungkin kak Mario benar-benar sangat sibuk." Katanya bermolog pada layar hapenya, sebelum memutuskan untuk meletakkan benda itu kenakasnya.
Bangun dari ranjangnya, Arissa kemudian jalan menuju dapur rumahnya. Seperti dugaannya, tempat itu sudah tampak rapi dan kosong karena jam sarapan keluarganya sudah lewat sekitar 3 jam yang lalu. Mamanya tadi sudah membangunkannya untuk ikut sarapan bersama, tapi Arissa terlalu lelah dan mengantuk tadi. Jadi dia harus skip sarapan bersama pagi ini.
"Kamu mau ngapain?"
Suara di belakang tubuhnya mengejutkan Arissa yang tadi sibuk mengamati kulkas berisi bahan makanan.
"Ih mama... aku terkejut tau." Rengeknya setelah mendapati kalau ternyata mamanya, Aribella-lah pemilik suara barusan.
Aribella tertawa kecil sebelum kembali lagi dengan pertanyaan awalnya. "Kamu mau ngapain buka-buka itu? Kalau mau cari makan, minta bibi Sur masakin sana karena Arga tadi mampir, jatah sarapan kamu udah mama kasih ke dia." Kata Aribella lalu ikut melihat isi kulkasnya.
"Aku nggak cari makan kok ma. Aku mau masak," katanya menjawab tanpa melihat wajah sang mama yang terlihat tidak yakin dengan jawaban Arissa.
Dengan alis kanan yang sedikit menukik, Aribella kemudian bertanya, "Masak? Tumben?"
"Hihihi..." Arissa terkikik senang. Dilihatnya mamanya dengan senyum lebar lalu dengan penuh semangat dia bercerita pada Aribella, "aku mau masak buat pacar aku ma. Aku akan mengantarkannya nanti kekantornya sebelum ketemu client nanti."
Hubungan Arissa dengan mamanya sedekat itu, sampai apapun yang terjadi padanya dan menurutnya orangtuanya perlu tau Arissa akan ceritakan pada mamanya. Lalu nanti mamanya yang akan cerita pada Romeo, papa Arissa kalau menurut Aribella, papa Arissa perlu tau.
"Kamu punya pacar? Bukankah alasan kamu bilang kemama kalau untuk saat ini kamu belum tertarik buat jalin hubungan dengan laki-laki. Mama ingat kamu menggunakan alasan itu buat nolak mama, waktu mama mau kenalin anak teman mama ke kamu."
Arissa menyengir, ditutupnya pintu kulkas setelah diambilnya udang, cumi dan bakso ikan mentah darisana. Kemudian dia meletakkan bahan makanan yang baru dikeluarkannya barusan ke kitchen bar sebelum memeluk lengan Aribella dengan manja.
"Awalnya gitu mam, tapi gimana dong, Arissa ketemu lagi sama Mario. Kemarin aku mengajaknya untuk mencoba hubungan denganku dan dia setuju."
...
"Mario? Bukankah dia laki-laki yang pernah menolakmu?" Suara mama Arissa berubah.
Terlihat sedikit tidak suka dengan apa yang baru saja didengarnya dan Arissa bisa memaklumi itu karena mamanya sangat tau bagaimana patah hatinya dia saat menerima penolakan dari Mario. Terbiasa mendapatkan apa yang dia mau, termasuk laki-laki, membuat Arissa merasa sangat terpukul waktu menerima penolakan Mario,
Melepas tangan mamanya, Arissa lalu memasang wajah dan suara yang biasa digunakannya ketika sedang meminta pada mama papanya. Biasanya semua keinginannya akan terkabul jika dia menggunakan jurus ini. "Ma..." katanya lalu mengambil tangan mamanya. "Kak Mario adalah satu-satunya laki-laki yang bisa membuatku berjuang untuknya. Bisakah mama mendukungku?"
...
Mata Aribella terpejam, napasnya dihembuskannya berat. Wanita yang telah melahirkan dan membesarkan Arissa dengan penuh cinta itu hanya menatapnya dengan dalam, sebelum kemudian mengusap pelan puncak kepala Arissa dengan sayang. Lalu berkata, "Kamu tau resiko dari pihak yang mencintai, mengejar dan mengharapkan?"
Arissa memasang senyum hambar dan mengangguk. "Kecewa dan sakithati," jawabnya kemudian dengan nada pelan.
Aribella mendesah, memperbaiki poni depan Arissa dan lanjut berkata dengan senyum lebar yang pasrah. "Yang penting kamu tau resikonya, jadi kalau suatu hari hubungan kalian tidak berakhir seperti yang kamu inginkan, mama harap kamu sudah siap dengan semua resiko tersebut. Jangan menyalahkan siapapun termasuk Mario karena ini adalah pilihan kamu."
Menatap lantai dapur yang Arissa tau baru direnovasi, dia berusaha menghindari tatapan sang mama sejenak. Kemudian diangkatnya kembali kepalanya, ditatapnya Aribella dengan sebuah senyum dan berkata, "Iya ma. Aku sudah siap bagaimanapun akhirnya itu nanti."
Dan kalau Arissa sudah memutuskan begitu, Aribella tidak bisa melakukan apapun selain mendukungnya.
"Baiklah kalau begitu," ucap Aribella kemudian tersenyum lebar. Lebih kearah pasrah sebenarnya, bukan menerima sepenuhnya.
Arissa tersenyum senang, kemudian memeluk mamanya refleks, "Terimakasih mam!" pekiknya senang.
Arianna balas memeluknya.
Lama mereka berpelukan sebelum Aribella kembali memberikan pertanyaan yang membuat Arissa seperti disiram air es.
"Jadi kapan kamu akan mengenalkan dia secara sah pada mama dan papa?"
'Oh baiklah, Arissa salah langkah dengan menceritakan semuanya pada mamanya. Seharusnya nanti... ya nanti...'
"Nanti-nanti?" Arissa tidak bisa memberi jawaban pasti.
***