SEMBILAN

1505 Words
Pikir Arissa, Mario sependapat dengannya karena pria itu sempat diam dan tidak ingin lagi melanjutkan pembicaraan mereka. Sampai Arissa mendengar pria itu menghela napasnya berat dan mengeluarkan kembali suaranya. "Indira, adalah mama aku." Ucap Mario membuka ceritanya. Entah bagaimana Arissa harus bereaksi dan menanggapi Mario. Tidak hanya karena informasi yang amat sangat mengejutkan dari pria tersebut, tapi kenyataan Mario mau bercerita saja sudah cukup membuatnya kebingungan. Walau begitu, Arissa tidak mau menginterupsi Mario dengan pertanyaannya. Dia biarkan pria itu melanjutkan ceritanya dengan dia menjadi pendengar saja. "Dia pergi meninggalkan aku dan papaku ketika aku maih berumur 5 tahun." Mario terus bercerita sambil memacu motornya pada jalanan Jakarta yang sedikit macet. "Kata papaku dia pergi karena dia tidak bahagia hidup bersama kami." Arissa masih tetap diam, walau ada sesuatu dalam hatinya yang terasa sedikit sakit mendengar cerita Mario. Ini bukan hanya karena Mario yang mengalaminya, nyatanya dia selalu merasa simpati pada anak manapun yang jadi korban dari keegoisan orangtuanya. "Saat itu aku selalu bertanya apa yang membuatnya tidak bahagia karena yang aku tau mereka saling mencintai. Sampai akhirnya aku cukup dewasa untuk mengetahui kalau uang lebih penting dari cinta." Meski Mario tidak menceritakan semuanya secara spesifik, Arissa tau bagaimana cerita itu berakhir. "Kenapa kak Mario menceritakan ini kepadaku?" Akhirnya Arissa menanyakannya setelah Mario berhasil memarkirkan motornya di depan rumahsakit. Tadi setelah Mario menyelesaikan ceritanya, tidak ada satupun kata yang keluar dari mulut Arissa. Dia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri untuk bisa bersuara bahkan untuk sebuah desahan. Dan sekarang, setelah dia telah berpijak kembali ke tanah, Arissa seolah menemukan kembali kemampuannya untuk berbicara. Tangan Mario yang hendak membuka helmnya terhenti untuk sesaat. Sebelum kemudian dia melanjutkan membuka helmnya dan menjawab, "Mungkin karena aku terlalu emosional dengan pertemuanku yang tiba-tiba dengan nyonya Indira. Sampai aku tidak peduli pada siapapun aku bercerita." Katanya lalu turun dari motornya. Itu bukanlah jawaban yang dharapkan Arissa, tapi apa yang diharapkannya? Tidak mungkin Mario menganggapnya lebih, saat dia sendiri merasa mereka tidak sedekat itu. "Lagipula yang aku tau, kamu bukanlah teman yang buruk untuk berbagi rahasiakan." Ingin rasanya Arissa bisa mengutuk Mario saat itu juga. Walau tidak ada unsur romantisnya ataupun maksud lainnya, Arissa merasa kata-kata Mario begitu manis. Arissa speechless. 'Apa maksud pria itu dengan berbagi rahasia? Apakah kak Mario diam-diam... Oh shut up Arissa. Jangan terlalu percaya diri.' *** Tampan, keren dan dependable. Setiap kali Arissa bertanya pada orang yang dia tahu menyukai Mario, salah satu dari tiga kata diatas selalu menjadi jawabannya. Dan Arissa tidak pernah coba menyangkal hal itu karena memang ketiga hal itu dimiliki oleh Mario. Ya walaupun bukan itu alasannya menyukai Mario. Yaps, itu bukan alasan Arissa menyukai Mario. Ada alasan lain dia menyukai Mario dan alasan itu tidak pernah diberathu Arissa pada orang lain karena dia yakin, orang akan menganggapnya cringey kalau dia mereka mendengar jawabannya. "Bagaimana hasil pemeriksaannya?" Suara Mario membuyarkan pergumulan Arissa dengan pikirannya. Lisa, dokter forensik yang ditemui Mario dan Arissa memberikan clipboard berisi kertas berisi laporan atas mayat yang baru diperiksanya. "Kami belum bisa memberikan detail kondisi mayat karena kami belum melakukan autopsi. Mungkin kami baru mulainya besok, kamu baru bisa mendapatkan detailnya minggu depan." Jawabnya lalu membuka sarung tangan karet yang tadi digunakannya. "Kalau hasil sementara bagaimana?" Mengembalikan clipboard milik Lissa, Mario lalu memperhatikan mayat yang diduga adalah Magdalena. "Kalau hanya pemeriksaan sekilas, kira-kira apa penyebab kematiannya?" Tanya Mario tanpa mengalihkan tatapannya dari mayat dihadapannya. Arissa sendiri segera meringis ngeri melihat mayat itu, mengalihkan tatapannya segera karena merasa tidak sanggup melihat kondisi mengenaskan mayat itu. Setelah melihat langsung mayat itu, Arissa yakin hampir 80 persen kalau 80 mayat itu adalah Magdalena. Jangan berpikir Arissa bersikap berlebihan, nyatanya kondisi mayat yang sedang dilihatnya memang sangat mengerikan. Wajah Magdalena sangat hancur, Arissa yakin kalau tulang wajah wanita itu hancur. Ditambah lagi dengan pembusukan yang sudah terjadi pada si kulit mayat, bahkan masker tidak bisa menutupi bau bukuknya. Dengan wajah hancur dan busuk, sulit buat mereka mengenali si mayat, kalau bukan karena kartu identitas dan barang-barang milik si mayat, mungkin Mario tidak akan tau kalau si mayat mungkin adalah Magdalena. "Kehabisan udara." Lissa menjawab. "Aku tidak menemukan bekas kekerasan ditubuhnya, pelaku hanya memusatkan pukulannya pada wajahnya." Kemudian dia bergerak kearah Mario, tepatnya kearah dimana kepala si mayat berada. "Bagaimana kehabisan udara menjadi penyebab kematiannya? Bukankah seharusnya ini menjadi penyebabnya?" Tunjuk Mario pada bekas-bekas pukulan dibagian kepala si mayat. Kepala Lisa menggeleng. "No, awalnya aku berpikir begitu, tapi setelah melihat ini aku yakin kalau kehabisan napas adalah penyebabnya.” Mario melihat kerah telunjuknya Lisa dan segera mengerti dengan apa yang dimaksud Lisa. "Tali tambang?" Arissa yang bertanya karena dia juga ikut memperhatikan daerah yang ditunjuk Lissa. Bahu Lissa menggedik. "Aku tidak tau apakah ini bekas tali tambang atau tidak karena hanya sipembunuh yang tau apa yang digunakannya untuk mencekiknya." Arissa menganggukkan kepalanya mengerti karena sebagai ahli forensik, Lisa tidak bisa berpendapat tentang sesuatu yang tidak berdasarkan hasil pemeriksaan. "Baiklah kalau begitu, kami nunggu hasil dari kamu saja." Kata Mario setelah keluar dari ruang pemeriksaan dan membuka sarung tangan lateks dan maskernya. "Hmmm, aku akan langsung mengabari kamu begitu hasilnya keluar." Lisa yang hanya berniat mengantarkan Mario dan Arissa sampai pintu ruang pemeriksaan menjawab. Lalu setelah Mario dan Lisa sedikit berbicara tentang sesuatu yang Arissa tidak mengerti, dia dan Mario akhirnya pamit untuk pulang. Toh tidak ada yang bisa mereka lakukan sampai hasil pemeriksaan autopsi dari Lisa keluar. Berjalan di koridor rumah sakit, menuju parkiran dimana motor Mario berada, Arissa berjalan sedikit di belakang. Dia berjalan sambil berpikir sampai dia tidak sadar kalau dia sedikit tertinggal dari Mario. Maunya sih dia ingin berpikinya dirumahnya saja, tapi otaknya tidak mau menurutinya, hingga membuatnya sedikit sakit kepala. "Auhhh..." ringis Arissa saat tidak sengaja menabrak tubuh Mario. Dia sudah akan protes karena ternyata tabrakan mereka bukanlah karena kesalahannya yang melamun saat berjalan, tapi karena Mario yang tiba-tiba berhenti melangkah. Namun protesannya tersebut harus ditelannya kembali bulat-bulat saat dilihatnya siapa yang ada di depan mereka. Sungguh, Arissa tidak tau apa yang dilakukan Mario seharian ini yang membuat takdir ingin menguji kesabarannya. Bayangkan saja, tadi mereka bertemu dengan Indira yang secara mengejutkan diakui oleh Mario sebagai ibunya. Sekarang mereka bertemu dengan Nadira, wanita yang kalau Arissa pikir lagi punya hubungan complicated dengan Mario. "Mario," panggil Nadira. Dari tempatnya Arissa bisa melihat bagaimana wajah wanita itu seketika berbinar dengan senyum yang familiar untuknya dulu. Senyum yang sama seperti miliknya dulu, ketika dia akan dan bertemu dengan Mario. Sedangkan Mario, untuk sesaat pria itu terlihat terkejut dengan keberadaan Nadira. Mungkin tidak menyangka dengan pertemuan yang tidak disengaja mereka. Namun hal itu sesaat hanya saja karena kemudian Mario sudah kembali dengan raut tenangnya, walau Arissa tau kalau itu hanyalah kamuflase belaka. Arissa terlalu jeli akan hal kecil untuk mendapati bagaimana tadi Mario menghela napas dan mengepalkan tangannya, sebelum dimasukkan dalam kantong jaketnya dan membalas senyum Nadira dengan sebuah senyuman tipis. Ingin rasanya Arissa memaki dirinya, saat dia merasakan sesuatu yang menurutnya tidak seharusnya dia rasakan didadanya. 'Oh s**t, Arissa! Don't be like this. Elo bukan siapa-siapanya Mario, jadi lo nggak berhak ngerasa seperti itu.' Kata Arissa dalam hatinya memperingati dirinya dengan keras, Tidak ingin membuat dirinya lebih menyedihkan lagi, Arissa melangkah mundur bersiap meninggalkan Mario dengan wanita yang Arissa tebak masih memiliki tempat dihati pria itu. Bukankah semua itu sangat jelas buat semuanya? Graaabbb... Langkah Arissa terhenti. "Kamu mau kemana?" Tanya Mario kini telah berbalik, menahan Arissa dengan memegang pergelangan tangannya. Arissa terdiam bingung antara mau menjawab apa atau terlalu terkejut dengan apa yang dilakukan Mario. Bagaimana pria itu tau kalau dia mau pergi saat tadi tatapannya hanya terfokus pada pada Nadira. Arissa juga merasa tidak membuat sura yang mungkin membuat Mario menyadari keberadannya. "Nggg... aku," Arissa mengalihkan tatapannya dari Mario salah tingkah, kepalanya terlalu sulit memproses apa yang dilakukan Mario. Namun saat dia mengalihkan tatapannya, Arissa tidak sengaja melihat Nadira yang tengah melihat kearah mereka juga, tepatnya ke Mario dengan tatapan sendunya. "Eng aku mau ke toilet." Jawab Arisa lalu memegang tangan Mario dan melepaskannya dari lengannya. "Kak Mario kalau mau bicara dengan mbak Nadira boleh kok," lanjutnya lagi. "Aku tunggu di parkiran." Arissa pikir setelah dia mengatakan itu, Mario akan melepaskannya dan menggunakan waktunya untuk berbicara dengan Nadira tanpa perlu mengkhawatirkannya. Ayolah siapapun yang tau hubungan mereka, akan tau kalau Arissa hanyalah orang asing yang tidak penting dalam hidup polisi yang sedang memegang tangannya ini dengan putri sulung Rajata ini. Jadi dia tidak perlu bersama mereka untuk keduanya mulai bicara dan kalaupun Arissa pegi begitu saja, dia pikir tidak akan menjadi masalah. Tapi Mario tetaplah Mario, pria yang sepertinya tidak akan mau mendengarkannya dan akan selalu mengabaikan perkataannya. Pria yang disukainya meski sangat jauh dari tipe idealnya karena pria dengan mulut kejam sangat dijauhinya dari dulu. "Tidak, kamu tidak akan kemana-mana. Kita kesana bersama karena aku tidak perlu membicarakan apapun dengannya." Kata Mario kali ini membawa tangan Arissa sehingga kini mereka kembali bergandengan. "Nad, aku mau mengantar Arissa pulang." Dengan suara tenangnya Mario berbicara pada Nadira setelah memutarkan sedikit tubuhnya untuk menghadap Nadira. "Kami duluan ya." Katanya lalu menarik Arissa pergi dari sana tanpa menunggu jawaban dari Nadira. ***  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD