DELAPAN

1536 Words
"Ahhh... akhirnya. Gue hidup lagi." Ucap Arissa sambil membentangkan tangannya. Kepalanya yang menengadah dan matanya yang terpejam membuatnya terlihat sangat menikmati apa yang sedang dilakukannya. Dia tidak peduli dengan bisik-bisik yang mulai tertangkap oleh pendengarannya karena buatnya menghilangkan gerah ditubuhnya lebih penting dari mulut jahil orang. Arissa bisa memikirkan itu belakangan. "Apa yang kamu lakukan?" Oh oke, sepertinya rasa malunya tidak bisa dipikirkannya belakangan karena melakukan hal memalukan didepan pemilik suara ini tidak pernah ada dalam pikiran Arissa. Menegakkan kepalanya dan mengembalikan posisi tangannya ketempat seharusnya Arissa lalu memasang wajah senyumnya, sebelum dia memutar tubuhnya dari dinding dimana AC yang tadi memberikannya kesejukan. "Nggak ngapa-ngapain." Jawabnya pada Mario yang datang bersama es teh dan cemilan pesanannya pada pria itu. Mario hanya menaikkan alisnya sedikit mendengar jawab Arissa sebelum kemudian memilih mengabaikannya dan duduk di kursi yang di atas mejanya ada tas Chan*l milik Arissa. Sedangkan Arissa, sebelum duduk dia masih menyempatkan diri untuk membuka blazer hitamnya. "Jadi apa yang akan kita sampaikan nanti pada Angelo?" Tanya Arissa begitu dia duduk dan meneguk es tehnya. Karena sepulang dari sini, Arissa dan Mario berencana menemui Angelo dan neneknya yang kini tinggal di rumah kakek Arissa. Nenek Angelo menolak bantuan cuma-cuma yang ditawarkan oleh Arissa dan Mario makanya nenek Angelo akhirnya bekerja di rumah kakek Arissa dengan kesepakatan kalau mereka harus tinggal disana. Dan kalau Arissa pikir-pikir lagi, sepertinya membuat Angelo dan neneknya tinggal bersama kakeknya adalah keputusan yang tepat. Paling tidak Arissa bisa menjamin keselamatan keduanya kalau memang benar apa yang dikatakan oleh kakeknya benar kalau Rajata seberbahaya itu. Kening Mario berkerut samar, terlihat berpikir sambil mengaduk kopi hitam miliknya. Sampai dia menyelesaikan adukannya, "Berkata sejujurnya kalau mamanya ada kemungkinan telah meninggal." Kali ini kening dan alis Arissa yang berkerut, wajahnya menunjukkan ketidaksetujuan atas jawaban yang diberikan Mario. Rasanya sangat jahat dan tidak adil buat Angelo, neneknya dan Magdalena kalau mereka bilang sekarang kalau Magdalena meninggal. Lagipula mereka tidak punya bukti untuk mengatakan itu, walau hilangnya Magdalena bak ditelan bumi. Sudah seharian ini Arissa dan Mario mencari keberadaan wanita itu dengan clue dari Rajata, tapi tidak sedikitpun mereka menemukan titik terang.  Ada memang beberapa orang yang sempat melihat Magdalena, namun semua orang itu tidak tau kemana dia akhirnya pergi. Bahkan Yatno, pemilik penginapan tempat dimana Magdalena menginap sebelum keesokan menghilang, tidak tau kemana perginya wanita itu. Menurut pengakuan Yatno, Magdalena datang kepenginapannya sekitar jam 9 malam, lalu sekitar jam 1 pagi dini hari dia pergi bersama seorang wanita. Hanya sampai itu saja. Arissa dan Mario kembali kehilangan jejak Magdalena setelah dari tempat Yatno. Satu-satunya petunjuk yang mereka punya hanyalah fakta kalau mama Angelo dijemput oleh seorang wanita yang Yatno sendiri tidak bisa menggambarkan rupanya karena wanita itu tidak turun dari mobilnya ketika menjemput Magdalena. Arissa menduga wanita itu malas turun karena penginapan Yatno yang sebenarnya tidak layak disebut penginapan, sedikit harus masuk lorong becek dulu. "Kenapa harus meninggal? I mean, bukankah masih ada kemungkinan kalau Magdalena pergi ke daerah terpencil atau mungkin dia sedang sembunyi." Kembali Mario tidak menjawab, malah menghela napasnya sebelum kemudian mengeluarkan handphone-nya dan menunjukkan sebuah foto pada Arissa. "Sebenarnya ini belum pasti, tapi beberapa hari yang lalu aku meminta tolong pada divisi pencarian orang hilang untuk mencari Magdalena dan tadi sesaat setelah kita pulang dari penginapan pak Yatno mereka mengirimkan ini padaku." Wajah Arissa berubah pucat pasi. "Tidak mungkin..." katanya lirih sambil melihat nanar pada gambar mayat di layar handphone Mario. Kondisi mayat itu sangat mengenaskan karena tubuhnya terlihat mulai membusuk. Selain itu wajah mayat itupun penuh dengan luka goresan, hingga sulit untuk dikenali. "Sebenarnya kita belum bisa memastikan ini adalah Magdalena atau bukan, temanku mengirimkan foto ini karena katanya ciri-ciri besar fisik orang yang kita cari, mirip dengan mayat ini. Mereka juga menemukan ini disana." Kata Mario sambil men-slide layar handphonenya ke gambar selanjutnya. Foto itu adalah barang-barang yang ditemukan bersama jasad yang ditemukan. Tubuh Arissa terasa lemas seketika, benar-benar tidak siap kalau memang mayat difoto itu adalah Magdalena. 'Bagaimana dia harus menjelaskan pada Angelo dan neneknya kalau mayat itu memang Magdalena.' Menggelengkan kepalanya untuk menghalau pikiran negatifnya, Arissa berusaha tetap positif. 'Tidak...tidak. Mungkin saja itu tidak Magdalena. Banyak orang yang punya ciri-ciri fisik yang sama yang kebetulan memakai outfit sama juga.' "Bisakah kita lihat mayat itu sekarang?" Tanya Arissa ingin memastikan secepatnya. Kepala Mario mengguk kecil, “Ayo,” katanya setelah dia bangun dari duduknya dan memasukkan handphonenya ke jaket parasut hitamnya. *** Sambil menunggu Mario membayar makanan dan minuman mereka, Arissa sibuk handponenya. Arissa mengirimkan pesan kemamanya, memberitahu kalau malam ini dia tidak akan bisa ikut makan malam keluarga dan akan pulang terlambat. Jadi orang rumahnya tidak perlu menunggunya. Setelah memastikan pesannya terkirim dia menyandarkan sedikit tubuhnya pada mobil yang terparkir di sebelah motor Mario. Sampai dilihatnya seorang wanita paruh baya yang baru turun dari mobilnya limbung dan hampir jatuh. "Eh tante, tante nggak papa?" Tanya Arissa ketika dia berhasil menangkap wanita paruh baya itu. Wanita itu tidak menjawab, tangannya malah mencengkram erat pada lengan Arissa. Darisana Arissa tau kalau wanita ini tidak baik-baik saja. Apalagi dengan wajah pucat dan napas tidak teraturnya. "Tante, apa tante baik-baik saja? Apa perlu saya bawa ke rumahsakit?" Arissa kembali bertanya sambil menawarkan bantuan karena dia yakin wanita paruh baya itu tidak akan bisa kemana-mana tanpa bantuan orang lain. "Tidak. Tidak perlu." Jawab wanita itu sebelum kemudian menegakkan tubuhnya dan melepaskan tumpuannya pada tubuh Arissa. Setelah berdiri dengan tegak, wanita itu kemudian tersenyum pada Arissa. Tipe senyuman lemah dan sedikit dipaksakan. Tanda kalau orang yang sedang tersenyum itu sebenarnya tidak baik-baik saja dan Arissa bisa menangkap itu semua. Saat memperhatikan senyum itu pulalah Arissa menyadari satu hal, 'O, bukankah ini adalah nyonya Indira?' Ucap Arissa dalam hatinya ketika akhirnya dia bisa melihat dengan jelas wajah wanita yang baru saja ditolongnya. 'Apa yang dilakukan istri seorang Rajata disini?' Lanjutnya bermonolog. "Terimakasih," Ucapan itu menyadarkan Arissa dari pikirannya. "Ngg hmmm tante," Jawab Arissa sambil tersenyum. "Apa tante yakin sudah..." perkataan Arissa terpotong karena dilihatnya Mario berjalan keparkiran. "Kak Mario disini," panggilnya agar pria itu tau keberadaannya. Arissa sudah akan melanjutkan tawarannya lagi untuk membawa ke rumahsakit terdekat, saat dia mendengar nama 'Mario' keluar lirih dari bibir wanita patuh baya itu. Apalagi dengan gesture kaku tubuh Indira, membuat Arissa tidak jadi bersuara. 'Ada apa ini?' Batin Arissa bertanya. Tidak hanya Indira, tapi Mario-pun aneh karena walaupun sekilas Arissa bisa melihat keterkejutan di wajah Mario. Bahkan pria itu sampai menghentikan langkahnya saat Indira berhasil memutarkan tubuhnya menghadap Mario. Arissa ingin bertanya ada apa ini tapi dia harus menelan mentah pertanyaannya karena kemudian yang dirasakannya adalah cengkaraman tangan Mario pada lengannya. Membawa dia pergi dengan cepat dari sana, meninggalkan Indira yang melihat  mereka, atau yang lebih tepatnya Mario dengan tatapan sendu penuh luka *** Kalau ada orang yang bertanya apakah Arissa suka mencampuri urusan orang lain, maka Arissa akan menjawabnya 'iya'. Dia tidak malu dengan sifatnya tersebut karena buatnya mencampuri urusan orang lain adalah sifat dasar manusia. Itu makanya manusia disebut mahluk sosial. Tapi mencampuri urusan orang lain yang dimaksud Arissa ini dalam konteks baik karena setiap kali dia ikut campur dia berharap bisa membantu orang itu. Meskipun itu hanya sebatas mendengar curhatan saja. Apalagi sekarang dia menjadi pengacara, ikut campur dalam urusan orang lain adalah sesuatu yang sangat wajar baginya. Dulu sebelum dia berprofessi sebagai pengacara, dia melakukan semua itu tanpa berpikir tapi untuk sekarang Arissa sangat berhati-hati kalau ingin ikut campur dalam masalah orang lain. Terimakasih untuk ilmu etika professi yang dia dapat saat kuliah dan juga semakin dewasanya dia dalam melihat sebuah masalah. Jadi Arissa tidak pernah sembarangan lagi menyemplungkan dirinya kedalam masalah orang. Seperti saat ini, ingin rasanya Arissa bertanya pada Mario tentang Indira, tapi dia harus menahan dirinya karena dia bukanlah siapa-siapanya pria tersebut. Arissa tidak mau Mario berpikir kalau dirinya annoying dan melewati batas kalau sampai dia bertanya apa hubungan Indira dangan Mario. Arissa masih takut dengan mulut kejamnya Mario, mereka juga tidak sedekat itu untuk berbagi kehidupan pribadi masing-masing.  Ah jangankan dekat, mereka mungkin masuk dalam kategori orang asing kalau bukan karena mengurus kasus Magdalena. Arissa membuang napasnya berat dan menggelengkan kepalanya pelan. Berharap bisa membuang segala rasa ingin taunya tentang Mario dan Indira. "Apa kamu tidak ingin menanyakan tentang hubunganku dengan wanita tadi?" Suara Mario terdengar jelas oleh Arissa, meski suara itu tercampur dengan angin karena saat ini mereka sedang berada di atas motor Mario yang tengah melaju menuju rumahsakit tempat mayat yang akan mereka periksa berada. "Ya?" Meski Arissa jelas mendengar perkataan pria itu, Arissa tetap merasa perlu memperjelasnya. Dia takut salah mendengar sehingga apa yang didengarnya berbeda dengan apa yang dikatakan Mario. Mana taukan saking ingin taunya dia tentang Mario dan Indira dia sampai salah dengar. "Tentang aku dan nyonya Indira," balas Mario sedikit memperlambat laju motornya. "Kamu tidak ingin bertanya sesuatu tentang itu?" Arissa terdiam, tidak menjawab. Padahal jawaban 'tentu saja mau' sudah berada di ujung lidahnya. Daripada menjawab Mario, entah kenapa dia malah lebih memilih menatap Mario dari kaca spion motor pria itu. Hingga tanpa disadarinya dia memberikan jawaban yang jelas bertolak belakang dengan apa yang tadi dipikirkannya. "Tidak. Kak Mario perlu bercerita." Katanya lalu sedikit menegakkan tubuhnya tanpa melepaskan pegangannya pada pinggang jaket Mario. "Kita tidak sedekat itu untuk Kak Mario cerita tentang kehidupan pribadi kakak ke aku." Lanjutnya lagi dengan memaksakan sedikit senyumnya.  
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD