"Bun."
Pagi hari ini, Keisha sukses membuat Doni panik sekaligus kelimpungan. Begitu selesai sholat subuh, Doni berniat membangunkan Keisha agar gadis itu melaksanakan kewajibannya sebagai umat muslim, tetapi yang dia dapati adalah keadaan suhu tubuh Keisha yang panas.
"Kenapa, Don?" Shayra—Ibu sambung Keisha, menatap Doni yang kelihatan panik.
"Itu, Bun. Keisha deman, badannya panas," ujar Doni, memberitahu.
Shayra jelas saja nampak khawatir setelah mendengar itu. Wanita cantik itu tidak jadi menyentuh sayur yang ada di di depannya.
"Astaga kok, bisa sih?"
Doni meringis pelan. "Kayaknya kebanyakan nangis, Bun. Makanya dia demam," jelas Doni, pada akhirnya dia jujur pada ibu mertuanya ini.
"Keisha." Shayra menggeleng pelan. "Kamu naik ke atas aja dulu, jagain dia. Bunda bakal nyusul ke atas."
Doni tidak menjawab lagi, laki-laki itu segera naik ke lantai atas. Kemudian berbelok ke sisi sayap kanan, di mana letak kamar Keisha berada. Saat masuk ke dalam kamar, dia mendapati Keisha yang sedang meracau pelan seraya menggumamkan nama Varo.
Mendengar itu saja, hati Doni bergemuruh. Mungkin rasa cemburunya sekarang semakin menjadi setelah Keisha sudah sah menjadi istrinya. Doni duduk disebelah Keisha, mendaratkan tangannya ke kening Keisha lagi. Panas, suhu tubuh Keisha semakin tinggi.
Pintu kamar memang tidak Doni tutup tadinya, sehingga memudahkan Shayra masuk ke dalam tanpa mengetuk pintu lagi. Doni berdiri dari duduknya memberikan ruang untuk mertua agar mengompres Keisha.
"Don, tolong telepon dokter pribadi kita. Demam Keisha makin menjadi kalo nggak diobati secepatnya," ujar Shayra.
Doni mengangguk paham. Laki-laki itu bergegas mengeluarkan ponselnya untuk menelepon dokter yang biasanya merawat keluarga ini ketika ada yang sakit.
"Var! Varo!"
Doni langsung menoleh pada Keisha, gadis itu masih saja menggumamkan nama lelaki berengsek itu.
"Kei, sadar sayang. Ini bunda, buka matanya sayang." Shayra menepuk pipi Keisha, pelan sekali. Berharap putrinya itu tidak mengigau lagi.
"Siapa yang sakit?" tanya Denis. Ah, pria itu sudah ada diambang pintu menatap Doni dengan kernyitan.
"Keisha, Om," sahut Doni, lelaki itu belum terbiasa memanggil mertuanya dengan sebutan Papa.
Denis menatap Doni sebentar, setelahnya berjalan mendekati putrinya. Tidak berapa lama dokter pun datang untuk memeriksa keadaan Keisha saat ini.
"Dia hanya kelelahan. Seperti kebiasaannya, dia tidak boleh banyak menangis," jelas dokter, usai memeriksa Keisha. Kemudian dokter tadi sibuk menulis resep obat untuk pasiennya.
"Don, nanti kamu tebus resep obat ini. Jangan lama-lama, setelah sarapan pagi, Keisha sudah harus minum obatnya." Dokter itu memberikan petuah.
Doni mengangguk paham, dia sudah dejat dokter ini. Karena ketika Keisha sakit Doni yang selalu turun tangan.
"Kalo gitu saya permisi dulu. Semoga Keisha cepat sembuh," ujar dokter itu, tersenyum tipis pada Denis dan Shayra.
"Mari dok, saya anter," ajak Doni. Sepeninggalan mereka berdua, Keisha masih saja meracau tidak jelas seraya menggumamkan nama Alvaro terus menerus.
Sehingga ketika masuk ke dalam kamar lagi, Doni cukup terkejut dengan suara Denis yang terdengar meninggi.
"Keisha! Sadar, jangan kamu sebut nama laki-laki itu lagi!" Denis terlihat marah.
Sementara Keisha sontak terbangun perlahan mendengar suara papanya.
Keisha terlihat mengerjap lemah. "Papa ...."
"Jangan pernah tangisi laki-laki itu lagi, Kei! Papa nggak akan pernah maafin kesalahannya yang fatal itu. Cukup saja Papa diam ketika kalian pacaran secara diam-diam. Dan setelah Papa memberikan kepercayaan kepada dia, dia malah mengingkarinya." Denis menghela napas pelan. "Sekarang Doni suami kamu, kamu berhak menuruti apa katanya."
Denis memang tidak bisa mengendalikan amarahnya. Makanya Shayra buru-buru menenangkan suaminya itu. Sementara Doni sudah bergegas mendekati Keisha yang terlihat sangat ketakutan. Dari dulu, gadis ini tidak suka melihat kemarahan Denis.
"Mas jangan marah-marah, nggak baik. Sekarang ayo turun dulu, Papa belum sarapan," ajak Shayra, suaranya mengalun lembut dan itu bisa membuat amarah Denis perlahan memudar.
"Don, kamu di sini dulu, yah jagain Keisha. Nanti Bunda suruh Bibi ke sini anterin sarapan pagi buat Keisha," ujar Shayra. Doni mengangguk mengerti.
"Lo tiduran aja, masih demam gini." Doni merebahkan tubuh Keisha, gadis itu menurut saja.
"Don, tadi gue mimpi ketemu sama Varo," lirih Keisha.
Gerakan tangan Doni yang hendak menyelimuti tubuh Keisha pun terhenti. Alis Doni bertaut menatap Keisha dengan kebingungan.
Keisha menghela napas pelan. "Dalam mimpi itu dia minta maaf sama gue, terus nyuruh gue nunggu dia."
Satu tangan Doni terkepal. "Terus, lo mau nungguin dia gitu?" tanya Doni dengan sarkas.
Keisha langsung menatap Doni dengan mulut terkatup rapat, tidak tahu harus menjawab apa.
"Kei, gue nggak habis pikir." Doni menggeleng lemah. "Setelah apa yang Varo perbuat, lo masih mau nungguin dia," sambung Doni, sangat marah melihat respon Keisha yang terdiam.
"Gue belum jawab padahal, kenapa lo kek udah marah gitu?" tanya Keisha, gadis itu seakan lupa kalau dirinya sedang demam sekarang.
"Ya, karena gue suami lo!" sentak Doni, tidak sadar sudah meninggikan suaranya.
"Jangan jadikan status kita sebagai alasan, Don!" Keisha pun ikut marah. "Lo tau kan, gue cinta banget sana Varo. Nggak mudah buat lepasin dia begitu aja dikehidupan gue," cerca Keisha.
"Lo juga nggak akan pernah tau! Kalo selama ini gue cinta sama lo Keisha?!" Urat leher Doni terlihat tanda dia amat marah sekarang. "Gue selalu sabar dan mundur ketika tau kalo perasaan gue nggak akan pernah lo balas. Jadi, please, sekarang gue suami lo. Lihat ke arah gue dulu, Kei. Jangan selalu memporoskan hidup untuk Varo, Varo dan Varo." Doni tidak sadar mengatakan itu, ini di luar nalarnya.
Keisha bahkan sampai terperangah mendengar itu. "Jadi, apa yang Varo bilang bener selama ini? Kalo lo ada rasa sama gue?" Itu jelas pertanyaan yang bodoh dilontarkan oleh Keisha barusan.
Doni tertawa sinis. "Itu juga yang buat persahabatan kita selama dua tahun ini bubar. Karena Varo dan segala kecemburuannya," ujarnya.
Doni perlahan berdiri. "Mending sekarang lo istirahat. Bi Asih bentar lagi ke sini, lo sarapan pagi. Gue mau nebus obat lo dulu." Tidak menunggu jawaban dari Keisha, Doni berlalu keluar dari kamar begitu saja.
Sengaja ke dapur lebih dulu untuk menemui Bi Asih.
"Bi, nanti tolong pastiin Keisha habisin sarapan, ya, yah." Doni tersenyum kecil kepada wanita paruh baya itu.
"Bunda, Om. Saya mau ke apotik untuk nebus obat Keisha dulu," pamit Doni pada mertuanya.
Kebetulan jarak apotik dari rumah Denis tidak terlalu jauh. Sepuluh menit Doni sudah tiba lagi ke rumah mertuanya. Langkahnya memelan ketika sampai di dalam rumah. Di ruang tengah, dia mendapati ayahnya sedang duduk tenang di sana, berbicara dengan Denis.
Dimas yang menyadari kedatangan Doni, menatap putranya sejenak.
"Ayah mau bicara, empat mata denganmu," tukas Dimas. Doni mengangguk mengerti, tidak ingin membuang waktu, lelaki itu bergegas naik ke lantai atas.
Dia tersenyum lega mendapati Keisha yang baru saja selesai menghabiskan sarapan paginya.
"Makasih, Bi." Doni tersenyum pada Hi Asih karena sudah menuruti permintaannya tadi.
Doni duduk di pinggir kasur. Segera membuka bingkisan obat itu dan memberikannya kepada Keisha serta segelas air yang ada di atas nakas.
"Minum," suruhnya.
Keisha pada dasarnya tidak mau berdebat, menelan obat itu susah payah. Meski ujungnya lidahnya akan pahit karena menyecap obat itu.
Melihat wajah Keisha yang menahan pahit, Doni merogoh kantung celananya.
"Nih, makan ini, biar nggak pahit." Doni menyerahkan satu permen pada gadis oti.
Pada akhirnya, dari kecil Doni tidak akan pernah melupakan kebiasaan Keisha. Dan laki-laki itu selalu berusaha melakukan yang terbaik untuk gadis yang mencintaimu saat ini.
"Lo harus istirahat. Jangan nangis lagi, gue bakal ngadu ke Om Denis kalo lo masih nangisi si Varo." Doni kembali menyelimuti Keisha. "Gue ke bawah dulu."
Setelah memastikan Keisha memejamkan mata. Doni keluar dari kamar untuk menemui ayahnya yang sekarang masih berada di ruang tengah.
"Denis, saya pinjam ruang kerja kamu dulu."
Doni paham dia akan di bawa ke mana. Denis juga tidak mungkin melarang kakak iparnya untuk tidak meminjam ruang kerjanya. Melihat Dimas sudah berjalan menuju ruangan itu, mau tidak mau Doni mengikuti pria itu.
Doni tidak sadar kalau Dimas sedari tadi sudah membawa beberapa dokumen di tangannya. Hingga tiba di dalam ruang kerja, Dimas menyuruh Doni duduk dan langsung menghempaskan sekua dokumen itu ke hadapan Doni.
"Sesuai janji kamu kemarin. Belajar lah secepatnya agar kamu bisa menggantikan posisi saya di kantor," ujar Dimas dengan raut wajah datar.
Doni perlahan membuka satu persatu dokumen itu. Mendadak kepalanya jadi pusing, sebab sejak kecil dia tidak menyukai grafik dan semacamnya. Dia lebih suka bermain biola meski diam-diam tanpa sepengetahuan ayahnya.
"Kamu nggak lupa janji kamu itu, kan?" tanya Dimas, tersenyum miring.
Doni mengangguk. "Laki-laki sejati tidak akan pernah mengingkari janjinya."
Mendengar itu, Dimas langsung tersenyum bangga. "Ini baru putra saya." Dimas menepuk bahu Doni. "Pewaris harus belajar tentang semua perusahaan agar jadi penerus bukan malah asik bermain alat musik yang tidak jelas itu."
Tentu saja Dimas menyindir dirinya. Doni hanya diam dan tersenyum tipis, bagi ayahnya bermain alat musik tidak akan pernah menghasilkan apa-apa. Berbeda belajar tentang perusahaan, Doni akan bisa menggantikan posisi pria itu.
"Ayah masih ada urusan di kantor." Dimas berdiri dari duduknya. "Kamu harus giat belajar, mulai besok kamu sudah bisa masuk kuliah di universitas kota ini. Saya sudah mendaftarkan mu kemarin." Dimas tersenyum. "Dengan semua uang dan jabatan yang saya punya, kamu mudah untuk saya masukkan ke univ terkenal di kota ini."
Doni masin terdiam, mendengar dan menelaah semua apa yang dikatakan ayahnya. Dan berarti mulai besok dia akan mulai jadi mahasiswa.
"Kamu paham kan?" tanya Dimas.
Doni turut ikut berdiri. "Paham, Yah. Doni akan menuruti semua keinginan Ayah. Agar Ayah tidak marah dengan pernikahanku ini," balasnya.
"Kamu pintar." Dimas mengusap bahu Doni. "Ini konsekuensi saat kamu mengambil keputusan sepihak. Belajar yang rajin, jangan buat saya kecewa denganmu untuk kedua kalinya." Setelah mengatakan itu, Dimas berlalu dari ruangan itu.
Doni mengembuskan napas pelan. Terduduk di sofa itu dengan memandang semua dokumen. Hidupnya semakin berat sekarang, selain bertanggung jawab sebagai suami Keisha. Dia juga bertanggung jawab untuk belajar agar bisa jadi penerus sang Ayah.
Hidup Doni tidak seindah yang dibayangkan oleh teman-temannya. Dari dulu dia dikekang, selalu dilarang untuk bermain alat musik. Selalu dituntut untuk mendapatkan nilai yang tinggi agar tidak membuat ayahnya malu.
"Hah ...." Doni menghela napas lagi. Membawa semua dokumen itu untuk di bawa ke kamar Keisha.
Mulai besok dia harus menjalani hidupnya yang tidak dia inginkan selama ini. Pada akhirnya hidupnya seperti robot yang selalu diatur oleh ayahnya hingga dia sukses nanti dalam jangka satu tahun.
Doni berteguh dalam hati, kalau dia bisa melewati masa-masa pahitnya untuk menimba ilmu lagi. Dia butuh dukungan dari orang terdekatnya.