(Five) Keluarga sempurna

1108 Words
Keisha tidak pernah mencintai laki-laki selain Papa. Maka, setelah mengenal cinta bersama Varo, Keisha sedikit lupa dengan orang-orang disekitarnya. Kehidupannya hanya berputar antara Varo, Varo dan begitu saja seterusnya. Dia juga sadar, semenjak berpacaran dengan Varo, dia jarang berkumpul dengan keluarga. Asik bertukar pesan dengan Varo melalui ponsel. Pernah hari itu, Keisha ditanya sama Bunda kenapa dia sangat berubah drastis. Dan tanpa Keisha sadari dia telah menyakiti hati wanita itu. "Kei, makan malam dulu sayang." Hari itu, Keisha pulang malam setelah seharian pergi jalan-jalan dengan Varo. Jam 7 malam dia baru sampai ke rumah dan langsung disuguhi oleh Bunda yang menyuruhnya makan. "Kei, nggak lapar, Bun." Keisha menolak dengan halus. "Ya, udah. Kamu ke kamar aja, mandi terus istirahat jangan main ponsel terus nggak baik untuk kesehatan mata kamu karena cahaya ponsel terus-menerus." Petuah dari Bunda hanya diangguki oleh Keisha. Gadis itu berlalu naik ke lantai atas. Usai mandi, Keisha tidak menuruti perkataan Bunda agar tidur setelah mandi. Dia malah asik bermain ponsel hingga tidak sadar kalau Bunda masuk ke dalam kamar untuk mengecek dirinya. "Kei, nggak denger apa yang Bunda bilang tadi? Habis mandi langsung istirahat kan?" tanya Shayra, suaranya mengalun lembut. Keisha tidak mengindahkan, gadis itu malah cekikikan tidak jelas karena mendapati pesan dari Varo—pacarnya. Hingga batas kesabaran Bunda seakan habis, wanita itu merampas ponsel Keisha. "Bunda!" Tentu saja Keisha tidak suka akan hal itu. "Ponsel kamu Bunda sita untuk malam ini. Sekarang kamu tidur," titah Shayra. Wanita itu menarik selimut untuk menyelimuti tubuh putrinya, tapi siapa sangka gadis itu malah menyentak tangan bundanya. "Balikin ponsel, Kei!" Keisha itu keras kepala dan tidak suka dibantah atau dikekang. Shayra menggeleng pelan. "Bunda sita dulu, besok siang pulang sekolah baru Bunda balikin. Cepat tidur," suruh Shayra lagi. "Bunda!" Tanpa sadar Keisha meneriaki bundanya. Merasa terganggu karena dirinya lagi asyik-asyiknya bertukar pesan. "Balikin ponsel aku!" tekan Keisha, gadis itu amat keras kepala. "Kei, kamu teriakin Bunda?" tanya Shayra, sedikit terkejut dengan respon putrinya. Keisha berdecak keras. "Balikin Bunda! Kei belum ngantuk, jadi Bunda jangan nyuruh Keisha tidur dulu." "Papa yang nyuruh Bunda buat awasin kamu, Kei. Berapa bulan ini kamu sibuk banget main ponsel, ada apa sih di sini." Shayra menunduk untuk membuka ponsel Keisha, bingung apa yang dilakukan gadis itu di gadget ini. "Bunda nggak ada hak buka ponsel aku!" Keisha buru-buru merampas ponselnya dari tangan Shayra. "Bunda juga nggak ada hak ngatur aku! Bunda cuman Ibu sambung, tau posisi nggak?!" Sungguh malam itu Keisha kelewat emosi, sehingga tidak sadar apa yang dikatakan. Gadis itu bergeming ditempat setelah menyadari apa yang diucapkan tadi. Menatap gamang bunda yang terlihat terkejut dengannya. "Bun ...." "Nggak apa-apa, mungkin Bunda udah kelewat batas buat ngatur hidup kamu." Keisha jelas-jelas melihat bagaimana raut wajah bundanya. Dan untuk kali itu, Keisha amat menyesal. "Bun, aku nggak mak—" "Bunda paham, sekarang Keisha bebas mau ngelakuin apa pun. Bunda nggak ikut campur lagi." Setelah mengatakan itu, Shayra keluar dari kamar Keisha. Keisha menggigit bibirnya, merasa amat bersalah karena sudah mengatakan hal yang kasar dengan wanita itu. Bunda adalah ibu sambung yang terbaik untuk Keisha. Dia hanya emosi sesaat tadi, sehingga tidak bisa mengendalikan dirinya sendiri. "Bunda ...." Keisha keluar kamar hendak mencari keberadaan sang bunda. Keisha tidak akan bisa tidur nyenyak sebelum meminta maaf pada wanita itu. Ketika turun di lantai bawah, Keisha mendapati adiknya yang sibuk mengerjakan tugas sekolah di ruang tengah. "Dek, Bunda mana?" tanya Keisha. "Kayaknya di kamar, Kak." Keisha mengangguk paham, berjalan menuju kamar bundanya. Dengan gamang, Keisha mengetuk pintu itu dengan pelan. Tidak ada jawaban dari dalam sana. Mama itu Keisha memutuskan untuk bersuara. "B-bunda, ini Kei. Kei minta maaf, Kei seharusnya nggak ngomong kayak tadi." Keisha menunduk, dadanya terasa sempit ketika mengingat kejadian berapa menit yang lalu. Dia sudah kelewat batas, Bundanya pasti amat merasa sakit mendengar itu. Keisha menggigit bibir bawahnya, berusaha untuk menahan tangis yang saat ini hendak tumpah. "Bunda ... maafin Keisha, Bun." Keisha mengetuk pintu kamar sekali lagi dan masih tidak ada jawaban. Keisha tidak tahan, maka dari itu dia memberanikan diri untuk membuka pintu yang ternyata tidak terkunci. Dengan langkah ragu dia masuk ke dalam kamar itu. Dia tertegun melihat bundanya menangis di pinggiran kasur. Hati Keisha mencelos melihat itu. "Bund ...." lirih Keisha, air matanya sudah tumpah karena tidak bisa menahan tangis ketika mendengar isakan pilu dari bundanya. Tanpa aba-aba Keisha langsung memeluk tubuh wanita itu dan menangis di sana. "Bunda, maafin Keisha, Bund." Keisha terisak di dalam pelukan itu. Sementara bunda belum sama sekali membalas pelukannya, wanita itu seakan terkejut melihat kedatangan Keisha. "Nggak seharusnya Keisha ngomong kayak tadi. Kei, nyesel Bund. Maafin Keisha," ujarnya dengan senggukan. Perlahan tapi pasti, Keisha merasakan kalau pelukannya di balas oleh sang bunda. "Kei, khilaf, Bund. Maafin Keisha." Keisha memejamkan matanya ketika merasa belain lembut dibelakang kepalanya. Ini terasa nyaman dari kecil Keisha menyukai belain ini. "Nggak apa-apa. Mungkin Keisha nggak suka lihat tingkah Bunda yang kayak tadi, Bunda maklumi itu." Keisha menggeleng kuat. "Nggak! Keisha suka digituin, cuman tadi Keisha kepalang emosi jadi nggak sengaja bentak Bunda dan ngatain Bunda kayak tadi. Keisha nyesel." "Maafin Keisha, ya, Bund?" Keisha merasakan pelukan mereka terurai, dia bisa melihat dengan jelas bagaimana Bundanya tersenyum tipis. "Bagaimanapun kesalahan seorang anak. Orang tua wajib untuk memaafkan. Bunda udah maafin, Kei. Jadi, jangan nangis lagi, ya," pinta wanita itu. Detik itu juga Keisha amat beruntung diberi Ibu sambung sebaik Bunda Shayra. Keisha kembali memeluk tubuh wanita itu. "Keisha sayang Bunda." "Bunda juga sayang sama Kei." Keduanya berpelukan, hingga tidak sadar dua orang masuk ke dalam kamar itu. "Woah. Ini ada acara apa pake pelukan segala, kok adek nggak di ajak sihh." Ahmad—anak bungsu di rumah ini menyeruak masuk ke dalam pelukan Kakak dan Bundanya. "Ih, Ahmad! Kakak cuman mau pelukan sama Bunda, doang!" protes Keisha sengan wajah cemberut. "Ahmad juga mau pelukan sama Bunda, wlek!" Ahmad menjulurkan lidahnya untuk meledeki sang Kakak. "Bunda." Keisha menatap bundanya nelangsa, pelukan mereka sudah terlepas, sekarang bunda gantian memeluk Ahmad. "Kakak pelukan sama Papa aja." Denis datang dari ambang pintu memeluk tubuh putrinya dari belakang. "Ahmad juga mau dipeluk sama Ayah." Ternyata sibungsu punya sifat iri. "Nggak boleh!" Keisha memeluk tubuh Denis dengan erat. "Kamu kan udah pelukan sama Bunda," ujarnya. "Nggak mau! Adek juga mau pelukan sama Ayah." Denis dan Shayra sontak menghela napas, kalau sudah begini mereka tidak akan bisa tenang sebelum menengahi pertengkaran antar saudara. "Udah, udah. Sekarang kita pelukan semua." Denia menarik tubuh istrinya agar berdiri dan masuk ke dalam pelukannya. Akhirnya mereka berempat berpelukan. Terlihat seperti keluarga yang bahagia. Dan ini adalah impian yang Keisha inginkan sejak kecil, cukup dia merasa kesepian setelah Mamanya meninggal dunia. Dan sosok itu sudah ada pengganti yaitu Bunda Shayra.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD