(Six)

1269 Words
Usai sholat subuh, Doni tidak lagi tidur. Lelaki itu segera menyiapkan segala keperluan untuk dirinya yang akan berkuliah hari ini. Jam 8 pagi nanti dia harus tiba di universitas yang dikatakan ayahnya malam tadi. Di sana dia akan bertemu dengan ayahnya, pria itu akan mengenalkannya dengan seseorang. Doni tidak tahu itu siapa, yang jelas nanti dia akam bertemu juga. Sembari menunggu matahari terbit, Doni kembali membaca semua dokumen kemarin untuk dia pelajari. Lelaki itu duduk tenang di balkon kamar, sesekali melirik ke arah tempat tidur di mana Keisha sedang memejamkan mata. Setelah Doni paksa menunaikan sholat, gadis itu memilih tidur lagi karena sedikit merasa pusing. Demam Keisha sudah berkurang sedikit demi sedikit. Doni memejamkan mata ketika cahaya hangat dari matahari pagi menerpa wajahnya. Lelaki itu membuka mata, meresapi setiap hangatnya matahari ini. Setelah itu Doni kembali bergelut ke dokumen-dokumen yang bikin kepalanya pusing saja. Jam 7 pagi, Doni bergegas mengganti pakaian casual untuk pergi kuliah. Keisha masih tidur, satu yang perlu diingat kalau Keisha suka sekali bangun siang. Gadis itu saja selalu terlambat bangun ketika sekolah dulu, kalau saja Bunda Shayra tidak membangunkan di wakti yang tepat. Doni menyisir rambutnya setelah berganti pakaian, sedikit terkaget melihat Keisha sudah duduk bersandar di pinggir kasur. Doni menatapnya dari cermin, kemudian kembali menyisir rambutnya. "Mau ke mana?" Pertanyaan itu yang dilontarkan oleh Keisha sembari mengucek matanya. "Gue hari ini masuk kuliah," balas Doni, meletakkan sisir rambut ke tempat semula, setelahnya beralih ke meja belajar. Keisha terlihat terkejut. "Beneran? Bukannya dulu lo bilang nggak mau kuliah? Karena mau ikut kursus biola?" Diam-diam Doni menyembunyikan senyumannya, tidak menyangka kalau Keisha masih mengingat perkataannya beberapa tahun yang lalu. "Lo masih ingat ucapan gue waktu itu?" tanya Doni, menatap Keisha saksama. Suara dengkusan kasar terdengar dari Keisha. "Memori gue itu kuat, jadinya nggak mudah lupain, ya," balas gadis itu, bersedekap menatap Doni. "Jadi, kenapa lo tiba-tiba berubah pikiran mau kuliah?" tanya Keisha, lagi. "Ini demi lo, Kei!" Doni ingin sekali mengatakan hal itu, tetapi dia tidak mau menambah beban Keisha lagi, biarkan saja dia menutupi semua ini. Doni mengangkat bahunya, terlihat acuh sekali. "Karena gue udah sadar, kalo gue ini pewarin tunggal. Jadi, ya harus mau gantiin posisi bokap gue," jelasnya. "Masa sih?" Keisha terlihat tidak puas dengan penjelasan Doni. "Dulu aja lo sampe keukeuh buat bisa kursus biola, apa pun rintangannya lo mau lanjutin hobi lo itu. Meski lo lawan bokap lo sendiri." Skak. Doni rasanya hilang kata-kata karena apa yang dibilang Keisha itu adalah benar. Dia itu pemberontak dari dulu, tidak mau mendengarkan apa kata Ayahnya. Akan tetapi, Doni tidak segila itu untuk bermain biola di depan ayahnya, kalau tidak tubuhnya akan habis sebagai lampiasan amarah Dimas. Dia sedikit heran, kenapa ayahnya selalu benci melihat dirinya bermain alat musik itu? Padahal kalau dipikir-pikir, bermain biola itu sangat mengasyikkan tetapi ayahnya terlalu benci dengan benda itu. "Ya, gue berubah pikiran aja," alibi Doni, lelaki itu merangkul tasnya ke bahu. "Udah deh, sekarang mending lo cuci muka. Gue ke bawah dulu buat sarapan ntar nyusulnya!" peringat Doni, menyambar tempat obat Keisha. Sebelum pergi ke kampus dia harus memastikan istrinya itu agar meminum obat, kalau tidak Keisha akan drop lagi. Setelah melihat Keisha tidak mau mendebatkan pasal dirinya yang ingin berkuliah, Keisha bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Sementara dia sudah turun dulu ke lantai bawah tepatnya ruang makan. "Pagi Bund, Om," sapa Doni, tersenyum kepada dua mertuanya itu. Terakhir kali dia bertos ria dengan Ahmad tanda persahabatan mereka. "Pagi, Don." Shayra menatap Doni dari atas hingga bawah membuat lelaki itu kikuk sendiri. "Mau ke mana, Don? Rapi banget Bunda lihat." Doni duduk di kursi sebelah Ahmad kemudian tersenyum canggung. "Doni lupa bilang, kalo hari ini Doni udah masuk kuliah hehe," cengirnya. Sontak saja hal itu membuat Shayra keheranan. "Loh, bukannya kata Keisha kamu nggak mau kuliah, ya?" Doni tahu, kalau Keisha selalu membicarakan tentang apa pun itu kepada bunda karena gadis itu sangat terbuka dengan ibu sambungnya. "Berubah pikiran, Bund." Doni nyengir. Setelah mendengar alasannya yang cukup tidak logis itu, Shayra pun memilih tidak bertanya lagi. Menjadikan Doni mengembuskan napas lega. "Pagi." Keisha datang dan bergabung di meja makan. Gadis itu terlihat baik dari kemarin meski bibirnya sedikit pucat terlihat. "Pagi anak Bunda, gimana udah sehat kan?" tanya Shayra, menempelkan keningnya. "Alhamdulillah, nggak panas lagi." Shayra terlihat lega. Doni memperhatikan itu dengan senyuman, kemudian laki-laki itu mengambil sadapan sendiri. Beda sekali dengan Keisha yang menengadahkan piringan di depan sang bunda. "Bund, ambilin dong." Cengiran Keisha sungguh membuat Doni tidak bisa mengalihkan pandangannya, ini sungguh sudah di luar batas sekali untuknya. "Kei kan sekarang udah jadi istri. Seharusnya udah bisa dong ambil sarapan sendiri nggak perlu Bunda tolong." Shayra berbicara dengan lembut, tangannya mengambil alih piring putrinya dan itu tidak luput dari pandangan Doni. "Bunda aja tiap hari selalu ngambilin nasi untuk Papa. Masa kamu nggak ambilin Doni sarapan, dia malah ambil sendiri tadi," tutur Shayra. "Kan Doni punya tangan, Bund." Rupanya Keisha ingin memberikan pembelaan. "Bukan gitu sayang." Doni dapat melihat dengan jelas, bagaimana Shayra menatap Keisha dengan penuh kasih saya. Melihat itu, Doni tiba-tiba rindu dengan Bundanya yang ada di rumah. Apa Bunda baik-baik aja? Doni sudah dua hari tidak pulang ke rumah setelah dia menikah. "Seorang istri itu wajib melayani kebutuhan suaminya, baik lahir maupun batin. Dan salah satunya adalah ambilin makan suaminya dan masih banyak lagi. Nanti Bunda jelasin lagi, sekarang Keisha harus sarapan dulu," suruh Shayra. Doni tersenyum tipis melihat Keisha menurut. Kalau gadis itu seperti ini, Doni sangat gemas melihat tingkah Keisha. Doni melirik jam yang melingkar dipergelangan tangan. Kemudian mempercepat acara sarapan paginya kalau tidak mau terlambat sampai ke tempat kuliah. "Papa udah selesai." Denis berdiri dari duduknya diikuti dengan Ahmad yang juga selesai sarapan pagi, anak itu kemudian menyampirkan tasnya ke punggung. Doni pun cepat-cepat menandaskan air minumnya karena nasi gorengnya juga sudah habis ludes di piring. "Doni juga udah selesai." Doni berdiri. Melirik bunda Shayra yang kini sudah berdiri dan bergegas mencium tangan suaminya. Sesaat Doni menatap Keisha yang masih sibuk menyantap sarapannya. Doni terpikir, apa Keisha akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan bunda tadi? Tanpa sadar telinga Doni terasa panas, membayangkan Keisha akan mencium tangannya untuk kedua kali setelah pernikahan kemarin. Doni berdeham pelan, bermaksud untuk mengode istrinya itu, tetapi Keisha tidak terlihat peka sama sekali. Doni mengembuskan napas pelan, dia terlalu berharap tinggi. Kalau sekarang diposisinya ini adalah Varo mungkin Keisha akan dengan senang hati berdiri dan mencium tangan si Varo itu. "Bunda." Daripada memikirkan Keisha yang akan menyalim tangannya lebih baik Doni berpamitan dengan mertuanya. "Doni juga mau berangkat." Doni menyalim tangan wanita itu, memberikan senyuman tipisnya. "Lho." Shayra terlihat bengong sebentar, kemudian menoleh menatap anak gadisnya. "Kei, kok lanjut makan, sih? Ini lho suaminya mau berangkat kuliah. Nggak mau salim apa?" tanya Shayra. Doni berdiri ditempatnya untuk menunggu respon dari Keisha. "Buat apa sih, Bund? Kalo mau pergi aja ya pergi nggak usah salim segala. Kei, masih laper ini lho." Untung saja Denis dan Ahmad sudah pergi dari ruang makan. Kalau pria itu ada di sini, sudah Doni pastikan Keisha akan di omeli karena tidak sopan menjawab ucapan Shayra tadi. "Astaga Keisha." Shayra menggeleng pelan seperti tidak habis pikir. "Nggak ingat apa yang Bunda bilang tadi? Selain melayani suami, seorang istri juga harus bertugas menghormati suaminya karena suami itu kepala rumah tangga." Doni tidak mau membuka suara karena dia ingin menjadi penonton saja untuk saat ini. "Bunda!" Keisha meletakkan sendoknya sedikit kasar. "Kei, nerima pernikahan ini aja syukur, tapi untuk melakukan apa yang Bunda suruh tadi. Keisha masih belum bisa." Tatapan Keisha mengarah padanya, Doni balas menatap dengan senyuman tipis. "Doni juga tau kalo aku belum bisa nerima dia sebagai suami aku." "Kei!" Shayra nampak marah akan hal itu. "Sopan dikit sama suami, kamu juga harusnya nggak boleh manggil dia dengan nama." Peringatan dari Shayra sepertinya tidak diindahkan oleh Keisha. "Aku nggak masalah kalo kemarin pernikahan itu batal. Jangan salahkan aku kalo belum bisa nerima situasi semua ini. Salah kan Doni saja kenapa dia mau menggantikan posisi Varo," ujar Keisha dan itu cukup membuat Doni sadar diri akan posisinya sekarang karena lanjutannya ucapan dari Keisha. "Doni tetap sepupu di mataku, nggak lebih dari apa pun. Apalagi suami," tukas Keisha, gadis itu berlalu meninggalkan Doni bersama Shayra diruang makan ini. Sekali lagi, Doni salah berharap lebih dengan status mereka ini. Dia tetap tidak bisa menjadi yang satu-satunya bagi Keisha. Masih ada nama Varo di dalam hati gadis itu. "Astaga, Doni. Maafin Keisha, ya. Dia belum dewasa makanya nggak bisa nerima status kalian sekarang." Wajah Shayra terlihat sedih, tetapi Doni tidak mempermasalahkan perilaku Keisha barusan. Doni menggeleng pelan. "Nggak apa-apa, Bund. Doni juga maklum." Lelaki itu tersenyum tipis, mengambil obat Keisha yang dia bawa tadi. "Doni cuman minta tolong sama Bunda. Pastiin Keisha minum obatnya, kalo enggak dia bisa drop lagi." "Kami perhatian banget." Shayra tersenyum prihatin. "Seandainya Keisha bisa buka hatinya untuk kamu, Bunda akan senang banget dengarnya." Satu tangan wanita itu mendarat di bahu Doni. "Kamu terus berusaha untuk mendapatkan hati Keisha. Bunda berdoa agar pernikahan kalian ini bertahan hingga maut memisahkan kalian berdua. Juga, Bunda selalu berdoa agar tidak ada yang mengusik rumah tangga kalian ini." Doni tersenyum haru mendengarnya. "Makasih, Bund. Doni akan berusaha lebih giat lagi," tegas Doni dengan tekad yang semakin membumbung tinggi setelah mendapat doa serta semangat dari mertuanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD