Keisha tidak suka dipaksa apalagi dikekang. Akan tetapi, mempunyai Papa yang sangat tegas dengan ucapannya kadang membuat Keisha takut. Apalagi mengingat kesalahannya dulu yang berpacaran diam-diam di belakang sang Papa.
Setiap hari Keisha dilanda cemas san ketakutan kalau mereka akan ketahuan pada akhirnya. Akan tetapi, setelah dua tahun menjalin hubungan itu, Keisha bisa bernapas lega kalau mereka tak kunjung diketahui. Apalagi setelah tamat sekolah dia langsung dilamar oleh pujaan hatinya.
Masih ingat jelas bagaimana ekspresi gugup Varo hari itu ketika berhadapan dengan papanya. Keisha juga cemas sendiri karena takut Papa akan menolak niat baik keluarga Varo yang datang ke rumah mereka.
"Saya ingin melamar anak, Om. Untuk saya jadikan istri dan pendamping hidup saya." Varo mengatakan itu dengan tegas, tidak ada kebimbangan dalam ucapannya itu.
Keisha menatap gamang papanya, mata tajam itu terus mengimintidasi Varo membuat pacarnya itu terlihat kikuk ditempatnya.
"Kasih saya satu alasan kenapa kamu mau menjadikan putri saya sebagai istrimu, di usia kalian yang terbilang muda ini."
Keisha meremas kedua tangannya, kecemasannya semakin menjadi karena setelah satu menit Varo tidak kunjung menjawab pertanyaan papanya.
"Kenapa nggak di jawab?" tanya Denis, tatapan matanya semakin tajam dan itu mampu membuat Keisha semakin takut. Tatapan itu yang selalu dia hindari selama ini.
"Saya cinta putri, Om. Selama kenal dan dekat dia, saya selalu merasa diperhatikan dan juga disayang." Varo menatap Keisha sebentar dan memberikan senyuman tipisnya.
"Hanya itu alasan kamu?" tanya Denis, terdengar sarkas ditelinga Keisha. "Kalau hanya cinta, perhatian dan kasih sayang, orang tua kamu juga mampu memberikan itu ke kamu, bukan putri saya saja." Terdengar menyudutkan, Keisha hampir membuka suaranya untuk membela Varo. Akan tetapi, ketika mendapati gelengan dari bunda, Keisha menunduk lemas dan tetap diam tidak melakukan apa pun.
"Saya takut kalo anak Om akan dilamar laki-laki lain. Selain itu juga, saya takut kalo kami berdua akan terus terjerumus ke dalam hubungan yang salah karena kita saling cinta. Banyak hal yang membuat kami bisa kapan saja khilaf dan melakukan tindakan di luar yang nalar. Maka itu untuk menghindarinya, saya ingin menikahi putri, Om. Agar kami tidak terus berdosa karena selalu berdekatan," jelas Varo panjang lebar, lelaki itu terlihat mengembuskan napas lega setelah mengatakan kalimat panjang itu.
Denis terdiam sesaat. Keisha kembali menatap cemas papanya, dia tidak bisa membaca raut wajah papanya sekarang. Ketika ruangan itu hening beberapa menit. Tubuh Keisha menegang ketika mendengar perkataan papanya yang mampu membuat dirinya dan yang lain terkejut.
"Saya menerima lamaran kalian."
Malam itu, Keisha amat merasa bahagia sekali. Saking bahagianya dia memeluk Bunda dengan haru. Dia juga melihat binar bahagia dari wajah Varo. Setelah itu, para tetua pun sibuk membicarakan tanggal pernikahan mereka. Keisha tidak bisa menyembunyikan wajahnya yang sudah merona karena terus ditatap oleh Varo. Astaga, menikah di usia muda inu belum pernah Keisha pikir kan sama sekali. Apalagi papanya memberikan restu secepat itu.
"Kamu bahagia, hm?"
Saat itu, mereka berdua duduk di depan teras rumah. Menatap halaman yang begitu luas, para orang tua masih sibuk membicarakan hari penting mereka itu.
"Banget," balas Keisha, cepat. Menatap Varo dengan mata berkaca-kaca. "Sampai-sampai aku mau nangis, Al."
"Hei, jangan gitu dong." Satu tangan Varo sudah terulur untuk mengusap air mata Keisha yang sudah nakal jatuh mengenai pipi Keisha.
"Aku bahagia, Al. Kebahagiaan ku akan lebih sempurna setelah kita sah menjadi suami istri nanti." Senyuman bahagia terpancar diwajah mereka masing-masing.
Hingga senyuman itu tergantikan dengan tangis pilu Keisha ketika mengetahui Varo tidak datang ke hari pernikahan mereka itu. Belum sampai di situ saja, Keisha dikagetkan mengetahui kalau sepupunya sendiri yang menggantikan posisi Varo.
Dia tidak tahu apa alasan Varo tidak datang dihari pernikahan mereka, tetapi entah kenapa di sudut hatinya selalu mengatakan kalau Varo mempunyai alasan yang cukuo kuat. Sehingga tanpa sadar dia ingin menunggu kedatangan laki-laki itu kembali. Tidak menyadari kalau ada sosok yang sudah menjadi suaminya sekarang.
"Kei."
Keisha tersentak dari lamunannya, tatapan yang tadi menyorot kosong ke jendela sekarang beralih ke belakang. Menatap bundanya yang kini tersenyum tipis di ambang pintu.
"Bundanya Doni ada di bawah. Katanya dia mau ngomong sama kamu."
Keisha terdiam, tante Kiran adalah bunda Doni. Tante Kiran itu baik orangnya sehingga Keisha yang bukan sama sekali keponakan kandungnya amat disayang oleh wanita itu.
"Keisha lagi nggak mau diganggu, Bund." Keisha menatap bundanya dengan tatapan sedih. Setelah meminum obatnya tadi, dia sudah mengatakan apa bunda kalau dia tidak mau diganggu oleh siapapun.
"Bunda tau, tapi masa Bunda bilang kalo kamu nggak mau ke temu sama dia. Tante Kiran mertua kamu sekarang lho, Kei." Bunda sedang membujuknya sekarang.
Keisha menghela napas lirih, mengetahui fakta itu entah kenapa Keisha tidak suka. Dia jadi mengingat Mama Varo yang seharusnya menjadi mama mertuanya sekarang ini. Akan tetapi, dia malah tidak jadi dinikahi oleh Varo.
"Ya udah." Keisha pasrah saja. "Tante Kiran ya, suruh ke sini aja."
Bunda Shayra kelihatan senang sekali akan hal itu. Wanita itu sudah berbalik keluar dari kamarnya, hingga selang menit kemudian. Pintu kamar terbuka lagi. Keisha yang tadi menunduk, mau tidak mau mengangkat kepalanya dan tersenyum tipis pada Tante Kiran.
"Kei."
"Tante."
Tante Kiran duduk di depannya. Wanita itu menaruh saru tas berukuran sedang di lantai.
"Gimana kabar kamu? Tante dengar dari Shayra kamu kemarin demam?" tanya Tante Kiran.
Keisha mengangguk pelan. "Sekarang udah mendingan kok, Tan," balas Keisha.
Setelahnya hening sesaat sebelum Tante Kiran sibuk membuka tas yang di bawa wanita itu.
"Ini ada baju Doni yang ketinggalan Tante bawa. Mungkin dia bawa baju dikit ke sini." Tante Kiran tersenyum dan kembali menutup tas itu setelah menunjukkan bagian atas isi dalam tas.
"Keisha." Tante Kiran menyelipkan anak rambut Keisha ke belakang telinga. Sesaat Keisha memejam matanya. "Kamu sama Doni udah dari kecil sama-sama kan?" tanya wanita itu, Keisha mengangguk kecil.
"Sekarang Doni udah jadi suami kamu. Dia punya tanggung jawab untuk menjaga kamu, begitu sebaliknya. Kamu juga punya tanggung jawab untuk melayani kebutuhan Doni," jelas Tante Kiran.
Di mana, Keisha tidak mau membahas hal ini karena dia berdebat dengan bunda akibat ini juga. Akan tetapi, Keisha tidak punya keberanian berdebat dengan wanita lain.
"Doni itu sedikit ribut orangnya, kamu juga tahu kalo dia itu jahil banget. Tapi Tante harus bilang ini ke kamu, kalo Doni itu nggak bisa kedinginan atau kena angin malam. Badannya akan memerah dengan bintik-bintik, makanya Tante ingatkan kamu. Kalo mau pergi dimalam hari, jangan lupa bilang ke dia buat pakai jaket tebal. Jaketnya juga banyak di dalam tas ini." Tante Kiran melirik tas, membuat Keisha mengikuti arah pandang wanita itu.
"Dari kecil Doni tidak suka kalau ada orang lain mengetahui kelemahannya, terutama sahabatnya atau orang tersayangnya. Makanya dari dulu dia melarang Tante untuk mengatakan kelemahannya ini. Doni sangat anti dengan angin malam atau hal-hal yang berbau dengan dingin. Kalo bisa pas malam, matiin AC ya, Kei. Doni nggak bisa kena AC kalo lama-lama." Kiran menjelaskan lagi.
Menjadikan Keisha tertegun cukup lama. Dia jadi ingat ketika hari itu dia memaksa Doni malam-malam untuk menemani dirinya bertemu dengan Varo. Waktu di tengah jalan, Doni tiba-tiba memberhentikan motornya dan memberikan jaket milik laki-laki itu kepadanya.
Alasan Doni cukup simple, Doni takut dia masuk angin nantinya. Dan keesokan harinya, Keisha cukup bingung kenapa Doni tidak masuk sekolah. Ternyata ini alasannya, laki-laki itu memilih libur karena alerginya terhadap angin malam berdampak.
Keisha sedikit kecewa karena baru mengetahui kelemahan Doni saat ini. Keisha masih terdiam ketika tangan Tante Kiran menggenggam jemarinnya. Tante Kiran kemudian tersenyum dari sorot mata wanita itu terlihat sedih.
"Tante percayakan Doni sama kamu sekarang. Jaga Doni buat Tante ya?"
Keisha seakan enggan menjawab, tetapi melihat mata Tante Kiran yang semakin terlihat sedih. Akhirnya Keisha mengangguk pelan sebagai jawaban.
Tanpa sadar saat itu Keisha sudah membuat janji.