Ruangan itu memang besar, tetapi sungguh demi apa pun Doni tidak suka di dalam ruangan ini dengan keadaan yang mencekam. Lelaki itu bersedekap menatap ayahnya yang masih sibuk berbincang dengan teman lama pria itu. Dulu, Dimas merupakan dosen juga saat di masa itulah Dimas dan Kiran bertemu dan menjalin hubungan.
Namun, setelah sah menikah dengan Kiran yang di mana gadis itu merupakan anak tunggal, harta kekayaan seluruh mertuanya tentu jatuh ke tangan Denis. Inilah salah satu alasan juga kenapa Dimas keukeuh menjadikan Doni sebagai penerusnya. Karena Dimas ingin memberikan semua hak Doni sama seperti permintaan terakhir papa mertuanya alias kakek Doni.
Doni tahu cerita itu, Bundanya lah yang menceritakan semuanya. Ayahnya selalu merasa tidak punya hak untuk menjadi pewaris semua perusahaan kakeknya, maka itu ingin menyerahkan semuanya kepada Doni. Padahal pria itu tahu, kalau Doni tidak pernah minat dengan semua bisnis ini.
"Doni." Lelaki itu mengangkat kepalanya kita namanya diserukan.
"Iya, Yah?" Doni berdiri, mengikuti dua orang tua di depannya ini.
"Kamu akan diantar beliau ke kelas." Dimas mendekatinya setelah itu menepuk bahu Doni, pelan. "Belajar yang rajin, jangan kecewakan saya lagi," bisik Dimas. Doni mengangguk paham, dia sama sekali tidak mau membantah ayahnya setelah semua yang dia lakukan secara sepihak.
Langkah kaki Doni teranyun keluar dari ruangan itu. Mengikuti dosen teman ayahnya tadi dengan langkah lebar sementara Dimas sudah lebih dulu pamit untuk pergi ke kantor.
"Doni ini kelas kamu sekarang." Dosen tadi berhenti di depan pintu kelas. "Kebetulan mata kuliah akan berlangsung 40 menit lagi karena dosen yang mengajar di kelas kamu sedang ada urusan," jelasnya lagi.
Doni diam dan mendengar dengan khidmat.
"Saya undur diri dulu, masih banyak lagi yang ingin saya urus." Pria itu menghela napas, menepuk bahu Doni terlebih dahulu baru pergi dari sana.
Doni mengangkat kepala untuk melihat keadaan kelas dengan kedua tangan masuk ke dalam sakit celana. Ini terasa asing baginya, ada sebagian mahasiswa di dalam kelas itu. Mereka semua sibuk dengan urusan masing-masing tidak peduli dengan sekitar.
Mengembuskan napas pelan, Doni bersandar ke tembok dekat pintu. Masih ada berapa menit untuk menunggu kedatangan dosen. Doni sudah tamat sekolah kurang lebih satu tahun dan setelah itu dia tidak memutuskan hendak masuk kuliah. Niat hati ingin melanjutkan hobinya saja, tetapi lebih dari enam bulan dia lulus sekolah, sekarang dia malah masuk kuliah yang amat tidak dia sukai ini.
"Hah ...." Itu helaan napas entah untuk keberapa kalinya, Doni menunduk menatap ujung sepatunya.
Konsekuensi menikahi Keisha inilah yang Doni dapatkan. Sama seperti Keisha yang terlalu bucin dengan Varo. Doni tidak jauh bedanya, saking kan bucin dia malah rela melakukan semua perintah ayahnya ini sebagai hukuman.
Bruk.
"Aishh ... kok pake jatuh segala sihh?"
Mendengar gerutuan itu, Doni mengangkat kepalanya. Alisnya naik sebelah menatap seorang gadis yang sibuk mengumpulkan beberapa dokumen yang tercecer di lantai. Doni mengalihkan pandangannya ke sekeliling, ada sebagian mahasiswa yang lewat tapi tidak ada yang teringin menolong gadis ini.
"Ck! Kampus apaan ini?" Doni membatin dengan perasaan kesal.
Doni memilih melangkah mendekati gadis itu dan berjongkok untuk menolong mengumpulkan semua kertas putih seperti dokumen penting.
"Duh ... makasih banget. Nggak nyangka kalo di kampus elit ini masih ada orang baik." Gadis itu berceloteh tenang.
Membiarkan Doni mengumpulkan kertas-kertas putih itu.
"Lain kali kalo jalan hati-hati," ujar Doni, memberikan kertas yang sudah dia kumpulkan tetapi dia sama sekali belum melihat wajah gadis di depannya itu.
"Thanks banget. Gue bersyukur sama Tuhan karena udah ngirimin orang sebaik lo."
Doni hanya berguman saja, kemudian memilih berdiri dan hendak masuk ke dalam kelasnya lagi.
"Eh, tunggu!" Akan tetapi, suara itu menghentikan niatnya.
"Apa?" Doni bertanya tetapi enggan menoleh ke gadis tadi.
"Gue kayaknya kenal sama lo, deh. Tapi lupa kenal di mana," ujar gadis itu.
Doni menggeleng pelan, dia kemudian berbalik lagi untuk menatap gadis itu.
"Gue malah nggak kenal sama— lo!" Doni cukup terkejut melihat gadis yang berdiri beberapa langkah darinya. Dia ingat, siapa gadis ini.
"Nah! Kan gue nggak salah!" Gadis itu berseru seakan senang melihat keberadaan Doni. "Dari belakang gue udah kenal banget gesture tubuh lo. Apa kabar, Don?" lanjutnya.
Doni berdeham pelan. "Baik." Doni sedikit tidak menyangka bisa bertemu dengan teman satu sekolahannya ini. "Lo apa kabar, Sel?"
"Puji Tuhan, gue baik." Gadis itu tersenyum, kedua tangannya penuh memegang kertas-kertas tadi. "Gue masih mau bicara banyak sama lo, tapi gue harus anterin ini ke kantor dekan. Kelas lo belum mulai kan?" tanyanya.
Doni menggeleng pelan. "Nggak, sekitar tiga puluh menit lagi," balas Doni setelah melihat jam tangannya.
"Oke! Kalo gitu temanin gue ke kantor dekan dulu, sekalian kita ngomong sambil jalan," ajaknya. Doni tidak menolak, lelaki itu hanya berdecak pelan melihat Selly begitu kesusahan menbawa kertas-kertas tadi, mau tidak mau Doni mengambil alih semua kertas itu dan membawakannya.
"Loh! Baik banget lo." Gadis itu nampak tersenyum kecil kemudian mengambil berapa lembar kertas. "Biar gue bantuin dikit," lanjutnya dengan tawa pelan.
Doni merotasikan bola matanya, sedikit jengah melihat tingkah Selly yang tidak pernah berubah.
"Gue tiba-tiba de javu sama ini." Selly kembali berbicara. "Kita dulu kenal karena cara ini juga kan?" sambungnya.
Doni tidak menjawab karena itu adalah benar. Sejak peristiwa di mana dia tidak sengaja menabrak Selly waktu itu. Doni menolongnya untuk mengambil buku-buku yang sudah berjatuhan ke lantai akibat dia tabrak. Setelah itu mereka jadi dekat, apalagi mereka mempunyai hobi yang sama.
Sama-sama menyukai alat musik biola.
"Btw, Don. Gue denger lo nggak mau lanjut kuliah, kok sekarang bisa ada di sini?" tanya Selly. Mereka berbelok ke lorong sebelah kiri.
"Ya, nggak gimana. Mungkin udah takdir gue kuliah," sahut Doni, sebenarnya acuh meski dalam hati menentang semuanya.
"Lo juga, katanya mau lanjut kuliah di jurusan kesenian kok bisa masuk ke fakultas ini sih?" tanya Doni balik.
Selly malah nyengir. "Sebenarnya gue nggak di fakultas ini, sih. Cuman gue di suruh Kakak senior buat anterin tugas-tugasnya ke kantor dekan. Gue ... nggak berani nolak, takut." Suara ringisan terdengar dari Selly.
Doni merotasikan bola mata. "Lo nggak pernah berubah." Lelaki itu gemas sendiri dan mendorong kepala Selly, tidak terlalu kuat. Akan tetapi, itu membuat Selly memberenggut kecil.
"Ya, gue nggak tau harus apa. Mau nolak, takut gue di bully, mau nggak mau harus nurut," balas Selly.
"Sesekali memberontak nggak masalah, Sel. Mereka bakal menjadi kalo lo malah semakin nurut," ujar Doni yang terdengar seperti memberikan petuah pada temannya ini.
"Tetep nggak berani, Don." Selly terlihat menghela napas pelan. "Kecuali lo ada disebelah gue buat nolong, hehe." Gadis itu cengengesan. Membuat Doni menatapnya dengan wajah lempeng.
"Itu mau, ya lo!" ketus Doni.
Selly semakin cengengesan tidak jelas.
"Balik lagi ke topik awal. Lo sebenarnya ada di fakultas mana?" tanya Doni.
"Gue ambil kesenian, orang tua gue yang nyuruh buat meneruskan bakat yang gue punya," jelas Selly.
Menjadikan Doni tersenyum miris mendengar itu. "Lo beruntung," celutuk Doni. "Nggak kayak gue."
Selly terdiam, tidak menjawab karena gadis itu pernah melihat bagaimana respon ayahnya ketika hari itu. Di mana, Doni seperti dipermalukan oleh orang tuanya sendiri.
***
"Kalo kamu naik ke atas panggung itu, Ayah nggak akan pernah anggap kamu lagi sebagai anak kandung Ayah!"
Tubuh Doni menegang, dia menatap Ayahnya dengan tampang tidak percaya. Kakinya bahkan terasa lemas sekali. Beberapa menit lagi dia akan tampil di atas panggung untuk mewakilkan kelas mengikuti lomba tiap tahun. Akan tetapi, tahun ini Doni malah ditunjuk wali kelasnya, padahal dia sudah berapa kali menolak. Karena takut ayahnya tahu kalau dirinya ikut partisipasi.
Dan itu benar-benar terjadi hari ini.
Doni terdiam cukup lama. Di belakang panggung ini hanya ada dia dan kedua orang tuanya, Dimas menariknya ke sini tadi saat namanya sempat disebutkan untuk tampil selanjutnya. Orang tua jelas-jelas datang ke acara ini karena diwajibkan untuk datang menghadiri ulang tahun sekolah tiap tahun.
"Yah ...."
Doni tidak ada pilihan lain. Pemuda itu memilih duduk bersimpuh di bawah kakinya sehingga membuat Kiran—bundanya hanya bisa menutup mulut dengan tangan karena tidak mampu melihat apa yang dilakukan putranya.
"Aku mohon ... sekali ini aja. Biarin aku tampil." Suara Doni terdengar lirih sekali. "Aku nggak mau kecewain wali kelas dan teman-teman sekelas aku. Mereka yang dukung aku selama untuk tampil hari ini," lanjut Doni.
"Oh, kamu nggak mau bikin mereka kecewa, tapi malah bikin Ayah mu sendiri kecewa, gitu?" sarkas Dimas.
Doni menelan salivanya susah payah. Masih menunduk dan bersimpuh di bawah kaki ayahnya.
"Yah, aku mohon."
"Nggak! Sampai kamu cium kaki Ayah sekali pun. Ayah nggak akan izinin kamu untuk tampil!" Dimas dengan keegoisannya terkadang membuat Doni tidak sadar menanamkan rasa benci pada ayahnya sendiri.
Doni sudah tidak berdaya. Di belakang sana ada beberapa teman kelasnya yang menatap Doni sengan prihatin, Doni tahu itu.
"Om." Doni kenal suara itu.
"Kei, kamu sebaiknya nggak usah ikut campur." Satu suara lagi, Doni amat mengenalnya. Akan tetapi, enggan sekali menoleh kepada dua orang itu.
"Aku harus, Var! Satu sekolahan harus tahu kalo Doni itu punya bakat yang tersembunyi. Bukan hanya bisa bikin onar saja!" Suara Keisha seakan tegas. Doni tidak mengharapkan pembelaan dari sepupunya saat ini.
"Keisha mohon, Om. Keisha dan Doni dari kecil udah sama-sama. Keisha juga tau kalo Doni suka sekali main biola. Satu kali ini aja, kasih Doni kesempatan."
Pegangan tangan Doni pada biola yang sejak tadi ada ditangannya semakin erat. Dia terlihat lemah sekali saat ini. Keisha juga membelanya, padahal hubungan mereka berapa bulan ini sedang tidak baik-baik saja.
"Anak kecil jangan ikut campur!" sentak Dimas. Suara Keisha yang terkesiap terdengar, gadis itu mungkin saja terkejut karena sudah dibentak oleha Dimas.
"Mas! Kendalikan diri kamu." Suara Kiran terdengar setelah sejak tadi diam saja.
"Sampai kapanpun, Doni tidak boleh bermain biola. Dia itu penerus saya! Dan dia juga akan memegang perusahaan setelah lulus dengan nilai bagus. Nggak ada gunanya bermain biola, pasti itu sama sekali tidak menghasilkan apa pun. Mending menjadi pemimpin perusahaan saja." Dimas menatap Doni dengan tatapan tajamnya.
Satu tangan Doni terkepal kuat. Dia sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Baik guru dan teman sekelasnya akan kecewa karena sudah tidak bisa mewakilkan kelas mereka.
"Ayah! Jangan!" larang Doni, pemuda itu cukup terkejut saat Dimas merampas biola kesayangannya— yang dia beli dengan uang hasil kerja kerasnya sendiri. Dimas juga seakan siap membanting benda itu ke lantai.
"Ayah!" Mata Doni berkaca-kaca. Dia benci situasi ini, dia menyayangi benda itu tetapi tidak berani menentang ayahnya untuk saat ini.
"Saya harus menghancurkan benda ini, agar kamu jera dan nggak akan pernah lagi."
Ketika benda itu hendak Dimas lemparkan ke lantai. Doni memejamkan matanya kuat-kuat sangat tidak sanggup melihat benda kesayangannya hancur di depan mata sendiri. Akan tetapi, suara banting tidak terdengar ketika membuka matanya. Doni terperangah menatap Selly yang saat itu duduk bersimpuh disebelahnya sambil menahan biolanya agar tidak dihancurkan oleh Dimas.
"Saya adalah saksi bagaimana Doni bekerja keras untuk membeli benda ini. Dia rela kurang tidur hanya untuk bekerja dan mengumpulkan uang membeli biola dalam jangka tiga bulan. Dan, Om." Selly mendongak menatap wajah bengis Dimas. "Tanpa punya hati malah ingin menghancurkan benda ini."
Dalam sekali tarikan, Selly menarik benda itu dari tangan Dimas. Memegang biola Doni dengan tangan kanannya sementara tangan kirinya memegang biolanya sendiri.
"Saya Selly, teman baik Doni. Di sini dengan berani tertunduk bersimpuh kepada Om, agar Om memberikan izin pada Doni untuk tampil di atas panggung." Selly menunduk.
Mata Doni semakin berkaca-kaca, tidak menduga aksi nekad Selly saat ini. "Selly ...." lirihnya.
"Saya juga." Tatapan Doni teralih ke sebelah kirinya. Matanya membeliak melihat wali kelasnya juga ikut bersimpuh.
"Bu ...."
"Saya tidak apa-apa merendahkan harga diri saya demi murid sendiri. Saya bangga dengan Doni karena dia punya bakat yang amat mengesankan meski di dalam kelas dia selalu buay onar." Wali kelasnya menoleh ke Doni dan memberikan senyuman tipisnya.
"Kami juga." Doni semakin terkejut dibuat oleh teman sekelasnya. Mereka semua ikut dudik bersimpuh untuk membantunya saat ini. "Kami semua ingin, Om memberikan izin pada Doni. Dia teman terbaik kami."
Sudah, air mata Doni tidak bisa ditahan lagi. Dia cukup terharu apa lagi melihat Keisha dan Varo ikut partisipasi.
"Kalian ...." Doni tidak bisa menahan keterkejutannya saat ini.
Saat itu lengang sejenak, sebelum Kiran membisikkan sesuatu pada Dimas dan mampu membuat pria itu frustasi.
"Saya kalah! Dan kalian menang!" tukas Dimas. "Untuk satu kali ini saja, saya akan memberikan kesempatan untuk Doni," putus pria itu.
Dan hal itu membuat senyuman semua orang mereka. Doni apalagi, dia tidak bisa menahan haru. Bertepatan saat itu, namanya dipanggil untuk naik ke atas panggung. Selly memberikan biolanya.
"Semangat, Don! Kamu pasti bisa," bisik Selly.
Doni menghapus air matanya. Dia menjadi cengeng untuk berapa menit tadi. Tidak mau menunggu lama, Doni bergegas naik ke atas panggung. Sementara guru, teman-temannya serta ayah dan bundanya sudah berduduk di kursi semula untuk menonton dirinya.
Doni memejamkan mata sejenak, mengembuskan napas pelan. Kemudian mulai menunjukkan bakatnya ke semua orang. Alunan musik yang dia ciptakan dari biola membuat beberapa orang terlana.
Gesekan biola itu semakin mengalun lembut. Hingga beberapa menit memainkan alat musik itu, Doni semakin menghayati. Musik yang tadinya lembut kini terdengar semakin cepat tetapi masih terdengar enak ditelinga. Sampai akhirnya Doni mengakhiri pertunjukannya. Yang langsung disambut oleh tepukan tangan yang meriah dari semua penonton.
Doni tersenyum lega. Akhirnya setelah adegan drama tadi dia bisa naik ke atas panggung ini. Dan memberikan kemenangan untuk kelas mereka karena dia masik kategori pertama dalam perlombaan main biola ini. Doni senang bukan main.
Dari tempatnya yang berdiri sekarang, Doni bisa melihat senyuman bangga dari guru dan teman-temannya. Serta yang terakhir senyuman haru dari bundanya, Doni akhirnya bisa menunjukkan ke semua orang kalau dia yang sering tebar pesona dan pembuat onar. Mempunyai bakat yang tersembunyi, tapi sayang Doni tidak bisa melanjutkan bakatnya ini untuk ke depan.
Namun, Doni bisa bersyukur karena dia bisa berpartisipasi dalam lomba ini. Dan ini akan dia jadikan sejarah dalam hidupnya.