(Nine)

1973 Words
Hari pertama kuliah tidak ada yang berkesan menurut Doni, kecuali dia bertemu dengan teman sekolahnya dulu lagi yaitu Selly. Cukup lama mereka berbincang setelahnya Doni masuk ke dalam kelas lagi karena dosen sudah mau datang. Doni mengembuskan napas pelan, membuka helmnya kemudian menggelengkan kepalanya agar rambutnya tidak kusut akibat memakai helm cukup lama. Setelah itu dia turun dari motor dan mengambil seblak yang tergantung tdi atas pegangan motor. "Assalamualaikum." Doni mengucap salam seraya masuk ke dalam rumah. Rumah ini seperti rumah keduanya sejak dulu. Kalau dia ada masalah dengan Ayahnya, maka Doni akan lari ke tempat ini untuk menenangkan pikiran. Lebih baik bercanda ria dengan bunda Shayra sari memikirkan sikap otoriter sang ayah. "Bunda," sapa Doni ketika sudah tiba di ruang tengah. "Gimana kuliahnya, Don?" tanya Shayra, membiarkan tangannya disalim oleh Doni. Doni mengangkat bahunya acuh. "Ya gitulah, Bun. Baru pertama masuk kuliah aja udah di kasih tugas, nyebelin tuh dosennya." Doni mendengkus kasar, dia malam ini sepertinya harus begadang untuk menyiapkan makalah yang dikasih oleh dosennya tadi. Tugas pertamanya karena dia masuk kuliah dipertengahan jalan. "Sabar, Don. Semua yang kamu jalani sekarang pasti akan membuahkan hasil yang bagus." Shayra tersenyum, menepuk bahu Doni, pelan. "Iya, Bund." Doni mengangguk pelan. "Kalo gitu aku ke atasnya, sekalian kasih titipan Keisha ini," tunjuk Doni ke seblak yang dia pegang. "Nggak pedas kan itu? Dia baru sembuh soalnya, Don." Shayra menatap Doni dengan lamat. "Aman, Bund." Doni mengacungkan jempol dengan kaki berjalan mundur. "Level satu ini kok." Setelah mendapatkan anggukan dari bunda Shayra. Doni memutar tumitnya untuk naik ke lantai atas. Pukul 2 siang, dia baru saja sampai rumah. Setelah ini Doni hendak tidur, tapi dia harus isi perutnya yang kosong ini dulu. "Loh, Bunda?" beonya. Langkah kaki Doni yang berada di undakan tangga tengah lantas terhenti, melihat Bundanya yang hendak turun ke bawah. "Doni." Kiran tersenyum. "Baru pulang, sayang? Gimana kuliah pertamanya?" tanya Kiran. Doni menyalim tangan wanita terhebatnya itu. "Alhamdulillah berjalan lancar, Bund." Mata Doni menelisik lantai atas. "Bunda dari mana?" "Dari kamar Keisha, ngobrol sedikit sama menantu, Bunda." Entah kenapa telinga Doni memerah mendengar itu. Berarti Kiran sama sekali tidak marah dengan keputusan sepihaknya ini. "Bunda nggak marah kalo Doni nikah secepat ini?" tanya Doni, meski sedikit was-was. Namun, melihat Kiran tertawa, Doni menghela napas lega ternyata dugaan prasangka buruknya tidak benar. "Bukan marah, Bunda sedikit kecewa karena nggak diskusi hal itu lebih dulu. Tapi, setelah tau ceritanya dari Shayra, Bunda jadi paham." Kiran tersenyum manis, dan itu adalah jenis senyuman yang amat Doni suka. "Kamu hebat, Nak. Mau menggantikan posisi seseorang untuk bertanggung jawab. Pertahankan sifat kamu ini." Mata Kiran terlihat berkaca-kaca, demi apa Doni tidak suka melihat hal itu. "Bunda, jangan nangis." Doni segera menghapus jejak air mata yang sudah mengenai pipi bundanya. "Doni kan pernah bilang, dari dulu nggak suka lihat air mata ini." Kiran menggeleng pelan. "Maafin, Bunda," lirihnya. "Bunda nggak bisa bantu kamu untuk bujuk Ayah, biar nggak maksa kamu kuliah kayak sekarang. Bunda tau kamu tidak suka sama itu." Kiran semakin terisak, membuat Doni semakin khawatir saja. "Bunda ... nggak boleh nangis." Doni memeluk Kiran, mengusap punggung bundanya itu agar bisa tenang dan berhenti menangis. "Bunda cuman nggak bisa lihat kamu dipaksa atau diperlakukan kayak robot, Doni. Bunda merasa nggak becus jadi Ibu kamu." "Sssttt ... jangan ngomong gitu. Bunda tetap Bunda terbaik yang Doni punya di dunia ini," balas Doni. Semakin mengeratkan pelukan mereka berdua. "Lagian, ini udah konsekuensi untuk Doni, Bunda. Jadi, Doni harus menghadapinya dengan lapang dadaa. Nggak apa hobi dan cita-cita Doni nggak kecapaian. Agar Ayah dan Bunda bisa banggaa sama Doni." Juga, Keisha biar aman di sisi Doni, Bunda. Lanjut Doni di dalam hati. Cukup lama memenangkan sang bunda agar bisa berhenti menangis, Doni mengurai pelukan ketika tangisan sang bunda mulai mereda. "Kita ke bawah, yuk. Biar nggak pegel berdiri terus," ajak Doni. Kiran malah menggeleng. "Nggak usah. Bunda habis ini mau pulang langsung, di rumah nggak ada siapa-siapa," jelasnya. "Doni anterinnya?" tawar Doni lagi. Akan tetapi, Kiran tetap saja menggeleng. "Nggak perlu, sayang." Kiran menolak. "Bunda ke sini sama Pak supir, lagian Bunda nggak mau kamu bonceng pake motor gede kamu itu." Kiran tertawa pelan, membuat Doni ikut tertawa juga. "Ya, udah. Bunda hati-hati di jalannya. Ayo aku anter ke depan teras. Kali ini nggak ada penolakan!" Doni menggandeng tangan Kiran untuk mengajaknya ke depan teras seraya berpamitan dengan Shayra yang berada di ruang tengah. "Pak, bawa mobilnya jangan ngebutnya," pesan Doni pada supir pribadi Kiran. Kemudian tersenyum dan melambaikan tangannya setelah mobil yang ditumpangi Kiran mulai melaju dan meninggalkan perkarangan rumah itu. Doni melangkah masuk ke dalam rumah lagi, menaiki tangga menuju lantai dan membuka pintu kamar Keisha begitu saja. "Nih!" Doni meletakkan seblak di atas pangkuan Keisha, gadis itu terlihat sibuk dengan ponselnya tadi. "Lama." Suara Keisha terdengar sedikit kesal. "Kalo mau cepet, ya beli aja sendiri," balas Doni. Dia juga masih ingat bagaimana kejadian pagi tadi ketika Keisha menolak untuk menyalim tangannya. "Ih, Don! Buka sepatunya kalo mau tidur! Ntar kasur gue kotor loh!" ujar Keisha. Doni yang tadi membenamkan wajahnya ke bantal, menoleh ke arah Keisha di mana gadis itu sudah membuka seblak yang dia bawa tadi. "Gue ngantuk, Kei!" ucap Doni. "Ya, tidur! Tapi buka sepatunya dulu," suruh Keisha. "Bukain lah. Kan lo istri gue." Doni mengatupkan bibirnya rapat-rapat setelah mendapat delikan tajam dari Keisha. "Masih ada tangan kan, lo?" tanya Keisha yang terdengar sarkas. "Bisa buka sendiri lah!" sambungnya lagi. "Mau ke mana lo!" tanya Doni, tidak mau melanjutkan perdebatan tadi. Lelaki ktu malah mencekal tangan Keisha yang hendak berdiri. "Ke dapur, Don. Gue belum makan siang." Keisha melotot kecil. Doni tertawa melihat itu. Mata sudah sayu karena benar-benar sudah merasa mengantuk sekali. "Gue juga belum makan siang, ambilin punya gue juga ya? Gue ngantuk, nggak ada tenaga buat turun ke bawa lagi," jelasnya. "Manja banget, sih!" ketus Keisha. "Ambil sendiri sana! Gue juga lapar kali." Cekalan tangan Doni mulai mengendur karena dilepaskan oleh Keisha. Mau tidak mau Doni membiarkan gadis itu pergi dari kamar. Sementara dia sudah nulai memejamkan mata karena sudah tidak tahan menahan kantuknya lagi. Melupakan fakta kalau dia belum makan siang. Doni merasa sudah lama sekali tertidur, ketika membuka mata dan mengerjapkan berulang kali. Cahaya matahari sore masuk lewat jendela kamar. Doni menatap sekeliling kamar dengan linglung. Tidak ada Keisha di dalam kamar ini, hanya dirinya sendiri. Doni memilih duduk dan mengembuskan napas pelan karena sepatunya belum terlepas sejak tadi. Mau mengandalkan Keisha, dia tidak mau berharap apa-apa. Gadis itu belum menerima dirinya sebagai suami. Kok, nasibnya mengenaskan sekalinya? "Duh." Doni meringis pelan ketika perutnya berbunyi, cacing di dalam sana seakan memberontak karena sang pemilik tubuh belum memakan apa pun sejak tadi. Pukul lima sore. Itu berarti ada dua jam lebih Doni tertidur, entah kenapa dia bisa merasa mengantuk berat seperti tadi. Mungkin akibat otaknya sudah terkuras karena belajar waktu kuliah. Sebelum turun ke bawah untuk makan, Doni masuk ke dalam kamar mandi hendak membersihkan tubuhnya dulu. Lima belas menit kemudian, Doni melemparkan handuknya ke atas tempat tidur setelah selesai mandi. Laki-laki itu langsung turun ke lantai bawah seraya memegangi perutnya. Begitu sampai di dapur, dia mencari makanan yang bisa dia konsumsi. "Bi, Asih. Nggak ada makanannya?" tanya Doni, menghela napas lelah karena sudah cukup lama membuka lemari dapur untuk mencari sisa makanan. "Aden belum makan?" tanya Bi Asih, yang ditanya malah balik nanya. "Iya, Bi. Belum." Doni tersenyum malu karena suara perutnya memenuhi dapur itu. "Aduh, Den. Bibi minta maaf, semua bahan pangan lagi abis. Makanya Bibi siang tadi masaknya pas-pasan. Nyonya sama Non Keisha lagi ke supermarket sekarang, Den. Mereka belanja sejak setengah jam yang lalu," jelas Bi Asih. "Aden mau Bibi buatin mie rebus dulu, nggak? Soalnya masih ada sisa satu punyanya Bibi," tawar wanita paruh baya itu. Mau tidak mau Doni mengangguk. Dia tidak bisa menahan laparnya lebih lama lagi. "Itu aja, Bi. Saya udah lapar banget." Doni meringis lagi ketika perutnya berbunyi. "Aduh, iya, iya, Den. Bibi buatin sekarang." Sembari menunggu Bi Asih. Doni duduk di kursi meja makan, seraya membuka ponselnya. Laki-laki itu memijat pelipisnya karena merasa pusing, beginilah Doni. Dia tidak bisa makan telat sedikit saja, kepalanya akan langsung pusing. "Ini, Den. Tapi di dapur nasi udah habis, semoga ini bisa ngurangin rasa laparnya si Aden," ujar Bi Asih. Wanita itu meletakkan satu mangkuk berisi mie rebus. Doni tersenyum kecil. "Makasihnya, Bi." "Sama-sama, Den. Saya permisi ke belakang lagi." Doni mengangguk pelan. Laki-laki itu mulai memasukkan satu suap mie setelah membaca doa makan. Di saat sedang khidmatnya Doni makan mie. Shayra datang dari arah belakang, wanita itu terlihat sedikit terkejut mendapati Doni yang lahap sekali memakan mie itu. "Lah, Don. Baru makan siang? Tadi Bunda tanya Keisha, katanya kamu udah makan." Shayra meletakkan beberapa belanjaan di atas meja makan. Doni nyengir saja. "Hehe, iya, Bund tadi aku ketiduran soalnya." Shayra berkecak pinggang. "Itu Keisha gimana sih? Suaminya belum makan malah ikut Bunda ke supermarket mentang-mentang dia udah sehat," gerutu Shayra. "Keisha! Sini dulu," teriaknya. "Apa, Bunda ku? Keisha lagi ambil ini loh." Doni menoleh menatap Keisha yang terlihat kesusahan membawa satu kantung kresek berisi belanjaan lain. "Kamu kenapa nggak urus Doni, hah? Dia belum makan siang, lho. Tega banget kamu nelantarin suami sendiri," omel Shayra. Doni meringis pelan, mendorong mangkuknya karena dia sudah selesai makan. "Salah dia sendiri, Bund. Bukan makan siang malah molor." Keisha menjawab. "Ya, seharusnya kamu urus suami lah. Masa senang-senang sendiri, sementara suami kamu nahan lapar pas bangun tidur. Mana di dapur nggak ada makanan lagi. Nggak kasian kamu lihat dia makan mie doang?" Shayra masih saja mengomeli anak perempuannya. "Bunda aku nggak apa-apa, kok." Doni menengahi. "Nggak bisa gitu, Don. Keisha harus diomelin kayak gini baru bisa nurut." "Ih, Bunda! Baru dua hari aku nikah sama Doni. Tapi sekarang Bunda udah sering banget ngomel sama aku!" Keisha nampak marah. "Kalo tau gini, aku nggak mau dinikahi sama Doni. Mending aku nunggu Varo pulang." Keisha ternyata masih labil. Mendengar itu, Doni merasa dirinya kembali tidak diharapkan. "Keisha?!" Shayra melotot. "Kamu punya hati nggak sih? Doni udah rela buat tanggung jawab karena Varo nggak mau nikahi kamu. Dan dia malah lari entah ke mana saat ini. Terus kamu salahin Doni? Ingat, Keisha, dia yang udah buat keluarga kita nggak malu karena pernikahan kamu hampir batal." Napas Shayra tidak beraturan, sejak kecil Keisha memang keras kepala. Semua krang yang dekat dengan gadis itu pasti tahu tentang sifatnya. "Belain aja terus!" jawab Keisha. "Anaknya Bunda siapa sih? Aku atau Doni? Harusnya Bunda ngertiin aku, dong. Aku masih sedih karena kepergian Varo dan malah dituntut untuk urusin Doni yang udah mandiri sejak dulu." Keisha menunjuk Doni yang sudah berdiri ditengah-tengah duap perempuan itu. Dan tanpa sadar dirinya lah penyebab pertengkaran ini. "Keisha, udah! Jangan melawan Bunda," lerai Doni. "Diam lo!" Keisha menatap tajam ke arah Doni. "Lo itu cuman sepupu dan bukan suami di mata gue. Ingat itu Doni! Jangan berharap lebih sama gue, karena dihati gue cuman ada Varo doang." Keisha menekankan setiap kalimatnya. "Keisha?!" Shayra kembali berteriak. "Aku benci semua orang?!" Keisha balas berteriak histeris. "Benci semuanya?! Kenapa sih, gue harus dituntut ini dan itu? Gue masih butuh waktu, nggak bisa instan! Gue juga masih belum bisa nerima pernikahan ini." Keisha seperti hilang kendali saja. Setelahnya ruangan itu lengang. Doni mengerjapkan matanya berulang kali, sementara Shayra menatap tidak percaya pada putrinya. "Gue nggak mau diposisi ini. Semuanya rumit." Keisha meluruh ke lantai dengan tangis yang sudah pecah. Melihat itu Doni ingin menghampiri tetapi tangan Keisha terangkat tanda tidak boleh ada yang mendekat. "Gue nggak butuh siapa-siapa. Gue mau sendiri dulu." Perlahan Keisha berdiri, langkahnya gontai mulai keluar dari area dapur. Meninggalkan Shayra dan Doni yang kini menunduk sesal. Ternyata pernikahan ini tidak merubah apa-apa. Varo tetap lebih unggul darinya meski laki-laki itu jauh dari jangkauan Keisha. Doni seharusnya tahu kalau dirinya ini pengganti sementara. Karena Keisha terang-terangan mengatakan untuk menunggu kepulangan Varo. Itu berarti, usaha Doni akan sia-sia saja untuk saat ini.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD