Doni sebenarnya sudah bangun sejak subuh tadi, tetapi merasa tubuhnya masih lemas. Dia memilih tiduran di atas kasur seusai menunaikan sholat subuh. Keisha masih tidur, wajah gadis itu sangat pulas. Seharusnya Doni membangunkan gadis itu agar mereka bisa sama-sama sholat berjamaah. Akan tetapi, dia takut mengganggu apalagi aktivitas tidur Keisha sedikit berkurang karena dia ganggu di pukul 3 pagi tadi.
Doni terus memejamkan mata meksi tahu kalau matahari sydah menampakkan wujudnya. Kasur bergerak, tanda Keisha sudah bangun. Doni tetap bergeming ditempatnya, ketika merasakan satu tangan hinggap di dahinya. Itu pasti tangan Keisha. Tidak berapa lama setelah itu, suara air yng berasal dari kamar mandi memenuhi indera pendengarnya. Doni membuka mata sedikit, setelahnya memejamkannya lagi. Ada lima belas menit kemudian.
Suara pintu kamar yang ditutup membuat Doni membukakan matanya. Dia tahu kalau Keisha turun ke lantai bawah untuk sarapan karena sudah menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Doni mengembuskan napas pelan, mengurut pelipisnya karena masih merasa pusing lagi. Dia sungguh jera karena nekad mandi hujan kemarin. Setelah ini, Doni akan berpikir dua kali kalau mengambil tindakan untuk bermain hujan. Atau lebih parahnya ingin menyakinkan Keisha atau apalah.
Bunyi dering yang berasal dari ponselnya membuat Doni sedikit kesal. Dia masih pusing, tetapi ada saja yang mengganggunya. Doni segera mengambil ponsel itu, menelan salivanya pelan ketika melihat nama si pemanggil.
"Assalamualaikum, Yah," sapa Doni pertama kali setelah menggeser ikon di layar ponselnya.
"Kata Shayra kamu lagi sakit." Itu yang dibicarakan lebih utama.
Doni meringis sebentar, seharusnya dia tahu kalau beritanya yang sakit akan tersampaikan ke telinga Ayah dan bundanya. "Iya, Yah. Nggak sengaja kena hujan kemarin," ujar Doni, dia memilih jujur saja karena tidak mau memancing kemarahan ayahnya di pagi jari ini.
"Kamu udah tau kan, penyakit kamu itu apa? Kok lalai begini." Suara Dimas terdengar marah, Doni menggenggam erat selimutnya. "Kuliah kamu jam 8 pagi ini. Kamu jangan sampai telat, awas aja kalo Ayah dengar kamu bolos. Ayah bakal hukum kamu," ujar Ayah lagi. Tanpa mendengar penjelasan Doni lagi, sambungan telepon itu diputuskan secara sepihak. Itu tandanya Doni tidak boleh melanggar ucapannya ayahnya tadi.
Doni kembali menghela napas pelan. Meletakkan ponsel ke atas nakas, dan turun dari kasur untuk berjalan ke kamar mandi. Pagi ini seperti biasanya dia mandi dengan air hangat. Doni sempat kegigilan karena air itu meski air hangat. Tubuhnya juga lemas, tetapi Doni tidak kuasa menentang ayahnya lagi. Lebih baik menjadi anak penurut kalau tidak mau mendapatkan hukuman yang lain.
Doni mengguyar rambutnya yang basah karena air. Sedikit segar setelah mandi pagi ini. Dengan handuk yang terlilit di pinggangnya, Doni keluar dari kamar mandi. Cukup terkejut melihat kedatangan Keisha yang membawa satu mangkuk bubur ke dalam kamar.
Keisha terlihat cukup terkejut melihat dirinya yang habis selesai mandi ini. "Astaga! Lo mandi." Gadis itu bahkan sedikit melototinya.
Doni jadi kikuk sendiri. "Iya hehe," dia nyengir, usai itu dia hanya bisa pasrah kalau Keisha terus mengomelinya meski gadis itu menyuapinya.
Mereka juga sempat bernostalgia dengan masa-masa diwaktu kecil. Doni tersenyum kecil ketika wajah Keisha nampak termenung mengingat kisah itu. Di mana waktu Keisha menangis histeris, mengingat itu saja doni sudah merasa geli. Keisha kecil begitu manis daripada ketika sudah besar dan mengenal cinta gadis itu seakan lupa dengan dirinya yang saat itu masih ada di sisi mereka berdua.
Doni memegang tangan Keisha yang ada di atas paha gadis itu. "Gue kangen pas masa-masa itu dulu, Kei," ungkap Doni dengan senyum kecil menghiasi bibirnya. "Kalo ada waktu untuk mengulang masa itu, gue mau banget. Karena gue kangen Keisha yang dulu daripada Keisha yang sekarang." Doni masih melanjutkan ucapannya. Keisha masih terdiam mendengar penuturannya.
"Masa lalu nggak bisa di ulang lagi, Don. Gue dulu memang terlalu polos, makanya kayak gitu," sahut Keisha. "Terima aja dengan diri gue yang sekarang. Apa pun usaha lo, gue tetap jadi karakter yang sekarang. Karena ini karakter yang gue ciptain sendiri."
Doni cukup terkejut mendengar itu. Keisha juga melepaskan genggaman tangan mereka tadi. Doni jadi menghela napas, mengerti apa yang Keisha maksud. Satu tangan Doni kembaki terangkat dan mencubit pipi Keisha dengan gemas.
"Nggak apa-apa. Mau gimanapun karakter dan sikap lo, gue tetap cinta sama lo, Keisha." Doni tersenyum lembut. Bubur yang Keisha bawa tadi sudah habis dia makan.
"Obat lo jangan lupa." Doni hanya terus memperhatikan gerakan Keisha yang mengambil obat-obatannya di atas nakas kemudian memberikan kepadanya.
"Thanks, Kei."
Doni berdiri dari duduknya setelah selesai meminum obatnya. Laki-laki itu bergerak mengambil tasnya yang ada di atas meja.
"Lo betul-betul mau masuk kuliah, Don?" Itu suara Keisha yang masih mempertanyakan.
Doni mengangguk tegas. "Iya, Kei. Gue masih mahasiswa baru, masak dihari ke tiga kuliah gue udah bolos abses. Nggak patuh buat dicontoh," jelasnya.
Helaan napas dari Keisha terdengar. "Lo nggak pernah berubah, selalu ambis kalo masalah pelajaran. Cuman pas SMA aja lo bisa sedikit santai gue lihat." Keisha bersedekap.
"Gue gini karena ada yang harus gue pertahankan, Keisha." Doni melangkah mendekati gadis itu.
"Siapa?" tanya Keisha sambil bersedekap.
"Lo," balas Doni. Tangannya mengusap kepala Keisha dengan lembut. "Karena lo istri gue sekarang." Doni melanjutkan dengan cengirannya.
Keisha terlihat mendengkus. Akan tetapi, Doni cukup terkejut karena gadis itu mengambil tangannya dan menyalimnya sekilas. "Sebagai bentuk istri yang cukup baik di mata lo," ujar Keisha tidak acuh.
Doni sungguh terharu dengan perlakuan gadis ini. Maka itu dia tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. "Makasih, Kei." Doni menarik Keisha agar lebih mendekat dan mengecup kening gadis itu sekilas.
"Gue pergi dulu, ya. Assalamualaikum!" Doni langsung berlari kecil keluar dari kamar, cukup malu sendiri dengan perbuatannya tadi. Padahal mereka sudah suami istri.
"Lho, Doni? Katanya kamu masih sakit, kok udah mau kuliah aja?" Itu suara Om Denis. Doni langsung menghentikan larinya ketika berpapasan dengan mertuanya itu dipekarangan rumah.
"Iya, Om. Ada kuliah pagi soalnya. Tapi sekarang aku udah nggak sakit lagi, kok." Doni menyalim tangan pria itu dengan sopan. "Kalo gitu aku pergi dulu, ya, Om. Assalamualaikum," pamitnya.
Doni langsung menaiki motornya. Entah kenapa rasa pusingnya sedikit berkurang karena perlakuan Keisha yang tiba-tiba mau menyalim tangannya. Ya, meski itu dengan sekilas sih, tapi Doni udah bahagia sekali. Sepanjang perjalanan menuju kampus, Doni terus tersenyum dengan wajah yang sedikit memerah.
Begitu juga sepanjang berjalannya mata kuliah hari ini. Doni seakan semangat mengawali harinya sekarang. Tanpa sadar kembali berharap pads seorang Keisha, tidak tahu kalau kedepannya gadis itu akan melukainya untuk keberapa kalinya.
***
Tepat jam 11 siang kuliah berakhir, karena dosennya sedikit terlambat masuk tadinya. Doni keluar dari kelas dengan wajah yang sedikit pucat. Pusing kembali menderanya, Doni tidak tahu setelah menguras pikiran kepalanya akan pusing begini. Apalagi mendengar suara dosen yang terus berceloteh di depan sana. Meski dia bersemangat tadinya.
"Kak Doni ...." Langkah Doni yang berada diparkiran kampus mendadak berhenti. Dia kenal suara itu.
"Yo!" Doni menyapa Selly dengan suara lelah.
"Lo sakit, Don?" tanya Selly ketika mendekatinya. Doni hanya mengangguk pelan.
"Cuman pusing aja," sahutnya.
Selly terdengar mendecak pelan. "Wajah lo juga pucat, Don? Apa mau gue anterin pulang?" tanya gadis itu.
Doni sedikit menarik sudut bibirnya. "Rupanya lo bisa bawa motor gue, hm?" tanyanya, sedikit remeh.
Selly langgsung mencebik. "Ya jangan naik motor, dong!" Gadis itu terlihat sedikit kesal. "Gue kebetulan bawa mobil hari ini, jadi bisa nganterin lo. Ntar lo kenapa-kenapa lagi kalo di jalan," jelas Selly.
"Untuk motor lo dibiarin sinj aja dulu, nggak bakal hilang kok." Selly melanjutkan.
"Emangnya lo nggak ada kuliah lagi?" tanya Doni, memastikan saja karena dia tidak mau merepotkan gadis ini.
"Ntar jam satuan ada. Jadi masih sempat anterin lo. Ayo!" ajaknya. Doni akhirnya menurut saja, pasrah ketika tangannya ditarik oleh gadis ini.
"Nah, duduk anteng aja di sini," suruh Selly.
Doni mengangguk pelan, dia memejamkan mata setelah berhasil memasang sabuk pengaman dengan sendirinya. Di sebelah kanannya ada Selly yang sudah siap mengemudikan mobil milik gadis itu.
"Rumah lo masih yang dulu kan?" tanya Selly.
Doni menggeleng pelan. "Gue berapa hari ini nginap di rumah Keisha. Lo pasti paham lah," ujar Doni, dia sedikit beralibi karena sedikit takut statusnya diketahui Selly. Padahal dia tidak apa-apa kalau jujur saja. Akan tetapi, saat bersama Selly dia sedikit sungkan mengatakan sejujurnya karen takut melukai hati gadis ini. Ya, meski Selly belum terang-terangan mengungkapkan rasa dengannya.
"Oke, gue bakal anter ke sana," sahut Selly. Gadis itu kembali mengemudikan mobil setelah lampu merah berubah. Jalanan sedikit lengang, tidak terlalu padat seperti pagi hari.
"Thanks, ya, Sel. Lo baik banget." Doni tersenyum tulus, mereka sudah sampai di depan gerbang rumah Keisha.
"Sama-sama. Lo bisa masuk sendiri atau gue bantu?" tanya gadis itu lagi.
Doni menggeleng pelan. "Nggak usah, gue bisa sendiri," tolaknya.
"Oke." Selly pasrah.
"Lo hati-hati," pesan Doni setelahnya turun dari mobil. Laki-laki berbalik dan mendekatkan gerbang, mengetuknya pelan setelah itu satpam membukakan dari dalam.
"Loh, Den Doni? Pulang sama siapa, Den?" tanya Pak satpam, karena sudah mengenal Doni sejak dulu.
"Dianterin teman, Pak. Saya masuk dulu, ya," pamit Doni. Akan tetapi, baru beberapa langkah, Doni hampir saja terhuyung kalau saja tidak ditahan oleh Pak satpam dari belakang.
"Ayo saya anter ke dalam, Den. Aden belum sehat kelihatannya." Satpam tadi mengantarkan Doni hingga ke ruang tengah, membuat Keisha yang ada di sana sedikit terkejut melihat kedatangan Doni yang dipapah oleh satpam rumah.
"Kan, sakit lagi, kan? Udah gue bilang juga, jangan kuliah dulu, Don." Keisha malah mengomel, membuat Doni menghela napas pela , kepalanya semakin pusing ketika diomelin seperti ini.
Doni merebahkan tubuhnya ke sofa, berharap pusingnya sedikit berkurang setelah istirahat nantinya.
"Makasih Pak Joko." Suara Keisha masih terdengar ketika mengucapkan teima kasih pada satpam rumah.
"Sama-sama, Non. Saya balik ke depannya lagi, ya."
"Mana yang sakit?" tanya Keisha setelah duduk disebelahnya.
"Kepala gue, Kei. Rasanya kayak ditusuk-tusuk gitu," keluh Doni.
Keisha terdengar mendecak. "Sini gue pijit!"
Doni menurut, meletakkan kepalanya di atas pangkuan Keisha. Matanya tertutup seiring menikmati sentuhan Keisha yang terasa nyaman di kepalanya. Doni tersenyum samar, ketika dia sakit begiji Keisha sangat perhatian dengan dirinya. Berupaya menjadi dokter untuknya. Meski dia tahu kalau ini adalah bentuk rasa tanggung jawab gadis itu.
Namun, Doni tetap senang diperhatikan seperti ini.
Cinta bisa membodohi seseorang. Sampai-sampai dia rela disakiti berulang kali dengan orang yang sama.