(14)

2160 Words
Keisha tidak tahu kalau begini jadinya, aksi nekad Doni memang sangat fatal sekali. Laki-laki langsung jatuh sakit di malam harinya. Keisha hanya terkena flu biasa, sementara Doni hanya bisa tertidur setelah meminum obat yang diberikan dokter tadi. "Kei ...." Mata Keisha masih tertuju pada Doni. Dalam hati memang merasa bersalah karena sudah egois terus membanding-bandingkan Doni dan Varo. Karena sejak dulu, sejak mereka sudah jadi sahabat. Keisha tahu kalau dua laki-laki itu memang memiliki sifat dan kebiasaan atau kelemahan masing-masing. Hanya saja, setelah semua yang terjadi seminggu ini. Dia hanya masih belum bisa menerima fakta kalau dirinya sudah menjadi istri Doni, bukan menjadi istri Alvaro— laki-laki yang dia cintai sampai saat ini. "Doni kenapa bisa sampai gini? Kamu nggak lupakan pesan dari Tante Kiran?" Sebuah tangan mendarat dibahu Keisha. Gadis itu masih bergeming ditempat, sebelum menoleh pada bundanya. "Dia aja nggak bisa kena angin apalagi kena hujan, Kei," lanjut Bunda lagi. Keisha menghela napas pelan. "Maaf ...." Sejurus kata itu keluar dari mulutnya, terdengar sangat sesal. "Ini ... salah, Kei. Keisha janji bakal rawat Doni sampai dia sembuh." Iya, Keisha hanya bisa melakukan itu hanya untuk menebus rasa bersalahnya pada laki-laki ini. Sampai laki-laki itu sembuh total, perasaan bersalah Keisha pasti hilang saat itu juga. "Itu sudah tugas seorang istri, Kei." Bunda menjawab. "Jaga dia, ya. Dari kecil dia selalu ada buat kamu, nggak ada salahnya untuk membalas perbuatan baiknya selama ini," ujar Bunda Shayra lagi. Keisha tidak menjawab, tanpa dibilang pun dia masih ingat dengan kebaikan Doni selama ini. Waktu kecil, ketika dia menangis, Doni lah yang sigap untuk menenangkannya. Senyuman dan candaan yang Doni buat, bisa merubah suasana hati Keisha. Ibaratnya, Doni ini merupakan seperti Kakak untuknya. Maka itu, Keisha tidao bisa menerima laki-laki itu sebagai suaminya. Seorang Kakak akan tetap jadi Kakak untuknya. "Bunda ke kamar dulunya, Papa kamu minta kerokin tadi." Bunda mengusap kepalanya sebelum benar-benar pergi dari kamarnya. Keisha menatap lekat Doni yang tidur sangat lelap. Usai pingsan karena terguyur air hujan, Doni masih sempat terbangun dan laki-laki itu langsung menggigil kedinginan. Ruam-ruam merah sudah memenuhi tubuh laki-laki itu. Doni terlihat tidak kesakitan, hanya kedinginan serta wajah yang pucat. Keisha berusaha santai melihat keadaan Doni, tetapi dirinya tidak bisa diam karena mendapati Doni semakin menggigil. Dari itu, Keisha langsung menghubungi dokter untuk memeriksa keadaan Doni. Setelah diperiksa, dokter menyuruh Doni untuk mengisi perut lebih dulu dan usai itu langsung meminum obatnya. Dan semuanya berakhir Doni jatuh tertidur karena pengaruh obat-obatan tadi. Keisha beranjak naik ke atas kasur, sudah hampir larut malam sekarang. Dia harus tidur, tetapi matanya belum bisa diajak kompromi. Masih terbuka dengan lebar, saat itu ditemani keheningan malam. Keisha membuka album foto yang selalu dia simpan di dakam laci nakas. Ketika membuka halaman pertama album tadi. Dia langsung disuguhi oleh foto dirinya yang masih kecil bersama Mama dan Papa. Keisha tersenyum kecil, mengusap foto Mama dengan lembut. Diumur lima tahun dia sudah kehilangan wanita terhebat ini. Dia pikir, dia akan kehilangan sosok Ibu untuk selama-lamanya. Ternyata dia salah, satu tahun kemudian dia bertemu dengan Bunda Shayra. Wanita yang lembut perangainya hampir sama dengan sifat Mama. Sejak melihat Bunda pertama kali, Shayra sudah jatuh hati. Selalu ingin bersama wanita itu meski ujung-ujungnya Papa melarang. Dia juga sempat memberontak agar dibiarkan bertemu dengan Bunda Shayra. Hingga berapa bulan dia tidak tahu apa yang terjadi, Papa dan Bunda semakin dekat. Dan saat itulah Keisha tahu, kalau dia memiliki Ibu baru yaitu Bunda Shayra. Wanita kedua yang selalu memahami dirinya, tingkahnya, keegoisannya dengan begitu sabar. Meski terkadang sikap Keisha terlampau kelewatan karena kalo sudah emosi pasti akan tidak sadar melawan Bunda dan ujung-ujungnya dia amat merasa bersalah. Di halaman kedua album itu, Kiesha disuguhi foto dirinya yang saat itu masih sekolah menengah atas, di dalam foto itu juga ada, Ahmad— adiknya yang beru berumur 6 tahun, beserta Bunda dan Papa. Mereka semua tersenyum di sana, terlihat bahagia sekali. Di halaman berikutnya, Keisha cukup tertegun karena disuguhi oleh foto dirinya bersama dua sahabatnya yaitu Varo dan Doni. Mereka, ah lebih tepatnya, dia dan Doni yang terlihat tersenyum lebar di sana. Sementara Varo hanya tersenyum kecil sangat kecil sekali. Laki-laki itu dari dulu sangat susah hanya untuk tersenyum, kadang membuat dia dan Doni cukup kesal. Keisha larut menatap foto-foto yang ada di dalam album. Banyak foto kenangan di sana, dari fotonya yang masih kecil hingga beranjak dewasa seperti sekarang. Album itu hampir semua berisi tentang dirinya saja, maka itu dinamakan. Albums Keisha. Album yang sengaja dibuatkan Bunda untuk dirinya. Keisha menutup mulutnya karena menguap, matanya sudah berair juga. Kemudian mata itu perlahan tertutup lambat laun, Keisha jatuh tertidur dengan posisi duduk bersandar di kepala ranjang. Malam ini mungkin Keisha bisa tidur nyenyak seperti biasanya, sebelum semua terenggut karena ada yang mengganggu mimpi indahnya nanti. Pukul 3 dini hari. Keisha merasa tidurnya diusik seseorang, sedikit kesal Keisha langsung membuka matanya dan mendapati tidur Doni yang begitu terlihat gelisah. "Doni!" panggil Keisha, gadis itu bahkan menepuk bahu laki-laki itu. "Hm ...." Doni hanya bergumam pelan. Kemudian tidak berapa lama, laki-laki itu terlihat membuka matanya secara paksa. "Tidur lo ke ganggunya?" tanya Doni, suaranya terdengar serak. Keisha tidak menjawab hal itu, dia hanya mengulurkan tangan untuk memeriksa suhu tubuh Doni. "Badan lo panas lagi," ujar Keisha. "Hm." Doni bergumam kembali, memejamkan mata sebentar. "Kalo lo ke ganggu sama gue, lo bilang aja. Biar gue pindah ke sofa aja," lanjut Doni. "Bukan itu," sela Keisha, entah kenapa sangat kesal mendengar ucapan Doni tadi. Keisha bergegas turun dari tempat tidur, mencari sesuatu yang di dalam kotak P3K yang selalu disediakan di kamarnya. "Pake ini dulu, biar panasnya turun," ujar Keisha, gadis itu menempel sesuatu ke dahi Doni. Suara decakan Doni pun terdengar. "Kayak anak kecil aja kayak gini," lirihnya. "Kalo mau cepat sembuh jangan banyak ngomong!" ujar Keisha sedikit ketus, untuk saja dia baik memberikan bye bye fever ke laki-laki ini. Keisha kembali merebahkan tubuhnya ke kasur, memejamkan mata lagi. Berharap bisa meraih mimpi dalam sekejap setelah tidur sedikit terganggu karena kegelisahan Doni. Lihatlah, laki-laki itu masih saja gelisah tidak menentu. Balik ke sana balik ke mari membuat tidur Keisha terganggu karena hal itu. Keisha mengembuskan napas pelan, ingin marah tapi dia tahan karena Doni sedang sakit sekarang. Dan penyebabnya adalah dirinya. "Doni ...." panggil Keisha lagi, menatap Doni yang sudah memejamkan mata, tetapi dahinya berkerut. "Lo kenapa?" "Nggak tau, Kei," sahut Doni. "Rasanya kayak gelisah gitu, mata gue terasa panas kalo dibuka terus kepala gue dikit pusing. Belum lagi rasanya dingin banget." Doni nampak mengeratkan selimut yang dipakai seorang diri oleh laki-laki itu. Keisha tidak tahu harus melakukan apa. Akan tetapi, dia baru teringat sesuatu, Bunda akan selalu memeluk tubuhnya ketika sakit. Pelukan yang nyaman bisa membuat dia tidur nyenyak disaat sakit. Apa dia harus melakukan hal itu juga kepada Doni? Baiklah, tidak ada pilihan lagi. Daripada dia tidak kunjung bisa tidur sampai pagi nanti. Lebih baik dia melakukan hal itu saja, yaitu memeluk Doni untuk satu malam ini saja. Keisha tidak banyak membuka suara. Dia menyibak selimut dan mendekati Doni, dalam sekejap dia memeluk tubuh Doni seperti guling. Dia tahu kalau Doni terkejut melihat tingkah dadakannya ini. "Kei?" Doni membuka matanya sedikit itulah yang Keisha lihat. Tangan Keisha perlahan mengusap kepala Doni. "Bunda selalu peluk gue kalo lagi sakit. Mungkin lo bisa tidur nyenyak setelah gue peluk gini," ujar Keisha, tidak berani menatap wajah Doni dengan intens untuk saat ini. "Oke." Doni hanya menjawab itu saja, setelah laki-laki itu membalas pelukannya dengan erat. Cukup menghantarkan kehangatan yang nyaman untuk malam ini. Tangan Keisha terus mengusap kepala Doni, sebelum gerakannya itu terhenti karena dia sudah jatuh tertidur setelah memastikan Doni tidur lebih dulu dari dirinya. *** "Pagi Bunda," sapa Keisha ketika turun ke lantai bawah. Dia juga menyapa Papa dan adiknya, setelah itu menyusul Bunda ke dapur. "Doni gimana? Dia udah mendingan kan?" tanya Bunda. Keisha menganguk pelan. "Udah Bund, tapi katanya masih pusing dikit. Ruam-ruam merahnya juga udah nggak terlalu kelihatan," balasnya. Bunda terlihat menghela napas lega. "Syukurlah, Bunda cukup khawatir sama kondisinya. Dulu pas masuh batita, Doni pernah diopname karena nggak sengaja kena hujan. Bunda juga masih ingat gimana wajah panik Kak Kiran dan Kak Dimas." Keisha melirik Bunda, wanita itu sibuk menuangkan bubur ke dalam mangkuk. "Kamu pastiin Doni makan bubur ini sampai habisnya, terus minum obat. Biar dia cepat sembuh," jelas Bunda. Keisha mengangguk pelan. "Aku ke atas lagi ya, Bund." "Iya, terus habis itu gantian kamu hang sarapannya!" peringat Bunda. Keisha menyahut pelan dan segera naik ke lantai atas. Begitu membuka pintu dia cukup terkejut melihat Doni keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggangnya. "Astag! Lo mandi?" tanya Keisha, tidak habis pikir. "Iya, hehe." Doni nyengir tidak jelas. Wajah Keisha sudah merah padam mendengar jawaban itu. "Tenang Kei, gue mandi pake air hangat kok," ujar Doni, terdengar untuk membela diri. "Mau pake air got pun lo nggak boleh mandi, Don. Masih sakit begini lho," omel Keisha. Gadis itu meletakkan mangkuk berisi bubur tadi ke atas nakas, kemudian berkecak pinggang. "Ya, mau gimana lagi, Kei. Gue ada kuliah pagi hari ini," sahut Doni, lagi. "Kan, masih bisa libur, Don. Jangan memaksakan diri lah," balas Keisha. Gadis itu berjalan membuka lemari dan mengambilkan pakaian tebal untuk Doni. Astaga dia tidak memikirkan bagaimana cara pikir Doni hari ini. "Nggak bisa, Kei. Dosennya galak!" Keisha berbalik menatap Doni dnegan mata melotot. Gadis itu juga melemparkan baju yang diambilnya ke arah Doni, untung laki-laki itu menangkapnya dengan gesit. "Ya izin ajalah dulu, Doni. Ntar lo pingsan di sana gimana hah?" tanya Keisha. Dia hanya takut Doni kama sembuh dan pekerjannya untuk menjaga Doni pasti akan bertambah lama, hanya itu saja yang Keisha khawatirkan. Jadi, jangan mikir macam-macam. "Cuman ada satu mata kuliah, kok, Kei. Setelah itu gue janji pulang deh dan istirahat." Doni menatapnya dengan serius. Keisha menggeleng tegas. "Jangan! Lo buruan ganti baju sana!" suruhnya. Doni menurut, laki-laki itu memakai baju dihadapan Keisha langsung membuat gadis itu mendengkus kasar. Ingin berteriak, tetapi tidak jadi, dia malah buru-buru memalingkan kepalanya samping. "Sekarang lo sarapan dulu." Keisha memaksa Doni untuk duduk bersandar di tempat tidur, dia mengambil mangkuk tmbeisi bubur tadi dan menyuapi Doni. "Gue senang lo perhatian gini," ujar Doni setelah menelan bubur itu. Keisha jadi berdeham pelan. "Gue cuman merasa bersalah dan ini rasa tanggung jawab gue untuk mengurus lo sampai sembuh," jelas Keisha, biar Doni tidak berharap lebih dengan dirinya lagi dan lagi. "Nggak apa-apa, meski begitu. Gue tetap senang melihat sikap perhatian lo ini. Kayak waktu kecil dulu." Keisha terdiam melihat senyuman yang menguasi wajah Doni. "Lo masih ingat kan, Kei, gimana reaksi lo pas gue habis dipukul sama anak-anak nakal karena belain lo yang diejek mereka terus," lanjut Doni. Seperti mau membuat Keisha mengingat ulang kejadian berapa tahun silam itu. Keisha semakin bungkam, bibirnya terkatup rapat sementara memorinya terputar saat kejadian waktu itu. "Hiks ... bibil kamu beldalah." Keisha kecil tidak hentinya menangis melihat sudut bibir sepupunya mengeluarkan darah. "Udah, Kei. Aku nggak apa-apa, ini nggak sakit kok. Kan aku anak laki-laki, harus kuat?!" Sementara Doni kecil, bukannya kesakitan karena hanis dipukul oleh anak-anak nakal tadi malah tersenyum kecil. Satu tangannya terangkat untuk menghapus jejak air mata yang membahasi pipi Keisha. "Jangan nangis lagi, ya," pinta Doni. Keisha kecil masih senggukan, tetapi tidak urung mengangguk. "Ayo kita pulang, aku bakal lawat kamu sampai sembuh. Itu tugasku kalena kamu udah nolong aku tadi," jelas Keisha, gadis itu masih sedikit cadel di umur hampir masuk 8 tahun. "Iya. Kan Keisha dokternya Doni," sahut Sini dengan nyengir. Hari itu, Keisha menepati janjinya untuk merawat Doni. Dia bahkan rela merengek terus kepada Bunda dan papanya agar diizinkan menginap di rumah Doni. Hanya beralasan untuk merawat Doni yang habis dipukul. Keisha bahkan menangis karena keinginannya itu tentu dilarang keras oleh Papa. Keisha sudah masuk sekolah, hanya saja Keisha dan Doni pas sekolah dasar beda sekolah. Maka iti dilarang orang tua untuk menginap. "Keisha, pulang aja ya," bujuk Doni, bocah kecil itu menghampiri Keisha yang menangis di bawah kolong meja makan. Mengambek dengan Bunda dan Papa. "Nggak mau ... kan, Keisha mau lawat Doni sampe sembuh," balas Keisha, air mata sudah membasahi pipi gadis kecil itu. "Iya, Doni juga tau kok." Doni tersenyum kecil. "Besok sepulang sekolah kamu bisa main ke sini lagi, kok. Terus lanjut rawat aku, Bunda kamu pasti nggak marah kalo kamu main ke sini," tutur Doni. "Tante Shayra takut kamu nggak bisa tidur karena nggak ada yang ngelonin nanti. Kan, selama ini Keisha selalu tidur sama Bunda," sambung Doni lagi. "Keisha kan bisa tidul sama Doni." Doni menggelegar pelan. "Pulang aja, ya. Nanti pas hari libur kamu boleh nginap di sini, oke!" Akhirnya Keisba kecil mengalah. Gadis itu menurut karena permintaan Doni yang menyuruhnya pulang. "Gue juga masih ingat gimana ekspresi wajah lo pas nangis waktu itu." Doni membuka suara lagi. Menjadikan Keisha tersentak pelan. Karena dimasa kecil dulu dia sangat dekat dengan Doni meski ada Varo di sisi mereka. Hanya saja semuanya berubah ketika Keisha mengenali cinta dan jatuh hati pada Varo. Hingga melupakan keberadaan Doni yang selalu ada untuknya di mana pun dia berada.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD