(13) Flashback

1813 Words
Pertandingan basket sangat dinantikan oleh semua murid. Mereka sudah berbondong-bondong datang untuk memenuhi lapangan outdoor sekolah. Matahari tidak begitu terik seakan mendukung pertandingan hari ini. Seperti biasa, tiap akhir bulan sekali sekolah mereka mengadakan acara-acara perlombaan seperti ini. Diantara ribuan murid-murid sekolah, di kursi barisan paling depan. Keisha menepuk balon berukuran panjang dengan teriakan nyaring khasnya. Dia seakan tidak bosan berteriak hanya untuk menyemangati dua sahabatnya yang sedang bertanding di sana. Tangannya bahkan sangat kencang memukul balon-balon itu sehingga menimbulkan suara. "VARO?! DONI?! SEMANGAT?! KALIAN PASTI BISA MENANG?!" Itu jelas saja suara Keisha. Gadis itu bahkan tidak peduli begitu banyak pasang mata yang menatapnya seakan tidak suka. Akan tetapi, Keisha tidak terpengaruh dengan itu. "YUHUUUU VARO, LO HEBAT?!" Keisha kembali berteriak ketika Varo berhasil memasukkan bola ke dalam ring. Sorakan semakin ramai dari sekolah mereka yang sebagai tuan rumah. Sementara sekolah lain yang di undang hanya bisa mendesah kesal karena skor kelasnya ketinggalan cukup jauh. "Varo ganteng bangetnya, apalagi kalo keringat kayak gitu." Mendadak gerakan tangan Keisha memukul balon itu, terhenti. Langsung menatap sinis pada gadis yang duduk tidak jauh darinya. "Dih, jangan centil lo! Sahabat gue itu," ketus Keisha. Namun, nampaknya gadis tadi tidak mau mengalah. "Cuman sahabat kan? Jadi, situ nggak ada hak buat larang gue centil sama dia," sahutnya. Tidak bisa dibiarkan, ini akan berlanjut kalau Keisha tidak mau mengakhiri perdebatan yang sudah dia ciptakan. "Cih! Varo mana suka cewek kayak lo. Bibir aja merahnya kayak cabe," sinis Keisha lagi. Dia seakan lupa untuk menyemangati dua sahabatnya lagi. Kalau menyangkut Alvaro, Keisha tidak bisa tinggal diam. "Kei, jangan ladenin dia. Sekarang kita fokus dukung anak kelas," sela gadis disamping Keisha, teman sekelasnya. "Ck! Gedeg banget gue liat dia." Keisha menggerutu pelan, dia memilih menghadap ke depan lagi. Menyemangati dua sahabatnya sehidup semati. Sementara di lapangan sana. Alvaro dan Doni sudah banjir keringat. Berlari ke sana kemari hanya untuk merebut bola. Satu poin lagi mereka berhasil memasukkan bola ke dalam ring. Saat itu jugalah mereka dinyatakan menang, waktu tinggal dua menit lagi. Babak akhir sebentar lagi akan selesai. "Al, kasih gue?!" teriak Doni. Alvaro menoleh pada Doni kemudian mengangguk kecil. Melemparkan bola basket itu ke arah Doni yang langsung ditangkap oleh Doni dengan gesit. Doni mendribble bola itu dengan cepat, larinya begitu gesit, kecuali bermain biola Doni juga suka salah satu olahraga ini. Doni mengangkat bola tinggi-tinggi kemudian melemparkannya ke ring basket. Semua orang berharap bola itu masuk, tetapi naas bolanya malah meleset. Doni sudah mendesah kecewa karena itu. Akan tetapi, matanya membeliak saat melihat Varo kembali mengambil alih bola kemudian memasukkan bola itu ke ring tanpa kendala apa pun. Sontak Doni berteriak heboh, disambut pekikan antusias dari sekolah mereka. Akhirnya untuk berapa perlombaan , hari ini mereka memenangkan pertandingan basket. "Yeay! Varo, lo memang hebat, nggak salah gue milih sahabat kek lo dari dulu." Doni merangkul bahu Varo dengan kuat, saking kuatnya bisa mencekik leher Varo. Varo langsung melepaskan rangkulan itu, melengos panjang karena tingkah absurd Doni. "Gue memang jago," sahut Varo. Laki-laki itu memang percaya diri dan Doni tidak bisa menampik lagi. "Ye, Pak kutub. Senyum dong, kan kita menang kali ini," ujar Doni lagi. Sangat susah sekali melihat senyuman Varo karena sejak kecil pembawaan laki-laki itu seperti ini juga. "Alvaro! Doni." Teriakan dari kursi penonton mengalihkan atensi mereka. Doni menyeringai lebar melihat sepupunya di sana. "Tukang support kita tuh." Doni menyenggol bahu Varo dengan keras, berlalu lebih dulu untuk menghampiri Keisha di kursi penonton. Pemberian hadiah akan dilaksanakan sore nanti oleh kepala sekolah. Maka itu, mereka diharuskan untuk beristirahat sejenak. "Woah! Kei, buat gue ini?" tanya Doni, cukup senang melihat Keisha memegang satu botol air mineral. "Kebetulan gue haus juga, nih." Tangan Doni mengambang di udara ketika Keisha menjauhkan botol mineral tadi. "Nggak! Ini bukan buat lo, buat Varo." Keisha melotot kecil. Doni langsung cemberut. "Lo, ah! Nggak adil, aturannya kasih jugalah buat gue," gerutunya. Keisha tak mengindahkan, gadis itu tersenyum dengan sorot mata terus memperhatikan Alvaro yang hendak berjalan mendekatinya. Gadis itu sudah berharap kalau Varo akan menerima air yang dia bawa ini. "Alvaro ini buat lo—" perkataan Keisha terhenti begitu saja. Dia tertegun sejenak melihat Alvaro malah berhenti karena gadis yang sempat adu bacot dengan malah memberikan satu botol air mineral. Dan lebih parahnya, Varo menerima air itu dan langsung meneguknya di tempat. Keisha menganga, tangannya satu sisi langsung terkepal kuat. Tidak menyangka kalau Varo mau menerima air itu. Padahal biasanya tugas Keisha yang selalu memberikan air minum untuk Varo. Keisha buru-buru berbalik, matanya sudah berkaca-kaca, hatinya juga langsung sakit melihat tingkah Varo kali ini. "Buat lo aja." Suara Keisha tercekat, dia langsung memberikan botol mineral itu kepada Doni. "Loh? Katanya tadi buat Varo." Keisha tidak memperdulikan Doni lagi. Gadis itu langsung berlari tergesa-gesa untuk pergi dari sisi lapangan itu. Dia terlanjur sakit hati, juga cemburu sekaligus. Apa Alvaro tidak peka seoama ini dengannya? Sikap perhatian dan kasih sayang yang dia berikan pada laki-laki itu, sudah bisa menebak segalanya. Gadis itu tertunduk di kursi belakang sekolah. Air matanya juga sudah membasahi pipi, Keisha menangis di sana dengan seorang diri. "Dasar Alvaro nggak peka." Keisha senggukan, tangisannya semakin menjadi karena sebelumnya dia belum pernah merasakan namanya sakit seperti ini. Hanya karena Varo menerima air dari gadis tadi, dua sudah merasa sesak sekali. "A-awas aja, ya. Gue bakal diamin dia, biar tau akibat karena udah nggak ambil air yang gue bawa tadi." Keisha tergugu. Tangannya merambat naik ke dadanya kemudian memukulnya pelan. "Kok, sakit banget sih, di sini?" tanyanya. Bernapas pun rasanya seakan susah. Cukup lama menangis sendiri di sana sekaligus menenangkan diri. Keisha pergi ke toilet lebih dulu sebelum masuk ke dalam kelas. "Kei, lo dari mana?" Itu suara Alvaro yang dia dengar begitu masuk ke dalam kelas. Keisha hanya melirik laki-laki itu sekilas, kemudian memalingkan wajahnya dengan sinis. Dia tidak peduli ekspresi wajah Alvaro seperti apa karena perlakuannya tadi. Keisha mengambil tasnya yang ada di atas meja dan memakainya ke punggung. Gadis itu mengedarkan pandangannya ke seluruh kelas untuk mencari keberadaan sepupunya. "Doni." Keisha mendekati sepupunya itu, Doni sedang duduk di bawah AC kelas. Masih dengan memakai baju olahraga, wajahnya pun bahkan terlihat kelelahan. "Apa?" Keisha duduk disebelah laki-laki itu, menarik baju bagian bawah Doni. "Anterin pulang," cicitnya. Doni nampak mengernyit. "Pulang? Ke mana?" Doni malah balik bertanya. "Ck! Ya ke rumah lah." Keisha memberenggut tidak suka karena respon Doni yang amat santai. "Lah, ngapain, Kei. Acaranya lama lagi, pertandingan lain masih berlanjut lagi. Pun pengumuman pemenangnya sore nanti. Lo nggak mau lihat gue sama Varo megang piala?" tanya Doni Keisha menggeleng pelan. ""Nggak mau. Maunya pulang aja." Keisha merengek. "Nanti ajalah, Kei. Gue capek," tolak Doni. "Ihhh, Don. Anterin pulang ...." rengek Keisha lagi. Doni mendengkus kasar, laki-laki malah menatap keadaan kelas. Kemudian tiba-tiba memanggil Varo yang sejak tadi terus memperhatikan interaksi mereka. "Varo! Anterin nih bocah pulang, sana!" suruh Doni. "Gue nggak mau pulang sama dia." Keisha melirik Varo yang sepertinya berjalan mendekati mereka berdua. "Ngapain mau pulang, hm?" tanya Varo, mengelus rambut Keisha. Secara otomatis Keisha tepis, menjadikan Doni bauk Alvaro sama-sama terkejut. "Jangan sentuh-sentuh!" ketus Keisha. "Lo kenapa? Gue ada salah?" Alvaro bertanya dengan raut wajah tidak mengerti sama sekali. "Pikiran aja sendiri," ketus Keisha lagi. Setelahnya langsung menarik Doni dengan paksa. "Ayo, anterin gue pulang?! Kalo nggak mau, lo nggak boleh nginap di rumah gue nanti!" Keisha mengancam. Keisha menyeringai karena tidak ada penolakan dari Doni lagi. Dia juga tahu kalau ancaman itu akan mempan nantinya, karena Doni sedang ada masalah di rumah dan berakhir numpang tidur di rumahnya sudah dua malam ini. "Nih, bocah pake ancam segala sih." Doni terdengar mendengkus, karena dia paksa untuk diantarkan pulang. Ya, mau gimana lagi, karena terlanjur cemburu dan kesal dengan tingkah Alvaro. Keisha tidak ada semangat lagi untuk ada di sekolah saat ini. Mending dia di rumah dan nonton drakor biar tidak galau lagi. *** "Kei." Sang pemilik nama langsung menoleh ke ambang pintu, di sana ada Doni. Laki-laki itu masuk tanpa menutup pintunya karena pesan Bunda yang selalu mengatakan itu ketika mereka berada di dalam kamarnya. Keisha kemudian mengalihkan tatapannya ke layar laptop langsung. "Apa?" tanyanya, malas menanggapi apa-apa sekarang, kecuali drakor di depannya ini. "Ponsel lo mati, ya? Soalnya si Varo chat gue mulu karena pesannya nggak lo balas, teleponnya juga nggak lo angkat." Doni duduj di sebelahnya. Keisha jadi melirik ponselnya yang tergeletak di sisi kiri laptop. "Mager ngetik," sahutnya cuek. Doni terlihat menggeleng. Sudah biasanya melihat tingkah sepupunya yang terkadang rada aneh sepertinya juga. Ketika mata Doni menatap ke arah laptop, laki-laki itu semakin menggeleng dengan menelan salivanya perlahan. "Buset deh, Kei. Tontonan lo ini," ujar Doni. "Apa sih, lebay lo." Keisha mendelik. "Cuman ciuman doang," lanjutnya lagi. Doni jadi menggaruk tengkuknya. "Ya meski cuman ciuman, gue juga mau gitu." Keisha kembali menoleh ke Doni. Gadis itu bergidik ngeri melihat Doni yang kini menggigit bibir sendiri. Setelah laki-laki itu langsung memajukan wajahnya. "Heh, ngapain lo?" tanya Keisha, was-was. "Gue nggak pernah ciuman, Kei. Terus nggak tau rasanya kayak apa. Jadi ...." Doni memiringkan kepalanya. Keisha semakin was-was melihat tingkah aneh sepupunya ini. "Gue mau coba sama lo." Doni melanjutkan lagi, semakin mendekatkan wajahnya ke Keisha. "Akh!" Keisha ingin berteriak saat itu juga. Akan tetapi, tidak jadi setelah mendengar suara kesakitan dari Doni. Matanya yang tadi dia tutup langsung terbuka, cukuplah kaget melihat kedatangan Alvaro di sini. "Eh, eh! Kalian!" Keisha semakin was-was daripada sebelumnya. Karena kali ini, Alvaro menarik kerah baju Doni dengan wajah marah. "Eh, kalo mau berantem jangan di sini dong," seru Keisha, menatap ngeri pada kepalan tangan Varo yang sebentar lagi mendarat di wajah Doni. "Ampun, Bos." Doni tidak terlihat takut, laki-laki itu nyengir dan menjauhkan tubuhnya dari Varo cepat-cepat. Keisha bisa bernapas lega karena Doni sudah menjauh dari Alvaro. Sungguh dia takut kalau mereka adu otot di dalam kamar ini. Sehingga memicu kemarahan sang papa nantinya. "Kalian keluar sana! Nggak baik di kamar anak gadis orang!" usir Keisha. Gadis itu juga masih kesal dengan Alvaro. "Keisha. Lo kenapa sih? Gue ada salahnya sama lo?" tanya Alvaro, laki-laki itu membuka suara akhirnya. "Nggak!" sahut Keisha, singkat. "Kalo ada salah gue, ngomong dong, Kei. Biar gue tau koreksi diri." "Udah sana-sana! Gue lagi nggak mood lihat wajah lo di sini," usir Keisha lagi. Gadis itu menoleh pada Doni. "Don, ajak teman lo keluar sana!" Doni meringis pelan, menarik tangan Alvaro hati-hati. "Punten, Var. Gue cuman nurutin apa kata sepupu gue. Karena gue sepupu yang baik dan rajin menabung. Kita harus keluar dari kamar ini," jelas Doni, cukup panjang dan lebar. Raut wajah Varo sukit dijelaskan. Laki-laki itu mendecak pelan, sebelum akhirnya mengikuti kemauan Keisha yang ingin mereka pergi dari sini. "Tutup pintunya?!" "Nggih, kanjeng." Doni menutup pintu kamar Keisha, dia juga bisa menebak kalau mood Keisha lagi tidak baik hari ini. "Sabar, Var. Cewek memang gitu, rada aneh." Doni tertawa pelan, tetapi ketika mendapati tatapan tajam dari Varo. Dia buru-buru mengatupkan bibir. Keisha dan Varo kalo marah hampir sama. Sama-sama seperti hendak memakan orang saja.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD