Hari kedua kuliah, bahkan hingga saat ini Doni tidak mendapatkan teman satu kelas yang bisa diajak berteman. Seperti pertemanan yang lain, mereka akan datang bila hanya ada butuh saja. Setelah itu mereka akan pergi, usai apa yang mereka mau telah didapatkan.
Doni hanya memasang wajah datar selama mata kuliah berlangsung. Mengamati penjelasan dosen dan mencatat hal yang penting saja. Doni menguap bahkan matanya sudah berair, sungguh Doni sangat bosan dengan pelajaran ini. Sangat menyenangkan kalau dia memegang biola dan menggesek benda itu sehingga menghasilkan sebuah alunan musik yang amat enak didengar.
Membayangkan hal itu saja, Doni sudah bisa senyum-senyum sendiri.
"Baiklah, pelajaran hari ini saya tutup." Dosen di depan sana membuka suara usai memeriksa jam ditangan. "Sebagai tugas kalian harus bisa memahami dan menjelaskan ulang apa yang saya jelaskan di depan tadi," lanjut Dosen itu. Doni jadi tersentak serta dengkusan dari mahasiswa lainnya pun terdengar, membuat Doni tahu kalau mereka semua bosan dikasih tugas melulu. Hanya saja tidak berani membantah ucapan dosen itu.
Doni berdiri dari duduknya, Dosennya yang belum dia ketahui namanya sudah keluar satu menit yang lalu. Tujuan Doni hendak ke perpustakaan sekarang, dia harus lebih giat lagi belajar. Agar minggu depan ketika disuruh menjelaskan ke depan, Doni bisa-bisa saja tanpa ada salah satu pun.
Langkah Doni yang berbelok ke sayap kiri, di mana letak perpustakaan mendadak berhenti ketika pendengarannya mengenali suara seseorang.
"Iya, Kak. Saya minta maaf."
Semakin jelas, Doni mengenalinya. Buru-buru Doni mendekati salah satu toilet yang sudah tidak terpakai yang kebetulan hendak dia lewati tadi. Tanpa aba-aba, satu tangan Donu mendorong pintu toilet usang itu.
Kedatangan Doni jelas mengundang perhatian mereka semua. Tatapan Doni jatuh pada satu gadis yang duduk bersimpuh di lantai. Doni menggeleng pelan, sangat miris melihat kampus elit ini tetapi tindakan bullying masih terjadi.
"Kampus aja yang elit, tapi tingkah laku mahasiswinya dibawah rata-rata. Bikin citra kampus ini kadi buruk saja di mata," ujar Doni. Lelaki itu bersandar di kusen pintu toilet, tangannya bersedekap. Terus memperhatikan tiga orang yang berdiri di depannya.
Doni mendecak pelan, lantas bergerak untuk menghampiri gadis yang masih duduk bersimpuh di lantai itu. Doni membantu orang itu agar berdiri.
"Udah gue bilang, kalo ada yang nindas lo harus di lawan. Jangan makin lemah." Doni gemas sendiri, bahkan mendorong dahi Selly karena gadis itu masih diam sejak tadi. Tatapan Doni kemudian beralih ketiga orang itu, matanya menajam ketika melihat satu laki-laki diantara dua gadis itu. "Lo cowok kan? Kenapa malah bully cewek? Kelamin lo udah ganti ya?" sarkas Doni.
Laki-laki itu mendadak tertawa setelah mendengar penuturan Doni. "Lo siapa sih? Jangan sok jadi pahlawan deh, masih siang ini soalnya."
Doni tersenyum miring. "Nggak perlu tau gue ini siapa. Tapi ...." Doni menjeda ucapannya, menunjuk orang-orang di depan sana satu persatu. "Kalo lo pada masih berani ganggu Selly. Urusan kalian sama gue," ujar Doni, sangat tajam. Bahkan nyaris seperti tajamnya silet.
Doni menghela napas, sungguh dia sangat tidak suka berurusan dengan orang-orang yang terlalu merendahkan kasta orang lain. Doni memilih menarik tangan Selly dan membawa gadis itu keluar dari sana. Membiarkan tiga orang tadi menahan kekesalannya.
"Selly ... mungkin mulut gue udah berbusa bilang ini sama lo terus." Doni mendecak lagi. "Dari dulu nggak pernah berubah, selalu takut buat balas perbuatan orang yang suka bully lo."
Selly sebagai pelaku yang diomelin oleh Doni hanya bisa menunduk pasrah. Mendadak Doni dejavu melihat perlakuan mereka ini. Sama seperti ketika SMA dulu, bagaikan pahlawan Doni selalu menolong Selly saat di bully anak sekolah. Dam berakhir dia mengomeli Selly karena terlalu lemah.
"Maaf."
"Jangan minta maaf sama gue," ketus Doni. Tangannya kembali mendorong dahi Selly, tidak kuat tapi bisa membuat kepala gadis itu mundur sedikit. "Kalo aja gue nggak datang tadi, lo pasti udah habis ditangan mereka. Mana yang luka, tunjukin ke gue?" Doni menilik seluruh wajah Selly, takut ada luka akibat perlakuan bullying itu.
"Nggak ada yang luka." Selly nampak menggeleng. "Mereka nggak pernah main mukul sama gue, ya kecuali dorong bahu dan nepuk kepala gue dikit kuat. Itu juga tadi, mereka cuman marahi gue karena nggak bawa uang sakut banyak kayak biasanya." Selly menjelaskan panjang lebar.
"Apa?! Selain bully mereka juga minta uang sama lo?" Doni melotot, sungguh perlakuan orang-orang tadi tidak oatut di tiru. Ini sudah tahun 2021, tetapi bullying dan merampas bukan haknya, masih berlaku juga ternyata.
"Jangan marah dong." Suara Selly sekarang sudah terdengar bergetar.
"Gimana nggak marah, Sel? Lo mudah banget takluk di bawah mereka, apa lo nggak mikir gimana capeknya Mama dan Papa lo cari uang buat lo. Dan mereka malah mudah minta-minta sama lo. Ck! Harus gue hajar tuh mereka." Doni susah terlanjur kesal. Dia baru saja berbalik hendak mendatangi orang-orang yang mengganggu Selly tadi. Akan tetapi, gerakannya terhenti ketika Selly menahan tangannya.
"Jangan ...." Selly menggeleng pelan. "Gue janji ini yang terakhir kalinya. Kalo mereka ganggu gue lagi, gue bakal balas nggak diam aja." Selly seakan meyakinkan dirinya. Perlahan Doni menghela napas, kemudian berbalik ke arah Selly lagi.
"Janji? Gue pegang kata-kata lo tadi," ujar Doni.
Selly mengangguk seakan yakin. "Iya, gue janji." Selly tersenyum, tetapi Doni bisa melihat kalau itu senyuman palsu. Selly selalu pandai menyimpan perasaan sedihnya, kecuali kalau bahagia, gadis itu akan menumpahkan rasa bahagia secara terang-terangan.
Mengenal Selly satu tahun lebih, Doni bisa menebak kepribadian Selly seperti apa. Doni berdeham pelan, laki-laki itu memasukkan satu tangannya ke saku celana.
"Nah, sekarang gue tanya. Gedung fakultas lo nggak di sini, apa alasan lo ke sini lagi?" tanya Doni.
Setelah itu, Doni bisa melihat cengirnya Selly. Gadis itu menunduk sebentar. "Hehe ... gue mau ajak lo ngantin bareng tadi."
Doni mendengkus geli. "Ya udah, ke restoran depan kampus aja. Gue traktir," tuturnya yang mengundang pekikan antusias dari Selly.
"Ini baru teman gue." Tanpa sungkan Selly menggandeng lengan Doni. Seolah hal itu biasa mereka lakukan. Doni juga tidak keberatan sama sekali, dia sudah menganggap Selly sebagai adiknya sendiri. Mengingat selama ini dia anak tunggal.
"Gue mau tanya." Selly membuka suara setelah mereka sampai di restoran. Memesan makanan juga sudah.
"Alay?" Doni merespon ala kadarnya.
"Kabar Kak Keisha gimana, Don?" tanya Selly, mendadak Doni tertegun mendengar itu. "Sejak kalian tamat, gue udah jarang dengar kabarnya lagi."
Doni berusaha menetralkan ekspresi wajahnya. Laki-laki mendengkus kali ini dengan menyentil dahi Selly pelan. "Lo dari dulu nggak pernah berubah. Gue sama Keisha itu malah tuaan gue, tapi po malah manggil dia dengan iming-iming Kakak. Lah, gue malah lo panggil nama doang," omel Doni. Sebenarnya sengaja karena ingin mengalihkan topik.
Selly nampam mencebik. "Kan udah kebiasa. Nggak enak juga manggil lo dengan iming-iming Kakak, geli." Selly bergidik ngeri.
"Sialan! Nggak gue traktir nih," ancam Doni. Sejurus kemudian, Doni sedikit tersentak karena Selly berpindah duduj di sebelahnya dan bergelayut di lengan kekarnya.
"Yah, yah, Don. Jangan gitu dong, kan udah janji tadi sama gue." Selly merengek.
Doni tak kuasa menahan senyumnya. Tingkah Selly yang suka merengek dengannya ternyata dia juga rindukan juga. Sesaat Doni, seakan lupa kalau dia sudah jadi suami orang.
"Nggak usah merengek! Gue nggak mau traktir lo kalo, lo belum manggil gue dengan sebutan Kakak." Doni menekankan setiap kalimatnya.
"Ih, nggak mau?!" Selly ternyata menolak.
"Ya, udah. Berarti nggak jadi gue traktir. Bayar sendiri nanti." Doni membalas dengan cuek.
"Ck! Iya, iya." Nampaknya Selly mengalah. "Kak Doni, traktir aku, ya." Doni menoleh setelah mendengar sejurus kalimat itu. Sedikit tertegun melihat mata polos Selly yang mengerjap beberapa kali.
Tidak tahan ditatap seperti itu, Doni perlahan mendorong wajah Selly untuk menatap arah lain. "Iya, iya, gue traktir."
"Nah, gitu dong!." Selly berseru dengan gembira, kembali ke tempat duduknya tadi.
"Jangan pelit-pelit lah, gimana Kak Keisha nggak bisa suka sama lo kalo lo, ya sendiri pelit begini." Selly tersenyum mengejek.
Doni langsung melotot. "Apa lo bilang, hah?! Nggak jadi gue traktir, nih," ancamnya lagi.
"Iya, iya, maaf. Tutup mulut nih." Selky langsung menutup mulut rapat-rapat, takut sekali kalau tidak jadi ditraktir.
Satu fakta lagi, kalau Selly memang tahu bagaimana perasaan Doni terhadap Keisha. Karena Doni sendiri lah yang curhat dengan adik kelasnya ini. Setelah persahabatannya dengan Keisha serta Alvaro bubar, semenjak itulah dia dekay dengan Selly. Selain mereka punya bakat yang sama, Selly selalu bisa menjadi pendengar keluh kesahnya saat itu. Hanya Selly juga yang tahu bagaimana Doni terus menentang ayahnya meski ujung-ujungnya Doni yang kalah, sama seperti saat ini.
***
Mata kuliah terakhir, berlangsung sampai jam 5 sore. Doni bergegas pulang setelah itu, selain tubuhnya yang lelah, otak Dinu pun lebih lelahnya lagi karena dikuras terus menerus. Saat pulang kuliah Doni tidak bertemu dengan Selly lagi. Mungkin gadis itu sudah dulu pulangnya di banding dia.
Meski dekat dengan Selly, Doni tidak pernah bisa merubah perasaannya pada Keisha. Padahal Doni bisa saja pindah labuhan hati kepada Selly hanya saja, selain amat mencintai Keisha. Doni dan Selly tidak bisa bersatu karena mereka beda anutan. Iya, Selly menganut agama yang berbeda darinya.
Meski tidak memungkiri kalau Doni juga merasa nyaman bila berdekatan dengan Selly. Doni menggeleng pelan, dalam hatinya sekarang masij ada nama Keisha. Dia sudah menganggap Selly sebagai adik sendiri, tidak boleh lebuh dari apa pun.
Selly mungkin bisa saja ada perasaan lebih dengannya. Akan tetapi, Doni tidak bisa merubah rasa cintanya saat ini. Keisha adalah yang utama, meski dia berulang kali ditolak oleh gadis itu. Kalau saja Doni berusaha lebih giat lagi, dia pasti bisa mengambil serta meluluhkan perasaan Keisha terhadap dirinya.
Langkah gontai Doni memasuki area dapur karena tenggorokannya amat kering. Di luar sana sejak tadi sudah mendung, makanya dipertengahan jakan Doni melajukan motornya cukup kencang. Takut kehujanan, Doni tidak bisa kena air dingin atau bahkan angin sekalipun. Mandi saja, Doni selalu menggunakan air hangat. Kelemahan Doni yang amat dia benci sendiri, tidak bisa kuat padahal menahan dingin saja.
"Kei," panggil Doni ketika masuk ke dalam kamar. Dia melirik ke arah jendela, ternyata hujan sudah turun dengan derasnya di luar sana. Buru-buru dia mematikan AC di dalam kamar. Suhu semakin dingin ketika hujan begini.
"Keisha." Doni memanggil istrinya itu sekali lagi, tetapi tidak ada jawaban. Saat meletakkan tas di atas meja belajar. Doni mendapati Keisha sudah berdiri di balkon kamar. Doni juga sudah menduga kalau Keisha akan basah kuyup saat melangkah satu kali lagi.
"Kei, ngapain di situ? Masuk, hujan lho," suruh Doni.
Keisha masih bergeming ditempatnya, sebelum membuka suara diiringi suara hujan yang membuat suara Keisha menyatu dengan itu.
"Doni, lo tau kan kalo Alvaro suka banget sama hujan?" tanya Keisha.
Doni menghela napas pelan, selalu Alvaro saja. Akan tetapi, Doni malah menanggapi Keisha saat ini.
"Iya, dia suka banget sana hujan. Tapi beda sama lo, Kei. Lo nggak bisa kena air hujan, besoknya lo pasti bakal flu." Doni tahu itu, sejak kecil ketika Keisha ngotot hendak main hujan bersama Varo. Doni hanya bisa pasrah membiarkan dua orang itu bermain di bawah air hujan yang deras. Sementara dirinya berdiri di depan pintu dengan jaket tebal ditubuhnya, menatap dua sahabatnya yang terlihat bahagia bermain air hujan. Hari itu, Doni merasa amat benci dengan kelemahannya untuk kesekian kali. Karena hal itu, dia tidak pernah busa bermain hujan-hujanan dengan Keisha dan Alvaro.
"Dan lo, nggak bisa kena air hujan atau pun angin dingin, Don. Beda sekali dengan Alvaro." Keisha berbalik ke arahnya, bahkan Doni cukup terkejut mendengar penuturan Keisha tadi.
"Iya." Doni menyahut. "Gue beda sama dia, maka itu gue dan dia nggak ada persamaan sekalipun."
Doni menatap Keisha dengan tenang. "Gue di sini selalu ada buat lo, Kei. Sementara Varo? Dia malah pergi ninggalin lo. Dan itu cukup jadi perbedaan yang amat kuat untuk kita berdua." Doni melanjutkan lagi.
Kepalan tangan Keisha dapat Doni lihat. Gadis itu mungkin tidak suka dengan ala yang dia bilang tadi. Hanya saja, Doni cukup jengah dengan Keisha yabg terys membandingkan dirinya dengan Varo.
"Doni, lo cinta sama gue kan?" tanya Keisha.
"Harus gue jawab lagi, Keisha? Dengan perlakuan gue ke elo selama ini, seharusnya hal itu nggak gue jawab lagi," sahut Doni, laki-laki itu merasa tenang di depan pintu balkon.
"Kalo lo cinta sama gue. Ayo kita mandi hujan," ajak Keisha.
Doni terdiam sesaat. "Lo—" Doni tidak bisa melanjutkan lagi, dia cukup terkejut mendengar ajakan Keisha tadi.
Keisha malah tertawa pelan sekarang. "Lo nggak berani kan?" tanyanya. "Ucapan cinta lo itu nggak mempan buat gue, Don. Lo terlalu lemah buat pendamping gue, kena angin malam aja lo udah alergi apalagi gue ajak mandi hujan. Bisa-bisa lo drop besoknya." Suara dengkusan Keisha terdengar samar.
"Nggak kayak Varo, dia itu kuat. Mau bagaimanapun dia bisa jadi pelindung sekaligus pendamping gue. Nggak kayak lo, leman," lanjut Keisha, seakan tidak memikirkan perasaan Doni sama sekali.
Doni tersenyum samar. Lagi-lagi dia selalu dibandingkan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Doni langsung melangkah maju ke hadapan Keisha. Usai itu membawa tubuh mereka berdua di bawah hujan yang mengguyur kota dengan derasnya.
Doni menarik sudut bibirnya perlahan. Tatapannya melekat di netra mata Keisha, gadis itu cukup terkejut melihat tindakan nekadnya. Doni mencengkram bahu Keisha, tidak terlalu erat.
"Gue dari dulu nggak suka dibandingkan, Kei. Tapi lo selalu suka ngelakuin itu." Mata mereka masih saling menatap. "Kayak lo yang nggak suka diatur buat jadi istri yang baik untuk gue. Sama halnya, gue juga nggak suka selalu dibandingkan."
"Meski lo tau akibatnya setelah ini?" tanya Keisha, gadis itu membuka suara setelah lama terdiam.
"Iya," sahut Doni. "Gue bakal ngelakuin apa pun, biar lo bisa melirik gue dan nggak bandingin gue terus sama Varo. Karena dia dan gue itu jelas-jelas berbeda."
Doni memejamkan matanya sesaat. Udara dingin amat menusuk kulitnya hingga ke tulang sekarang. Akan tetapi, Doni melawan itu, membiarkan air hujan terus mengguyur tubuh mereka berdua. Sebelum semuanya berubah ketika pandangannya tiba-tiba memburam.
Sekali lagi, dia membenci kelemahannya.