Tidurnya sudah lelap sekali rasanya. Apalagi tertidur dalam dekapan Doni itu sedikit nyaman rasanya. Entahlah, Keisha sulit menjabarkan perasaannya sekarang. Akan tetapi, tidurnya yang sudah nyenyak tadi malah terusik karena ponselnya terus berbunyi nyaring.
Sedikit kesal, Keisha menjulurkan tangannya untuk mengambil benda pipih itu. Matanya sedikit membola melihat siapa nama si pemanggil. Keisha menatap Doni sejenak, tidur laki-laki itu sangat nyenyak sekali, apalagi mereka sempat berdebat sebelum tidur. Hanya karena Doni ingin memeluknya.
Pelan-pelan Keisha melepaskan pelukan laki-laki itu. Turun dari tempat tidur seraya menghela napas. Telepon tadi sudah mati karena tidak kunjung dia balas. Kemudian tidak berapa lama ponselnya kembali berbunyi dengan nama si pemanggil yang sama.
Namun, Keisha tertegun sebentar. Sangat bimbang sekali, apa dia harus menerima panggilan ini atau menolaknya? Akan tetapi, inilah yang Keisha tunggu selama ini. Panggilan telepon dari seseorang ini yang amat dia nantikan. Keisha mengembuskan napas perlahan, dengan tangan gemetaran Keisha menarik ikon hijau itu ke atas untuk tanda menerima panggilan itu.
Keisha menempelkan ponsel itu ke telinganya, sesaat hening yang terjadi. Baik dirinya dan orang diseberang sana tidak membuka suara sama sekali. Hingga ke menit sepuluh, seseorang itu akhirnya bersuara.
"Kei ...." Suara itu terdengar lirih. Mata Keisha berkaca-kaca usai mendengarnya, dua minggu tidak ada kabar. Akhirnya orang ini akhirnya menghubunginya.
"Al—" Suara Keisha tercekat. Tidak mau memanggil nama lengkap laki-laki itu. Hatinya sangat lemah bila bersangkut paut dengan orang ini.
"Kei ... aku minta maaf. Maaf, maaf untuk semuanya. Aku salah." Yah, sudah Keisha duga, kalau laki-laki ini akan mengucapkan hal yang sama. Baik di mimpi atau saat bertelepon seperti ini. "Aku terpaksa ngelakuin ini semua, Kei. Semuanya di luar dugaanku. Aku cuman mau bilang ke kamu, tunggu aku pulang, Kei."
"Karena sampai kapanpun, kamu adalah tempat persinggahan ku nantinya," lanjut laki-laki itu lagi.
Keisha mendongak, air matanya sudah menggenang di pelupuk mata. Keisha merutuk diri sendiri karena terlalu cengeng sebagai perempuan.
"K-kamu ke mana aja, Al? Kenapa kamu tega ngelakuin ini sama aku? Pernikahan kita batal dan sekarang aku udah jadi istru orang." Keisha terisak akhirnya, tidao bisa menahan tangisannya lagi.
"Kei ... aku minta maaf."
"Jangan terus ngatain itu! Aku muak dengarnya?!" sentak Keisha, seakan lupa keberadaan Doni yang sekarang masih tertidur di atas kasur.
"Kei—"
Keisha menggeleng pelan, kedua tangannya terkepal kuat. "Kamu jahat! Aku benci sama kamu?!" Setelah mengatakan itu, Keisha langsung mematikan sambungan telepon sepihak. Hatinya tidak kuat mendengar suara Alvaro. Semakin lama mereka berinteraksi seperti tadi, Keisha semakin tidak bisa menahan rasa rindunya yang sekarang sudah membuncah. Alvaro hanya menghubunginya lewat telepon, tetapi kenapa tidak langsung menemui dirinya? Apa laki-laki itu benar-benar pengecut seperti yang dikatakan Doni? Akan tetapi, Alvaro yang Keisha kenal tidak seperti itu. Dia adalah laki-laki yang bertanggung jawab.
Namun, rasa tanggung jawab untuk datang ke pernikahan mereka sepertinya sudah hilang. Karena laki-laki itu tidak datang dan malah menghilang bak di telan bumi saja.
Keisha terduduk lemas di tepian kasur. Masih menangis dengan senggukan, bahunya bahkan bergetar hebat. Keisha juga tidak peduli kalau Doni akan terganggu dengan tangisannya itu. Ponsel Keisha kembali bergetar pelan, tanda satu pesan masuk.
Alvaro:
Percaya sama aku, Kei. Aku bakal pulang secepatnya demi kamu. Jangan pernah berubah atau berpaling dariku. Aku cinta kamu, Kei. Hanya kamu yang ada di hati aku. Setelah semua ini, aku benar-benar janji, nggak bakal tinggalin kamu untuk kedua kalinya.
Dadaa Keisha bergemuruh membaca serentetan pesan itu. Apa yang diinginkan Alvaro sebenarnya? Setelah pergi tanpa jejak, laki-laki itu malah mengatakan hal ini. Iya, memang benar Keisha ingin menunggu kedatangan laki-laki itu. Akan tetapi, dia butuh kejelasan yang murni. Dia ingin tahu alasan yang sebenarnya, kenapa Alvaro terga melakukan semua ini? Selain merusak kepercayaan dari Papa, laki-laki itu juga memberikan rasa kekecewaan yang amat mendalam untuk dirinya.
"Sakit," lirih Keisha. Setelah meletakkan ponselnya ke atas nakas kembali. Kedua tangan Keisha menekan dadanya yang tiba-tiba terasa amat sesak. Dia bahkan memukul dadanya cukup kuat. "Kenapa sakit banget di sini, sih? Hiks ...." Dia kembali menangis.
"Lo jahat, Alvaro! Lo udah bikin udah nangis kayak gini," lirih Keisha lagi. Bahunya semakin bergetar hebat, serta tangisannya yang sekaan tidak kunjung berhenti. Di saat begini, dia juga teringat akan janjinya pada Doni siang tadi.
"Cukup terima kehadiran gue lagi, Kei. Gue udah merasa bahagia banget." Perkataan Doni itu cukup terngiang-ngiang di kepalanya.
"G-gue bakal coba pelan-pelan." Sekaligus ucapannya itu juga ikut terngiang-ngiang. Keisha harus apa sekarang? Dua laki-laki seakan bergantung pada dirinya. Mereka sama-sama mencintainya, tetapi, Keisha hanya mencintai Alvaro seorang untuk saat ini. Tidak tahu ke depannya seperti apa, atau dia malah jatuh hati pada sepupunya ini?
"Keisha?"
Bahu Keisha ditarik seseorang dari belakang. Keisha semakin menunduk saat tahu siapa orang itu. Ternyata tangisannya benar-benar membangunkan Doni dari tidur lelapnya.
"Lo kenapa, Kei? Kok nangis malam-malam begini?" tanya Doni. Keisha enggan mau menjawab. "Gue pikir mbak kunti yang nangis tadinya, sampe-sampe gue merinding. Eh, ternyata elo yang nangis." Keisha tahu kalau Doni sedang bergurau, hanya saja Keisha tidak bisa untuk tidak kesal. Dia sedang bersedih begini, laki-laki itu malah mengajaknya bercanda.
Keisha memukul d**a laki-laki itu, pelan tidak terlalu kuat. "Lo, ah! Gue lagi sedih nih!" ujarnya, mencebikkan bibir.
Keisha juga merasakan kalau ibu jari Doji menghapus air matanya yang ada di pipi. "Ya, makanya jangan sedih-sedih lagi, nggak baik malam-malam beginu nangis. Ntar di mbak kunti ngira kalo lo ini temannya," ucap Doni. Laki-laki itu seakan senang menakutinya.
"Jangan nakut-nakutin, deh, Don! Lo tau kan gue parno kalo begituan?" kesal Keisha. Dia juga menatap sekeliling kamar dengan was-was. Makhluk yang tidak bisa dia lihat selalu jadi kelemahannya selama ini.
"Udah-udah! Mending tidur sekarang," ajak Doni. Keisha menurut, dia bahkan tidak mau melepaskan tangan Doni yang sejak tadi dia genggam.
"Tunggu!" tahannya.
Doni langsung menatapnya dengan kernyitan di dahi. "Kenapa?"
Keisha berdeham sebentar. Dia sangat malu mengatakan hal ini. "P-peluk gue, gue benar-benar takut karena lo ngomong kayak tadi," ucapnya, sedikit memalingkan wajah karena terus ditatap oleh Doni.
"Astaga itu, dong. Gue mah, dengan senang hati bakal ngabulinnya. Apalagi kalo pake plus cium," balas Doni. Laki-laki itu memang suka sekali mengambil kesempatan.
Keisha langsung kesal pun memukul bahu laki-laki itu. "Itu mah, mau, ya lo!" ketusnya.
Suara tawa pelan dari Doni terdengar. "Becanda aelah." Doni mengibaskan tangan.
Kemudian Keisha turut ikut membaringkan tubuhnya, sembari memeluk Doni dnegan erat. Dia bahkan membenamkan wajahnya di dadaa laki-laki iu.
"Kei, lo benar-benar takut atau modus, sih?" tanya Doni.
Keisha mengangkat kepalanya, menatap wajah Doni. "Ya, ini kan salah lo yang udah bikin gue takut. Jadi, jangan banyak ngomong! Gue udah ngantuk banget," balasnya. Mulai memejamkan matanya untuk meraih alam mimpi lagi. Semoga hari besok lebih bauk dari sebelumnya.
Ya, semoga saja.
***
"Gue kesiangan?!"
Keisha terkaget mendengar teriakan itu. Dia yang tadinya sedang sisiran di depan meja rias mendadak berbalik menatap Doni yang sudah bangun.
"Kenapa sih?" tanyanya heran.
"Udah jam berapa ini?" Doni makah balik bertanya.
"Setengah delapan." Keisha menunjuk jam dinding yang ada di dalam kamarnya.
"Kok, nggak bangunin gue, sih, Kei. Gue ada jam pagi hari ini. Kan, bisa telat," gerutu Doni.
Keisha mengernyit. "Lo nggak ada ngomong sama gue, Don. Biasanya juga lo mandiri bangun tanpa dibangunin gue lebih dulu," balasnya.
"Jangan ngomel! Gue mandi dulu." Doni sudah ngacir masuk ke dalam kamar mandi.
"Ih, siapa yang ngomel, sih? Ngeselin banget tuh anak!" oceh Keisha. Gadis itu kembali berbalik ke cermin. Meletakkan sisirnya ke atas meja, kemudian mengambil satu lipstik yang ingin dia oleskan ke bibirnya.
Keisha tersenyum manis setelah melihat warna lipstik yang ada di bibirnya. Sangat cantik dan tambah cantik karena dia yang menggunakan.
"Kei, ambilin handuk gue, dong?!" Teriakan itu berasal dari kamar mandi.
Keisha memejamkan matanya sebentar. "Kenapa nggak diambil aja sebelum mandi, sih, Don?" tanya Keisha, terlalu kesal melihat tingkah Doni dipagi hari ini.
"Lupa."
"Ck!" Keisha mendecak pelan. Dengan amat terpaksa dirinya mengambil handuk yang tergantung di dekat pintu kamar mandi. "Kalo lupa, tuh, kepala lo kek nggak ada gunanya, Don."
"Buka pintunya!" titah Keisha.
Tidak berapa lama, Doni menyembulkan kepalanya di depan pintu. Laki-laki itu bahkan nyengir yang sayangnya sangat menyebalkan di wajah Keisha.
"Makasih, Kei! Lo makin cantik aja," gombal laki-laki itu.
"Basi gombalan lo?!" Keisha langsung melemparkan handuk tadi ke wajah Doni dengan kesal.
Keisha memilih turun ke bawah lebih dulu. Membiarkan Doni siap-siap sendiri di dalam kamar.
"Pagi, Bunda, Papa, Dek," sapa Keisha pada semua anggota keluarganya.
"Pagi, Kei."
"Pagi, Kak."
Hanya Bunda dan Ahmad yang membalas, Papa hanya membalas dengan gumaman saja.
"Doni mana Keisha?" Itu Papa yang bertanya.
"Lagi di kamar, Pa. Siap-siap mau kuliah katanya," balas Keisha. Dia mengoleskan selai kacang ke roti tawar.
"Pagi semua!" Oh, akhirnya Doni sudah turun.
"Pagi, sayang!"
Keisha melotot ketika Doni dengan lancangnya mencium pipinya di depan semua anggota keluarga. Keisha menatap Doni dengan wajah kesal, sementara laki-laki itu tersenyum lebar dengan wajah penuh kemenangan. Keisha mengembuskan napas pelan, sejak dulu Doni memang suka mencium pipinya. Maka itu Keisha mencoba untuk terbiasa, meski ujung-ujungnya kesal sendiri.
"Makasih, Kei." Dan satu lagi, Doni dnegan santai mengambil roti yang sudaj ia olesi tadinya.
"Don!" Keisha sudah kepalang kesal.
"Sorry, Kei. Gue buru-buru soalnya, udah telat, nih." Doni berdiri dari duduknya. Kemudian menyalim Bunda dan Papa secara bergantian.
"Assalamualaikum!" pamit Doni.
Keisha mengembuskan napas lagi. Biar saja Doni pergi cepat-cepat. Agar dirinya tidak kesal terus dengan tingkah laki-laki itu. Keisha kembali mengambil satu roti tawa, hendak mengoleskan selai kacang lagi.
"Kei, itu Doni mau berangkat kuliah kok nggak kamu salim? Dia suami kamu, lho." Papa angkat suara. Saat waktu itu Keisha mungkin marah ketika ditegur oleh Bunda. Hanya saja, Keisha sudah membuka pemikirannya untuk satu ini.
"Keisha lupa, Pa." Dia pun berdiri. "Biar Keisha susul aja, Doni, ya," lanjutnya lagi.
Keisha sedikit mempercepat langkahnya. Sedikit lega ketika mendapati Doni berdiri di depan gerbang.
"Doni?!" panggilnya, dia sedikit berlari untuk menghampiri laki-laki itu.
"Lho, Kei? Ada apa?" Doni terlihat kebingungan.
"Ada kelupaan," balasnya. Kemudian mengambil tangan Doni dan menciumnya.
"O-oh, gue pikir apa yang ketinggalan." Doni nampak kikuk.