"Kak Keisha," sapa seseorang. Alhasil keduanya menoleh ke arah sumber suara. Doni cukup terkejut mendapati Selly berada dibelakang mereka, gadis itu bahkan bersandar di dekat mobil.
"Lho, Selly? Lo apa kabar?" tanya Keisha, gadis itu mendekati Selly dan memeluknya sebentar.
"Baik, Kak. Kalo Kakak apa kabar? Aku dengar Kakak kemarin mau nikah sama Kak Varo, ya? Kapan?" tanya gadis itu, terdengar menuntut.
Keisha jadi tersenyum canggung. Kemudian menoleh pada Doni. "Lo ke sini kamu jeput dia, ya?" tanya Keisha.
Selly langsung mengangguk. "Iya, Kak. Soalnya motor Kak Doni ada di kampus, kemarin kan aku juga yang nganterin dia pulang," sahutnya.
Keisha mengangguk pelan. "Ya udah, gih berangkat sana!" suruh Keisha, kembali menoleh pada Selly lagi. "Kalian hati-hati, ya. Jagain Doni, ya, Sel. Biar nggak genit sama perempuan di kampus." Keisha tersenyum kecil.
"Soalnya dia udah— hmmphh." Mulut Keisha langsung dibekap oleh Doni. Gadis itu menatap Doni kesal.
"Udah, gue berangkat dulu. Lo baik-baik di rumah, tatata." Doni melambaikan tangannya pada Keisha, sementara satu tangan lagi menarik Selly agar masuk ke dalam mobil.
Keisha mendengkus ditempatnya. "Pasti tuh, anak belum ngomong jujur sama Selly kalo dia udah nikah," gumamnya. Keisha kembali mengangkat bahunya tidak acuh. "Ya, itu urusan mereka, sih. Kasian Selly cintanya bertepuk sebelah tangan." Keisha memilih masuk ke dalam rumah lagi, dia tahu soal bagaimana pertemanan Selly dengan Doni.
Dua orang itu sudah bersama-sama selama dua tahun. Dari sikap Selly, Keisha sudah bisa menebak bagaimana perasaan gadis itu terhadap Doni. Sedangkan Doni masih terjebak dengan cintanya sendiri, yaitu mencintai Keisha hingga saat ini.
Tidak beda jauh, Keisha juga masih mencintai seseorang itu. Laki-laki yang sudah tega pergi dan tidak jadi menikahinya. Miris sekali kalau diingat perjalanan cinta mereka ini.
Di lain tempat, di dalam mobil. Doni hampir deg-degan kalau Keisha mengatakan yang sebenarnya. Dia juga ingin mengatakan semuanya pada Selly. Hanya saja dia takut gadis ini akan tidak terima. Sama seperti kejadian masa itu, ketika Selly tanpa sengaja mengungkapkan perasaan padanya.
"Kak Doni ngeselin, tapi kenapa gue bisa suka coba?"
Hari itu Doni cukup tertegun mendengar itu. Dia tetap bersembahyang di balik pintu pembatas rooftop, semua yang dikatakan Selly terlalu tiba-tiba. Gadis itu mencintainya sementara dirinya sangat mencintai Keisha.
Hingga kemudian, Doni memilih pura-pura tidak tahu bagaimana perasaan Selly yang sebenarnya. Gadis itu memang tidak pernah mengungkapkannya secara terang-terangan di depannya. Akan tetapi, sejak saat itu, Doni selalu menjaga perasaan Selly. Dia tidak mau gadis yang sudah dia anggao sebagai adik sendiri, malah sedih karena fakta penolakannya itu nanti.
"Eh, ini Kak Doni tumben pake cincin?" Doni tersentak, tangannya yang berada di stir kemudi tadi sudah dipegang oleh Selly.
Doni berdeham pelan. Langsung menarik tangannya cepat-cepat. "Ini cincin dari Bunda, katanya nggak boleh dilepas," alibi Doni. Menatap cincin nikahnya bersama Keisha.
"Tapi Kok, cincinnya kayak cincin nikah," ujar Selly lagi.
Doni menelan salivanya susah payah, kemudian tersenyum kaku. "Perasaan lo aja kali." Doni mengembuskan napas pelan ketika Selly tidak bertanya lagi, gadis itu hanya mengangguk seakan mempercayai ucapannya tadi.
Doni juga bingung dengan perasaannya sendiri. Dia mencintai Keisha dan menginginkan gadis itu tetap berada disisinya. Sementara Doni malah menutupi statusnya sekarang di hadapan Selly. Benar-benar takut kalau Selly akan sedih setelah mengetahui fakta sebenarnya.
***
Keisha berkecak pinggang berdiri di depan kamar mandi yang tertutup. Suara air masih terdengar dengan jelas, padahal orang di dalam sana sudah hampir lima belas menit mandi, sangat tidak di wajarkan sekali.
"Doni! Masih lama lagi nggak? Lo mandi kayak anak perawan banget, sih?" kesal Keisha, gadis itu menggedor pintu kamar mandi dengan kuat.
"Ya, sabar, Kei. Kan gue masih bersih juga," balas Doni dari dalam sana.
Keisja mendengkus keras. "Cepat, ah! Gue udah lapar, nih. Nggak sabar makan bakso," ujar Keisha lagi.
"Iya, sabar, dong. Orang sabar bokongnya lebar lho." Doni menyahut dari dalam lagi.
"Lebar pala lo, Don! Buruan woy?!" Keisha kembali menggedor pintu itu.
Kemudian Keisha memilih duduk di pinggiran kasur. Sore tadi, Doni berjanji mengajaknya makan bakso tempat langganan mereka dulu. Keisha ingin menolak awalnya, karena percuma datang ke tempat itu kalau Keisha akan mengenang masa-masa indah bersana Varo nantinya.
Namun, Doni terus memaksa. Akhirnya Keisha pasrah saja, sekalian dia sangat merindukan bakso kesukaannya satu itu. Bunyi pintu yang terbuka mengalihkan intensi Keisha, gadis itu mendengkus melihat Doni baru keluar dari kamar mandi.
"Gue aja mandi nggak selama ini, Don." Keisha memicingkan matanya, kemudian menatap Doni penuh mereka selidik. "Jangan-jangan di dalam lo habis—" Keisha menggantungkan kalimatnya.
"Ye, jangan pikir kotor lo," sentak Doni. Laki-laki iti mengibaskan handuknya. "Buat apa gue puasin diri sendiri di kamar mandi? Lagian lo ada, kan sah-sah aja kalo gue perawanin lo." Doni tersenyum puas.
Wajah Keisha langsung pucat pasi, gadis itu memeluk tubuhnya sendiri. "Awas aja kalo berani?! Gue aduin Papa sama Bunda lo?!" ujarnya galak
Doni malah tertawa renyah. "Keisha, Keisha. Lo polos atau b**o sih?" tanya Doni, mengusap sudut matanya. "Yang ada Bunda bakal heran kalo lo ngadu kayak gitu, masa pas di sentuh sama suami sendiri nggak mau." Doni melanjutkan.
"Udah, deh!" Keisha mengibaskan tangannya. "Jangan ngomong macem-macem kalo nggak mau gue bersikap kayak yang kemarin-kemarin," ancam Keisha.
Doni langsung mengatupkan bibirnya. "Ancaman lo nggak main-main, Kei." Laki-laki itu menggeleng pelan.
Suasana malam terlihat ramai saat ini. Keisha yang duduk di jok belakang motor hanya bisa menikmati semilir angin malam. Ini pertama kalinya dia keluar pasca masalah waktu itu. Keisha merasa sedikit bebas karena sudah lama berkurung diri di rumah. Batas keluar rumah hanya ke supermarket yang masih satu komplek perumahan.
"Ah, anginnya bikin refresh, Don," ujar Keisha. Gadis itu itu menepuk bahu Doni pelan.
"Pegangan, Kei. Nanti jatuh bahaya loh," ujar Doni untuk kesekian kali hanya untuk mengingatkan Keisha.
"Iya, iya, ih." Keisha memberenggut kecil. Memegang bagian bawah jaket Doni dengan erat. Tidak berapa lama, keduanya sampai di tempat bakso yang berjualan di pinggiran jalan.
Keisha turun dari motor. Tersenyum melihat tempat ini karena tidak ada perubahannya.
"Ayo masuk!" ajak Doni, laki-laki itu berjalan lebih dulu. Sementara Keisha menatap sekeliling, setelahnya duduk di salah satu kursi panjang yang kosong.
"Gue pesenin, kayak biasa kan?" tanya Doni. Keisha mengangguk pelan. Dia masih memperhatikan sekeliling, pembeli tidak terlalu ramai untuk malam ini. Sehingga tempatnya tidak terlalu berdesakan karena banyaknya pembeli.
Keisha tersenyum tipis, mengusap meja itu dengan pelan. Dia terbayang saat di mana dirinya dan Alvaro makan di sini.
"Jangan pedas-pedas." Suara peringatan itu membuat Keisha mengerucutkan bibirnya. Kemudian menuangkan saus serta cabai tidak terlalu banyak. Gadis itu pada akhirnya menuruti apa kata sang pacar.
"Kamu mah, nggak adil. Kamu bisa pedas-pedas sedangkan aku nggak dibolehin." Keisha menatap Alvaro dengan sebal.
Laki-laki itu terlihat mengembuskan napas pelan. "Aku tahan pedas, Kei. Kalo kamu? Pastinya nanti ke kamar mandi ujung-ujungnya," sindir Alvaro. Keisha langsung nyengir.
"Tapi kan—"
"Udah, jangan ngomong lagi. Makan sekarang," titah Alvaro.
Keisha pun kembali menurut. Sebelum ketenangan mereka berdua diusik oleh seseorang.
"Hei, dua sobat gue kalo makan-makan nggak ngajak-ngajak lagi, ya. Iya deh, yang udah pacaran sekarang." Doni menyindir. Pasalnya dia dan Alvaro seminggu ini sudah resmi pacaran.
"Lo jangan iri, harusnya ikut bahagia karena sepupu lo sekarang udah punya pacar," sahut Keisha. Merasa bangga karena statusnya sudah berubah.
"Kalo lagi makan tuh jangan ngomong," tegus Doni. Mencabut tisu yang ada di atas meja dan mengusap sudut bibir Keisha yang belepotan.
Hal itu tentu saja mengundang kecemburuan seseorang. "Ekhem, biar gue aja!" Keisha menatap Alvaro yang merebut tisu tadi dari tangan Doni. Kemudian gantian mengusap sudut bibirnya. Keisha langsung tersenyum sumringah karena sangat suka diperhatikan oleh Alvaro. Pacarnya ini terkadang cuek-cuek tidak menentu dan itu bisa membuat Keisha kesal sendiri.
"Al ... meski gue bilang kalo gue benci sama lo, tapi hati gue nggak bisa bohong kalo gue masih cinta sama lo," batin Keisha. Gadis itu menunduk dengan tatapan sendu.
Ketika merasakan usapan lembut di kepalanya, Keisha langsung mendongak dan mendapati Doni berdiri didepannya.
"Jangan sedih, gue ajak lo ke sini sebenarnya buat ngenang masa-masa dulu. Kita bertiga sering ke sini setiap akhir pekan." Doni tampak tersenyum tipis. "Gue tau lo sedih karena tempat ini mengingatkan lo sama Varo. Tapi gue mau lo bisa terbiasa dengan tempat-tempat yang sering kalian datangin. Biar lo lamban laun menerima kenyataan kalo Alvaro cuman pernah singgah dihidup lo."
"Dan masa depan lo, mungkin nggak sama dia," lanjut Doni. Membuat Keisha terdiam dalam keheningan.