0 | Prolog
“Kak Muhyi ….”
Dari terakhir kali mengenalnya, Muhyi tahu kalau gadis itu makin tumbuh menjadi lebih segalanya. Lebih tinggi, lebih cantik, lebih pintar, dan lebih mahir menebar nuansa magis dalam dadanya.
Waktu telah mendewasakan gadis itu, sehingga kini tiada lagi Sina yang dalam pandangan Muhyi begitu lugu dan lucu. Dia kini, hanya gadis dewasa yang selalu sukses membuat sulur kehangatan menjalar dan membelit erat hati Muhyi. Membuat hari-hari Muhyi menjadi lebih ceria dan berwarna.
“Aku merindukanmu setiap hari. Bahkan ketika mata ini bisa menjangkau keberadaan dirimu di depanku, aku tidak bisa berhenti merindukanmu.”
Senyum tipis Muhyi tersemat. Ditatapnya manik kecokelatan Sina dengan lekat. “Itu lirik lagu, hm?” tebaknya. Tawa kecil Sina lepas mengudara. Ke depannya, tawa yang paling Muhyi suka itu akan menjadi salah satu hal yang paling dirindukannya.
“Janji jaga hati sampai aku kembali, ya?”
“Insya Allah.” Muhyi tahu, jarak antara Indonesa dan Maroko akan terbentang di antara mereka kini. Semuanya bisa terjadi dalam tiga tahun ini, tetapi Muhyi sudah bertekad untuk menyimpan selalu nama Sina di pedalaman hatinya sana. Menjaga dan merawatnya sampai gadis itu benar-benar kembali pulang untuknya. “Janji juga jangan terlalu merindukanku.”
“Aku akan merindukan Kak Muhyi. Selalu. Setiap saat. Karena asal Kak Muhyi tahu, aku bisa berdiri di sini, bersiap menjemput semua cita-citaku adalah karena rindu dan cintaku sama Kak Muhyi tak pernah padam.”
Riuh rendah di bandara siang ini, tak lantas membuat paparan kalimat itu tak menyentuh indra pendengar dan berlabuh tepat di hati Muhyi. Mendengarnya, membuat senyum Muhyi kontan merekah.
“Nanti, pas aku pulang dan berhasil menjadi lulusan terbaik universitas Maroko, Kak Muhyi harus siapin hadiah ya?”
“Kamu pengen hadiah apa emangnya?”
“Aku pengen ... Kak Muhyi salaman sama Abba terus bilang, qabiltu nikahaha wa tazwijaha bil mahril madzkur haalan.”
Dimulai,
Bandung, 25 Januari 2022