10. Seranjang Berdua

1096 Words
"Apa! Menginap?!" Pekikan keduanya terdengar kompak. Memancing rasa penasaran dari seorang Helena Matsui yang sontak menyipitkan kedua kelopak matanya. Wanita itu jelas merasa curiga. "Kenapa? Kalian keberatan jika aku ingin menginap di sini?" Agaknya, menekan Jiera dengan rentetan kata-kata tajam saat waktu makan siang tadi tidaklah membuat Helena merasa puas. Sebab setelah itu, bukannya pulang, Helena justru memilih untuk terus mengekori Jiera hingga kembali ke apartemen. Tidak tanggung-tanggung. Helena seolah tengah mengeluarkan segala amunisinya dengan mengomentari semua yang berhubungan dengan wanita itu. Mulai dari cara Jiera bersih-bersih, cara memasak, cara berpakaian hingga cara Jiera menutup lemari pendingin pun tidak luput dari komentar pedas Helena. Hingga sampailah pada puncaknya saat ini. Helena yang masih gencar mengibarkan ketidaksetujuannya itu dengan santai mengatakan jika ia ingin menginap di apartemen milik sang cucu. Hal yang membuat Jiera semakin merasa tersiksa. "B-bukan, bukan begitu, Nek. Hanya saja kami ...." Kenric yang sudah pulang dari dua jam yang lalu itu pun nampak kesulitan mencari alasan. Apalagi Jiera yang telah kehabisan tenaga meladeni Helena seharian. "Hanya saja apa? Hanya saja kalian takut ketahuan sedang berbohong? Kalian takut permainannya aku bongkar dengan mudah?" Helena semakin menyipitkan pandangan tanda curiga. "Berbohong? Permainan? Ck! Maksudmu itu apa sih, Nek!?" Kenric memutar bola matanya malas. "Berhentilah curiga! Lagipula bukti yang kuberikan kemarin apa belum cukup?" 'Ditambah dengan bukti penyelidikan diam-diammu, apa belum juga berhasil meyakinkanmu?' sambung Kenric dalam hati. Kemarin, orang kepercayaan nenek yang juga merupakan sekutu Kenric memang melaporkan jika dia telah memberi Helena laporan palsu sesuai perintah sang pria. Hal yang awalnya Kenric pikir bisa membuat sang nenek percaya padanya. Namun sekarang ia justru ragu akan hal itu. Sang nenek sepertinya masih mencoba menyangkal dan membuat Kenric harus memutar otak lebih. "Awalnya sih Nenek percaya. Tapi ketika melihat tingkah kalian yang seperti ini ... kecurigaanku bisa jadi tidak salah, bukan?" "Tidak salah apanya! Jelas-jelas asumsi Nenek semuanya salah!" dengus Kenric dengan wajah masam. Sebisa mungkin ia harus bisa menunjukkan rasa kesalnya. "Kalau begitu, buktikanlah! Buktikan kalau asumsiku salah. Izinkan aku menginap dan—" "Oke! Kalau itu yang kau mau. Nenek boleh menginap di sini," putus Kenric pada akhirnya. "Tapi ... jangan salahkan kami jika nanti malam kau tidak bisa tidur karena terganggu dengan desahan kami." Keputusan sepihak yang dibuat Kenric tentu saja membuat Jiera terkejut. Ia menoleh cepat ke arah sang suami palsu yang saat ini tengah duduk di sampingnya. Memohon lewat tatapan mata seolah ingin berkata—kumohon jangan! Namun mengeratnya rangkulan tangan Kenric yang melingkar di pinggang Jiera seakan menjawab—maaf, tapi aku tidak punya pilihan lain. Mendapati pesan tak tersirat itu Jiera hanya bisa mendesah pasrah. Sejujurnya Jiera masih bisa bertahan jika hanya menghadapi sikap menyebalkan nenek tua itu. Tidak masalah seberapa seringnya Helena mengomel, memaki hingga mengumpat. Jiera tetap bisa menerimanya tanpa protes. Tapi menginap? Oh! Jujur saja itu adalah opsi yang paling ditakuti Jiera. Sebab dengan menginapnya nenek Helena, itu artinya Jiera harus tidur sekamar dengan Kenric, kan? Astaga! Cobaan apalagi ini? Belum genap dua minggu dan dia sudah tidur seranjang dengan seorang pria? *** Jam digital di ponsel Kenric baru saja berganti angka menjadi pukul sebelas lewat lima menit ketika pria itu terlihat meregangkan otot tubuh setelah menghabiskan satu jam membaca buku sembari bersandar santai di atas ranjang. Dan selama itu pula, Kenric baru menyadari kalau sedari tadi ia sama sekali tidak melihat eksistensi kehadiran sosok Jiera di sekitarnya. Wanita itu nampaknya masih betah berlama-lama berada di kamar mandi, entah sedang melakukan apa. Khawatir, Kenric kemudian berinisiatif untuk memastikan keadaan Jiera. Ia lantas berjalan pelan ke arah kamar mandi dan tanpa pikir panjang langsung mengetuk pintunya ketika sudah sampai di sana. "Jiera!" seru Kenric yang tidak ditanggapi sama sekali oleh sang wanita. "Ji! Kau ... kau baik-baik saja di dalam sana, kan?" Kenric kembali berseru, kini disertai kalimat tanya yang diiringi dengan semakin kerasnya suara ketukan pintu. Tapi hasilnya tetap nihil. Alih-alih menjawab, di dalam sana Jiera tetap bungkam. Membuat Kenric jadi berpikiran macam-macam. Jangan-jangan dia pingsan di dalam? Sekali lagi Kenric mencoba memastikan keadaan Jiera. Menggedornya beberapa kali sembari terus menyerukan nama sang wanita. Dan saat ia kembali tidak mendengar balasan apa pun dari Jiera, Kenric pada akhirnya memutuskan untuk mendobrak pintunya. Daripada ada apa-apa, kan? Lebih baik aku dobrak saja pintunya. Begitu pikir Kenric. Pria itu lantas mundur beberapa langkah. Mengambil ancang-ancang sebelum kemudian berlari cepat berniat untuk menabrakkan diri ke arah pintu kamar mandi. Akan tetapi tepat saat itu juga, pintu kamar mandinya tiba-tiba saja terbuka dan kemunculan Jiera di sana sontak membuat Kenric terkejut bukan main. "Astaga! Awas!" Besarnya gaya dorong yang dihasilkan membuat Kenric tidak bisa menghentikan laju tubuhnya. Dan Jiera yang tidak sempat menghindar seakan menjadi pelengkap ketika selang beberapa detik kemudian, badannya tanpa sadar telah bertubrukkan dengan tubuh Jiera yang berhasil membuat pinggang Jiera terbentur di bibir wastafel sebelum kemudian mereka terjatuh di lantai keramik yang dingin. "Arrgh!" Jiera memekik kesakitan. Sementara Kenric justru terlihat membatu ketika menyadari kalau tangannya telah memegang sesuatu yang harusnya tidak boleh ia pegang. Astaga! Selama beberapa detik, tidak ada yang bisa menjelaskan bagaimana atmosfer di antara keduanya tiba-tiba berubah drastis. Jiera yang awalnya mengerang kesakitan, kini mendadak terdiam saat menyadari bagaimana telapak tangan besar milik Kenric terasa pas ketika memegang bagian sensitif di area sebelah kanannya. Area terlarang yang saat itu tidak terlindung oleh apa pun selain sehelai kain tipis dari piyama motif polkadot kesayangannya. Ya, Tuhan! Sungguh ini benar-benar sangat memalukan! Pun begitu dengan Kenric. Di saat yang bersamaan, pria itu seperti tengah berada dalam mode pause di mana rungunya bisa dengan jelas mendengar bagaimana detak jantungnya berdebar begitu kencang. Entah karena apa, tapi tiba-tiba saja perasaannya mendadak jadi tidak karuan. Sial! Sebenarnya kau ini kenapa, Ken?! Lama mereka terjebak berada dalam kecanggungan itu. Sampai beberapa saat kemudian, segalanya mulai teralihkan ketika rintihan suara Jiera berhasil menyadarkan keduanya. Buru-buru Kenric menyingkirkan tangannya dari tempat terlarang itu. Lantas dengan perasaan khawatir ia bertanya, "K-kau ... a-apa semuanya baik-baik saja? A-apa ada yang terluka?" Jiera menggeleng tipis. "T-tidak ... a-aku, aku baik-baik saja. Hanya tadi sempat terbentur sedikit, jadi kurasa tidak—aarghh!!" Jiera kembali mengerang. Sepertinya ia tengah menahan sakit di area sekitar pinggangnya. "Ck! Baik-baik saja dari mananya?! Dasar sok kuat!" Tanpa diberitahu pun Kenric sadar jika ada yang tidak beres dengan tubuh Jiera. Terlebih ketika melihat wanita itu nampak kesulitan untuk bangun. Maka, tanpa pikir panjang pria itu pun langsung mengangkat tubuh mungil Jiera yang sontak mendapat protes dari sang wanita. "Eh, eh, eh! Apa-apaan ini! K-kau mau bawa aku ke mana?" "Ke mana lagi? Tentu saja aku akan membawamu ke atas ranjang. Memangnya kau mau berbaring semalaman di dalam kamar mandi?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD