Jiera?
Sebuah lipatan samar tercetak di dahi Kenric ketika melihat layar ponselnya berkedip dan menampilkan nama Jiera yang sedang mencoba menghubunginya. Tidak tanggung-tanggung, wanita itu bahkan mencoba menghubunginya lewat panggilan video.
Tentu saja hal itu membuat jadi Kenric bertanya-tanya 'ada apa'. Sebab bisa dibilang Jiera sangat jarang sekali meneleponnya kalau tidak ada sesuatu yang penting.
“Apa ada masalah, Sir?” tanya Anna—sekretaris Kenric—yang menyadari atasannya tiba-tiba berhenti di tengah jalan. Mereka saat itu memang baru saja keluar dari ruang meeting dan sedang berjalan kembali menuju ruang kerja masing-masing.
“Oh, tidak ada apa-apa,” jawab Kenric sembari fokus matanya tetap tertuju pada layar ponsel. “Kau kembali saja duluan. Ada urusan lain yang harus aku selesaikan.”
Anna mengangguk patuh. “Baik, Sir. Kalau begitu saya kembali duluan. Permisi," ucapnya lalu pergi meninggalkan Kenric.
Selepas kepergian sang sekretaris, buru-buru Kenric melangkahkan kakinya kembali masuk ke ruang meeting yang telah kosong. Ia memilih duduk di salah satu kursi sebelum kemudian menjawab panggilan video dari Jiera.
"Hal—"
"Hai, Sayang!"
Belum sempat Kenric merampungkan kata 'halo', sapaan Jiera yang bernada gemas dengan embel-embel kata sayang telah lebih dulu menyapa rungu bersamaan dengan kemunculan wajah sang wanita yang memenuhi layar ponselnya.
Kenric mengernyit heran. Agak kebingungan membaca sorot mata Jiera yang seolah meminta dirinya agar membalas sapaan sang wanita dengan kalimat yang sama. Hal yang semakin membuat pikiran Kenric bertanya-tanya.
Ada apa ya kira-kira?
Apa saat ini Jiera tengah berhadapan dengan sang nenek dan mengharuskannya untuk berakting?
Atau ada hal lain yang membuatnya begitu?
Banyak dugaan-dugaan yang seketika muncul di otak Kenric. Ingin langsung bertanya, tapi ia urungkan dan memilih untuk mengikuti permintaan tidak tersirat dari Jiera.
Kenric menarik nafas sejenak, lantas dengan menampilkan senyum khasnya ia menjawab, "Hai, juga, Sayang!" Suaranya dibuat tak kalah mesra. "Ada apa? Tumben sekali kau meneleponku siang-siang begini. Kau butuh sesuatu?"
"Ehm ... sebenarnya tidak ada apa-apa, sih. Cuma ingin tahu saja di jam segini biasanya kau sedang apa?" kekeh Jiera lagi-lagi dengan suara manjanya.
"Kau sedang bekerja atau istirahat? Sudah makan siang, belum? Kalau belum, pergilah makan dulu. Jangan sampai nanti kau jatuh sakit hanya karena telat makan. Lihat! Aku saja sudah selesai makan, lho."
Jiera mengarahkan kamera ponselnya untuk menyorot piring kosong di atas meja. Tak lupa diam-diam ia menggeser posisi ponselnya sedikit ke samping hingga berhasil memberitahu Kenric akan keberadaan sosok Helena di sana.
Ah! Pantas saja Jiera jadi bertingkah aneh seperti itu. Ternyata sang nenek benar-benar nekat kembali menemui Jiera.
Kenric mengangguk mengerti.
"Kau tenang saja, Sayang. Sebentar lagi aku akan pergi makan siang, kok. Ehm ... ngomong-ngomong kau sedang makan siang di mana? Dengan siapa?" tanya Kenric pura-pura tidak tahu.
"Aku kebetulan makan siang di restoran dekat apartemen. Dan kebetulan juga aku bertemu dengan nenek Helena di sini."
Sekarang Jiera baru dengan terang-terangan mengarahkan kamera ponselnya ke wajah Helena. Meminta wanita tua itu untuk menyapa Kenric yang hanya dibalas dengan sebuah decakan malas. Agaknya Helena benar-benar muak melihat interaksi di antara keduanya.
Beberapa saat lalu, Jiera sebenarnya berniat untuk pergi makan siang ke rumah ibunya. Namun ketika sampai di lobby apartemen, Jiera justru berpapasan dengan Helena yang saat itu memang bermaksud untuk menemuinya. Lagi.
Hal hasil, keduanya pun memutuskan pergi makan siang bersama dalam ketegangan hingga berakhir dengan panggilan video konyol ini.
"Oh! Rupanya kau sedang bersama nenek, ya. Kupikir tadi dengan siapa." Pria itu terkekeh tipis, masih dengan sikap pura-puranya.
"T-tapi, kalian di sana baik-baik saja, kan? Maksudku, dia tidak melakukan hal-hal aneh terhadapmu, kan?"
Kali ini pertanyaan yang keluar dari mulut Kenric merupakan sebuah keseriusan. Ia jelas merasa khawatir jika mengingat bagaimana terakhir kali Jiera sangat ketakutan akibat ulah sang nenek.
Mendengar pertanyaan itu Jiera langsung menggeleng cepat.
"Tidak, kok! Nenek sama sekali tidak melakukan apa pun padaku. Justru hari ini dia yang mentraktirku makan siang," jelas Jiera yang tidak mau Kenric salah paham.
"Oh, syukurlah kalau dia tidak macam-macam. Tapi kalau sampai nenekku melakukan hal-hal yang menyakitimu, kau jangan segan untuk—"
"Aish! Kau ini apa-apaan, sih! Tidak mungkinlah nenek Helena setega itu padaku!" jawab Jiera dengan raut wajah yang sudah tidak bisa digambarkan.
Dalam hati Jiera menggerutu. Agak kesal sebab ucapan Kenric justru malah membuat suasana antara dirinya dan sang nenek semakin terasa mencekam.
Jiera melirik sekilas ke arah di mana Helena tengah duduk. Mencoba menerka apakah wanita tua itu tengah tersinggung atau tidak. Namun, ekspresi wajahnya yang datar membuat Jiera sulit untuk mendapat jawaban.
Ck! Tamatlah sudah!
Jiera menghela nafas pasrah.
Lalu setelah itu ia mencoba mengalihkan topik pembicaraan hingga buru-buru memilih untuk menyudahi panggilannya dengan Kenric.
"Ya, Sayang. Kau juga. Selamat menikmati makan siangmu, ya. I love you."
Begitulah kalimat terakhir yang diucapkan Jiera sebelum panggilan video itu benar-benar terputus dan berhasil menyisakan keheningan di antara keduanya..
Bisa Jiera rasakan bagaimana wanita tua itu tengah menatapnya tajam. Seperti sedang menunjukkan ketidakpuasannya akan sikap maupun tindakan Jiera.
Padahal Jiera sudah berusaha sebisa mungkin memenuhi permintaan Helena yang tadi memintanya untuk melakukan panggilan video dengan Kenric. Katanya sih sebagai salah satu bentuk syarat pembuktian kalau dirinya memang benar istrinya Kenric.
Tapi sayang, kenyataan yang ditampilkan sangat jauh dari ekspetasi Helena. Alih-alih ingin melihat kepalsuan dari hubungan mereka, Helena justru merasa mual mendengar kalimat-kalimat mesra khas anak muda jika sedang jatuh cinta.
Ck! Benar-benar menyebalkan!
Untuk menutupi rasa tidak puasnya, Helena kemudian mencari cara agar bisa sedikit saja menjatuhkan mental Jiera. Dan ketika melihat Jiera yang ketakutan seperti itu, sebuah ide tiba-tiba saja terlintas di kepalanya.
"Kau ...!" Helena menggeram kesal dan dengan sengaja menampilkan ekspresi wajah seolah ia sedang kecewa berat.
"Apa sikapmu memang selalu ketakutan seperti ini jika berhadapan dengan orang baru? Ck! Pantas saja Kenric selalu berpikir kalau aku pernah mengancammu. Dia pasti menebaknya dari raut wajahmu itu."
"Atau jangan-jangan semua ini hanyalah akting?! Kau berpura-pura takut agar bisa menghasut Kenric untuk membenciku?! Ck! Kalau itu benar, aku bisa pastikan kau ini memang seorang wanita licik!"
Sejujurnya Jiera tidak mengerti ke mana arah pembicaraan Helena saat ini. Tapi melihat kalau wanita tua itu terlihat dalam mode yang kurang baik, Jiera lebih memilih untuk diam dan pasrah menerima ocehannya.
"Tapi apa pun itu! Aku tetap pada keputusan awalku, kalau sampai kapan pun aku tidak akan pernah merestui hubungan kalian. Paham!"