8. Di Bawah Atap Yang Sama

1239 Words
"Selamat pagi." Jam dinding masih menunjukkan pukul enam lewat lima belas menit ketika sapaan halus dari arah belakang punggungnya membuat Jiera hampir saja menjatuhkan spatula yang ia pegang. Jujur ia kaget saat melihat Kenric tiba-tiba sudah berdiri di belakangnya. "Oh, S-selamat pagi," balas Jiera dengan suara yang sedikit tersendat. Melihat Jiera yang nampak sedikit terusik dengan kedatangannya, seketika membuat satu alis Kenric terangkat. "Ada apa?" tanyanya memastikan. "Apa kedatanganku telah mengganggu acara masak-masakmu?" "B-bukan! Bukan seperti itu, Ken. Tadi itu aku hanya sedikit terkejut melihat kau tiba-tiba sudah ada di sini," jelas Jiera. Meski sudah beberapa kali mencoba menyamankan diri, nyatanya Jiera tetap saja merasa canggung ketika melihat kehadiran sosok Kenric yang tinggal di bawah satu atap bersamanya. Jujur, ini tidak mudah. Terlebih bagi seorang tertutup seperti Jiera. Selain ibu dan mendiang ayahnya, Jiera memang hampir tidak pernah merasakan punya pengalaman tinggal dengan orang lain seperti yang kebanyakan dilakukan oleh orang-orang seusianya. Maka ketika ada seseorang seperti Kenric datang dan mengubah ritme kehidupannya, tentu saja Jiera merasa begitu kesulitan. Tapi mau bagaimana lagi, perjanjian tetaplah perjanjian. Jiera tetap harus mengikuti aturan main di mana ia memang diwajibkan untuk tinggal di apartemen pria itu. Mungkin sudah berlalu sekitar lima hari sejak Jiera tinggal di kediaman milik Kenric. Selama itu pula, Jiera patut bersyukur sebab Kenric jarang sekali terlihat tinggal berlama-lama di apartemennya. Sepertinya pria itu begitu sibuk menjalani pekerjaannya sebagai CEO di Miracle BuildingShip Company—sebuah perusahaan yang bergerak di bidang industri pembuatan kapal—hingga jarang punya kesempatan untuk bersantai. Tapi tidak masalah. Justru hal tersebut membuat Jiera merasa sedikit lebih bebas dan mempunyai banyak waktu untuk melatih kebiasaan barunya. "Oh, aku kira kenapa." Kenric percaya saja. "Ya, sudah. Silakan lanjutkan," ucapnya lantas meninggalkan Jiera untuk duduk di meja dekat kabinet dapur. Sepeninggal Kenric, Jiera dengan cepat menyelesaikan tugasnya membuat sarapan dan tidak butuh lama dua piring omelette serta roti bakar selai kacang sudah tersaji apik di atas meja makan. "Tea or coffee?" tanya Jiera pada Kenric yang saat itu nampak sibuk dengan tablet di tangannya. "Coffee, please," jawab Kenric tanpa mengalihkan perhatian dari gadget miliknya. Saat masih tinggal sendiri, Kenric memang jarang sarapan di rumah. Ia lebih memilih untuk singgah di cafe dekat kantor dan sarapan di sana. Tapi sejak Jiera tinggal bersamanya, Kenric jadi lebih sering menghabiskan waktu sarapannya bersama wanita itu. Jiera lumayan pandai memasak, meskipun bukan dikatagorikan sebagai seorang ahli. Tapi untuk sekelas orang yang dulunya hidup bak seorang puteri, kemampuan adaptasi Jiera patut Kenric acungi jempol. Wanita itu jarang mengeluh, walaupun Kenric tahu di beberapa kesempatan ada kalanya Jiera terlihat kesulitan mengimbangi kebiasaannya. "Bagaimana harimu belakangan ini? Apa kau merasa nyaman tinggal berdua bersamaku?" Sembari menyantap sarapannya, Kenric menyempatkan diri untuk bertanya keadaan Jiera. Meski memiliki kuasa penuh atas wanita itu dan punya hak untuk melakukan apa pun padanya, tapi Kenric tetap memilih untuk menerapkan prinsip bahwa wanita sewajarnya harus diperlakukan dengan baik. "Ehm, bisa dibilang lumayan baik. Ya, walau kadang-kadang di waktu tertentu aku merasa sedikit kesepian ... tapi selebihnya aku baik-baik saja," jawab Jiera jujur. Mendengar jawaban Jiera sontak saja membuat pribadi yang sudah gagah dengan balutan kemeja navy dan jas kantoran itu nampak terusik. "Kau ... kesepian?" tanyanya memastikan. "Kesepian yang kau maksud bukan karena aku sering meninggalkanmu sendirian, kan? Kalau iya, sepertinya aku harus meminta maaf kepadamu. Akhir-akhir ini pekerjaan di kantor memang menuntutku untuk bekerja lebih ekstra. Itu sebabnya selama beberapa hari ini aku jarang terlihat di rumah. Kuharap kau tidak tersinggung dengan hal itu." "Oh, tidak, tidak, tidak! B-bukan itu maksudku!" Jiera mendadak jadi agak panik. Ia takut Kenric menyalah artikan perkataannya tadi. "Kesepian yang kumaksud tadi adalah karena ketidakhadiran sosok ibuku. Kau tahu sendiri kan aku ini anak mami yang sejak dulu susah lepas dari sosok orang tua. Jadi kadang-kadang aku merindukan ibuku," jelas wanita itu. "Oh, aku kira kau kesepian karena sering aku tinggal" Kenric terkekeh sendiri dengan pemikirannya. "Tapi, kalau kau memang rindu dengan ibumu, kenapa tidak kau kunjungi dia saja?" "Apa boleh?" tanya Jiera antusias. "Tentu saja boleh. Memangnya aku pernah melarangmu?" Jiera menggeleng tipis. "T-tidak juga, sih. Hehe! Jadi apa aku boleh sering-sering mengunjungi ibuku?" Jiera kembali memastikan. "Tentu saja. Itu gunanya aku membelikan kalian apartemen yang tidak jauh dari lokasi tempat tinggalku. Selain karena aku bisa memantau kalian kalau-kalau ada yang datang mengganggu, ini juga menjadi salah satu alasannya. Aku tidak ingin memisahkan kau dengan ibumu." "Jadi kunjungilah dia sesering yang kau mau. Tapi ingat, berhati-hatilah. Mata nenekku ada banyak. Pastikan di luar sana kau bisa menjaga sikapmu." *** Hari itu suasana Lily’s Coffee—kedai kopi milik Lilyana Park—nampak begitu lengang. Terlihat hanya ada sekitar tiga pelanggan yang tengah duduk-duduk santai pada meja yang telah tersedia sembari menikmati kopi pesanan mereka, sedangkan beberapa pelanggan lainnya nampak masih antre dan memilih untuk memesan secara take away. Namun sayang, suasana santai di kedai kopi itu nyatanya tidak mampu membuat suasana hati seorang Lilyana Park membaik. Dari raut wajahnya ia masih terlihat tidak puas. Terlebih ketika Helena datang dengan membawa berkas hasil penyelidikannya terhadap sang cucu. Dalam berkas itu sangat jelas tertera jika Kenric dan Jiera memang benar-benar sudah menikah. Mematahkan asumsi kalau selama ini Kenric telah berbohong demi menghindar dari rencana perjodohan. "Kau yakin dengan keaslian bukti ini?" tanya Jiera sedikit meragu. "Kau yakin bukti-buktinya tidak dipalsukan?" "Ya, tentu saja. Untuk mendapatkannya, aku telah memerintahkan orang kepercayaanku untuk menyelidikinya. Jadi sangat tidak mungkin jika dia sampai memberiku sebuah laporan palsu," jawab Helena. Wanita tua itu yakin sekali dengan keaslian laporan yang diberikan oleh orang kepercayaannya. Orang yang diam-diam ternyata memiliki kedekatan khusus dengan Kenric yang mana bersedia membantu Kenric untuk mengelabui sang nenek. Mungkin bisa dibilang apesnya Helena saja yang ternyata memiliki cucu licik, nakal dan cerdik seperti Kenric. "Kenapa? Kau masih meragukannya?" tanya Helena ketika ia tetap menangkap ketidakpuasan di wajah Lily. "Ya, begitulah. Aku masih ragu jika mereka benar-benar telah menikah. Sejauh yang kutahu, Kenric tidak pernah terlihat berurusan dengannya dan wanita itu pun sangat tidak mungkin bisa mengenal Kenric. Dia kan hanya—" Lily tiba-tiba menghentikan ucapannya. "Hanya apa?" cecar Helena penuh selidik. "H-hanya ... wanita miskin yang tidak pantas bersanding dengan Kenric," jawab Lily yang sejujurnya tidak terdengar begitu baik di telinga Helena. Meski berasal dari keluarga kaya, sedari dulu Helena sama sekali tidak pernah memandang seseorang hanya dari status sosialnya saja. Mau kaya atau miskin, semuanya sama saja. Dan hal itu pula yang Helena berusaha ajarkan kepada cucu-cucunya. "Ck! Jawaban macam apa itu!" Helena mendengus. "Kau dulunya juga miskin. Apa itu artinya kau juga tidak pantas untuk Kenric?" "Ck! Bukan begitu! Aku kan miskinnya dulu, sedangkan wanita itu miskinnya sekarang!" ketus Lily tidak terima disamakan dengan Jiera. "Lagipula ... kau ini di pihak siapa, sih? Kenapa kau malah membelanya?" "Aku tidak membelanya, Sayang. Aku hanya tidak suka jika kau mengukur derajat seseorang hanya dari status sosialnya saja. Apa aku pernah mengajarimu seperti itu?" Lily terdiam. Sadar diri karena tadi telah salah berucap. Padahal ia paham betul kalau neneknya Kenric sangat tidak menyukai pembahasan seperti itu. "Maaf," jawab Lily. Setelah itu, keduanya nampak terdiam untuk beberapa saat. Sebelum kemudian Helena menghela nafas panjang dan kembali membuka suara. "Jadi apa rencanamu selanjutnya? Apa kau ada niatan untuk menyerah saja?" tanyanya hati-hati. "Menyerah?" Lily mendecih. "Cih! Enak saja! Dalam kamus Lily tidak ada yang namanya kata menyerah." "Lima tahun lalu, kau sudah menghadiahkan Kenric padaku. Jadi, suka tidak suka, mau tidak mau, Kenric harus tetap menjadi milikku. Lihat saja nanti. Aku pasti akan merebutnya dari wanita itu!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD