"Jadi bagaimana akhirnya? Apa kalian berhasil meyakinkan semua orang kalau kalian benar-benar pasangan suami istri?"
Sembari menyeruput sup rumput laut buatannya, Yuri nampak antusias mendengar kelanjutan cerita tentang pertemuan sang anak dengan keluarga Kenric.
"Untuk saat ini bisa dibilang seperti itu. Tapi untuk ke depannya ... aku masih belum bisa memprediksikannya," jawab Kenric sejujurnya.
Hari ini Kenric memang bisa berbangga diri sebab telah berhasil membuat neneknya yang terbiasa berkuasa menjadi tidak berkutik. Namun bukan berarti Kenric mengabaikan fakta bahwa betapa hebatnya sepak terjang sang nenek dalam hal membalikkan keadaan. Dan ia patut untuk mewaspadai hal itu.
"Aku mengenal nenekku dengan baik, dan setelah kejadian tadi aku yakin dia tidak akan tinggal diam. Nenek pasti berencana untuk membalasku."
"Apa itu artinya tugas Jiera juga akan semakin berat?"
"Ya, sepertinya akan begitu." Kenric mengiyakan. "Tapi kau tenang saja, Bibi. Aku janji tidak akan membuat Jiera melakukan hal-hal yang di luar batas kemampuannya."
Yuri menghela nafas berat. Merasa iba melihat perjuangan berat yang sang puteri jalani.
Jiera-nya yang manja, Jiera-nya yang cengeng. Siapa sangka jika puteri kesayangan yang dulu terbiasa hidup serba mudah kini terpaksa harus menggadaikan seluruh masa depannya hanya demi bisa tetap melanjutkan hidup.
"Kenric benar, Mom. Kau tenang saja. Aku yakin akan mampu mengatasinya dan melakukan tugasku dengan baik. Dalam beberapa waktu ke depan, aku pasti bisa menaklukkan hatinya nenek Helena," ucap Jiera penuh keyakinan.
"Ck! Menaklukkan dari mananya!? Tadi saja katanya kau sudah merasa ketakutan setengah mati! Untung saja Kenric datang di waktu yang tepat. Kalau tidak, Mommy yakin kau pasti akan mengacaukan segalanya!" Yuri terkekeh geli mendengar kepercayaan diri anaknya.
"Astaga, Mommy! Yang tadi itu kan di luar prediksi. Kalau saja jadwal pertemuan dengan nenek Kenric berlangsung sesuai rencana, aku sudah pasti bisa mengatasinya dengan mudah."
"Di luar prediksi atau tidak, kau memang seharusnya perlu berlatih lebih banyak lagi, Sayang. Jangan sampai kau berakhir dengan mengecewakan Kenric. Ingat, dia sudah banyak membantu kita. Paham?"
"Ya, aku paham, Mom! Tapi yang tadi itu kan—"
"Sst! Sudah, sudah! Berhenti membela diri dan segera habiskan makan malammu!" titah Yuri yang sudah tidak ingin memperpanjang perdebatan dengan anaknya.
Sedangkan Kenric justru lebih memilih diam dan hanya mengamati perdebatan kecil antara Jiera dan sang ibu. Bibirnya menyunggingkan senyum tipis, tiba-tiba teringat akan kenangan ketika orang tuanya masih ada.
Dulu Kenric juga sering mendebatkan hal-hal kecil dengan ibu maupun ayahnya. Mungkin saat itu Kenric baru berusia 10 tahun di mana kehangatan keluarga masih dapat ia rasakan. Sebelum dihancurkan oleh tragedi kecelakaan pesawat yang berhasil merenggut nyawa kedua orang tuanya.
Mulai sejak itu, Kenric dan Ryuga yang menyandang status yatim piatu diasuh oleh sang nenek. Digembleng menjadi penurut demi bisa dibentuk menjadi penerus dalam memimpin perusahaan. Awalnya beban itu ditujukan kepada sang kakak, akan tetapi Ryuga ternyata memilih untuk melawan sang nenek hingga kemudian Kenric-lah yang menjadi satu-satunya harapan keluarga.
Kenric muda yang lugu dan polos saat itu hanya bisa patuh, menghabiskan waktu kurang lebih tujuh belas tahun lamanya menjadi seorang penurut. Mungkin bisa dibilang baru kali ini Kenric mati-matian menentang keputusan sang nenek.
"Ayo dimakan lagi makanannya, Ken. Aku memasak semua ini bukan untuk kau pandangi seperti itu." Teguran halus dari Yuri berhasil menyadarkan Kenric dari lamunannya.
"Oh, i-iya, Bibi," jawab Kenric sedikit gelagapan.
Yuri tersenyum. Lantas dengan penuh perhatian berinisiatif mengambil sepotong daging tumis yang kemudian ia letakkan di mangkuk nasi milik Kenric.
"Makanlah."
"Terima kasih, Bibi," balas Kenric seraya kembali melanjutkan makan malamnya dengan nikmat.
"Kau juga! Makan yang banyak biar tetap kuat!" Selain memberi perhatian pada Kenric, Yuri juga melakukan hal yang sama kepada anaknya.
"Iya, Mommy!" jawabnya dan ikut menyodorkan mangkuk miliknya untuk diisi dengan daging.
Ketiganya pun nampak menikmati acara makan malam sederhana itu. Sesekali saling melempar canda hingga membuat suasana dinginnya malam yang menyelimuti seluruh kota terasa lebih menghangat.
"Oh, ya! Ngomong-ngomong tentang wanita yang ingin dijodohkan denganmu ... apa dia memang mempunyai sifat seperti itu?" tanya Jiera.
"Sifat seperti apa yang kau maksud?" Kenric balik bertanya.
"Sifat yang sedikit ... ehm ... mengerikan," jawab Jiera yang membuat Kenric terkekeh.
"Saat bertemu dengannya di Stanley Park Seawall pertama kali, awalnya kupikir dia cuma wanita manja yang tergila-gila pada dirimu. Tapi, saat aku kembali melihatnya untuk yang kedua kali ... aku seperti melihat sisi lain dari wanita itu. Entah kenapa, tapi aku merasa wanita itu sedikit berbahaya."
"Dan tentang ucapan ambigunya tadi ...." Jiera kembali mengingat kalimat terakhir yang diucapkan Lily sebelum pergi.
'Entah dulu atau sekarang, sepertinya kau memang ditakdirkan untuk menghancurkan harapan dan kebahagiaanku.'
"Entah kenapa aku merasa dia seperti menaruh kebencian yang besar terhadapku. Lebih dari sekadar aku yang telah menutup kesempatannya untuk memilikimu. Aku merasa dia—"
"Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Dari dulu dia memang seperti itu. Terlalu manipulatif. Semakin kau banyak menduga-duga tentangnya, semakin dia berhasil mempengaruhi pikiranmu," terang Kenric.
"Benarkah? Jadi wanita bernama Lilyana Park itu seorang yang manipulatif?" tanya Jiera meyakinkan.
"Ya, bisa dibilang seperti itu," jelas Kenric. "Dari dulu Lily memang pintar mempengaruhi pikiran orang-orang. Jadi jangan heran orang keras kepala seperti nenekku saja bisa dia—"
"T-tunggu sebentar!"
Belum sempat Kenric merampungkan kalimatnya, tiba-tiba saja Yuri ikut menyela. Di wajahnya tersirat ada sebuah rasa penasaran yang mendalam tentang siapa sosok yang menjadi topik pembicaraan anak dan menantu palsunya itu.
"Ya, Bibi. Ada apa?"
"Tadi kau bilang nama wanita itu siapa? Lilyana Park? Kau yakin itu nama aslinya?" tanya Yuri memastikan.
"Setahuku begitu. Nama aslinya memang Lilyana Park. Apa Bibi mengenalnya?"
Yuri tidak menjawab. Ia memilih bungkam untuk beberapa saat sebelum kepalanya menggeleng pelan.
"Tidak! Aku tidak mengenalnya," jawabnya kemudian.
"Kau yakin?" Mata Kenric menyipit penuh selidik.
"T-tentu. Tadi aku cuma penasaran saja, seperti apa sosok wanita pilihan nenekmu."
"Oh ... oke."
Meski sedikit memiliki keraguan atas jawaban Yuri, tapi Kenric tetap menerima jawaban ibu Jiera dan tidak ada niat bertanya lebih lanjut.
"Kalau Bibi kebetulan mengenal atau berurusan dengan orang itu, kusarankan lebih baik menghindar saja. Dia bukanlah tipe orang yang bisa kau jadikan teman."
Yuri mengiyakan.
"Ya, tentu! Mana mungkin aku sudi berurusan dengan wanita seperti itu."
Di sisi lain, meski mencoba untuk menampilkan raut wajah biasa-biasa saja, tapi dalam diam Jiera bisa melihat dengan jelas bagaimana gelagat sang ibu nampak begitu mencurigakan. Terlebih ketika menyangkut pembahasan mengenai wanita bernama Lilyana Park.
Dalam hati Jiera bertanya-tanya.
Siapa sebenarnya Lilyana Park?
Kenapa reaksi orang-orang di sekitarnya terlihat berbeda ketika membahas wanita itu?