'Mau sampai kapan kau akan menolak panggilanku?'
'Mau sampai nenekmu ini pergi ke alam baka, hah!'
'Berhenti bersembunyi dan mari bertemu.'
'Jangan menolak! Kecuali jika kau ingin melihat wajah wanita ini terpampang di situs berita esok hari.'
Kenric baru saja selesai meeting ketika rentetan pesan dari sang nenek muncul secara brutal memenuhi pop up ponselnya.
Alis pria itu sempat berkerut, agak heran mengingat jarang sekali sang nenek membombardir dirinya dengan banyak pesan.
"Tumben. Apa sekarang dia sedang mengubah strategi perangnya? Tidak lagi menerorku lewat panggilan telepon, melainkan dari pesan teks."
Kenric masih bisa tertawa. Namun sedetik kemudian, tawa itu berubah menjadi raut wajah pias kala dirinya membaca bait pesan terakhir yang diiringi kemunculan photo Jiera dengan latar ruang tamu kediaman neneknya.
"Sial!"
Tanpa menunggu apa-apa lagi, Kenric dengan cepat langsung menyambar jas kerjanya dan buru-buru pergi meninggalkan ruangan kerjanya. Bahkan saking buru-burunya, ia sampai tidak menghiraukan panggilan sang sekretaris yang baru saja datang membawa pesanan makan siang Kenric.
"Sir, mau ke mana? Ini makan siangnya—"
Belum sempat sang sekretaris menyelesaikan ucapannya, Kenric sudah menghilang masuk ke dalam lift yang bergerak menuju basement. Nafas pria itu memburu, sedikit kesal sebab rencananya mendadak kacau ketika sang nenek telah lebih dulu melakukan penyerangan.
Sejak bertemu dengan Lily di Stanley Park Seawall minggu lalu, Kenric memang sudah menduga jika wanita menyebalkan itu pasti akan mengadu pada sang nenek.
Maka dari itu, Kenric pun tidak tinggal diam dengan menyiapkan segala sesuatu guna meyakinkan neneknya. Mulai dari cerita karangan, dokumen pernikahan hingga memboyong Jiera untuk tinggal di apartemen bersamanya.
Tapi sayangnya, tepat tiga hari sebelum Kenric berencana untuk mempertemukan Jiera dan sang nenek, wanita tua itu justru lebih dulu menggagalkan rencananya.
Entah bagaimana caranya sang nenek bisa membawa Jiera ke rumahnya, Kenric sama sekali tidak mau memikirkan itu sekarang. Sebab, yang ada di otaknya saat ini adalah bagaimana caranya agar ia bisa cepat sampai di rumah sebelum segalanya akan menjadi semakin runyam.
"Sayang!"
Beruntung, selang lima belas menit ia memacu kendaraannya dengan kecepatan super, akhirnya Kenric berhasil sampai di rumah sang nenek dengan selamat. Lantas dengan cepat langsung menghampiri Jiera yang saat itu tengah dihujam tatapan dari beberapa pasang mata.
Tidak hanya neneknya, di ruang tamu super besar itu kini sudah ada Miran, Ryuga dan yang pasti di sana juga ada Lily.
'Ck! Untuk apa coba penyihir Lily itu ada di sini!'
"Sayang, kau baik-baik saja, kan? Apa mereka menyakitimu?"
Genggaman hangat yang Kenric berikan seketika berhasil mengurai ketegangan di wajah Jiera. Jujur, tadi Jiera sudah merasa hampir mati ketika nenek Kenric tiba-tiba saja muncul di apartemen Kenric yang mana berhasil membawa Jiera ke kediaman nenek tua itu.
Jiera tidak bisa mencegahnya. Bahkan sekadar untuk memberitahu Kenric ia tidak sempat. Jiera kalut dan itu benar-benar membuatnya kecewa pada diri sendiri.
Padahal sudah latihan tiap hari. Tapi ketika dihadapkan dengan rintangan secara nyata, Jiera sadar jika dirinya masih belum mampu. Dia panik dan berakhir menjadi ketakutan sendiri.
"Ya, aku baik-baik saja. Dan mereka tidak ada yang menyakitiku," jawab Jiera seraya membalas genggaman tangan Kenric.
Ia mencoba tersenyum, meyakinkan Kenric kalau dirinya baik-baik saja. Tapi sayangnya Kenric bisa dengan mudah menebak jika Jiera saat ini tengah berbohong.
Jelas wanita itu sedang ketakutan, dan bayangan neneknya yang mengintimidasi Jiera membuat Kenric semakin meradang.
"Haruskah kau melakukan semua ini, Nek?" desis Kenric sembari mengarahkan pandangannya pada sang nenek.
Suaranya rendah, tajam dan mengintimidasi. Membuat semua yang mendengarnya merasa bergidik. Ini pertama kalinya mereka melihat Kenric seperti itu.
"Haruskah kau berbuat sejauh ini hanya demi menjodohkanku dengan wanita seperti dia?!" Kali ini Kenric mengalihkan tatapannya ke arah Lily. "Tidakkah kau berpikir ini sudah keterlaluan?"
"Selama ini aku selalu berusaha menjadi anak yang penurut. Mengikuti semua perintahmu tanpa terkecuali. Tapi bisakah untuk kali ini kau memberiku sedikit kebebasan? Aku ingin memilih jodohku sendiri, dan orang yang aku pilih adalah ... dia."
Tatapan tajam yang tadi Kenric tujukan kepada sang nenek seketika sirna ketika manik matanya bersibobrok dengan Jiera. Tersirat jelas adanya sebuah perasaan cinta dan juga rasa putus asa.
'Ck! Akting yang benar-benar sempurna, bukan?'
Jiera saja sampai takjub melihat cara Kenric bermain peran. Jika saja ia tidak mengingat harga fantastis yang telah Kenric keluarkan untuk menebusnya dari tuan Brown, Jiera bisa saja terbuai dan menganggap nyata semua perhatian pria itu.
Di sisi lain, dari kejauhan, Ryuga yang melihat kelakuan sang adik hanya bisa terkekeh tanpa suara. Tentu saja ia juga tahu jika saat ini pasang suami-istri palsu itu tengah berakting.
Lain dengan Miran yang justru menganga takjub, Lily yang menunjukkan wajah muak dan Helena yang tergugu tanpa bisa berkata apa-apa.
Pertama kali dalam hidupnya ia melihat sang cucu bersikap seperti ini. Seolah-olah semua yang terjadi memang benar dan bukan akal-akalannya untuk menghindari perjodohan.
Namun tentu saja Helena tidak akan mudah tertipu begitu saja. Setelah menarik nafas beberapa kali, wanita tua yang menolak untuk terlihat tua itu seketika mendengus sebal dan berkata,
"Bukan kau! Tapi justru aku yang harusnya bertanya perlukah kau berbuat sampai sejauh ini, Ken?"
"Maksud nenek?"
"Berapa uang yang telah kau keluarkan untuk membayar wanita ini agar mau menjadi istri pura-puramu?" tuduh Helena tanpa basa-basi."Pasti sangat banyak, bukan? Dia bahkan sampai rela—"
"Aku tidak membayarnya. Dia memang istriku! Asal kau tahu," jawab Kenric.
Helena mendecih.
"Berhentilah membual dan mengakulah. Aku sangat hafal dengan sifat cucuku seperti apa. Kau jelas tidak mungkin—"
"Jika kau memang tidak percaya, aku bisa menunjukkan buktinya padamu. Apa bukti yang kau inginkan? Surat nikah? Bukti pemberkatan? Atau sampai ke gaun pengantinnya? Baiklah, tunggu sebentar. Akan kuminta asistenku membawanya ke hadapanmu."
Kenric tersenyum penuh kemenangan. Terlebih ketika dokumen itu telah terdampar nyata hingga membuat Helena sampai tidak bisa berkata-kata.
Meski jauh dari rencana awal, tapi Kenric cukup bersyukur jika akhirnya segala usahanya tidaklah sia-sia. Sang nenek nampak tak berkutik, pun begitu dengan sekutunya, si penyihir Lily.
"J-jadi kau benar-benar sudah menikah?"
Dengan perasaan haru, Miran menatap kakak angkatnya dengan mata berkaca-kaca.
"Ya, Miran. Memangnya ada terlukis di wajahku kalau aku sedang bercanda?"
Miran menggeleng lalu tanpa pikir panjang langsung menghambur ke pelukan sang kakak.
"Ck! Kau jahat sekali, Ken! Bisa-bisanya kau menikah tanpa memberitahuku! Kau sudah tidak menganggapku sebagai adik, ya? Ck! Keterlaluan! Padahal aku kan ingin menjadi bagian dari bridemaids-nya!"
Miran memukul-mukul bahu Kenric. Setelah puas, ia kemudian beralih menatap Jiera dengan penuh perasaan bahagia.
"Aku mungkin belum mengenalmu dengan baik, Kakak ipar. Tapi, saat tadi melihatmu pertama kali, aku yakin pilihan kakakku memang tidak salah. Kau jauh lebih baik dari penyihir jelek itu!"
Sedikit melirik sinis ke arah Lily, Miran kemudian memeluk Jiera dengan erat.
"Kau jangan takut. Mulai sekarang, aku akan berada di pihakmu," lanjut Miran.
Jiera yang mendengar itu tidak kuasa menahan rasa leganya. Tadinya ia pikir akan bernasib menjadi 'Jiera versus everybody', namun siapa sangka sekarang ia memiliki satu lagi dukungan yang membuatnya lebih percaya diri untuk menjalani peran menjadi istri Kenric.
'Ehm, kurasa selanjutnya akan lebih mudah, bukan?'
Mengabaikan rasa haru yang menyelimuti kubu Kenric dan Jiera, di seberang sana ada satu kubu yang saat ini jelas-jelas merasa kalah telak.
Meski memilih bungkam sedari tadi, tapi tidak ada yang tahu sebesar apa kemarahan yang kini memenuhi seluruh jiwa dan raga Lily.
Matanya menatap sadis ke arah Jiera, seakan menyalurkan banyak dendam yang ingin ia luapkan saat itu juga. Tapi Lily sadar diri ia tidak bisa melakukannya saat ini.
Maka, demi bisa mempertahankan keanggunannya, Lily memilih untuk bangkit berdiri dan meninggalkan tempat itu sesegera mungkin.
Lily berjalan pergi tanpa sedikitpun merespon panggilan Helena yang menyerukan namanya. Hingga, tepat saat ia akan melewati tempat duduk Jiera, barulah kaki wanita yang pakaiannya selalu anggun itu tiba-tiba saja terhenti.
Tanpa mengalihkan pandangannya ke arah sang lawan bicara, Lily dengan datar berkata,
"Entah itu dulu atau sekarang, sepertinya kau memang ditakdirkan untuk selalu menghancurkan harapan dan kebahagiaanku!"
Tanpa mempedulikan apa-apa lagi, Lily dengan begitu saja langsung melenggang pergi. Mengabaikan raut kebingungan dari wajah Jiera serta mengacuhkan si cupu Ryuga yang diam-diam menghunuskan tatapan penuh selidik ke arahnya.