5. Si Gagak Betina

2277 Words
Tidak perlu waktu lama dari percakapan ringan tadi, pada akhirnya Jiera secara pasrah mendapati dirinya dan Kenric sedang berjalan santai di sepanjang Stanley Park Seawall. Sebuah jalanan membentang di pinggir laut yang mengitari area Stanley Park, salah satu ikon kebanggaan dari Kota Vancouver. Keduanya berjalan dalam keheningan, seolah masing-masing tengah menikmati suasana pagi sembari ditemani dengan deburan ombak yang menyapu batu karang serta suara dengungan sirine kapal di kejauhan. Diam-diam, Jiera melengkungkan senyum tipis. Rasanya, sudah lama sekali ia tidak merasakan suasana senyaman ini. Membuatnya seperti mendapatkan energi baru untuk menjalani tantangan hidup ke depannya. “Kupikir tadi kau terpaksa, tapi siapa sangka ternyata kau juga menikmatinya. Bagaimana? Pemandangan di sini indah, bukan?” Suara tak asing yang berasal dari samping menyadarkan Jiera dari sebuah khayalan sesaatnya. Jiera menatap ke arah Kenric yang sedari tadi diam-diam ternyata tengah memperhatikan dirinya. “Ya, memang indah,” jawab Jiera jujur. “Aku baru tahu kalau ternyata tempatnya seindah ini.” "Baru tahu?" Satu alis Kenric terangkat setengah. "Memangnya kau belum pernah ke sini sebelumnya?" tanyanya kemudian. Jiera menggeleng tipis. "Belum. Ini kali pertama aku datang ke sini." “Sungguh? Hampir lima tahun tinggal di Vancouver dan kau sama sekali belum pernah mengunjungi Stanley Park sebelumnya? Wah! Kau ini memang seorang anti sosial, ya?" Kenric menatap Jiera terheran-heran. Pasalnya baru kali ini ia mengenal wanita sepolos dan sekuper Jiera. Selama pendekatannya beberapa waktu ke belakang, banyak hal-hal tidak masuk akal yang baru Kenric ketahui dari sang wanita. Seperti Jiera yang katanya tidak memiliki teman selain ibunya. Juga Jiera yang katanya lebih memilih percaya kepada seekor anjing daripada manusia. Hanya karena menurutnya anjing terlihat lebih tulus ketimbang manusia. Ada-ada saja! "Ck! Bukan begitu." Dengan perasaan dongkol Jiera melirik sebal ke arah Kenric yang masih menunjukkan sikap penuh ejekan. "Semenjak ayahku meninggal dan aku memutuskan pindah ke sini, yang ada di otakku hanya kerja, kerja dan kerja. Setiap hari waktuku habis dengan pergi bekerja mengumpulkan uang dan berusaha melunasi hutang ayahku. Jadi mana mungkin aku punya waktu untuk pergi jalan-jalan?" "Selain itu, aku juga tidak bisa leluasa menampakkan wajahku di tempat ramai. Kau tahu kan tuan Brown itu mengerikan. Anak buahnya tersebar di mana-mana." Alasan Jiera terdengar masuk akal. Memang, setelah memilih pergi meninggalkan Toronto dan menetap di Vancouver, Jiera jadi jarang mau bersosialisasi dengan dunia luar. Dia takut jika orang-orang yang ia temui adalah antek-antek tuan Brown yang kapan saja bisa menculiknya. Dan itu bukan hanya teori Jiera saja, sebab beberapa kali ia memang pernah diculik. Namun beruntung kala itu Jiera bisa bernegosiasi dan meyakinkan Brown untuk memberinya tenggat waktu. Hingga puncaknya adalah saat kejadian di kelab malam itu. Kejadian yang akhirnya menuntun Jiera menempuh jalan baru dalam hidupnya. Berjalan beriringan di sisi Kenric dan bertaruh penuh pada lelaki itu. "Berbicara tentang Tuan Brown, sungguh aku ingin berterima kasih karena kau telah membantuku lepas darinya. Kalau tidak ada kau, aku tidak bisa membayangkan akan seperti apa nasibku ke depannya. Dan aku benar-benar berhutang padamu untuk itu," ucap Jiera tulus. "Tidak perlu berterima kasih. Bukankah itu bayaran yang pantas kau dapatkan dari kesepakatan kita?" ucap Kenric, meyakinkan Jiera jika tidak ada kata saling berhutang di antara mereka. Semuanya berjalan atas dasar saling menguntungkan. Menebus Jiera dari genggaman Brown dengan harga yang fantastis merupakan kewajiban Kenric. Pun begitu dengan memberi Jiera dan ibunya sebuah kehidupan yang layak. Itu juga merupakan kewajiban yang mana nantinya akan Jiera balas dengan menjadi istri pura-puranya. "Ah, iya. Kau benar. Itu memang bayaran yang pantas aku dapatkan," timpal Jiera. "Dan oleh karena itu, aku juga harus bisa membayarnya secara setimpal dengan berusaha keras untuk menjadi istri pura-pura yang baik untukmu." Jiera menampilkan senyum tulusnya, sebuah senyum yang entah kenapa membuat Kenric tertegun untuk beberapa saat. "Kalau begitu ... buktikan." "Buktikan apa?" "Buktikan kalau kau bersungguh-sungguh sedang berusaha keras menjadi istri pura-pura yang baik." "Caranya?" "Ehm ... entah. Mungkin bisa dimulai dengan cara ini." Masih bertahan pada tatapan datar penuh intimidasinya, Kenric kemudian meraih tangan Jiera seraya merogoh sesuatu dari saku celananya. Dan tanpa diduga, Kenric lantas menyematkan sebuah cincin berlian di jari manis Jiera. Jiera tertegun untuk beberapa saat. "Ini ...." "Cincin ini bukan sebuah pengikat, melainkan sebuah tanda kesepakatan. Anggap ini sebagai simbolik dari hubungan saling menguntungkan kita ." Jiera kembali tertegun. Ditatapnya lamat cincin berlian bermata biru itu. Entah kenapa batinnya berdesir aneh. Hatinya merespon begitu kelewatan. Padahal sudah jelas alasan Kenric menyematkan cincin itu hanya sebagai simbol dari sebuah hubungan kerja. Bukan yang lain. Namun entah kenapa sisi negeri khayalan Jiera justru mendamba .... Demi Pluto Jiera! Ingat! Saat ini kau sedang bermain istri-istrian. Bukan mendamba ingin mendapat kekasih sungguhan! Ck, ck! Jangan terlalu banyak mengkhayal. Bahaya! "Sebagai permulaan, mari belajar membangun chemistry di antara kita. Aku ingin semuanya sempurna. Jangan biarkan nenekku menemukan celah atau semuanya akan gagal. Paham?" Jiera mengangguk. "Ya, aku paham." "Bagus." "Jadi setelah ini apa yang harus aku lakukan?" tanya Jiera kemudian. Ia harus memastikan langkah ke depannya seperti apa. Kenric terdiam untuk beberapa saat. Matanya melirik ke arah dua pasang pria dan wanita yang berjalan mesra sembari bergandengan tangan. Setelah itu, ia menoleh ke arah lain di mana ada lagi pasangan yang tengah duduk bercengkrama dengan sang wanita yang bersandar pada bahu sang pria. Puas memandangi mereka, Kenric kembali mengalihkan pandangan ke arah Jiera lantas dengan tenang meraih tangan Jiera dan menggenggamnya erat. "Kita lakukan ini saja," jawab Kenric singkat. Lagi-lagi Jiera nampak terkejut, namun kemudian terkekeh pelan kala mengerti maksud dan tujuan Kenric melakukannya. Jiera balik membalas genggaman tangan Kenric dan ikut melangkah pelan menyusuri area Seawall yang mulai dipadati pengunjung. Matahari bergerak semakin tinggi, mengiringi langkah keduanya yang memilih terjebak dalam keheningan. Masih ditemani deru ombak serta semilir hembusan angin yang membuat ujung rambut menari-nari. "Apa kau sering datang ke tempat ini?" tanya Jiera setelah beberapa menit mereka sama-sama terdiam. "Dulu sering." "Dulu? Berarti akhir-akhir ini tidak pernah?" Kenric menggeleng. "Saat mulai memasuki sekolah menengah atas, aku memutuskan untuk tidak menginjakkan kaki di sini dan baru hari ini aku kembali datang lagi." "Lho? Kenapa?" Kenric memilih tidak menjawab. Matanya ia arahkan ke laut lepas, seakan ada sebuah kenangan buruk yang coba ia buang jauh-jauh. Jiera yang mengerti kalau Kenric enggan menjawab, memilih untuk mengajukan pertanyaan lain. "Lalu apa yang akhirnya memutuskanmu untuk kembali datang?" tanyanya kemudian. Kenric lagi-lagi terdiam. Ia beberapa kali kedapatan menghela nafas, sebelum dengan lirih menjawab, "Entah. Mungkin karena saat ini aku sudah mampu berdamai dengan masa lalu." Berdamai dengan masa lalu? Sejujurnya Jiera adalah tipe orang yang tidak terlalu mau ikut campur dengan urusan pribadi seseorang. Tapi teruntuk kali ini, Jiera seperti tengah melawan prinsipnya sendiri. Entah kenapa ia jadi penasaran tentang masa lalu apa yang pernah Kenric alami di sini. Banyak tanda tanya yang terurai dalam benak Jiera. Apa? Kenapa dan bagaimana? Tapi semua itu hanya bisa Jiera pendam dalam hati, mengingat saat ini ia tidak punya kapasitas untuk lebih menyelami kehidupan masa lalu seseorang. Terlebih seseorang itu adalah Kenric Matsui. Sementara itu, di sisi lain, Kenric yang menyadari dirinya telah kelepasan memilih untuk meminta maaf pada Jiera dan merasa bersyukur kala wanita itu tidak mempermasalahkannya. Segalanya nampak kembali berjalan normal, sampai sosok seorang wanita tiba-tiba saja muncul begitu saja di hadapan mereka. "Wow! Kejutan macam apa ini? Ada angin apa seorang Kenric Matsui bisa datang kembali ke tempat ini?" Kedatangan yang super mengejutkan itu tentu memaksa keduanya menghentikan langkah. "Kau ... siapa?" Jiera menaik-turunkan pandangan matanya. Menelisik lebih dalam siapa gerangan sosok wanita yang tiba-tiba muncul di hadapannya dan Kenric. Sungguh, jika memang siluman gagak yang sering muncul dalam serial drama di televisi itu benar-benar ada di dunia nyata, Jiera yakin seratus persen jika bentuknya pasti tidak akan jauh beda dengan wanita di depannya. Gaun hitam, high heels hitam serta topi bundar bulu-bulu yang juga berwarna hitam. Ck! Benar-benar perwujudan siluman gagak yang sempurna. "Maaf sebelumnya, tapi apa kau mengenal kami—" "Setelah sekian lama kau memilih untuk menghindariku, pada akhirnya semesta sendirilah yang berhasil mempertemukan kita. Dan siapa sangka jika kita justru bertemu kembali di tempat ini. Ck! Takdir memang seindah itu, bukan?" Alih-alih menjawab rentetan pertanyaan dari Jiera, wanita bergaun hitam itu justru memilih untuk berbicara dengan Kenric. Menatap Kenric begitu lembut seraya mencoba membelai bahu pria itu. Tapi tentu saja Kenric segera menepisnya bahkan sebelum tangan lentik wanita itu berhasil meraih permukaan bahunya. Bersamaan dengan itu, tanpa sadar Kenric nampak semakin mengeratkan tautan tangannya pada Jiera. Hal itu pun tertangkap jelas oleh sosok pribadi di hadapan Kenric. Membuat gelagat wajah sang wanita langsung berubah kala menyaksikan bagaimana Kenric menggenggam mesra tangan wanita lain di hadapannya. "Wah! Sepertinya ada yang tidak sadar diri rupanya," sindirnya dengan tatapan nyalang. "Apa dirimu lupa kalau kau ini sudah mempunyai calon tunangan, Ken? Bisa-bisanya kau menggandeng tangan wanita lain di depan calon tunanganmu sendiri." "A-apa! Ca-calon tunangan?!" Jiera yang mendengar ucapan itu tentu saja terkejut. Bukan terkejut karena ia baru tahu fakta bahwa Kenric mempunyai calon tunangan, sebab Kenric sudah pernah menceritakan hal itu sebelumnya. Tapi Jiera terkejut karena setelah sekian lama, inilah pertama kalinya ia melihat secara nyata sosok yang membuat Kenric melangkah sampai sejauh ini. Lilyana Park. 'Jadi beginikah rupa wanita itu? Ah, pantas saja neneknya Kenric sangat menggebu-gebu ingin menjodohkannya dengan sang cucu. Ternyata dia benar-benar wanita yang sangat cantik.' "Ya, aku calon tunangannya Kenric. Kau sendiri siapa? Punya hak apa kau berani sekali mengandeng tangan calon tunanganku!?" "Aku—" "Dia istriku!" Baru saja Jiera hendak menjawab, Kenric yang sedari tadi mengunci mulutnya lebih dulu menyela. "Dan sebagai istriku, dia tentu punya hak untuk mengandeng tanganku kapan saja. Iya kan, Sayang?" Kenric mengusap lembut puncak kepala Jiera seraya menatap wanita itu penuh cinta. Sementara Jiera yang mendapat perlakuan seperti itu terlihat menahan nafasnya selama beberapa detik. 'Apa ini saatnya aku harus bermain istri-istrian?' Jiera membatin sebelum kemudian mengangguk tipis dan membalas senyum Kenric. "Y-ya, tentu saja, Sayang," jawab Jiera dengan nada yang sedikit dibuat manja. 'Baiklah, Jiera! Mari kita mulai permainan ini. Mari kita beri pelajaran si siluman gagak betina tidak tahu malu ini.' "A-apa kau bilang? Istri?!" Seperti mendapat sambaran kilat yang datang mendadak, Lily jelas merasa sangat terkejut mendengar pengakuan Kenric. Matanya memicing tajam, seolah menelurkan rasa tidak percaya akan kebenaran yang terucap dari mulut pria yang ia sukai. "Kau ... tidak sedang bercanda, kan? Istri? Haha!" Lily mendengus sembari tertawa mengejek. "Ck! Berhenti berpura-pura, Ken. Aku bukanlah anak kecil yang bisa kau bohongi begitu saja. Mana mungkin tiba-tiba kau punya istri—" "Dia memang istriku dan aku tidak sedang berpura-pura. Paham kau, Lilyana Park!" Kini giliran Kenric yang mematri senyum penuh ejekan. Jujur ia puas menikmati bagaimana sang lawan bicara nampak begitu terusik oleh pengakuan palsunya. "Sebagai seorang manusia, kau harusnya sadar bahwa tidak semua hal yang kau inginkan di dunia ini bisa dengan mudah kau dapatkan. Dan mungkin aku adalah salah satunya," jawab Kenric seraya beralih merangkul mesra pinggang Jiera. "Sekarang aku adalah miliknya, dan kuharap kau bisa berhenti mempengaruhi nenekku dengan segala obsesi murahanmu itu." Lily menggeleng tidak percaya. "T-tidak! Itu pasti bohong! Kau pasti sedang membohongiku, kan! Kau berbohong untuk menggagalkan semua rencana perjodohan kita! Iya, kan!?" Lily lagi-lagi menyangkal. Ia yakin sekali jika saat ini Kenric pasti dengan membohonginya. Mengingat bagaimana selama ini Kenric selalu mempunyai banyak cara untuk terus-terusan menolak perjodohan di antara mereka. "Maaf, tapi sayangnya kami sama sekali tidak berbohong, Nona! Kami berdua memang telah menikah." Jiera mencoba membantu menyakinkan argumen Kenric. "Ya ... belum terlalu lama, sih. Tapi pada kenyataannya saat ini kami memang telah resmi menjadi sepasang suami istri. Kau mau bukti? Coba kau lihat baik-baik apa ini?" Jiera menunjukkan jari manisnya yang telah dilingkari sebuah cincin berlian cantik. Cincin pernikahan palsu yang diberikan Kenric beberapa saat lalu. Ternyata simbol kesepakatan ini berguna juga. "Ah! Dan satu lagi. Kau sedari tadi selalu mengatakan kami yang berbohong. Tapi ... tidak sadarkah jika justru kau sendirilah yang sedang berbohong di sini?!" Entah mendapat kekuatan dari mana, sedari tadi Jiera nampak begitu mudahnya mendominasi permainan. Terus-terusan mencecar Lily dengan kalimat-kalimat yang terangkai di kepalanya. Ikut-ikutan tersenyum mengejek demi memaksimalkan perannya. "Mengaku sebagai calon tunangan suamiku ... ck! Dasar gagak betina tidak tahu malu!" "Apa kau bilang! Ga-gagak betina?!" "Ya, ga.gak be.ti.na!" ulang Jiera dengan penekanan di setiap suku katanya. "Lihatlah penampilanmu itu!" Matanya memicing. Sekali lagi menelisik gaya berpakaian Lily dari atas hingga bawah. "Apa kau tidak sadar jika penampilanmu hari benar-benar sangat mirip dengan burung gagak? Terinspirasi dari siluman gagak atau bagaimana?" Lily mendelik tidak terima. "Kau! Dasar wanita kurang ajar! Berani-beraninya—" Lily sudah ingin melayangkan tamparannya ke arah Jiera. Ingin menjambak rambutnya lalu melemparnya ke tengah lautan sana. Namun sayang gerakan tangannya terhenti ketika Kenric dengan sigap menghadangnya. "Jauhkan tangan kotormu itu dari istriku. Berani kau menyentuhnya, bahkan hanya seujung kuku sekali pun ... jangan harap kau bisa melanjutkan hidupmu dengan tenang. Aku pastikan kau akan habis di tanganku. Camkan itu baik-baik!" Sorot manik legam berbingkai kelopak monolid itu menyorot tajam penuh peringatan. Ultimatum bagi Lily untuk tidak menganggap remeh segala ucapan yang Kenric lontarkan. "Ayo, Sayang! Lebih baik kita pergi saja dari sini. Perutku mual jika harus berlama-lama berada dalam satu udara yang sama dengan siluman gagak betina ini!" Tidak mau menghabiskan waktu lebih lama lagi, Kenric dengan begitu saja langsung mengajak Jiera pergi dari tempat itu. Meninggalkan Lily seorang diri dengan sejuta emosi yang memenuhi rongga dadanya. "Arghh! b******k! Dasar bebedah kurang ajar! Berani-beraninya dia memperlakukanku seperti itu!" Lily menggeram kesal. Sungguh hari ini Kenric benar-benar membuatnya sangat marah. Buru-buru kemudian ia merogoh ponsel di dalam tasnya. Menekan layar benda berbentuk pipih itu dengan tergesa sebelum meletakkannya di salah satu sisi wajah. "Halo, Sayang. Selamat pag—" "Hei, Nenek tua! Bukankah dulu kau pernah berjanji akan memberikan Kenric kepadaku!? Lalu kenapa sekarang tiba-tiba cucumu itu mengatakan kalau dirinya sudah menikah, Sialan!!"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD