Kenric Matsui.
Jika mendengar nama itu, semua mata pasti tertuju langsung pada salah seorang pengusaha muda keturunan Asia-Amerika yang namanya tengah diperbincangkan akhir-akhir ini. Cucu kedua dari pemilik perusahaan perkapalan—Miracle BuildingShip Company—yang dua tahun lalu telah resmi diangkat menjadi CEO.
Meski baru berusia 27 tahun, namun kemampuan mengelola perusahaannya patut diacungi jempol. Sebab hanya kurun dua tahun saja, Kenric telah berhasil membawa nama Miracle BuildingShip Company melesat ke peringkat teratas sebagai salah satu perusahaan produsen kapal terbaik di dunia.
Belum lagi ditunjang dengan penampilan fisiknya yang tidak kalah mentereng dari kemampuan otaknya. Membuat Kenric selalu dielu-elukan dalam setiap perbincangan kaum hawa. Apalagi rumor mengatakan jika pria itu masih belum mempunyai calon istri. Tentu semakin membuat wanita-wanita itu histeris dan mencoba berbagai cara untuk menaklukkannya.
Terbukti ketika Kenric baru saja menginjakkan kakinya di pintu masuk SugarTrap Club, para betina dengan pakaian minim itu sudah berebut datang mendekat ke arahnya. Ada yang sekadar menyapa, ada yang mengajak open table dan ada juga yang terang-terangan menawarkan tubuhnya. Akan tetapi Kenric sama sekali tidak menggubris dan tetap melangkah tegap menuju ruangan VIP yang telah ia pesan sebelumnya.
“Silakan lewat sini, Tuan.”
Seorang pelayan terlihat mengarahkan Kenric untuk mengikutinya. Memberi jalan pada Kenric juga sang sekretaris yang mengekorinya agar tidak lagi dikerubuti oleh betina-betina haus belaian itu.
“Apa berkas yang kuminta sudah kau siapkan, Anna?” tanya Kenric pada Anna—sang sekretaris yang selama dua tahun ini telah bekerja dengannya.
“Sudah, Sir. Sesuai perintahmu. Uang dan juga surat perjanjian,” jawab Anna.
“Bagus. Setelah ini kau tahu apa yang harus kau lakukan, bukan?”
“Tutup mulut dan merahasiakan semuanya dari nenek anda, Nyonya Helena.”
Kenric tersenyum penuh kepuasaan. Sangat bangga memiliki sekretaris yang bisa diandalkan seperti Anna.
Berbeda dengan image sekretaris yang biasanya hanya berbadan seksi tapi otak nol, Anna adalah tipe sekretaris yang penampilannya biasa-biasa saja namun memiliki kemampuan otak di atas rata-rata. Hal yang membuat Kenric betah dan tetap mempertahankan Anna di sisinya.
Denting suara lift yang berbunyi, memberi tanda jika mereka kini telah tiba di lantai empat di mana ruangan VIP itu berada. Lantas, dengan sopan pelayan yang mengantar mereka langsung menuntun Kenric ke sebuah ruangan yang berada di paling pojok dan segera mempersilakan Kenric untuk masuk.
“Silakan, Tuan Kenric. Tamu yang Anda undang sudah menunggu di dalam.”
Tanpa pikir panjang Kenric pun kemudian berjalan masuk. Tersenyum miring ketika melihat bagaimana si tua bangka Brown William nampak duduk santai di sofa dengan gaya nyentriknya. Cerutu hitam bertengger di sudut bibirnya serta kelima jari yang melingkar pada sebuah gelas berisi cairan alkohol.
“Oh! Akhirnya setelah sekian lama aku bisa juga bertemu dengan seorang Kenric Matsui,” sambut Brown sembari terkekeh.
Dia bangkit berdiri dan berusaha menyambut Kenric dengan begitu hangat.
“Banyak yang bilang, katanya sangat sulit bagi seseorang untuk bisa bertemu langsung denganmu. Ck! Tapi sekarang lihatlah! Justru kau sendirilah yang lebih dulu mengundangku. Ada perlu apa gerangan orang sesibuk dirimu sampai-sampai meluangkan waktu untuk bertemu denganku?”
Pertanyaan Brown terdengar begitu satiris. Sebab tanpa diberitahu pun pria tua itu tentu sudah mengerti dengan maksud dan tujuan pertemuan mereka.
“Sesuai prediksimu. Aku memang orang yang sibuk sehingga tidak sudi untuk mendengar basa-basimu. Jadi mari kita langsung saja. Aku beri kau tujuh juta dollar dan segera bebaskan wanita itu dari segala perjanjian yang telah kau buat.”
Sembari duduk menyilangkan kaki, Kenric memerintahkan Anna untuk membuka koper yang ia bawa. Menampilkan bagaimana di dalam koper itu telah dipenuhi oleh cetakan uang kertas yang menggiurkan pemandangan.
Mulut Brown sontak menganga. Air liurnya bahkan hampir menetes karena terlalu terpesona dengan tumpukan uang kertas itu. Namun Brown cepat-cepat berusaha mengubah raut wajahnya menjadi biasa-biasa saja sembari menyeringai tipis.
“Hanya tujuh juta dollar?” cibir Brown terang-terangan. “Ck! Ternyata kau memang sepelit itu, Tuan Matsui. “Aku pikir kau akan menebus wanita jalang itu sedikit lebih mahal. Tidak kusangka kau malah—”
“Tujuh juta dollar. Atau tidak sama sekali!”
Titah Kenric terdengar tidak bisa dibantah. Kemudian menginstruksikan Anna untuk membuka isi surat perjanjian yang berisi pernyataan jika Brown tidak lagi boleh mengusik kehidupan Jiera apa pun bentuknya.
“Sejujurnya aku tidak masalah jika kau menolak pemberian uang dariku. Terdengar jauh lebih baik. Tapi jangan pernah salahkan aku kalau tiba-tiba besok kau sudah menjadi gelandangan karena bisnis perjudian yang kau bangun akan—”
“Oke. Oke. Aku terima!”
Dengan perasaan kesal Brown terpaksa membubuhkan tanda tangan pada surat perjanjian itu. Tadinya ia berniat untuk bernegosiasi lagi. Namun melihat aura ancaman yang Kenric tujukan seketika membuat nyali Brown menciut.
“Selain pelit, ternyata kau juga orang yang pemaksa! Beruntung sekali wanita jalang itu bertemu denganmu. Aku jadi penasaran apa yang telah dia janjikan padamu hingga kau rela berbuat sampai sejauh ini!”
Kenric tidak terlalu menanggapi. Ia hanya menampilkan senyum kepuasan sebab satu kewajiban yang ia janjikan kepada Jiera setidaknya sudah ia jalankan.
Sekarang tinggal melanjutkan rencana berikutnya sampai tujuannya untuk menghentikan d******i sang nenek berhasil.
***
Akhir-akhir ini Jiera sempat berpikir, apakah benar takdir kehidupannya telah diatur untuk berada dalam pusara angka tujuh?
Dulu, hanya butuh tujuh hari, siklus kehidupan Jiera yang tenang mendadak jungkir-balik tanpa terkendali. Sang ayah meninggal, kemudian ditambah dengan kehilangan seluruh harta benda yang membuat ia dan ibunya hidup melarat.
Sekarang juga sama. Hanya dalam tujuh hari kehidupan menyakitkan yang Jiera lalui selama beberapa tahun belakangan ini seakan sirna terbawa hembusan angin musim yang berlalu.
Seperti sebuah keajaiban, Jiera bahkan tidak bisa membayangkan jika ia yang tadinya harus tidur bersama dengan suara-suara binatang pengerat di sekitaran flat kumuhnya. Kini mendadak kembali mendapatkan fasilitas mewah yang tidak pernah terbersit sedikitpun dalam angannya.
Dan semua itu terjadi tidak lain dan tidak bukan karena ulah satu orang. Kenric Matsui.
"Bagaimana? Kau suka tempat tinggalnya?"
Sebuah pertanyaan terdengar menyapa rungu Jiera. Menggema di antara luasan apartemen mewah yang menjadi pijakan kakinya. Jiera menoleh, mendapati sosok yang bertanya sedang santainya bersandar pada kusen pintu balkon seraya melipat kedua tangan di depan d**a.
"Ya. Suka. Sangat suka," jawab Jiera.
Kalau boleh jujur, apartemen yang letaknya berada di tengah pusat kota ini bukanlah hal termewah yang pernah Jiera rasakan. Dulu, ayahnya bahkan bisa memberinya lebih dari ini. Akan tetapi, setelah Jiera pernah merasakan bertahun-tahun lamanya berada di posisi terendah dalam hidupnya, kemewahan semacam ini terasa seperti sebuah pencapaian tertinggi dalam asanya.
"Baguslah kalau begitu. Setidaknya, satu lagi kewajiban sudah berhasil aku penuhi." Kenric tersenyum menanggapi.
Lewat dirusan bias sinar matahari pagi yang menimpa sebagian wajahnya, kadar ketampanan Kenric secara nyata melonjak beberapa kali lipat. Semakin menjadi-jadi ketika siulan angin berhasil menyapu beberapa helai rambutnya. Wajah yang rupawan, rahang yang tegas, mata yang menyorot tajam serta senyuman miring yang menjadi ciri khasnya.
Sumpah! Demi domba!
Pesona Kenric nyaris membuat Jiera lupa diri. Terbengong-bengong hingga tanpa sadar Kenric sudah berdiri tegak di hadapannya seraya melambai-lambaikan tangan.
"Kau baik-baik saja?" Lekukan di dahi Kenric tercetak samar. Agaknya ia heran melihat ekspresi aneh yang tercetak di wajah Jiera. "Kenapa wajahmu memerah seperti itu? Kau sakit?" tanyanya memastikan.
"Ha?" Jiera gelagapan. "O-ooh ... t-tidak. A-aku baik-baik saja. H-hanya tadi merasa sedikit kedinginan," jawabnya dengan alasan konyol yang terdengar masuk akal di telinga Kenric.
"Kedinginan?" Kenric melirik sekilas ke arah balkon yang pintunya terbuka lebar. Memberi akses bagi angin musim dingin untuk masuk ke dalam. "Kalau dingin pintu balkonnya di tutup saja. Nanti bisa dibuka lagi ketika cuacanya sudah membaik."
"I-iya."
Tanpa menunggu apa-apa lagi, Jiera dengan begitu saja lantas menyeret kaki berbalut sendal rumah motif bulu-bulunya menuju balkon dan langsung menutup pintu kaca itu rapat-rapat. Tidak lupa gorden panjangnya pun ikut ia tarik hingga tidak ada lagi celah bagi angin untuk masuk ke dalam.
"Kalau masih dingin, kau bisa atur lagi suhu penghangat ruangannya."
Jiera menggeleng pelan.
"Tidak perlu. Sekarang rasanya sudah jauh lebih hangat, kok."
Setelah memastikan jawabannya diterima baik oleh Kenric, Jiera memutuskan untuk pergi ke dapur dan membantu sang ibu—Yuri Park—yang sedang menyiapkan sarapan.
Dalam setiap ayunan langkahnya, Jiera menyempatkan diri untuk memeta luasan apartemen yang baru ia dan ibunya tempati selama dua hari. Apartemen yang terdiri dari dua kamar tidur, satu dapur dan satu ruang tengah. Terbilang tempat yang cukup luas jika hanya ditempati oleh mereka berdua.
Mungkin beberapa waktu ke depan akan ditempati sendiri oleh sang ibu, sebab Kenric telah berencana untuk mengajak Jiera tinggal satu atap dengannya.
"Ada yang bisa aku bantu, Mommy?" tanya Jiera seraya menggulung sweater lengan panjangnya hingga sampai ke siku.
"Tidak perlu. Semuanya sudah selesai, kok. Ayo kita sarapan sekarang. Ajak sekalian Kenric untuk sarapan bersama."
Jiera menurut saja. Bergegas memanggil Kenric seraya mengajaknya untuk ikut sarapan bersama. Jiera yakin Kenric pasti belum sempat sarapan. Sebab pribadi tampan yang tercipta saat dewa merasa senang itu terlihat sudah berada di kediamannya bahkan sejak matahari belum muncul ke permukaan.
“Terima kasih, Bibi. Maaf telah merepotkanmu,” ucap Kenric saat melihat Yuri menyajikan secangkir kopi untuknya.
Yuri tersenyum menanggapi.
“Sama sekali tidak merepotkan, Ken. Lagipula, dibandingkan dengan banyaknya bantuan yang telah kau berikan kepada kami, menyiapkan secangkir kopi bukanlah sebuah masalah besar. Toh! Selain itu, kau juga merupakan calon menantuku, bukan? Jadi jangan sungkan-sungkan.”
Bukan sebuah rahasia lagi jika Yuri memang telah mengetahui tentang kesepakatan yang terjalin antara sang anak dengan Kenric Matsui. Jiera yang mempunyai prinsip tidak ingin menyembunyikan rahasia apa pun dari sang ibu memilih untuk menceritakan segalanya.
Beruntung jika Yuri bukanlah sejenis ibu kolot yang akan mati-matian menentang keputusan sang anak. Yuri sama sekali tidak keberatan dan justru mendukung penuh keputusan Jiera. Menurutnya, Jiera memang jauh lebih baik berada di bawah kuasa Kenric daripada terus dibayangi si tua bangka Brown.
Realistis saja.
Di zaman kapitalis seperti saat ini memang jauh lebih baik jika kita berpikir logis daripada mengedepankan sikap melankolis.
“Calon mantu? Ah, iya. Hampir saja aku melupakan fakta itu.”
Kenric terkekeh sendiri kala mendengar kata ‘calon mantu’ keluar dari mulut ibu Jiera. Entah kenapa hatinya merasa sedikit tergelitik.
"Jadi kalau menurut Bibi, apa aku sudah memenuhi standar kriteria calon menantu idamanmu?” tanya Kenric sedikit penasaran.
“Kau ingin jawaban jujur atau bohong?” Alih-alih langsung menjawab, Yuri justru balik memberi Kenric sebuah pilihan opsi.
“Ya, apa saja tidak masalah. Tapi aku lebih menyukai orang yang berkata jujur.”
Yuri terkekeh. "Kalau kau mau jawaban jujur ... ya, tentu saja kau sudah memenuhi kriteriaku. Bahkan bisa dibilang sangat-sangat memenuhi.”
“Ehm, benarkah?”
“Lebih dari kata benar!” jawab Yuri antusias.
Keduanya kemudian tertawa bersama. Membuat Jiera sedikit tidak merasa diabaikan oleh ibu dan juga calon suami pura-puranya itu.
Sungguh, jika saja Jiera mempunyai kekuatan super untuk mengubah diri, ia tentu saja lebih memilih untuk berubah menjadi seekor semut yang merayap di dinding daripada diabaikan seperti ini.
Ck! Menyebalkan.
“Ehem!" Tidak mau terus diabaikan, Jiera berdeham berusaha menyela obrolan keduanya. "Jadi, sekiranya ada hal apa yang membuatmu sampai datang pagi-pagi begini?” Jiera memandang Kenric penuh tanda tanya yang hanya dibalas kekehan tipis dari sang pemuda.
“Tidak ada hal yang penting. Hanya sekadar ingin mengajakmu jalan-jalan pagi. Kau tidak keberatan untuk menemaniku, kan?” balas Kenric seraya menyeruput kopi miliknya.
“Entah keberatan atau tidak, pada akhirnya aku tetap harus menemanimu, bukan? Jadi untuk apa kau bertanya lagi?”
Lagi-lagi Kenric terkekeh tipis mendengar kejujuran ucapan Jiera.
"Ya, sudah. Bagus! Setelah sarapan mari kita pergi jalan-jalan."