DUA

3305 Words
Sudah hampir satu minggu berlalu semenjak hari pertama keberadaan Ren dan Sheira di SMA Harapan Bangsa. Meskipun belum lama, kehadiran sosok Sheira di sekolah tersebut sudah menjadi rahasia umum. Mulai dari penjaga sekolah hingga bibi penjual di kantin, guru-guru bahkan para senior di kelas XI dan XII. Tidak jarang Ren harus bekerja ekstra untuk 'mengusir' secara halus para pelajar di SMA Harapan Bangsa yang selalu menghampiri Sheira baik di jam istirahat maupun ketika pelajaran olahraga. Bahkan ada beberapa anak yang nekat muncul ketika jam pelajaran berlangsung, mengintip dari balik jendela kelas sehingga membuat teman-teman sekelas dan guru yang mengajar menjadi risih. Sebenarnya tugas Ren akan menjadi lebih mudah jika saja Sheira mau bekerja sama dengannya. Gadis itu terus menerus menolak untuk selalu ditemani oleh Ren. Meskipun Ren tetap bersikukuh untuk selalu berada di dekat gadis itu, namun ada saja akal Sheira untuk bisa lepas dari pengawasan Ren. "Sheira!" Sheira yang saat itu baru keluar dari ruang OSIS mendadak berhenti begitu dilihatnya Vello tengah berjalan menghampirinya. "Jadi bener kata Arra kalau lo diajak gabung untuk jadi pengurus OSIS?" tanya Vello setelah melirik Ren sekilas. Bodyguard itu berdiri tak jauh dari keduanya. "Iya Vell.." "Terus gimana? Lo terima?" Vello terlihat cukup tertarik mengetahui temannya itu di undang secara khusus untuk bergabung menjadi anggota OSIS tanpa melalui proses seleksi. Hal yang cukup membanggakan menurutnya. Tidak semua anak bisa mendapatkan kesempatan langka seperti Sheira. "Kita bahas di kelas aja sama yang lain." Sheira lalu mengajak temannya itu untuk berjalan menuju kelas mereka. Vello menurut. Namun baru beberapa langkah berjalan, mendadak Vello menoleh ke belakang menatap Ren yang masih berdiri tidak jauh dari keduanya. "Yuk Ren ke kelas," ajaknya. Yang diajak justru tidak bereaksi. Ia hanya menaikkan salah satu alisnya dengan wajah dingin kemudian berjalan menyusul kedua gadis itu. Siang itu cuaca cukup terik. Jam pulang sekolah yang telah lewat setengah jam yang lalu membuat suasana di sekolah itu tampak sepi. Hanya ada beberapa anak yang masih berada di sekolah untuk mengikuti kegiatan ekstrakurikuler. Karena sekretariat OSIS terletak di gedung serbaguna yang berhadapan langsung dengan gedung utama, Sheira dan Vello sengaja memilih langsung menyeberangi lapangan untuk menuju gedung utama. Selain karena suasana yang tidak terlalu ramai, lapangan tersebut juga sedang tidak digunakan oleh klub basket untuk latihan. Baru selangkah Sheira menginjakkan kakinya dilapangan, Ren dengan sigap melepaskan baju seragamnya lalu berlari kecil mendekat. Hanya dalam sekejap mata, ia sudah berada di sisi Sheira dan memayungi gadis itu dengan baju seragamnya yang berwarna putih. Otot-otot lengan dan bahunya yang bidang terlihat jelas dari balik singlet bindernya. Sheira terlihat acuh tak acuh dan terbiasa diperlakukan demikian. Lain halnya dengan Vello, wajahnya menunjukkan ekspresi terkejut melihat apa yang dilakukan oleh Ren. "Lo jangan salah paham. Dia memang selalu begitu," ucap Sheira menyadari keterkejutan di wajah temannya itu. Vello mengangguk kecil. Namun di dalam hatinya ia sempat bertanya-tanya sedekat apa hubungan Sheira dan Ren sehingga Ren membiarkan dirinya hampir bertelanjang d**a hanya demi memayungi Sheira agar tidak terkena teriknya cahaya matahari yang saat itu memang sangat menyengat. Beberapa anak yang berada di koridor dan duduk di pinggir lapangan ikut memandangi Ren dan Sheira dengan takjub. Tidak mengira bahwa julukan 'Ksatria Pelindung' pada Ren memang benar adanya. Beberapa hari ini mereka memang sudah melihat bagaimana aksi Ren yang selalu mengekor kemanapun Sheira pergi dan mengusir para penggemar Sheira agar menjauh. Namun aksi yang diperlihatkan Ren kali ini sedikit berbeda. Ren memayungi Sheira seolah tidak ingin gadis itu merasakan panasnya sang matahari yang menyengat. Seolah ingin menjaga Sheira agar tidak terjamah oleh apapun, tidak tersentuh bahkan tergores sedikit pun. Ren bahkan tetap menjaga jarak aman dari Sheira agar anak majikannya itu tetap merasa nyaman didekatnya. Caranya ini justru membuat Ren terlihat seperti menjaga barang antik yang begitu dipujanya dengan sangat hati-hati. Seolah tidak ingin terjatuh dan dicuri oleh orang lain. Begitu tiba di depan kelas, Sheira berbalik menatap Ren yang kini sudah mengenakan kembali pakaian seragamnya. "Hari ini gue nginap dirumahnya Arra. Lo silahkan pulang lebih dulu. Gak perlu nunggu gue." "Gue gak bisa ninggalin lo sendiri," jawab Ren kalem. Sheira melipat kedua tangannya di depan d**a. "Gue gak sendiri. Ada Arra, Chika juga Vello." "Iya Ren. Lo gak usah cemas. Gue sama yang lain pasti jagain Sheira kok." Vello menambahkan. Gadis itu terlihat masih shock mengenai perlakuan Ren pada Sheira tadi. "Tapi-" "Gue udah telpon Om Winarno. Dia udah kasih izin. Jadi lo gak perlu takut kalau nanti ditanya-tanya sama Papa." Ren terlihat masih ingin membantah. Namun Sheira telah lebih dulu masuk ke dalam kelas bersama Vello, meninggalkannya yang kini berdiri dalam bingung. *** Begitu selesai memarkirkan Porsche Cayenne putih yang dikendarainya di garasi rumah keluarga Miller yang luas, Ren bergegas berjalan menuju bangunan lain yang terpisah dengan rumah utama. Di bangunan inilah, Winarno dan istrinya tinggal. Meskipun tidak terlalu besar, namun bangunan ini sudah layak disebut sebagai rumah. Di rumah ini jugalah Ren dibesarkan dan telah di anggap anak oleh Winarno dan sang istri yang memang tidak memiliki keturunan. "Bapak disini," sapa Ren begitu mendapati Winarno tengah menghadap televisi. Ia lalu duduk di samping pria itu. Winarno menoleh sejenak melihat kedatangan anak angkatnya itu lalu kembali menonton layar televisi. "Apa benar nona Sheira sudah menghubungi Bapak dan me-" "Ya benar," potong Winarno sebelum Ren sempat mengakhiri pertanyaannya. "Tuan Besar sudah mengizinkannya. Kamu tidak perlu khawatir. Kamu bisa melanjutkan latihanmu. Instruktur menembakmu sudah menunggu di basecamp." "Instruktur menembak? Tapi kata Bapak tidak ada yang perlu kupelajari lagi.." Ren terlihat bingung. Ia cukup ingat bahwa setelah ini ia tidak perlu berlatih bela diri apapun. Semua sudah dikuasainya dengan baik selama 10 tahun belakangan. "Ini permintaan khusus dari Tuan Besar." Winarno merogoh saku kemejanya mengeluarkan sebatang rokok dan mulai menyalakannya. Setelah menghembuskan asapnya kuat-kuat, dibuangnya rokok yang masih baru dinyalakannya itu ke dalam asbak. "Sepertinya Tuan Besar sangat mempercayaimu. Bapak harap kamu tidak mengecewakan kepercayaannya." "Tentu saja aku gak akan pernah mengecewakan Tuan Besar, Pak." Setelah berkata demikian, Ren bangkit berdiri. "Ren," tahan Winarno cepat. "Iya Pak?" Winarno menoleh dan tersenyum kearahnya. "Seusai latihan, awasi rumah dimana nona Sheira menginap. Jangan sampai terlihat oleh nona muda dan teman-temannya." "Baik. Aku mengerti." *** Sheira tengah sibuk membolak-balikkan lembaran majalah sambil berbaring malas di atas karpet ketika Arra datang membawa nampan berisi minuman dan beberapa makanan ringan. Ia menggeser tubuhnya sedikit memberi ruang untuk Arra duduk. "Vello sama Chika mana?" tanya Arra begitu dilihatnya Sheira hanya seorang diri dikamarnya. "Ke bawah. Katanya mau bantu lo bikin minuman," sahut Sheira tanpa berkedip dari majalah yang dibacanya. Arra mendengus jengkel begitu mendengar jawaban Sheira. "Alibi. Pasti mereka lagi sibuk modusin Kak Arki," ucapnya seraya menyebut nama kakaknya itu. Ia melirik ke majalah yang dibaca Sheira kemudian berganti menatap gadis itu cukup lama. Sheira yang merasa diperhatikan mengalihkan matanya dari majalah yang berisi info-info menarik mengenai fashion remaja kemudian balas menatap Arra dengan heran. "Kenapa?" "Eh enggak.." Arra tampak ragu. "Kalau ada yang mau lo tanya, tanya aja." Arra melirik Sheira dengan sudut matanya. "Tadi di sekolah.. Maksud gue pas di lapangan sekolah tadi. Gue sama Chika gak sengaja liat lo sama Ren.." Arra semakin ragu untuk melanjutkan kalimatnya. Sepertinya ia takut membuat Sheira marah dan tersinggung. "Oh itu.." Sheira menutup majalah didepannya kemudian bangkit dari tidurannya. "Ren memang selalu begitu." "Maksud lo?" Mendapat respon yang cukup baik dari Sheira, Arra akhirnya tidak bisa menyembunyikan lagi rasa penasarannya. "Bukan kali itu aja dia bersikap begitu. Dia pernah lebih ekstrim dengan mayungin gue hujan-hujanan di parkiran bandara sampai berjam-jam. Waktu itu karena gue keras kepala mau ikut bokap gue ke Swiss." Sheira terlihat berpikir sejenak mengenang sesuatu. "Oh iya dia juga selalu jadi pasangan gue setiap kali ada acara pesta tahunan Prismax Group. Dia rela jadi bahan sparring gue setiap kali gue berantem sama orangtua gue. Hmm.. Dia juga pernah digigitin anjing tetangga karena nolongin gue dari kejaran anjing waktu SD. Ren juga pernah di skors karena mukulin temen sekelas pas SMP karena anak itu selalu godain gue. Dan dia juga rela kasih makan siangnya ke gue karena gue lupa bawa bekal selama camping. Dia sampe gak makan hampir dua hari karena itu." Mendengar cerita Sheira, wajah Arra semakin terlihat penasaran sekaligus kagum pada tindakan Ren yang menurutnya sangat heroik. "Setelah semua yang dia perbuat untuk lo, perasaan lo ke dia gimana? Gak pernah timbul rasa suka?" Sheira cepat menggeleng mendengar pertanyaan teman barunya itu. "Gue gak mungkin suka sama dia. Gak pernah terbersit dalam pikiran gue. Gue sudah kenal dia dari kecil." Jawaban Sheira membuat Arra terlihat belum puas. Arra masih merasa ada hubungan yang 'lebih dalam' antara Sheira dan sang bodyguard. "Justru karena lo kenal dia udah lama Shei. Lo terbiasa dengan kehadirannya. Mungkin selama ini lo belum sadar karena dia selalu ada setiap hari disisi lo. Gak pernah ada seharipun lo lewati tanpa dia kan? Tapi coba deh sesekali lo coba untuk sehari atau dua hari tanpa kehadiran dia. Mungkin pandangan lo ke dia bakal berubah. Mungkin lo akan ngelihat dia sebagai seseorang yang istimewa. Spesial.." Sheira diam memikirkan ucapan Arra barusan. Sedetik kemudian dia menggeleng kembali. "Gak mungkin. Dia cuma bodyguard. Dia bukan tipe gue." Arra mengangguk-anggukan wajahnya mengerti. "Okelah lo bilang dia bukan tipe lo. Jadi, lo bakal gak keberatan dong kalau ada cewek yang naksir Ren?" "Maksud lo si Vello?" tebak Sheira cepat. Mata Arra terbelalak kaget. "Lo tau dari siapa? Pasti Chika nih yang mulutnya kaya gayung. Mudah bocor!" "Enak aja bilang gue kaya gayung. Bukannya situ yang mulutnya sember banget kaya klakson metro mini!" Tiba-tiba Chika dan Vello sudah berdiri di ambang pintu kamar. "Hehehe.. Maaf Chik." Arra cengengesan melihat sahabatnya yang kini berkacak pinggang menatapnya dengan wajah kesal. "Lagi bahas apaan sih? Kok bawa-bawa nama Chika?" Vello duduk mendekati keduanya sambil menatap Sheira dan Arra bergantian. "Bukan ap-" "Bahas lo sama Ren, Vell..," jawab Sheira dengan tenang. Arra mendelik memandanginya. "Gue sama Ren?" ulang Vello sambil mengerjapkan matanya. "Terus hubungannya sama gue apaan?" Chika yang masih tidak terima namanya ikut terseret juga ikut bertanya. "Lo tertarik sama dia kan? Gue tau kok." Sheira mengabaikan pertanyaan Chika dan justru menatap Vello dengan tenang. Wajah Vello langsung memerah. "Me.. Memangnya kelihatan jelas ya Shei? Uwaaah..!" Vello mulai menyentuh kedua pipinya yang memanas karena malu. "Gak apa-apa Shei?" Chika dengan hati-hati mendekati Sheira yang masih duduk di atas karpet. Ia sempat melihat kejadian siang tadi di lapangan basket. Dan menurutnya, hubungan Ren dan Sheira bukan hanya sekedar majikan dan bodyguard. "Maksud lo?" "Ren kan.." "Elo tenang aja Chik. Tadi gue udah ngomongin hal itu sama Sheira kok. Dia gak ada perasaan apapun sama Ren." Arra kini menatap Vello dengan cengir kudanya. "Lo juga bisa tenang Vell. Karena ternyata Sheira bukanlah saingan lo." Bukannya Arra tidak menyadarinya. Meskipun wajah Vello ia anggap lebih menarik dibandingkan Sheira, kharisma Sheira yang pewaris tunggal Prismax Group tentu membuat Vello akan sedikit kesulitan untuk mendekati Ren. Namun begitu mendengar bahwa Sheira tidak memiliki ketertarikan secara seksual pada bodyguardnya itu, mau tidak mau Arra turut merasa lega untuk Vello. Meskipun keluarga Vello termasuk keluarga yang cukup terpandang, namun jika dibandingkan dengan keluarga Sheira, menurutnya Vello belumlah apa-apa. Arra juga menyadari bahwa tidak sedikit teman laki-laki mereka semasa SMP dulu yang mengejar-ngejar Vello. Postur tubuh Vello sedikit lebih tinggi daripada Sheira. Wajah Vello yang campuran Sunda-Filipina juga sangat unik dan menarik untuk dipandang. Namun kini keadaan sedikit berubah semenjak ketiga sahabat itu mengenal Sheira. Vello yang biasanya selalu menjadi pusat perhatian kemanapun mereka pergi telah digantikan oleh Sheira dengan sejuta pesonanya. "Bener Shei? Gue bisa minta tolong sama lo supaya bisa deket sama Ren?" Pertanyaan Vello membuat Arra kembali dari lamunannya. "Kalau soal itu gue gak yakin," jawab Sheira ragu. "Kenapa? Ren sudah punya pacar? Atau ada seseorang yang dia suka?" Sheira menggeleng. "Ren bukanlah orang yang mudah untuk dideketin. Dia selalu sendiri." Raut kecewa langsung tergambar jelas di wajah Vello. Pupus sudah harapannya untuk membuat Ren tertarik padanya. "Tapi kalau kalian punya ide untuk membuat Ren dan Vello jadi dekat, gue bisa bantu," tambah Sheira membuat wajah Vello yang tadi kecewa serta merta langsung berubah cerah. Arra yang mendengarnya pun langsung tersenyum sumringah. "Gue ada," desisnya membuat ketiga temannya mau tidak mau menatap kearahnya penuh rasa ingin tahu. *** Ren menatap lantai dua rumah bercat kuning itu dengan seksama. Lampu di dalamnya masih menyala, pikir Ren. Nona mudanya pasti masih sibuk bercengkrama dengan teman-teman barunya. Meskipun masih lelah akibat latihan menembak yang hampir menguras habis staminanya, Ren tetap menjalankan perintah Ayah angkatnya, Winarno, untuk terus memantau rumah itu semalaman. Beruntung besok adalah hari Minggu, sehingga ia tidak perlu bangun pagi untuk berangkat ke sekolah. Ren memarkirkan motornya tepat diseberang jalan rumah tersebut. Ia duduk di atas motornya seraya merapatkan jaket yang dikenakannya. Terkadang terdapat beberapa kendaraan yang melintas didekatnya, membuat Ren sesekali harus memalingkan wajahnya dari sinar lampu kendaraan yang menyilaukan matanya. Saat tengah sibuk mengamati keadaan rumah itu, tiba-tiba dari arah pintu rumah keluar sosok yang sejak tadi diawasinya, Sheira. Gadis itu muncul diikuti oleh ketiga temannya yang lain. Ada seorang laki-laki yang turut bersama mereka. Ren berusaha menyipitkan matanya untuk melihat lebih jelas wajah laki-laki tersebut. Ia merasa tidak pernah melihat laki-laki itu sebelumnya. Sosok Arra, si pemilik rumah terlihat berpamitan pada laki-laki itu. Ia kemudian mengajak ketiga temannya memasuki mobil yang terparkir di halaman rumahnya. "Mau kemana mereka?" tanya Ren seolah pada dirinya sendiri. Dengan sigap, Ren memakai helm dan menyalakan mesin motornya. Begitu Yaris yang keempat gadis itu tumpangi keluar dari gerbang rumah, Ren lantas memacu motornya tepat dibelakang mobil yang membawa sang majikannya. Arra memacu mobilnya ke sebuah kafe yang cukup ramai dengan pengunjung yang di d******i oleh para muda mudi itu. Kafe itu lokasinya berada di pinggir jalan dan tempatnya cukup terbuka. Dari luar, Ren bisa melihat dengan jelas para pengunjung lewat dinding-dinding kafe yang sengaja di desain dari kaca transparan. Ren bahkan bisa melihat dengan jelas keempat gadis itu memesan makanan kepada pelayan disana. Ren mengaitkan helmnya di spion motor. Tanpa melepaskan jaketnya, ia turun dari motornya dan bergerak mendekati pintu masuk kafe. Namun, belum sempat kakinya melangkah ke dalam, mata Ren menangkap sosok yang sangat dikenalnya berjalan mendekati keempat gadis itu. Sosok yang sudah lama menjadi fokus perhatiannya di hari pertama sekolah, Bastian Angkasa. Bastian terlihat berusaha untuk mengajak berbicara pada nona mudanya itu. Senyum tak lepas dari wajahnya. Sesekali tangannya itu bergerak setiap kali ia berbicara. Untungnya, Sheira, terlihat tidak terlalu menanggapi pria di depannya. Raut wajahnya terlihat malas. Ren paham benar ekspresi anak majikannya ini jika didekati oleh laki-laki yang tidak disukainya. Sheira biasanya akan mengacuhkannya atau jika dia sedang berbaik hati, ia hanya akan melayani obrolan sesekali kemudian mengusirnya secara halus. Namun kali ini, sepertinya gadis itu menemukan lawannya yang sebanding. Meskipun Sheira mengacuhkannya, Bastian tetap tidak bergeming dari tempatnya. Ren melihatnya sempat menarik sebuah kursi dan ikut duduk satu meja dengan keempat gadis itu. Ia bahkan berbicara dengan ketiga gadis lainnya. Membuat Sheira tidak bisa untuk mengusirnya. *** "Jadi lo punya kakak laki-laki di kelas XII Ra? Siapa namanya? Mungkin gue kenal." Bastian bertanya lalu tersenyum pada gadis itu menampilkan deret-deret giginya yang rapi. Arra yang tengah meminum coffee milk nya terdiam sejenak kemudian menjawab, "namanya Arki, Bas." "Oh ya? Arkian Fahreza?" Arra mengangguk. "Lo kenal, Bas?" kali ini Vello gantian bertanya. Ia cukup heran mengetahu Bastian mengenal kakak kelas mereka itu. "Dia terkenal di tim basket, Vell. Gue kan juga anggota basket. Gue denger dari senior di basket kalau Deena udah lama naksir dia." "Deena siapa Bas?" Chika yang sedari tadi sibuk merapikan rambutnya yang sebahu itu langsung menghentikan kegiatannya. "The most wanted girl di sekolah kita. Anak kelas XI. Tapi itu dulu, sebelum Vello dan Sheira masuk di SMA Harapan Bangsa". Bastian tersenyum sambil melirik kedua gadis yang ia sebut namanya itu. Berbeda dengan Sheira yang tetap memasang wajah 'keep calm' nya, Vello menundukkan wajahnya tersipu malu mendengar Bastian yang memujinya secara tidak langsung. "Kok Kak Arki gak pernah cerita ya ke gue..," gumam Arra cukup terkejut. Selama ini ia memang cukup dekat dengan kakaknya itu. Arki selalu bercerita apa saja yang terjadi di sekolah pada Arra sehingga membuat gadis itu cukup update mengenai info-info menarik di sekolahnya. "Mungkin karena kakak lo gak tertarik sama Deena, Ra. Yang gue tahu, itu cinta sepihak." "Ohhh.." Arra manggut-manggut mengerti. "Kalau lo gimana Shei?" Kali ini Bastian berganti menatap Sheira yang sedari tadi hanya diam mendengar percakapan mereka. "Gimana apanya?" Yang ditanya justru balik bertanya dengan ekspresi datar. "Apa ada yang lo suka di sekolah kita?" Bastian terlihat mencoba untuk memancing informasi dari gadis itu. Pertanyaan Bastian yang terang-terangan itu kontan membuat ketiga gadis lainnya mengerling menggoda kearah Sheira. Bastian dengan jelas menunjukkan ketertarikannya pada Sheira. Namun sang objek seakan tidak menyadari dan tetap memasang wajah tidak pedulinya. "Gak ada." "Kalau begitu, apa gue boleh deketin lo?" Ucapan Bastian kali ini langsung membuat Arra tersedak dari minumannya. Kedua temannya yang lain ikut memasang wajah kaget. Tidak mengira bahwa Bastian akan secepat itu mengutarakan maksudnya. Biasanya seorang pria akan lebih dulu melakukan pendekatan sebelum memberitahu tujuan utamanya pada sang wanita. Lain halnya dengan ketiga temannya, Sheira justru terlihat tetap tenang. Ia dengan santai meraih secangkir hot milk nya dan meneguknya sejenak. Setelah meletakkan cangkirnya kembali di atas meja, matanya menatap lurus ke arah Bastian. "Gue gak punya hak untuk melarang apapun yang mau lo lakukan." Vello meletakkan tangannya kedahi begitu melihat kedua orang di depannya ini kini saling menatap. Cukup lama. Meskipun menurutnya tatapan keduanya bukanlah tatapan sejoli yang sedang dimabuk cinta, tapi tetap saja kedua orang didepannya ini seakan lupa akan kehadirannya dan kedua temannya yang lain. "Astaga.. Bisa gak sih kalian bahas ini ketika lagi berdua aja?" "Hellooo.. Kita bertiga masih disini.." Arra ikut menimpali dengan raut jengkel. Ia merasa menjadi obat nyamuk bakar diantara kedua muda mudi itu. Mendengar keduanya berkata demikian, Bastian segera mengalihkan pandangannya dari Sheira. Ia tertawa kecil begitu dilihatnya ketiga gadis yang lain menatapnya dengan sorot 'please deh cari tempat lain'. "Kalian tahu kan, susah untuk bisa ngobrol sama Sheira tanpa diikuti bodyguardnya itu." Bastian berhenti sejenak. "Oh iya, ngomong-ngomong soal bodyguard, gue gak lihat dia disekitar sini." Matanya mulai berkeliling mencari sosok Ren. "Ren gak ikut. Kita sengaja nginep dirumah Arra. Ladies night..," beritahu Chika masih dengan sedikit jengkel. "Ladies night? Gue ganggu acara ladies night kalian dong?" "Tepat." Sheira mengangguk mengiyakan. Bastian hanya tersenyum mendengar ucapan Sheira barusan. Tidak tampak raut tersinggung diwajahnya. "Eh gue permisi ke toilet dulu ya." Ia lalu beranjak dari kursinya tanpa menunggu persetujuan dari keempat gadis di depannya. Setelah menemukan tanda toilet di dinding yang berada di ujung kafe, Bastian bergegas berjalan melewati beberapa meja pengunjung yang lain. Belum sampai satu menit Bastian di dalam toilet, mendadak pintu toilet terbuka. Bastian menoleh sejenak dan mendapati sosok Ren tengah menatapnya. "Eh. Hai Ren. Lo disini juga?" sapa Bastian. Wajahnya cukup terkejut melihat kehadiran Ren. Ren berjalan mendekatinya. "Jangan dekati nona Sheira. Ini peringatan pertama buat lo," bisik Ren ditelinga laki-laki itu. Nada bicaranya dingin dan sangat menusuk. "Apa maksud lo?" tanya Bastian memasang wajah tidak mengerti. "Jangan pura-pura bodoh. Gue tahu apa rencana lo." Wajah Bastian yang tadi terlihat bingung mendadak berubah. Ia melemparkan senyum mengejek pada Ren. "Oke, gue cukup senang gak harus memasang muka pura-pura di depan lo." "Sekali lagi gue liat lo deketin Sheira, gue gak akan segan-segan untuk.." Ren mulai mengancam. "Untuk apa? Hancurin gue?" potong Bastian. Wajahnya yang sedari tadi menampilkan senyum mendadak berubah tajam. "Sebelum lo bisa hancurin gue, gue akan bongkar rahasia lo ke seluruh sekolah. Bisa lo bayangkan, bagaimana reaksi penghuni sekolah kalau tahu 'Ksatria Pelindung' yang mereka anggap hebat itu ternyata seorang perem.." Ren menarik kerah kemeja Bastian sebelum laki-laki itu sempat melanjutkan kalimatnya. "Diam! Darimana lo tahu hal itu?" bentak Ren marah. Dalam keadaan terdesak begitu, Bastian justru semakin tertawa. "Lo kira lo sedang berhadapan dengan siapa?" tanyanya. "Gue Bastian Angkasa!! Gak sulit buat gue untuk tahu siapa lo sebenarnya!" Perlahan, Ren melepaskan cengkeramannya pada kemeja Bastian. Dia menatap Bastian dengan sorot tajam sebelum akhirnya keluar dari dalam toilet. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD