Kio terpekur memandangi laptop didepannya. Tidak jauh dari tempatnya duduk, Anggara memandanginya sambil tangannya tak henti memetik gitar. Sesekali suaranya ikut berdendang menyanyikan bait-bait lagu, sesekali hanya bergumam tidak jelas, sesekali sambil bersiul mengusir penat.
Kio menarik nafas berat. Tangannya lalu kembali sibuk membuat anggaran belanja OSIS. Sebagai ketua OSIS di SMA Harapan Bangsa, bukan tugasnya untuk menyusun laporan anggaran tersebut. Namun dikarenakan bendaharanya sedang sakit, mau tidak mau tugas itu dialihkan padanya. Banyaknya anggota kelas XII yang sudah mengundurkan diri tahun lalu membuat OSIS menjadi kekurangan anggota untuk membantu pekerjaannya.
"Gimana sama Sheira? Lo udah minta dia untuk gabung sama kita?" Kio menatap Angga dari balik layar laptopnya.
Angga menghentikan petikan gitarnya. "Sheira? Sudah. Tapi dia nolak."
Kio mendesah frustasi. "Bukannya waktu itu lo bilang kalau Sheira pernah jadi ketua OSIS di SMP nya dulu?"
"Menurut info yang gue dapat dari anak-anak yang pernah satu SMP dengannya dulu ya begitu."
"Terus kenapa dia gak mau waktu lo ajak gabung di OSIS kita?" tanya Kio meminta penjelasan.
"Mungkin dia mau coba sesuatu yang lain?" sahut Angga sambil mengangkat bahu.
"Bukan karena dia dendam sama lo di acara MOS waktu itu kan?"
Wajah Angga langsung berubah gugup. "Eng.. Enggak mungkin. Kalau dia dendam, gue udah lama diabisin sama bodyguardnya itu."
"Benar juga," angguk Kio. "Kalau gitu biar gue yang coba ngomong sama dia. Mungkin dia akan berubah pikiran kalau ketua OSIS sendiri yang minta."
"Cewek seperti Sheira itu sepertinya gak akan mempan dirayu meskipun elo sendiri yang minta," komentar Angga sambil memetik gitarnya.
"Gak ada salahnya kan kala-"
"Permisi Kak".
Kio dan Angga kontan menoleh ke arah pintu sekretariat OSIS yang memang sengaja dibiarkan terbuka. Seorang gadis berwajah blasteran berdiri di ambang pintu seraya tersenyum pada keduanya.
"Eh, kamu.. Yang sering bareng sama Sheira kan?" Angga mengenal baik sosok gadis itu. Ia pernah melihat gadis itu menjemput Sheira diruang OSIS beberapa hari yang lalu.
"Nama saya Vello, Kak."
"Ada perlu apa kamu kesini?" Kio memicingkan matanya menatap Vello. Kecantikan gadis itu mau tidak mau membuat jantungnya sedikit berdegup.
"Saya mau bertemu dengan Komite Kedisiplinan OSIS, Kak."
Komite Kedisiplinan OSIS atau yang biasa disingkat KKO adalah bagian dari struktur organisasi di bawah naungan OSIS yang bertugas untuk memantau para siswa. Umumnya siswa yang bermasalah atau sering membolos, merokok, membawa senjata tajam, minuman keras atau yang bersifat p********i serta kenakalan remaja lainnya ditindak lebih dahulu oleh KKO sebelum akhirnya dilaporkan kepada guru konseling. Secara tidak langsung, KKO turut membantu para guru untuk mengawasi siswa di SMA Harapan Bangsa yang jumlahnya ratusan.
Mendengar nama KKO disebut, Angga serta merta bangkit berdiri. Disandarkannya gitar yang sedari tadi berada dipangkuannya ke dinding.
"Gue ketua komite KKO. Ada apa?"
"Saya mau melapor Kak."
Angga dan Kio saling berpandangan. Melihat wajah Vello yang sangat serius, laporan yang dimaksud pasti bukan masalah sepele.
***
"Hei Sheira..."
Sheira dan Chika yang saat itu tengah menikmati nasi goreng di kantin langsung mendongak menatap sumber suara, mendapati Bastian tengah tersenyum pada keduanya. Tanpa permisi lebih dahulu, pria itu telah duduk dihadapan keduanya dengan membawa semangkok bakso. Ren yang duduk diseberang meja tak jauh darinya melirik Bastian dengan ekor matanya.
"Kok Sheira aja yang disapa. Gue enggak?"
Bastian terkekeh. "Hai Chika.."
Chika balas tersenyum keki.
"Umm, gue denger kemarin kalian ada ribut-ribut sama Deena." Bastian membuka percakapan.
Sheira tidak merespons. Sebagai gantinya, Chika hanya mengangguk sambil mengunyah telur mata sapi kesukaannya.
"Deena memang begitu. Kalau ada yang gak dia suka dia langsung main labrak tanpa konfirmasi kebenarannya lebih dulu."
"Kayaknya elo kenal banget sama dia," kata Chika sambil menatap Bastian dengan sedikit curiga.
"Gue belum kasih tahu ya? Deena kan sahabat gue dari kecil."
"Uhuuk! Uhuuukkk!!" Chika tersedak telur mata sapinya begitu mendengar pengakuan Bastian. Refleks, ia meraih segelas air putih di atas meja dan meneguknya hingga volumenya tersisa setengah.
"Lo gak apa-apa Chik?" Sheira menepuk-nepuk punggungnya berusaha membantu.
Bukannya membaik, Chika semakin terbatuk-batuk. Ia lalu mengibaskan tangannya kearah Sheira memintanya untuk berhenti. "Gue.. hukk! Uhuuk!! Gak apa-apa Shei".
"Segitu kagetnya pas gue bilang Deena itu sahabat gue. Aslinya dia itu baik kok." Bastian tersenyum geli memperhatikan Chika.
Chika menarik nafas mencoba menenangkan tenggorokannya. "Baik apanya. Sahabat gue sampe disiramin begitu. Lo kasih tahu ya sama nenek sihir itu, Kak Arki gak suka sama cewek kasar kaya dia, apalagi yang pernah gangguin adeknya!"
"Duh galak banget..," kata Bastian dengan nada sedikit menggoda. "Tar gue bilangin ke dia untuk minta maaf sama kalian."
"Gak usah dibilangin! Inisiatif sendiri dong! Dia yang mulai cari masalah duluan. Dia yang ngamuk duluan. Kesadaran pribadi kek untuk langsung datengin kita buat minta maaf. Ini udah beberapa hari gak ada tanda-tanda dia mau minta maaf."
"Sabar Chik." Sheira menepuk pelan lengan temannya itu.
"Iya deh, kalah deh gue kalau debat sama lo Chik." Bastian mengangguk lalu menyuapkan sepotong bakso ke dalam mulutnya.
"Lagian masalah ini udah kita bawa sampe ke KKO kok. Tinggal tunggu keputusan di meja hijau!"
Bastian tersenyum geli melihat ekspresi Chika yang seperti korban-korban kasus kekerasan oleh artis yang sering ia lihat di infotainment. Ia lalu melirik Ren di meja sebelah. Bukannya Bastian tidak menyadarinya, ia hanya berpura-pura untuk mengacuhkan sorot dingin Ren yang seakan ingin menguliti tubuhnya.
"Minggu ini kalian ngadain ladies night lagi?" tanyanya berusaha mengganti bahan pembicaraan.
"Kenapa? Lo mau gangguin lagi?"
"Iya. Gue mau gabung," jawab Bastian sambil mengerling menggoda.
Mata Chika sedikit melotot. "Lo ini ganteng-ganteng tapi blo'on yah. Jelas-jelas judulnya ladies night. Cowok dilarang join."
"Kan sekarang udah emansipasi. Persamaan gender. Cowok atau cewek gak masalah dong. Sekalian biar tambah akrab sama kalian."
"Udah deh. Gue tau kalau niat lo itu cuma mau deketin Sheira. Ngaku deh!" seru Chika setelah membersihkan mulutnya dengan tissue.
"Iya gue ngaku."
Mendapat jawaban santai seperti itu, ekspresi Chika langsung berubah geli. "Gampangan banget sih lo jadi cowok. Gak ada cool-cool nya. Kaya si Ren kek yang misterius. Bikin cewek pada penasaran."
Mata Bastian kembali melirik Ren. Sudut bibirnya menyunggingkan senyum meremehkan. "Iya misterius. Sangat misterius sampe punya banyak rahasia."
"Rahasia apa maksud lo?" tanya Chika sambil menaikkan salah satu alisnya penuh rasa ingin tahu.
"Lo penasaran?"
"Enggak!" Chika mendengus sambil memalingkan wajahnya dari Bastian.
"Kalau lo gimana Shei? Gak penasaran juga?"
Sheira melirik sekilas kearah Ren, lalu menjawab, "Gue lebih kenal Ren dibandingkan elo."
"Lo yakin? Gimana kalau Ren itu sebenarnya.."
BRAK!!
Sheira dan Chika menoleh kaget kearah Ren yang baru saja menggebrak meja. Suasana kantin yang semula ramai seketika mendadak sunyi. Seluruh pasang mata menatap Ren dengan bergidik ngeri. Bagaimana tidak, wajah Ren mendadak lebih mencekam dari biasanya. Matanya menatap Bastian seperti singa yang hendak menerkam mangsanya. Seperti vampir di film-film yang ingin menggigit leher korbannya. Alis mata Ren yang lebat membuatnya semakin terlihat menakutkan.
"Ren!"
Teguran Sheira yang berniat untuk menenangkan bodyguardnya itu tidak digubrisnya. Ren bangkit dari duduknya lalu berjalan mendekati ketiganya.
Para siswa yang lain mulai terlihat cemas. Takut jika terjadi pertumpahan darah di kantin yang telah mereka anggap sebagai 'tempat suci' setelah seharian belajar di ruang kelas.
Ren berdiri di samping meja ketiganya, masih menatap Bastian dengan pandangan ingin membunuhnya. Yang ditatap justru terlihat tenang, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Ren.." Usapan lembut tangan Sheira di lengannya membuat Ren seolah tersadar. Wajahnya yang sejak tadi mengeras mendadak berangsur-angsur melunak lalu mulai berubah seperti biasa, datar dan tanpa ekspresi.
Anak-anak disekelilingnya masih menatapnya dengan takut-takut.
"Maaf, tadi ada nyamuk di tangan gue." Ren mencoba memberikan alasan meskipun ia tahu alasannya jelas-jelas tidak masuk akal.
"Gak apa-apa. Lo udah selesai makannya?" Sheira menengadahkan wajahnya menatap sosok yang berdiri di sampingnya dengan sorot mata yang membuat emosi Ren semakin tenang.
Ren balas menatapnya. Untuk pertama kalinya selama 10 tahun, baru kali ini Sheira menatapnya seintens itu. Biasanya gadis itu selalu mengacuhkan keberadaan dirinya, melirik pun tidak. Tangan mungil dilengannya itu terasa hangat dan lembut. Semenjak kedua orangtuanya meninggal, Ren tidak pernah merasakan lagi kehangatan seperti yang ia rasakan saat ini. Hanya dengan sedikit sentuhan oleh Sheira, emosi Ren yang sudah diubun-ubun langsung menguap begitu saja.
Bukan kali ini saja Sheira pernah menyentuhnya. Gadis itu sepertinya tahu bagaimana mengendalikan bodyguardnya. Setiap kali emosi Ren tidak terkendali, biasanya Sheira akan memperingatkannya dengan berseru memanggil namanya. Jika masih tidak berhasil, gadis itu akan menyentuh lengannya. Seperti saat ini. Namun kali ini, sentuhan itu terasa sedikit berbeda. Sheira menyentuhnya dengan lembut sambil menatap matanya.
"Ayo balik ke kelas." Sheira beranjak dari kursinya. Dia menarik lengan Ren untuk segera bergegas keluar dari kantin.
Chika yang tadi sempat terpana melihat betapa mengerikannya sang 'Ksatria Pelindung' itu cepat-cepat menyusul dibelakang keduanya.
"Lo bisa gak untuk kendaliin emosi lo sedikit? Kita lagi disekolah. Gue gak mau kejadian seperti tadi keulang lagi!" Sheira menyentakkan tangan Ren begitu mereka tiba di depan pintu kelas X-1. Sorot matanya yang tadi menatap Ren dengan lembut langsung berubah menjadi tajam.
"Maaf."
Sheira berdecak kesal. Tanpa mengubris permintaan maaf Ren, ia masuk ke dalam kelas. Dari balik punggungnya yang perlahan menghilang, Ren menarik ujung-ujung bibirnya membentuk sedikit senyuman.
Meskipun samar, Chika dapat melihat senyum itu. Senyum yang pertama kali ditunjukkan Ren selama berada di sekolah. Senyum yang bahkan tidak bisa Chika bayangkan akan muncul begitu saja. Senyum yang selalu ingin dilihat oleh para gadis-gadis penggemar Ren. Senyum yang ternyata khusus ditunjukkan Ren untuk Sheira seorang.
"Kesempatan lo hampir gak ada, Vellorie..," bisik Chika menyebut nama salah satu sahabatnya.
***
Deena duduk gelisah di ruangan kecil yang menjadi markas OSIS itu. Sesekali matanya melirik Arki dan Arra yang duduk disampingnya. Ia benar-benar telah bertindak ceroboh kali ini. Bukan hanya dirinya diperiksa oleh Komite Kedisiplinan OSIS, penilaian Arki padanya pun semakin buruk. Pria yang sudah lama disukainya itu bahkan enggan untuk melirik padanya.
Selain menjadi bintang di lapangan, Arkian Fahreza termasuk siswa cerdas. Ia bahkan tidak perlu bersusah payah untuk mengikuti Ujian Masuk Universitas dikarenakan banyaknya tawaran beasiswa padanya. Tidak hanya memiliki sejuta pesona saat bermain basket, wajah Arki yang cukup manis juga membuatnya cukup dikenal oleh adik-adik kelasnya, termasuk Deena.
"Jadi lo ngaku kalau apa yang dibilang Arra tadi semuanya benar?" Suara nyaring Angga memenuhi ruangan yang tidak terlalu luas itu. "Ada banyak saksi yang ngelihat lo."
"Selain Vello, ada Chika sama Sheira juga Kak. Saya bisa panggil mereka kalau memang dibutuhin". Arra berusaha menyakinkan kakak kelas di depannya.
"Gak perlu. Pengakuan kamu sama Vello juga udah cukup. Selain itu, foto yang kamu tunjukin ini juga bisa jadi bukti kuat". Angga melirik sekilas foto yang terletak di atas meja. Foto Arra dengan pakaian basah kuyup yang diambil Vello diruang ganti saat itu.
"Oke, gue akui gue memang ngelakuin hal itu ke Arra. Tapi gue sendiri kena imbasnya. Tangan gue sakit sampe keseleo karena bodyguard sok itu! Dan Arra juga udah ngebales gue dengan nyiramin air dan cairan pembersih ke gue! Gue rasa gak ada yang perlu di bahas lagi soal ini. Kami sudah impas!" Deena akhirnya bersuara dengan emosi berapi-api.
"Dee, ini bukan soal impas atau enggak. Kalau bukan elo yang memulai duluan, gak akan terjadi kejadian seperti ini."
"Jadi lo nyalahin gue juga? Ok!! Fine!!" seru Deena masih dengan emosi yang sama.
"Dee, gue harap elo bisa menyesali perbuatan lo kali ini. Dengan marah-marah gak akan bisa nyelesaiin semuanya," nasehat Angga.
"Apa lagi yang perlu diselesain? Bukankah semuanya udah selesai? Gue udah dapet apa yang seharusnya gue terima. Kenapa perlu diperpanjang?!"
"Gue gak memperpanjang. Tapi lo udah melanggar aturan sekolah. Dan siapapun yang melanggar, harus di proses."
"Aturan? Persetan dengan aturan!" sergah Deena semakin tersulut emosi.
"Lo tau kenapa selama ini gue masih gak bisa suka sama lo? Sifat lo itu yang bikin gue muak!" Arki yang sejak dari awal tadi hanya diam mendengarkan mulai berkomentar tanpa menatap Deena sedikit pun.
Deena langsung menoleh kaget menatap Arki yang duduk disampingnya. "Tapi aku ngelakuin ini karena kamu," jawabnya dengan suara yang mendadak lembut.
"Stop cari alasan," balas Arki sambil menggelengkan kepalanya. "Rasa cinta lo itu udah gak sehat. Mulai detik ini berhenti ganggu gue maupun adek gue. Jangan pernah muncul lagi di depan kami."
"Eheemm, kalian bisa bicarain soal itu di luar. Yang jadi masalah sekarang ini mengenai insiden guyur-guyuran di toilet beberapa hari yang lalu." Angga berusaha melerai pertikaian diantara keduanya. "Gue akan laporin ini ke pihak guru. Biar mereka yang menentukan hukuman apa buat lo, Dee".
Deena langsung bangkit dari duduknya. "Lo gak bisa ngelakuin hal ini ke gue! Kita teman sekelas!"
"Sorry Dee. Gue cuma bersikap netral disini."
Deena kembali duduk dikursinya. Ia tidak bisa membayangkan bagaimana reaksi kedua orangtuanya kelak jika mengetahui dirinya mendapat hukuman dari pihak sekolah. Sudah tentu kedua orangtuanya akan di panggil menghadap kepala sekolah.
***
Ren memandangi pantulan tubuhnya di cermin. Diperhatikannya kedua tonjolan di dadanya secara seksama. Meskipun ukurannya lebih kecil daripada yang seharusnya, namun tidak dapat menutup fakta bahwa dirinya adalah seorang perempuan. Sesuatu yang tidak pernah diperlihatkannya pada seorang pun, rahasia sekaligus kelemahannya. Hal yang sudah lama ditutupinya sejak lama.
Tetes-tetes air masih menetes dari rambutnya yang basah. Ren mengusapnya sekilas dengan handuk kecil yang sedari tadi berada ditangannya. Setelah menyemprotkan parfum ke bagian tubuhnya yang sudah kering, Ren meraih singlet binder berwarna putih yang tergantung di balik pintu kamar mandinya. Singlet ini ia beli khusus dari Singapura. Kaos dalam yang sekaligus berfungsi sebagai binder untuk menutup dadanya agar terlihat rata. Sekilas, tidak ada yang aneh pada singlet ini. Bagian luarnya terlihat sama seperti singlet-singlet pada umumnya. Namun jika diteliti lebih cermat, dibaliknya terutama di bagian atas d**a terdapat semacam korset untuk menahan dadanya hingga rata sempurna.
Setelah mengenakan kaos oblong tanpa lengan berwarna merah dan jeans hitamnya, Ren keluar dari kamar mandi lalu meraih jaket hitam yang terletak asal-asalan di atas tempat tidurnya. Tak dipedulikannya tubuhnya yang masih lelah akibat latihan sore tadi. Saat ini nona mudanya membutuhkan dirinya. Ia harus menemani gadis itu membeli perlengkapan bulanannya.
Meskipun keluarga Miller memiliki banyak asisten rumah tangga dirumahnya, Sheira tidak pernah menyuruh orang lain berbelanja untuknya. Ia lebih suka melakukan sendiri kegiatan itu. Selain karena ia dengan bebas bisa memilih sendiri apa yang dibutuhkannya, ia bisa sekaligus belajar mandiri agar tidak terlalu bergantung pada orang lain. Sheira bukanlah nona manja yang suka memerintah. Terkadang, ia bahkan memasak sendiri makanan yang ingin dinikmatinya meskipun level memasaknya tidaklah seberapa. Hanya menggoreng ikan, telur, tahu atau tempe ditambah sayur bening. Setidaknya ia bisa melakukannya sendiri. Ia bisa membedakan mana lengkuas dan kunyit, mana lada dan ketumbar. Berbeda dengan kebanyakan teman-temannya yang bahkan membedakan panci dan wajan pun tidak tahu.
Ren menunggu anak majikannya di dalam Porsche Cayenne putih kesayangan Sheira. Meskipun Sheira sudah pandai menyetir, namun ayahnya, Jordy Miller, melarangnya untuk membawa kendaraan sendiri. Selain karena usianya yang belum menginjak 17 tahun, ia juga belum terlalu mahir mengemudikan kendaraan di jalanan Jakarta yang selalu macet di jam-jam sibuk. Alhasil, Ren lah yang diminta untuk selalu mengemudi kemanapun gadis itu pergi.
Tidak sampai 5 menit, gadis yang ditunggunya itu sudah masuk ke kursi di samping kemudi. Aroma apel yang lembut langsung memenuhi hidung Ren. Aroma khas Sheira yang sangat dikenalnya sejak kecil.
"Kita ke Giant yang deket-deket sini aja. Setelah itu ke toko buku, ada buku yang gue cari," perintah Sheira setelah memakai seatbelt.
"Oke."
Ren menancapkan gasnya membelah jalanan Kota Jakarta. Selama diperjalanan, matanya sesekali melirik sekilas pada Sheira. Ia hendak mengatakan sesuatu namun sedikit ragu untuk menyampaikannya.
"Shei.."
"Hmm," gumam Sheira singkat tanpa menoleh padanya.
"Menurut lo Bastian gimana?"
Sheira langsung menoleh menatap bodyguardnya itu dengan pandangan heran. Tidak biasanya Ren bertanya mengenai para pria yang biasanya mencoba untuk mendekatinya. Ren akan langsung mengusirnya tanpa meminta pendapatnya terlebih dahulu. Jika dilihatnya Sheira tidak memberi respons, Ren akan mengusirnya seketika. Sheira sedikit heran mengapa kali ini Ren bersikap sedikit lunak pada Bastian. Jelas-jelas Sheira tidak nyaman setiap kali Bastian mendekatinya.
"Dia kelihatannya baik," jawab Sheira jujur.
"Baik?" ulang Ren.
"Ya."
"Maksud gue, apa kira-kira lo bakal tertarik sama dia?"
"Yang lo liat gimana?" Sheira balik bertanya dengan nada ketus.
"Sejauh ini belum tertarik."
"Kenapa lo mendadak tanya Bastian? Jangan bilang kalau dia-"
"Dia punya niat jahat sama lo. Bokapnya pemilik Angkasa Group. Mereka udah lama mau kerjasama dengan Prismax Group. Tapi Tuan besar selalu menolak karena diam-diam Angkasa Group punya bisnis illegal. Sekarang bokapnya manfaatin Bastian untuk deketin lo. Jika dia berhasil dan lo jatuh kepelukan dia, dia dengan mudah ngerayu lo untuk maksa Tuan besar kerja sama dengan bisnis bokapnya," beritahu Ren tanpa diminta.
"Lo pikir gue cewek gampangan?" Bukannya terlihat kaget dengan informasi yang ia dapat, Sheira justru balik menyerang Ren.
"Gue cuma kasih tahu supaya lo jaga jarak sama dia."
"Sejak kapan lo jadi ngurusin urusan pribadi gue?" Nada bicara Sheira yang dingin mendadak menyadarkan Ren dari sikapnya yang sok menasehati barusan.
"Maaf."
Sheira tak menanggapi. Sebagai gantinya, ia menatap ke layar smartphone keluaran terbarunya, memeriksa banyaknya notifikasi yang masuk di akun sosial medianya.
"Hmm? Aneh.." gumamnya tiba-tiba.
"Kenapa?" tanya Ren heran. Matanya masih lurus menatap jalanan di depan mereka.
Sheira melirik Ren dengan sudut matanya. "Ada orang aneh yang kirim pesan ke semua sosmed gue."
"Gue gak lihat ada yang aneh dengan itu."
Sebagai Miss Popular, Sheira sudah terbiasa menerima pesan-pesan aneh atau komentar-komentar negatif lewat akun media sosialnya. Layaknya seorang selebritis yang memiliki banyak followers serta haters, Sheira tak luput dari gangguan haters dan cyber bullying. Gangguan seperti itu sudah sering diterimanya.
"Pesannya ini tentang lo."
Ckiit!!
Ren mengerem mendadak mobil yang dikendarainya. Kedua tangannya meremas stir kuat-kuat.
Sheira sedikit terlonjak dari kursinya. "A.. Apa-apaan sih? Kenapa mendadak berhenti?"
"Apa isi pesannya?" tanya Ren sambil menatap Sheira dengan wajah sangat serius.
"Gak penting."
"Apa?" Kali ini nada bicara Ren terdengar tajam.
Sheira berdecak kesal menanggapi sikap Ren yang menurutnya mulai tidak sopan. Baru kali ini Ren berani mengintimidasinya seperti ini. Sheira memperlihatkan layar smartphonenya ke arah bodyguardnya itu.
"Nih baca!"
Ren membaca sekilas sederet tulisan disana. Jantungnya seolah berhenti berdetak begitu melihat sederet kalimat yang tidak terlalu panjang itu.
'BODYGUARD LO SEORANG PEREMPUAN'
"Dari semua pesan yang masuk, baru kali ini gue dapet pesan aneh begitu," komentar Sheira setelah menarik kembali smartphonenya dan memasukkannya ke dalam tas kecil.
"Lo percaya?" tanya Ren hati-hati. Nada bicaranya terdengar sedikit bergetar.
"Hm? Gue gak bodoh. Pesan dari orang gak jelas begitu ngapain gue-" Ucapan Sheira terputus. Matanya menatap Ren lurus-lurus. "Jangan bilang kalau itu benar."
Ren tergeragap. "It.. Itu gak benar!" Ia lalu kembali memasukkan porsneling kemudian menginjak gas.
Sheira memperhatikan reaksi Ren dengan pandangan curiga. Jika memang hal itu tidak benar, mengapa Ren terlihat khawatir setelah membaca isi pesan tersebut. Menurutnya, postur tubuh Ren tidak terlihat seperti seorang perempuan. Tingginya 173, termasuk standar untuk ukuran tinggi laki-laki Indonesia pada umumnya. Otot-otot di sekitar lengan dan dibawah lehernya terlihat jelas layaknya seorang pria yang rutin berolahraga. Ia sangat yakin bahwa pesan itu hanyalah ulah orang iseng yang tidak suka pada bodyguardnya. Namun, selama ini Sheira memang tidak pernah melihat secara langsung tubuh dibalik pakaian itu. Hal ini mau tidak mau membuat Sheira sedikit bertanya-tanya. Apakah isi pesan itu benar? Tidak mungkin seseorang mengiriminya pesan aneh seperti itu jika tidak ada sesuatu dibaliknya. Sheira harus menyelidikinya sendiri secara diam-diam.
***
Bastian tersenyum simpul memperhatikan gadis yang berdiri di hadapannya. Gadis itu menyandarkan tubuhnya di tembok pagar rumahnya. Rambutnya yang panjang diikat kebelakang, menyisakan rambut-rambut pendek dikedua sisi telinganya.
"Ngapain lo kesini?" tanya gadis itu dengan gusar.
"Begini cara lo nyapa teman kecil lo sendiri?"
Deena mendengus mendengar pertanyaan laki-laki itu. "Gak usah ganggu gue. Gue udah cukup pusing hari ini." Selain karena mendapat surat peringatan dari pihak sekolah, Ayahnya juga baru saja memarahinya dan memberikan hukuman untuknya. Tentu saja kehadiran Bastian di depan rumahnya ini tidak bisa menghilangkan kekesalan hatinya.
"Karena itu gue ke rumah lo. Gue mau nawarin hal yang menarik buat lo."
"Hal menarik?" Mata Deena menatap awas pria di depannya ini. Ia kenal betul siapa Bastian Angkasa. Jika pria itu berkata demikian, sudah tentu hal itu benar-benar menarik untuk ia simak. "Apa itu?"
"Sebelum gue lanjut lebih jauh, gue mau tanya satu hal dulu sama lo."
"Oke.. Gak masalah. Tanya apa?"
"Lo mau balas dendam?" tanya Bastian.
"Apa maksud lo?" Deena menatap teman kecilnya itu dengan pandangan curiga sekaligus bingung.
Bastian kembali tersenyum. "Gak usah pura-pura gak tau. Lo ngerti dengan jelas pertanyaan gue. Baik, gue perjelas lagi. Apa lo mau balas dendam dengan Sheira dan bodyguardnya itu?"
"Lo gila!" seru Deena. "Kalaupun gue mau, gue bisa abis duluan dihajar sama bodyguardnya."
"Gue punya senjata yang bisa buat acara balas dendam lo terlaksana dengan mulus tanpa takut Ren akan bertindak lebih jauh ke lo. Kalau lo tertarik, kita bisa kerjasama."
"Untungnya buat lo apa?" Deena sadar benar bahwa Bastian bukanlah seseorang yang dengan sukarela ingin membantu tanpa ada imbalan apapun. Namun, ia juga ingin membalas sakit hati atas perlakuan Ren padanya tempo hari.
"Gue bisa dapetin Sheira dan rencana balas dendam lo terlaksana. Bukannya itu saling menguntungkan buat kita?"
Deena terlihat mulai tertarik. "Jadi, apa senjata lo?"
Bastian menyunggingkan senyum liciknya. "Gue tahu rahasia besar yang disembunyiin Ren rapat-rapat. Ren.. Dia sebenarnya adalah.."
***