LIMA

3815 Words
Dennis Elnino, seorang aktor muda berbakat yang pernah meraih penghargaan di ajang Festival Film Indonesia kembali muncul di sekolahnya, SMA Harapan Bangsa setelah sebelumnya sempat izin selama dua minggu untuk pembuatan film layar lebar terbarunya di Paris, Prancis. Film yang dibintanginya itu seharusnya telah selesai begitu libur kenaikan kelas berakhir. Namun, sang produser film yang terkenal perfeksionis itu memintanya untuk merekam ulang beberapa adegan yang dirasanya kurang pas. Alhasil, film yang seharusnya dijadwalkan sudah selesai itu mundur dari waktu yang seharusnya. Dennis sempat jengkel kepada managernya yang langsung menyetujui saja permintaan dari sang produser. Untungnya si produser mau menambah honor yang diterimanya sehingga Dennis tidak terlalu mengalami kerugian yang berarti selain harus meninggalkan sekolahnya. Hal pertama yang ingin ia lakukan pertama kali begitu tiba di sekolah ialah menemui pujaan hatinya, Sheira Jeevana Miller. Dennis sudah lama mengagumi sosok Sheira dari akun-akun sosial medianya. Begitu diketahuinya bahwa Sheira akan satu sekolah dengannya, Dennis tidak sabar untuk segera pulang ke Indonesia. Hal ini juga yang menjadi salah satu alasannya mengapa ia sempat memarahi managernya yang seenaknya saja mengambil waktu sekolahnya untuk keperluan shooting film. Begitu menginjakkan kaki di sekolah, Dennis langsung menyusuri lorong-lorong kelas X mencoba untuk mencari sosok Sheira. Adik-adik kelas yang menatap heran sekaligus kagum tidak dihiraukannya. Fokusnya hanya satu, Sheira. Tidak butuh waktu lama bagi Dennis untuk menemukan gadis yang dicarinya. Tepat di ujung lorong, di depan kelas X-1, ia melihat Sheira tengah duduk di kursi kayu bersama dengan seorang perempuan. Tidak jauh dari tempat mereka duduk, seorang pria tengah mengamati keduanya sambil sesekali mengawasi keadaan sekitar. Dennis tersenyum simpul. Tanpa mempedulikan pria aneh tadi yang menurutnya hanyalah seorang stalker, ia segera bergegas menghampiri gadis yang telah mencuri hatinya itu. Namun baru sampai jarak tiga meter dari Sheira, pria berseragam SMA yang berdiri tak jauh dari Sheira tadi mendadak menahan langkah Dennis. "Ada perlu apa?" tanya pria yang menurutnya hanyalah seorang penguntit itu. Suara serak pria itu mau tidak mau menghentikan langkahnya. Ditatapnya pria itu dari atas hingga ke bawah. Tingginya hanya sebatas hidung Dennis. Tubuhnya tegap. Otot-otot lengannya sedikit terlihat dari balik seragamnya yang berlengan pendek. Alis matanya yang tebal memayungi kedua mata sipitnya yang menatap tajam kearah Dennis. Hidung pria ini sangat mancung. Kulit wajahnya seperti perempuan, mulus dan tanpa noda, sangat serasi dengan bibirnya yang tipis dan sedikit kemerahan. "Gue mau ketemu Sheira," jawab Dennis datar. Sheira yang mendengar namanya disebut, melirik Dennis sekilas lalu kembali asik mendengarkan teman perempuannya berceloteh riang. "Ada perlu apa?" Pertanyaan yang sama kembali diulang lagi oleh pria itu. "Lo siapa? Ini gak ada urusannya sama lo." Dennis mulai jengah. Ada urusan apa pria ini berani-beraninya bertanya mengenai apa yang ia inginkan dengan Sheira. Didorongnya bahu pria itu agar tidak menghalanginya. Pria itu masih bergeming ditempatnya. Sama sekali tidak terpengaruh oleh dorongannya. "Minggir!" Dennis kembali mendorongnya lebih kuat. Pria itu masih tak bergerak. "Dengar ya, gue gak ada masalah sama lo. Gue kesini cuma mau ketemu sama Sheira sebentar." Pria itu menengok ke belakang, menatap pujaan hatinya yang masih sibuk mendengarkan obrolan temannya. Setelah itu, ia berbalik memandangi Dennis kembali. "Dia gak berniat untuk ketemu sama lo." "Ck! Lo ini siapa? Yang berhak memutuskan itu Sheira sendiri, bukan lo." Dennis berdecak kesal. "Gue bodyguardnya, Ren". Mata Dennis menatap pria itu tak percaya. "Minggir!" Kali ini ganti Ren yang berbalik mendorongnya. Ren mendorong bahunya perlahan. Namun tekanan yang ia rasakan membuatnya mundur beberapa langkah. Rasanya sedikit nyeri. "Oke, meskipun lo bodyguardnya, bukan berarti lo bisa seenaknya ngusir gue. Biar Sheira sendiri yang memutuskan dia mau ketemu gue atau enggak." Dennis masih bersikukuh pada pendiriannya. "Huh?" Ren mendengus singkat. "Dia sudah memutuskan. Kalau dia mau ketemu lo, sudah dari tadi dia bangkit dari duduknya dan menghampiri lo." Ren kembali mendorong tubuh Dennis untuk menjauh. Tidak terima diperlakukan demikian, Dennis akhirnya melancarkan aksi nekatnya. "Sheira!!" Ia berteriak memanggil nama gadis itu. "Shei, lo dipanggil tuh.." Arra yang sejak tadi sibuk bercerita mengenai kejadian di sekretariat OSIS kemarin mau tidak mau merasa tidak enak. "Lanjutin aja cerita lo," sahut Sheira santai. "Tapi.. Itu yang manggil Kak Dennis lho Shei. Cerita gue bisa dilanjut pas jam istirahat nanti kok." Arra kemudian memperhatikan Dennis yang masih berusaha untuk melepaskan diri dari halangan Ren. "Lo samperin gih. Mungkin aja penting. Kasihan tuh." "Udah mau bel. Kita ke kelas aja yuk." Sheira tak menanggapi saran temannya itu. Ia justru menarik lengan Arra memasuki kelas tanpa menoleh sedikitpun ke arah Dennis. Seolah keberadaan Dennis tak terlihat olehnya, tak kasat mata. Melihat Sheira memasuki kelasnya, Ren yang sedari tadi menahan tubuh Dennis perlahan melangkah mundur. "Lo liat sendiri kan kalau dia gak mau diganggu." Setelah berkata demikian, Ren ikut beranjak masuk ke kelas. Bukan Dennis Elnino namanya jika menyerah begitu saja. Setelah sempat gelisah di kelas karena menunggu waktu istirahat tiba, ia juga sempat ditegur oleh guru Kimianya karena tidak memperhatikan saat pelajaran. Alhasil, begitu bel istirahat berbunyi, aktor muda itu sudah stand by di depan kelas Sheira. Teman-teman sekelas Sheira yang kebetulan berpapasan dengannya memandang dengan penuh rasa ingin tahu. Ada beberapa yang menyapa dan tersenyum padanya yang mau tidak mau dibalas Dennis dengan senyuman kembali. Ketika gadis yang ditunggunya muncul, serta merta Dennis langsung mendekati Sheira sebelum sang bodyguard yang tadi pagi muncul untuk mengusirnya kembali. "Sheira." Berbeda dengan pagi tadi, kali ini Sheira tidak bisa untuk mengabaikan kehadiran pria itu. Setelah menyuruh teman-temannya untuk lebih dulu ke kantin, Sheira mengikuti Dennis untuk duduk di kursi kayu di samping kelasnya, kursi yang tadi pagi digunakannya untuk berbincang dengan Arra. Ren yang baru keluar dari kelas, lantas berdiri tak jauh dari tempatnya sambil tetap mengawasi Sheira. "Sorry kalau gue ganggu waktu istirahat lo. Tadi pagi gue udah coba buat ketemu lo, tapi cowok yang ngaku bodyguard lo disana itu-" "Iya gak apa-apa. Ada perlu apa Kak?" potong Sheira cepat. Dennis terlihat ingin melanjutkan kalimatnya. Namun ketika dirasakannya Sheira tidak berminat untuk mendengar penjelasannya lebih lanjut, ia segera mengubah sikap duduknya agar lebih rileks. "Sebelum gue bilang keperluan gue, sebaiknya gue memperkenalkan diri dulu. Gue Dennis Elnino." Dennis menyebutkan namanya dengan sedikit penekanan. "Oh.." gumam Sheira hampir tanpa ekspresi. Dennis terlihat sedikit terkesima dengan reaksi Sheira yang biasa saja begitu mendengar namanya. Dengan cepat, ia buru-buru mengubah wajahnya agar terlihat sesantai mungkin. "Apa lo ada waktu sabtu malam nanti? Gue mau ngajak lo untuk dampingin gue di acara penghargaan salah satu stasiun tv." "Kenapa harus saya?" "Maksud lo?" tanya Dennis tak mengerti dengan arah pertanyaan Sheira. "Kenapa saya yang diajak. Memangnya gak ada cewek lain?" "Umm, mungkin lo belum tahu. Gue sudah lama tertarik sama lo. Gue berencana untuk gunain kesempatan itu untuk bisa lebih kenal sama lo," aku Dennis jujur. "Maaf Kak, tapi saya gak tertarik untuk hadir. Permisi." Sheira kemudian bangkit dari kursi. Ia melirik Ren sekilas lalu berjalan menyusul teman-temannya ke kantin. Mendapati reaksi Sheira yang diluar dugaannya, mau tidak mau Dennis terpaku ditempatnya. Selama ini banyak perempuan yang berharap untuk bisa dekat atau bahkan berkencan dengannya. Ia pikir rumor yang menyebutkan bahwa Sheira pernah menolak keponakan dari Pangeran Maroko adalah isapan jempol belaka. Namun kali ini Dennis harus mengakuinya, tidak mudah mendapatkan perhatian Sheira Jeevana Miller. Sheira memasuki kantin dengan tatapan penuh tanya dari ketiga temannya. Begitu Sheira duduk, mereka sudah bergerombol mendekati Sheira. "Kak Dennis ngomong apa sama lo Shei?" "Dari tadi pagi dia usaha buat ketemu lo. Penting banget emangnya?" Vello dan Arra bergantian meluncurkan pertanyaan yang sejak tadi sudah berada di ujung bibir mereka. "Dia ngajakin gue ke acara penghargaan stasiun tv," kata Sheira seolah apa yang baru saja diucapkannya adalah hal yang sangat sepele. "Kak Dennis ngajak lo? Beruntung banget lo Shei. Cewek-cewek disini pada rebutan buat dapetin perhatian dia. Dia justru jatuhin pilihan ke lo." Vello terlihat mulai heboh sendiri. "Lo harus siapin dress yang cantik untuk acara itu Shei. Gue tau butik yang-" Arra ikut memberinya rekomendasi sebelum dengan cepat di potong oleh Sheira. "Gue nolak ajakannya." Vello dan Arra kontan menatapnya dengan wajah bingung. "Kenapa? Kak Dennis kan-" Arra mengerutkan dahinya memandangi Sheira. "Mungkin Sheira ga tertarik sama Dennis." Chika dengan cepat memotong ucapan Arra. Ia lalu tersenyum menatap Sheira yang kini tengah mengaduk-aduk es jeruknya. Lain halnya dengan Arra yang masih belum bisa menerima, Vello terlihat lebih maklum. Matanya bergantian melihat teman-temannya satu persatu. "Gimana kalau malam minggu nanti kalian nginep dirumah gue?" tawarnya mengganti topik pembicaraan. "Nah kebetulan pembantu gue yang kemarin abis mudik bawain jagung banyak banget. Kita bisa bikin jagung bakar di halaman belakang rumahnya Vello." Arra yang tadi masih bingung mendadak berubah antusias begitu mendengar ide tersebut. "Gue mau-mau aja. Tapi.. Lo ikut kan Shei?" Chika kembali menatap Sheira, kali ini dengan sorot penuh harap. "Oke." "Kali ini ajak Ren juga ya Shei." Arra berbicara seraya mengecilkan volume suaranya. "Ren?" bisik Sheira tak yakin. Arra mengangguk. "Masih inget misi kita waktu kumpul di rumah gue kan?" "Hemm, Ra.. Kayaknya gak usah aja deh. Ren kayaknya gak tertarik sama gue. Negur aja gak pernah. Apalagi ngobrol." Dengan wajah tidak nyaman, Vello segera menolak keinginan Arra barusan. "Iya Ra. Bakal percuma usaha kita. Lebih baik misinya kita batalin aja." Kali ini Chika ikut berkomentar. Arra menatap kedua temannya itu dengan sorot bingung. "Kalian kenapa sih? Minggu kemarin kalian yang niat banget buat jalanin misi ini. Kok sekarang jadi gak bersemangat gini." "Bukan begitu Ra. Tapi.." Vello melirik Sheira yang masih diam. "Tapi apa?" "Gak, gak apa-apa. Lupain aja misi kita." Vello menggeleng lemah. "Lo yakin Vell? Kok mendadak lo sama Chika jadi berubah pikiran gini. Apa ada sesuatu yang kalian sembunyiin dari gue?" Arra menatap kedua sahabatnya itu dengan curiga. "Gak ada yang kita sembunyiin kok. Ya kan Chik?" Vello berpaling menatap Chika meminta dukungan. Yang ditanya hanya balas mengangguk mengiyakan. "Pokoknya sabtu nanti Ren harus ikut!" Arra tetap bersikeras. "Ikut kemana?" Sosok Bastian mendadak sudah berada di dekat meja keempat gadis itu. "Gue gak diajakin juga?" "Nyamber aja deh lo," dengus Chika begitu dilihatnya Bastian sudah mendudukkan tubuh disisinya. Gadis itu sedikit heran melihat Bastian bisa mendengar bisik-bisik mereka sedari tadi. Dasar penguping! Bastian nyengir. "Kalian lagi bahas ladies night lagi kan? Jadi Ren diajak dan gue enggak nih.." "Kalau lo diajak, bisa-bisa acaranya berantakan tau gak. Gue ogah ya liat elo sama Ren ribut nantinya," desis Chika seraya melotot kesal pada laki-laki disampingnya itu. "Kapan gue pernah ribut sama Ren, kita sohib kok." Sambil berkata demikian, Bastian bangkit lalu berjalan ke meja Ren dan serta merta merangkul pundaknya. "Iya kan Ren?" Bastian memamerkan senyum lebarnya kepada bodyguard itu. Ren hanya balas menatap tajam. "Bilang 'iya' kalau lo gak mau rahasia lo gue bongkar saat ini juga," bisik Bastian di telinganya. "Ya," jawab Ren setelah beberapa detik terdiam. Dari raut wajahnya jelas sekali terlihat bahwa ia terpaksa mengatakannya. "See?" Bastian kembali menatap keempat gadis di depannya dengan senyum penuh kemenangan. "Oke lo boleh gabung. Setelah gue pikir-pikir, agak aneh kalau Ren sendiri yang cowok di antara kita. Seenggaknya kalian bisa semakin mempererat ikatan 'sohib' diantara kalian itu." Bastian terkekeh geli begitu mendengar kata 'cowok' yang diucapkan Arra. "Gue boleh ajak Deena juga? Dia kemarin cerita sama gue kalau mau minta maaf sama kalian tapi gak tau gimana caranya. Kalau dia ikut, mungkin kalian justru bisa jadi teman." "Deena? No.. No.." Arra cepat-cepat menggeleng begitu mendengar nama musuhnya itu disebut. "Please?" Bastian memohon sambil menyatukan kedua telapak tangannya ke depan d**a. "Deena nyesel banget atas kejadian kemarin. Dia mau perbaiki kesalahannya tapi bingung gimana caranya. Kasih dia kesempatan untuk minta maaf sama kalian. Deena gak seburuk yang kalian bayangin." "Udahlah Ra, gak ada salahnya kan kita terima dia. Mungkin Bastian bener. Dia tulus mau minta maaf. Jangan jadi orang pendendam." Vello berusaha menasehati sahabatnya yang terlihat masih ingin menolak itu. "Oke, tapi kalau dia sampe bikin masalah lagi.." "Naah gitu dong sayaaang.." Vello tersenyum lalu dirangkulnya bahu sahabatnya itu dengan senang. "Apa yang saat ini lo rencanain?" Ren yang akhirnya mulai mengerti rencana keempat gadis itu bertanya perlahan kepada Bastian, hampir tidak terdengar. "Rencanain? Gue cuma mau have fun sama kalian," sahut Bastian dengan senyum mengembang. "Gak usah pura-pura bodoh. Gue tau lo sedang rencanain hal busuk!" "Tenang bro.. Rahasia lo aman di tangan gue. Santai, ok?" Bastian memukul pelan d**a Ren dengan tinjunya layaknya hal yang biasa ia lakukan pada teman-teman prianya yang lain. Setelah melempar senyum kepada keempat gadis lainnya, ia lalu berjalan keluar dari kantin. *** Winarno tengah duduk diruang tamu rumahnya ketika Ren datang. Tangannya sibuk membolak-balikkan beberapa lembar kertas. Sesekali matanya menerawang seperti memikirkan sesuatu. "Bapak sudah pulang?" sapa Ren begitu dilihatnya pria yang sudah dianggapnya ayah itu tidak menyadari kedatangannya. Winarno menoleh kaget ke arah pintu. "Ren, sini duduk," pintanya. Dengan sopan, Ren merebahkan bokongnya ke sofa ruang tamu mereka. "Itu rekam medik punya Ren, Pak?" Winarno mengangguk mengiyakan. "Bapak akan simpan ini di brankas." Tangan Winarno bergerak membereskan kumpulan kertas-kertas yang berserakan itu lalu memasukkannya ke dalam sebuah map berwarna hijau. "Apa Tuan besar masih di kantor?" tanya Ren sambil memperhatikan map yang berada di tangan ayahnya. Winarno kembali mengangguk. "Bapak pulang lebih awal karena ada pesan dari Tuan besar yang harus Bapak sampaikan langsung ke kamu." "Pesan?" ulang Ren. "Apa itu?" "Kamu tau anak perusahaan Prismax Group yang ada di Bangkok kan?" Ren mengangguk. "Karena baru dibangun, jadi ada beberapa masalah disana yang harus ditangani langsung oleh Tuan besar." Winarno diam sejenak. "Tuan besar ingin kamu mengawalnya selama beliau berada disana." Ren terhenyak di kursinya. Bukan karena ia ingin menolak permintaan khusus itu, tapi begitu mendengar nama tanah kelahirannya disebut dan ia diminta untuk berkunjung kesana, mau tidak mau bayangan masa lalu yang kelam itu kembali menghantuinya. "Bapak tau kamu berat melakukannya. Tapi ini demi keselamatan Tuan besar." Seolah mengerti apa yang dirasakan oleh anak angkatnya, Winarno kembali berbicara. "Cuma kamu satu-satunya pengawal yang tepat. Selain karena kamu mengenal dengan baik kota itu.. Tuan besar merasa masalah disana berkaitan erat dengan saingan bisnisnya sejak lama. Sangat tidak aman jika kita membiarkan Tuan besar seorang diri disana dengan pengawalan seadanya." Ren mendesah nafas berat. "Bagaimana dengan Sheira?" "Akan ada bodyguard pengganti untuknya sementara kamu pergi." "Kapan keberangkatannya?" tanya Ren lagi. "Minggu depan," jawab Winarno mantap. "Baik, aku mengerti." *** "Vello, gimana?" Arra menyikut lengan Vello yang sesekali mencuri pandang pada sosok dingin yang berdiri tak jauh dari tempatnya. "Gimana apanya?" Vello pura-pura tak mengerti. Tangannya sibuk mengambil beberapa gelas kosong dari dalam lemari. "Alaaah.. Muka lo itu sok lugu", ledek Arra lalu tertawa geli. Ia lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Vello. "Itu, si Ren. Baru kali ini kan lo ngelihat dia tanpa seragam sekolah." Vello kembali mengerling sekilas ke arah Ren yang masih setia berdiri tak jauh dari mereka. "Terus kenapa?" balas Vello. "Yakiiin mau batalin misinya?" goda Arra. Belum sempat Vello menanggapi pertanyaan Arra, Deena yang baru saja muncul dari ruang tamu bergerak mendekati keduanya. "Misi apaan yang mau dibatalin Ra?" Bibirnya menyunggingkan senyum yang dibuat semanis mungkin. Melihat kehadirannya, Arra langsung mencebikkan bibirnya. Sebenarnya Arra masih sedikit jengkel dan belum bisa memaafkan sepenuhnya senior itu. Karena permintaan Vello lah ia dengan terpaksa mau menerima cewek itu untuk ikut di acara ladies night mereka kali ini. "Sheira sama Chika mana Kak?" Vello menyambut kedatangan Deena dengan senyuman khasnya yang manis. "Masih nyariin topless kosong tuh." Deena menunjuk ke arah ruang tengah dengan ujung dagunya. "VELLOOOOO..!!! GUE GAK KETEMU TOPLESS YANG UKURANNYA-" Chika muncul diikuti oleh Sheira. Mendadak ucapannya terhenti begitu tersadar bahwa ada seorang laki-laki di sekitar mereka. Ia lalu berdehem sebentar lalu berkata, "Vell, gue gak ketemu topless yang lo maksud. Yang ini bukan sih?" Chika mengangkat sebuah topless kecil dengan ukiran bunga mawar di sisi-sisinya. Suara cemprengnya ia ubah menjadi sehalus mungkin. Meskipun terlihat diam diluar, ternyata diam-diam Chika suka teriak-teriak ketika berada diantara teman-temannya. "Pake yang itu aja gak apa-apa Chik." Vello yang bertindak sebagai tuan rumah mau tidak mau cukup disibukkan di bagian dapur. Untungnya teman-temannya yang malam ini bertamu ke rumahnya mau membantunya dengan sukarela. "Sini biar gue yang bawa." Tahu-tahu Ren sudah berdiri di samping Chika. Matanya yang tajam menatap Sheira yang sedari tadi membawa dua topless kue yang lain. Tangannya terulur mengambil topless-topless itu dari tangan Sheira kemudian membawanya ke atas counter panjang yang memisahkan dapur dengan ruang makan. "Lo ngapain masih disini?" Pertanyaan dingin Sheira yang ditujukan untuk bodyguardnya itu kontan membuat teman-temannya melirik sedikit kearah pasangan itu dengan diam-diam. "Bantuin lo." Ren menjawab singkat tanpa menghilangkan aura dinginnya. "Gak perlu. Lo bantu Bastian aja di luar." "Gue alergi deket-deket dia." "Gue risih deket-deket lo." "Gue enggak." "Gue iya." "Lo maksa?" "Gue harus maksa?" Teman-teman Sheira menatap terpana melihat perdebatan kecil antara nona muda dan sang bodyguard itu. Arra bahkan hampir terkikik geli melihat ekspresi Sheira yang biasanya selalu tenang menjadi berkerut kesal. Ia juga cukup dibuat terhibur dengan wajah dingin Ren. Meskipun sedang berdebat, bodyguard itu masih sanggup mempertahankan ekspresinya. Ia juga baru mengetahui jika Sheira ternyata bisa dongkol juga. Selama ini yang ia lihat cewek itu datar-datar saja tanpa emosi. "Elo kan co-wok. Harusnya ga ngurusin pekerjaan dapur. Lebih baik bantu Bas bakar jagung," sela Deena tiba-tiba sambil menekankan kata 'cowok' pada kalimatnya. Jika yang lain tidak berani melerai perdebatan antara majikan-bodyguard itu, Deena dengan santainya justru berusaha memisahkan keduanya. Mendengar ada yang menyela, keduanya serempak menoleh menatap Deena. Berbeda dengan Sheira yang menatap Deena seolah gadis itu adalah nenek sihir yang harus ia jauhi, Ren menatap Deena lurus-lurus. Matanya seolah mencari-cari sesuatu disana. "Baik," ucapnya akhirnya. Bastian tengah sibuk mengipas beberapa jagung di atas pemanggang saat Ren berjalan mendekatinya. Sorot lampu taman yang cukup terang membuat ekspresi dingin Ren terlihat semakin kentara. Ia memasukkan kedua tangannya ke kantong jaketnya sambil memandang punggung Bastian. "Lo gak berniat buat bantu gue?" Seolah menyadari kehadiran Ren, Bastian bertanya tanpa membalikkan tubuhnya. "Hm". Dengan terpaksa, Ren bergerak mengambil beberapa jagung lalu mulai mengolesinya dengan campuran mentega, s**u dan coklat. Tangan Bastian bergerak mengambil jagung yang sudah disiapkan Ren lalu meletakkannya di atas panggangan. "Lo bilang apa sama Deena?" Kini tangan Ren beralih membolak-balikkan jagung agar terbakar sempurna. "Apa maksud lo?" tanya Bastian tanpa mengalihkan matanya dari jagung yang sedang dibakar. "Gak usah pura-pura. Lo kasih tau dia kan?" "Kasih tau apa?" Dahi Bastian saling bertaut. "Oh! Kalau lo itu ce-" "Apa sebenarnya mau lo?" potong Ren cepat. "Bukannya sudah jelas? Gue mau Sheira dan Prismax Group." Sambil berkata demikian, Bastian mengangkat jagung yang sudah matang lalu meletakkannya di atas piring. "Hei.. Ini minumannya." Mendadak Vello muncul membawa nampan berisi beberapa gelas minuman. Bastian bergegas mendekatinya lalu mengambil nampan itu dari tangan Vello. "Yang lain mana Vell? Jagungnya udah siap nih. Tar keburu dingin gak enak lagi." "Tuh lagi siapin cemilan." tunjuk Vello ke arah dapur. "Non Vello". Tiba-tiba asisten rumah tangga Vello muncul dari balik pintu yang menghubungkan taman belakang dengan ruang makan. "Kenapa Bi?" "Ada tamu Non. Katanya temen Non. Tapi.." "Ya udah aku lihat dulu ya Bi. Bibi tolong bantuin Arra dan lainnya di dapur." Sehabis berkata demikian, Vello lantas berlalu. "Lo gak kasihan sama cewek itu?" Bastian kembali bersuara setelah Vello menghilang. "Apa maksud lo?" tanya Ren dingin. "Sekarang elo yang pura-pura gak tau." Bastian tergelak lalu menatap Ren dengan sorot serius. "Lo sebenarnya sadar kan kalau cewek itu suka sama lo?" Ren tak bereaksi. "Bisa lo bayangin gimana perasaannya nanti kalau tau orang yang dia taksir ternyata perempuan?" tanya Bastian sambil meletakkan salah satu tangannya ke bawah dagu. "Jaga mulut lo," desis Ren tajam. "Ops, oke gue diam." Bastian tersenyum licik lalu meletakkan telunjuknya ke bibir. Ia melirik Sheira dan yang lainnya yang kini datang menghampiri untuk bergabung dengan mereka. "Baru sebentar tapi kayaknya kalian udah makin akrab aja," sindir Arra yang tadi sempat melihat kedua laki-laki itu berbicara dengan serius. "Iya dong. Kita kan fren." Bastian lantas merangkul bahu Ren dengan salah satu tangannya yang bebas. "Humm, bagus deh." Arra mengangguk lalu duduk di salah satu kursi. "Kalian kelihatan kaya sohib lama." Chika ikut berkomentar. "Guys.. ", suara Vello membuat keenam anak muda itu menoleh kaget. "Kita kedatangan tamu." Tiba-tiba saja Vello muncul ditemani oleh seseorang. Mata Chika hampir saja terlepas karena kaget melihat tamu yang tak di undang itu. Sementara Arra hanya bisa menahan nafas. Dennis!! "Hai Kak!" Bastian mengangkat tangannya, terlihat santai menyapa tamu yang tak diundang itu. *** "Elo ngundang Dennis? Demi langit dan bumi! Kok dia bisa tau acara kita malam ini?" Arra memberondong Bastian dengan berbagai pertanyaan begitu Dennis izin ke toilet. "Tadi pas di sekolah dia kebetulan denger obrolan gue sama Deena yang mau kerumah Vello. Dia tau-tau nyamber aja dan minta diajak. Masa gue nolak?" Bastian dengan santainya menjawab tanpa merasa bersalah. "Gak apa-apa kok Ra. Kan makin rame makin seru." Vello yang melihat Arra hendak protes lagi langsung membungkam mulut temannya itu dengan ucapannya. "Bukannya dia ada acara awards-awards gitu di stasiun tv?" Kali ini Chika mau tidak mau menyuarakan keheranannya. "Dia bilang dia bakal pulang duluan demi mampir kesini." "Lo gak terganggu? Dia kan.. Saingan lo." Chika menatap Bastian yang masih terlihat santai. "Enggak," jawab Bastian dengan cuek. "Karena gue tau pada akhirnya gue lah yang akan menangin hati Sheira." Sambil berkata demikian, Bastian melemparkan senyum mautnya kearah Sheira. "Pede lo kebangetan!" Arra menimpuknya dengan batang jagung yang sudah habis. "Aduh! Sadis juga lo Ra!" Bukannya marah, Bastian justru tertawa geli. "Gue ngantuk." Sheira melirik jam tangannya sekilas. Sudah pukul 1 dini hari. Tidak terasa obrolan mereka cukup panjang hingga waktu berlalu seakan begitu cepat. "Ya udah yuk ke kamar. Bi Asih juga udah siapin kamar buat kalian," ajak Vello pada tamu-tamunya. Vello menatap Bastian dan Ren sekilas lalu bangkit berdiri. Melihat para gadis itu mulai beringsut dari duduknya, Ren ikut-ikutan bangkit dan berjalan mengikutinya. "Mau kemana lo?" Sheira meliriknya. "Nemenin lo," jawab Ren singkat. "Gue mau tidur." "Terus?" "Gak usah ikut." "Gue juga harus nemenin lo di saat tidur." "Gila!" Sheira kembali berjalan beberapa langkah. Ren mengikutinya. "Berhenti ikutin gue!" seru Sheira jengkel. "Gak mau." "Ini perintah!" Rona kemerahan mulai menyebar di wajah Sheira. "Perintah ditolak." "Uhm.. Ren.." Arra yang melihat hal ini ikut bersuara. "Kayaknya elo memang harus ngebiarin Sheira tidur sama kita deh. Elo kan cowok.." Suara Arra terdengar takut-takut. Ia pernah melihat bagaimana Deena dibuat tunduk hanya dalam semenit oleh cowok itu. Hal ini tentu membuat Arra sedikit grogi jika harus berbeda pendapat dengan sang bodyguard. "Gue bisa tidur di depan pintu." Ren masih bersikeras. "Sinting!" Lagi-lagi Sheira memaki. "Siapa yang sinting?" Dennis yang baru saja keluar dari kamar mandi terlihat kebingungan. Ia melihat pemandangan aneh di depannya. Sheira dan Ren yang tengah berdiri berhadap-hadapan. Wajah Sheira terlihat ingin meledak. Wajah Arra yang terlihat takut. Vello, Chika dan Deena yang menatap keduanya dengan mata tak percaya dan Bastian yang masih duduk dengan tenang. "Lo bisa tidur sama Bastian dan Kak Dennis di kamar tamu. Sheira gak akan kenapa-kenapa. Ada gue dan yang lain." Vello ikut berkomentar. "Gue gak mau," tolak Ren dengan intonasi yang masih sama, dingin. "Terserah!" Sheira membalikkan tubuhnya. Ia lalu berjalan ke lantai atas diikuti teman-temannya yang masih speechless. Deena yang melihat hal itu melirik Ren sekilas lalu berbalik memandangi punggung Sheira dengan senyum sinis. ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD