TUJUH

3345 Words
Ren menatap dalam-dalam gadis di depannya. Mata gadis itu balas menatapnya tidak kalah intens. Ada sorot aneh dari pancaran mata itu yang membuat hati Ren seolah ingin memandanginya berlama-lama. "Ren?" Suara gadis itu sontak membawa pikiran Ren yang sempat terbang kembali ke dalam sangkarnya. Dengan cepat, Ren bergerak membuka ikatan di kedua pergelangannya. Setelah memastikan tangan-tangan mungil itu tidak terluka, Ren berbalik memeriksa wajahnya. "Lo gak apa-apa?" Ren meletakkan telapak tangan kanannya di pipi si gadis, mengusapnya perlahan dengan ujung ibu jarinya. Gadis itu, Sheira Jeevana Miller, mengangguk pelan. Matanya tak lepas memandangi Ren. Tangannya yang baru terbebas bergerak menyentuh punggung tangan Ren yang berada dipipinya. "Elo kenapa bisa ada disini?" "Gue terima panggilan dari lo." Ren menunjukkan smartphonenya yang masih terhubung dengan panggilan dari Sheira. "Gue sempet denger percakapan lo dengan Om Surya. Setelah ngelacak lokasi lo lewat GPS, gue akhirnya sampe disini." "Tapi.. Gue tadi ngehubungin Om Winarno.." Sheira terlihat mulai bingung. "Mungkin lo salah tekan tombol speed dial nya." "Bukannya.. Lo lagi di Bangkok." Seolah tersadar, Sheira terlihat semakin bingung. Tidak seharusnya bodyguardnya itu berada disini sekarang, saat ini. Ren seharusnya masih berada di Thailand menemani ayahnya. "Semalam Tuan besar di serang orang asing. Untuk jaga-jaga supaya gak terjadi serangan lanjutan, kami pulang dengan pesawat pagi tadi," beritahu Ren sambil mundur selangkah. Mencoba membuat jarak antara dirinya dan Sheira. "Papa diserang? Gimana keadaannya? Dia baik-baik aja kan? Siapa penyerangnya? Apa satu komplotan dengan Om Surya ini?" Mendengar berita sang ayah diserang, Sheira seakan lupa akan apa yang baru saja menimpanya. Wajahnya langsung berubah cemas. "Tuan besar baik-baik aja. Begitu kami sampai di bandara, Bapak sudah menjemput dan membawa Tuan besar pulang. Tuan besar cuma kecapekan karena semalaman gak tidur. Semalaman kami di interogasi di kantor polisi selama hampir 7 jam. Penyerangnya mengaku ke polisi disana kalau mereka cuma berniat untuk mencuri," jelas Ren berusaha menenangkan si nona muda. "Mencuri? Gak mungkin!" Sheira menggeleng tidak percaya. Mustahil rasanya jika ada pencuri yang secara kebetulan berada di hotel tempat ayahnya menginap. Ren mengangguk. "Gue juga berpikir begitu. Itu pasti akal-akalan mereka untuk menutupi pelaku sebenarnya. Itu sebabnya Tuan besar pulang lebih awal. Gue takut akan ada serangan susulan." "Aneh..," gumam Sheira seolah pada dirinya sendiri. "Jangan mikir macam-macam dulu. Lebih baik kita pulang sekarang." Ren kemudian melepaskan tangannya dari pipi Sheira. Ia lalu mengamit tangan Sheira dan mengajak gadis itu berjalan ke arah pintu. Baru tiba di mulut pintu gudang, beberapa orang petugas polisi berpakaian preman dan berpakaian dinas datang menghampirinya. "Maaf, saya menerima laporan jika terjadi percobaan penculikan disini." Seorang polisi berkumis tipis langsung menghampiri Ren dan Sheira. Ren mengangguk pada si polisi. "Ya, itu penculiknya Pak. Tolong di tangkap," tunjuk Ren kearah Surya dengan ujung dagunya. Polisi berkumis tipis itu langsung memberi isyarat dengan anak buahnya untuk segera mengamankan Surya yang masih tergeletak pingsan. "Terima kasih atas bantuan Saudara..." "Renandaz". "Saya Khaelani". Polisi itu menjabat tangan Ren. "Terima kasih atas bantuan Saudara Renandaz karena telah meringankan pekerjaan kami meringkus penculik ini. Kami butuh kesaksian Saudara dan korban.." Mata polisi itu terpaku sejenak menatap Sheira. "Anda.. Sheira putrinya Jordy Miller?" Sheira mengangguk. "Anda tenang saja. Kami pasti akan menuntaskan kasus ini dengan segera. Ayah Anda adalah seseorang yang sangat patuh hukum. Kami akan berusaha semaksimal mungkin demi kenyamanan Anda dan keluarga," kata sang polisi lagi "Terima kasih Pak," jawab Ren singkat. "Tolong jangan biarkan seorang wartawan pun menganggu Sheira. Kami akan memberikan konferensi pers secepatnya." Sambil berkata demikian, mata Ren mengawasi halaman bangunan usang itu lewat pintu. Ada beberapa wartawan yang ikut hadir untuk meliput jalannya proses penyergapan. Beberapa wartawan bahkan ada yang sedang mengambil foto dari Porsche Cayenne Sheira yang masih terparkir dihalaman. "Tentu. Kami akan membantu sebisa kami." Setelah berkata demikian, Khaelani menyuruh beberapa orang anak buahnya untuk mengawal Ren dan Sheira ke mobil. Ren melirik Sheira yang masih berdiri disampingnya. Dengan cepat, ia melepaskan jaketnya dan meletakkannya menutupi kepala gadis itu. Dengan ditemani beberapa orang petugas polisi, Ren membawa Sheira melewati kerumunan wartawan yang ingin mewawancarai atau sekedar mengambil gambar mereka. Ren sendiri cukup bingung mengenai betapa cepatnya para wartawan itu mendapat informasi mengenai kasus percobaan penculikan ini. Tidak ada seorang pun yang tahu kecuali polisi. Sepertinya kerumunan wartawan ini memiliki banyak koneksi di kepolisian sehingga bisa bergerak cepat untuk mencari berita. Ketika telah berada di dalam mobil, Sheira yang emosinya mulai kembali stabil langsung menyadari balutan perban di kedua lengan Ren. "Tangan lo kenapa?" Tanpa Sheira sadari, jari-jarinya bergerak mengusap perban di salah satu lengan Ren. "Hm?" Ren menoleh kaget. Tanpa mengubris pertanyaan Sheira, ia langsung menginjak pedal gas Cayenne putih itu menuju jalan besar. "Ren!" Merasa diabaikan, Sheira berseru memanggilnya dengan kesal. "Apa?" Ren menoleh sekilas ke arah Sheira lalu kembali berkonsentrasi menyetir. "Tangan lo kenapa?" tanya Sheira menuntut penjelasan. "Oh ini.." Ren mengusap lengannya yang terluka sekilas. "Kena benda tajam waktu ngelawan orang-orang yang nyerang Tuan besar semalem." "Benda tajam? Pisau?" tanya Sheira sambil membayangkan dengan ngeri pisau seperti apa yang mampu menembus lengan Ren yang kokoh. "Bukan. Kayaknya semacam pedang samurai yang ukurannya pendek gitu. Gue gak pernah lihat yang seperti itu di Indonesia," sahut Ren enteng. Sheira meraih salah satu lengan bodyguardnya kemudian memperhatikannya dengan seksama. "Ini belum diobatin?" "Sudah." "Ini darahnya belum kering," kata Sheira sambil memperhatikan luka tersebut. "Gue gak sempet kasih obat merah lagi tadi pagi." "Luka begini cuma lo obatin pake obat merah?" Sheira langsung menghempaskan lengan Ren dengan kesal. "Gue cuma punya itu." "Puter arah. Kita ke rumah sakit sekarang," perintah Sheira tiba-tiba. Ia tidak ingin luka di kedua lengan bodyguardnya itu semakin parah jika dibiarkan saja. "Eh?" Ren menoleh kaget menatap Sheira. "Kita sudah hampir sampe rumah." "Puter arah!" perintah Sheira lagi semakin memaksa. "Enggak." "Puter!" "Enggak." "Keras kepala!" "Memang." "Puter arah atau gue loncat sekarang!" ancam Sheira sambil memelototi sang bodyguard. "Lo maksa?" "Gue harus maksa?" "Ckk..," decak Ren kesal. Ia akhirnya memutar kembali mobil yang dikemudikannya menuju rumah sakit yang tadi sempat mereka lalui. Jika sudah begini, ia tidak bisa membantah kemauan Sheira. Gadis itu bisa melakukan hal nekat jika ia benar-benar menginginkannya. *** Sheira baru saja turun dari mobilnya di pelataran parkir SMA Harapan Bangsa ketika Dennis dengan terburu-buru menghampirinya. Pria itu hampir saja melupakan kehadiran Ren jika saja Ren tidak dengan cepat menghadangnya. "Minggir!" tegur Ren sambil berdiri di hadapan Dennis. "Gue mau ngomong sama Sheira sebentar." Dennnis berusaha berkelit dari hadapan Ren. Namun Ren bergerak lebih cepat. Ia lebih dulu menghadang Dennis sebelum aktor muda itu berhasil melepaskan diri dari pandangannya. Ren kemudian melirik Sheira yang baru saja menyandang tas sekolahnya ke punggung. Dengan anggukan kecil dari Sheira, dengan terpaksa Ren akhirnya membiarkan Dennis untuk mendekati sang nona muda. "Gue lihat di berita pagi ini kalau seorang putri tunggal dari XX Group diculik sama bodyguard pribadinya. Itu bukan elo kan?" todong Dennis begitu mengiringi langkah gadis itu menuju kelas. "Itu memang gue," jawab Sheira tenang. "Apa?! Lo gak apa-apa? Penculiknya ngapain elo?" Wajah Dennis langsung berubah terkejut sekaligus khawatir. Disentuhnya kedua bahu Sheira kemudian memeriksanya dari atas hingga ke bawah. "Jangan sentuh dia," peringat Ren yang berjalan di belakang keduanya. "Ada yang luka?" Tanpa mengacuhkan ucapan Ren, Dennis kembali bertanya pada Sheira dengan wajah semakin khawatir. "Gue bilang, jangan sentuh dia!" Belum sempat Dennis berkelit, Ren sudah mendorong tubuhnya hingga hampir terjengkang. Beberapa orang siswa yang kebetulan lewat, menonton adegan itu sambil berbisik-bisik. "Ren!" seru Sheira berusaha menahan langkah Ren yang terlihat masih ingin mendorong Dennis lagi. "Lo beruntung karena ini di sekolah. Gue bisa bales lo lebih dari ini," geram Dennis marah. Ia tidak terima mendapat perlakuan semacam ini dari seorang bodyguard. "Kenapa kalau di sekolah? Lo takut aib lo bakal tersebar karena lo dihajar sampe habis oleh adik kelas?" tanya Ren memancing. BRUUGH!! Sebuah pukulan mendarat dengan sukses di pipi Ren. Rona kemerahan langsung menghiasi wajahnya yang putih bersih. Ren tersenyum mengejek sambil mengusap pipinya yang terkena pukulan Dennis barusan. Seolah menunjukkan bahwa pukulan itu tidak bisa membuatnya merasa sakit apalagi terjatuh. Dennis kembali bergerak mendekati Ren. Tangannya yang terkepal bersiap hendak melayangkan pukulan susulan. "Kak Dennis! Jangan pernah pukul Ren lagi!" Sheira langsung berteriak murka begitu menyadari apa yang baru saja dilihatnya. Tubuhnya kemudian bergerak menghampiri Ren, memeriksa pipi Ren sejenak kemudian berganti ke kedua lengannya yang masih diperban. "Lengan lo gak apa-apa?" Ren menunduk memperhatikan Sheira dengan pandangan aneh. Tidak biasanya gadis itu begitu khawatir terhadapnya. Apakah karena ia sedang terluka? "Gue cuma sentuh bahu lo, Shei. Tapi bodyguard lo ini dengan lancang dorong gue. Sikapnya berlebihan!" seru Dennis berusaha menjelaskan. Ia tidak ingin membuat Sheira kesal padanya hanya karena hal seperti ini. "Saya memang gak suka kalau ada orang lain yang dengan beraninya coba sentuh saya." Sheira berbicara sambil matanya tak lepas memperhatikan pipi dan kedua lengan Ren yang di perban. "Lo belain bodyguard ini daripada gue, Shei? Lo lupa kalau kemarin lo baru aja diculik oleh seorang bodyguard?" tanya Dennis dengan pandangan mencela ke arah Ren. Mendengar pertanyaan Dennis, Sheira yang masih sibuk memeriksa luka di tangan Ren langsung berbalik menatap aktor muda itu. "Jangan karena saya ngebiarin Kak Dennis selalu ada di sekitar saya selama beberapa hari ini Kak Dennis jadi merasa punya hak atas saya. Hubungan kita hanya sebatas senior dan yunior Kak. Jadi Kak Dennis gak punya hak untuk mengatur atau mengurusi hidup saya. Tentu aja saya lebih membela Ren yang sudah bertahun-tahun setia di sisi saya daripada seorang kakak kelas yang baru beberapa hari hadir di hidup saya." Dennis terlihat shock mendengar kalimat Sheira. Untuk pertama kalinya, pujaan hatinya itu berbicara padanya lebih dari satu kalimat. Namun sialnya, kalimat yang dilontarkannya cukup membuat hati Dennis retak. "Lo gak suka disentuh orang lain, tapi lo ngebiarin Ren nyentuh lo?" tanya Dennis merasa tidak terima. Belum sempat Sheira menjawab, Ren menahannya. "Udah Shei. Kita jadi bahan tontonan satu sekolah..." Ren menyentuh lengan Sheira perlahan. Tanpa mempedulikan Dennis yang masih terlihat kesal, Ren membawa Sheira menuju kelas mereka sambil terus memelototi para siswa yang menonton kejadian tadi. "Lengan lo gimana?" "Apa?" Ren balik bertanya. Ini sudah kesekian kalinya Sheira bertanya mengenai kondisi tangannya. "Lengan lo..," desis gadis itu lagi. "Iya, lengan gue baik-baik aja." Mereka tiba di pintu kelas dengan genggaman tangan Ren yang masih berada di lengan Sheira. Pemandangan yang tentu saja membuat teman-teman sekelas mereka, termasuk Vello, Arra dan Chika berkerut heran. Tidak biasanya Ren dan Sheira berjalan berdampingan sedekat ini. Ditambah lagi kemunculan Ren yang sudah 3 hari izin dari sekolah dengan kedua lengan yang dibalut perban. "Gue gak mau bodyguard gue gak bisa lindungin gue hanya karena tangannya luka." Sehabis berkata demikian Sheira membuang wajahnya kearah lain, menghindari tatapan Ren yang melihatnya dengan aneh. Ren menghela nafas kemudian mendudukkan Sheira di kursi. Setelah itu ia berjongkok menghadap kedua lutut gadis itu dan mengusapnya perlahan. "Meskipun tangan gue luka, gue masih bisa jagain lo. Gak usah cemas." Setelah berkata demikian, Ren bangkit berdiri lalu berjalan menuju kursinya. Sheira merasa wajahnya mendadak memanas mendapat perlakuan dari Ren barusan. Ia lalu pura-pura sibuk mencari aktivitas lain untuk mengusir perasaan aneh yang mendadak merayapi hatinya. Ren berlutut di hadapannya. Ren berlutut untuknya. Ren berlutut. Kata-kata itu terus terngiang dalam pikirannya. Seisi kelas yang melihat kejadian itu langsung berseru heboh melihat pemandangan barusan. Sang Ksatria Pelindung dan Tuan Putri yang cantik mengumbar kemesraan di kelas pagi-pagi. Beberapa dari mereka bahkan sempat mengambil foto dimana Ren berlutut di kaki Sheira. Berbanding terbalik dengan suasana kelas yang ramai, di salah satu sudut tanpa ada yang menyadari, terdapat sepasang mata yang menatap Ren dengan sorot penuh kebencian. *** "Gue gak salah denger? Kak Dennis sama Ren berantem?!" seru Arra tak percaya. Ia hampir saja tersedak es teh manisnya. Ia begitu terkejut begitu mendengar Sheira memberitahu kejadian pagi tadi. "Hebat lo Shei. Belum ada satu bulan lo disini, tapi udah berhasil bikin dua cowok keren berantem ngerebutin lo," celetuk Chika. "Bukan dua, tapi tiga. Inget, masih ada Bastian," ralat Vello yang diikuti anggukan setuju oleh Arra. "Kalau Bastian sama Kak Dennis, mungkin. Tapi Ren? Dia cuma-" "Bodyguard!" timpal ketiga temannya berbarengan. "Please deh Sheira.. Sampe kapan lo bilang kalau Ren itu cuma bodyguard lo?" tanya Chika sambil memutar kedua bola matanya dengan malas. "Sampe Ren direbut cewek lain dulu kali Chik," seloroh Arra sambil mengaduk-aduk es teh manisnya. Siang itu suasana kantin yang biasanya ramai oleh para siswa cukup sepi. Memang saat itu bukanlah jam istirahat sehingga keempat siswi SMA itu bisa dengan bebas mengobrol. Dikarenakan kelas X-1 baru saja menyelesaikan praktek olahraga mereka, Pak Saiful sang guru olahraga memberi waktu 15 menit untuk murid-muridnya beristirahat. Tentu saja hal ini dimanfaatkan oleh keempatnya dengan nongkrong di kantin yang masih sepi. "Tapi lo ngerasa ada yang aneh gak sih sama Ren?" Vello menatap Sheira sejenak, menunggu Sheira selesai meneguk minumannya. "Aneh?" ulang Sheira. Vello mengangguk. "Selama ini Ren gak pernah terlihat ngobrol sama temen-temen sekelas. Dia seperti.. Gak punya teman." Arra dan Chika yang mendengar ucapan Vello ikut mengangguk. "Dia selalu ngikutin kemana Sheira pergi. Dunianya cuma elo, Shei. Apa itu gak ngebuat lo risih?" "Gue gak pernah ngerasa seperti itu," jawab Sheira jujur. Selama ini ia memang tidak pernah merasa tidak nyaman setiap kali Ren berada di dekatnya. Bodyguard itu selalu tahu bagaimana memperlakukan Sheira dengan benar. "Padahal banyak yang mau berteman sama dia. Tapi dia justru menjauh." "Maksud lo Bastian, Vell?" tanya Arra. "Yap." Vello mengangguk. "Bastian salah satunya. Saat kejadian lo diculik si Surya, dia langsung ada nyelamatin lo. Padahal dia baru balik dari Thailand." "Itu karena begitu sampai bandara, dia langsung nyusul gue ke sekolah," jelas Sheira. Menurutnya tidak ada yang salah dengan Ren saat ini. "Gimana dengan Ren? Apa lo pernah mikirin perasaannya? Maksud gue, mungkin aja dia pernah ngerasa jenuh atau capek harus selalu ada di sisi lo". "Gak pernah meskipun cuma satu detik." Suara serak itu membuat keempat gadis itu menoleh kaget. Ren sudah berdiri di belakang mereka sambil mendudukkan tubuhnya di atas sebuah meja dengan tangan yang dilipat di d**a. "Ren!!" seru Chika dan Arra berbarengan. Wajah keduanya langsung pucat melihat kehadiran sang bodyguard. "Sejak kapan lo disitu?" Sheira tampak sama terkejutnya. "Sejak Vello bilang kalau gue aneh." Wajah Vello langsung terlihat tidak nyaman. "Maksud gue bukan begitu Ren. Gue gak ngejek lo aneh. Tapi-" "Gue ngerti," tukas Ren sambil mengangguk cepat. "Beneran, gue gak bermaksud-" Vello masih berusaha menjelaskan. Menurut Vello, membicarakan seseorang di belakang adalah salah satu hal yang tidak sopan. Apalagi jika orang yang dibicarakan tidak sengaja mendengarnya "Vello," ucap Ren menyebut nama itu. "Gue gak butuh siapapun untuk jadi teman gue. Buat gue, Sheira lebih dari cukup." "Eh?!!" seru Arra langsung kaget. Ditatapnya Ren dan Sheira bergantian dengan wajah tak percaya. "Ja.. Jadi bener kalau ada something di antara kalian?" "Some.. Thing?" Dahi Ren berkerut bingung. "Iya, cin-" Belum sempat Arra melanjutkan kalimatnya, lengannya langsung disikut oleh Chika. "Cin?" ulang Ren semakin tak mengerti. "Cin apa?" "Cyiiin maksud gue.. Iya, cyiiin. Heheheh." Arra langsung mempraktekkan gaya banci yang sering dilihatnya di Taman Lawang dengan mengangkat salah satu tangan dan menjentikkan jari-jarinya. "Oh.." Ren mengangguk. "Iya ada something di antara gue dan Sheira." "Apa?!!" seru Arra dan Chika berbarengan. "Yang Ren maksud itu semacam ikatan tidak kasat mata yang kuat antara gue dan dia." Sheira mengulang kembali kalimat yang pernah Ren katakan padanya. Ren kembali mengangguk mengiyakan. "Gue hidup hanya untuk ngelindungi Sheira. Gue gak butuh teman dan cinta." Sambil berkata demikian, Ren menatap Vello dengan tajam. "Jadi, Vello.. Gue minta maaf kalau gue gak bisa balas perasaan lo." Vello terpana. Ia tidak mengira bahwa Ren menyadari perasaannya selama ini. Ren bahkan menolaknya secara terang-terangan di depan teman-temannya. Wajahnya yang semula biasa saja mendadak semerah tomat. "Se.. Sejak kapan lo tahu tentang perasaan gue buat lo?" "Sejak lo jemput Sheira di ruang OSIS," jawab Ren tenang. "Jadi begitu.." Vello menundukkan wajahnya menahan malu. "Kalau Sheira gimana?" tanya Chika tiba-tiba. "Apa?" Ren menoleh memandang Chika. "Kalau misalnya bukan Vello, tapi Sheira yang suka sama lo. Gimana?" Chika kembali mengulang pertanyaannya dengan lebih jelas. Ren terdiam. Matanya kemudian berpaling menatap Sheira. Selama ini ia tidak pernah memikirkan kemungkinan itu. Bagaimana jika Sheira menyukainya? Apa yang akan ia lakukan? Haruskah ia menolaknya dan membuat gadis itu menangis? Tidak. Ren tidak dapat melakukannya. Ia tidak ingin melihat seseorang yang berarti dihidupnya itu terluka karena dirinya. Tunggu. Berarti? Sejak kapan ia menganggap Sheira sangat berarti untuknya? Sejak kapan ia memiliki perasaan semacam itu pada Sheira? Apakah ini berarti ia mulai menyukai gadis itu? Tidak. Tidak boleh. Ren sadar akan kondisinya. Perasaan itu tidak boleh menguasai hatinya. Perasaan terlarang. Ia dan Sheira sama-sama perempuan. Ren berharap perasaan yang dirasakannya ini murni karena tugasnya sebagai seorang bodyguard. "Ren?" panggil Chika begitu dilihatnya Ren masih terdiam. "Ya?" "Jadi gimana? Gimana kalau Sheira suka sama lo?" "Chika, pertanyaan lo itu.." sela Sheira yang merasa pertanyaan Chika sedikit berlebihan. "Elo diem dulu Shei. Pertanyaan gue ini bukan berarti lo bener suka sama Ren. Gue cuma penasaran pengen tau jawaban Ren." "Gue.." Kalimat Ren terputus. Ia kembali menatap Sheira. "Gue.. Gue gak akan nyakitin perasaannya." Mendengar jawaban Ren, Arra langsung menahan nafas. Diliriknya Sheira yang kini ekspresinya telah berubah gelisah. "Lo dengar sendiri kan Shei? Ren gak keberatan kalau lo suka sama dia." Bukannya menanggapi ucapan Chika, Sheira justru bangkit berdiri kemudian bergegas menghampiri Ren. Sheira pikir tidak seharusnya Ren mengatakan hal semacam itu pada teman-temannya. "Ikut gue!" Ditariknya tangan Ren dan membawanya ke sudut kantin. "Elo apa-apaan ngomong kaya gitu di depan temen-temen gue!" Sheira mulai menginterogasinya dengan kedua tangan bersidekap di d**a. "Gue cuma menjawab pertanyaan Chika dengan jujur." "Tapi lo makin nyakitin Vello!" seru Sheira semakin jengkel. "Oh ya?" "Mereka bakal mikir kalau lo suka sama gue!" "Maaf." "Tarik lagi kata-kata lo!" perintah Sheira padanya. "Gue gak mau." "Harus mau!" "Gue gak mau." "Harus!" paksa Sheira lagi. "Enggak." "Harus!" "Lo maksa?" "Gue harus maksa?" "Gue gak bisa," ucap Ren akhirnya. "Kenapa?" "Karena apa yang gue katakan tadi memang bener. Gue gak mungkin ngomong bohong ke mereka," desah Ren frustasi. "Karena gue memang gak bisa nyakitin lo." DEG!! Ucapan Ren langsung membuat Sheira tercekat. Lagi-lagi perasaan aneh itu muncul. Jantungnya mendadak berdetak tak teratur. Sheira juga bisa merasakan sesuatu bergerak-gerak di perutnya. Perasaan aneh apa ini? Seakan organ-organ ditubuhnya disengat semacam aliran listrik. Sheira menyukainya. Sheira menikmati perasaan yang dialaminya ini. "Sheira?" panggil Ren begitu dilihat wajah nona mudanya itu berubah memerah. Sheira menatap wajah di hadapannya dengan perasaan yang semakin aneh. Ia dapat merasakan wajahnya semakin memanas. Apa yang terjadi padanya? "Lo kenapa?" Ren menyentuh perlahan pipinya. Sheira menyandarkan tubuhnya ke dinding. Ia mulai merasakan kaki-kakinya tidak sanggup lagi menahan berat badannya. Sentuhan tangan Ren semakin membuat dadanya terasa sesak dan sulit bernafas. Degup jantungnya bahkan tidak karuan. Apa yang terjadi dengan dirinya? Ren yang melihat kondisi Sheira mendadak aneh, langsung mengangkat tubuh gadis itu ke dalam dekapannya. Ketiga temannya yang sejak tadi memperhatikan perdebatan kecil mereka langsung berlari mendekati Ren. "Sheira kenapa? Lo apain?" cecar Arra dengan sorot khawatir. "Shei, badan lo panas banget." Setelah menyentuh kening Sheira, Vello melirik Ren yang wajahnya terlihat cemas. "Gue gak apa-apa. Turunin gue!" Meskipun ia merasakan jantungnya berdetak semakin tidak karuan, Sheira masih tidak kehilangan akal sehatnya. Ia memukul bahu Ren agar segera menurunkannya. "Muka lo panas. Gue bawa lo pulang." "Gue baik-baik aja. Turunin gue!" Sheira masih berusaha melepaskan diri dari gendongan Ren. "Enggak." "Lengan lo masih sakit!" "Udah gak sakit." "Turun!" "Enggak." Tanpa menghiraukan permintaan Sheira, Ren semakin mempererat gendongannya. Dengan gaya 'bridal style', Ren membawa Sheira keluar dari kantin, melewati lapangan basket kemudian menuju tempat parkir. Untungnya saat itu para siswa dan guru sedang sibuk berada di dalam ruang kelas. Tidak banyak yang melihat kejadian Sheira yang dibopong oleh Ren kecuali teman-teman sekelas mereka yang masih duduk-duduk di pinggir lapangan. Melihat Ren yang tidak berniat untuk menurunkannya sebelum tiba di mobil, mau tidak mau Sheira terpaksa menyembunyikan wajahnya kebalik d**a bodyguard itu. Mencoba menahan malu akibat sorakan dari teman-teman sekelasnya yang melihat. Ini hal ternekat yang pernah dilakukan Ren padanya. Hal-hal kecil seperti memayunginya dengan seragam sekolah, melabrak senior yang mengganggunya, meminjamkan sepatu padanya, menghardik semua laki-laki yang mendekatinya, menggunakan tubuhnya untuk menahan serangan yang akan diberikan padanya belum seberapa dengan apa yang Ren lakukan saat ini. Untuk pertama kali dalam hidupnya, Sheira Jeevana Miller merasa sangat malu! ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD