DELAPAN

3027 Words
Winarno menghempaskan tubuhnya ke kursi rotan di teras rumahnya. Tangannya sesekali memijit pelipisnya, mencoba menghilangkan pusing akibat beberapa kejadian yang melanda keluarga majikannya. Pertama, Tuannya, Jordy Miller diserang oleh orang-orang tak dikenal. Kedua, Nona mudanya, Sheira hampir saja diculik oleh bodyguard yang selama ini cukup dipercayainya. Ketiga, ia harus membereskan kekacauan yang disebabkan oleh anak angkatnya di sekolah. Anaknya dilaporkan telah membuat kegaduhan dengan membawa Sheira pulang ke rumah tanpa izin dari pihak sekolah. Keempat, ia harus menenangkan para wartawan yang terus menerus menghubunginya untuk mengadakan konferensi pers mengenai p*********n yang dilakukan terhadap keluarga majikannya. Meskipun hanya berlangsung selama 30 menit, konferensi pers yang ia adakan itu cukup membuatnya lelah. Banyaknya pertanyaan wartawan membuat Winarno sedikit kebingungan menjawabnya. Ia tidak ingin publik terlalu mengetahui privasi keluarga Miller. "Bapak manggil Ren?" Winarno menegakkan kepalanya begitu suara anak angkatnya itu menyapa. Ren berdiri memandanginya. Meskipun selama ini ialah yang telah membesarkan Ren, Winarno masih tidak bisa memahami apa yang sebenarnya dipikirkan olehnya. Apapun yang dilakukan Ren terkadang membuat dirinya cukup terkejut. "Bagaimana latihan menembaknya tadi?" tanya Winarno berbasa-basi sekilas. "Instrukturnya bilang kalau tembakan Ren sudah sedikit lebih baik." "Hemm, bagus," gumam Winarno singkat. Ren bergerak duduk disampingnya. "Apa yang mau Bapak bicarakan?" "Ini mengenai-" "Eh nak, kamu sudah pulang? Bapak ini gimana, anaknya baru pulang kok sudah diajak ngobrol bukannya istirahat dulu. Kamu mau Ibu buatkan kopi?" Istri Winarno muncul dari dalam rumah sambil membawakan secangkir kopi panas lalu meletakkannya di atas meja. Ren menyalami wanita paruh baya itu dengan sopan. "Iya Bu, pake s**u ya." "Ya sudah Ibu bikinkan dulu," jawabnya lalu kembali masuk ke dalam rumah. Begitu istrinya pergi, Winarno mengambil sebatang rokok dari saku kemejanya. Dengan pemantik api yang ia dapat dari Jordy sebagai oleh-oleh dari Singapura, Winarno menyalakan ujung rokoknya. "Bapak dapat info dari gurumu kalau tadi siang kamu menggendong Nona Sheira pulang kerumah." Winarno memulai bicaranya. Ren mengangguk mengiyakan perkataan ayahnya. "Sehabis pelajaran olahraga tadi wajahnya pucat Pak, badannya panas. Jadi aku bawa pulang." "Mestinya kamu izin dulu dengan guru piket. Untung pihak sekolah mau mengerti dan gak kasih kamu teguran." Winarno menghembuskan asap rokoknya perlahan. Seperti kebiasaannya yang sudah-sudah, ia kemudian mematikan rokok yang baru dinyalakannya itu ke dalam asbak. "Maaf. Gak akan aku ulangi lagi Pak." Ren tertunduk sambil memandangi lantai. Ia tahu ayahnya tidak pernah memarahinya. Namun jika ada sesuatu yang tidak disukai ayahnya, ia akan segera menasehati Ren seperti sore ini. Meskipun tidak pernah marah, Winarno selalu tegas setiap kali Ren mengulangi kesalahan yang sama. Terlebih lagi jika Winarno sudah pernah memperingatkannya. Biasanya, Winarno akan langsung menghukum Ren dengan tidak memperbolehkan anak angkatnya itu tidur di dalam rumah. Biasanya Winarno akan membiarkan Ren tidur di teras tanpa diberikan selimut ataupun bantal. "Bagaimana keadaan di sekolah?" tanya Winarno mengalihkan pembicaraan. Ren mendongakkan wajahnya menatap Winarno. "Seperti biasa Pak, Dennis masih mencoba untuk mengganggu Sheira. Sedangkan Bastian dan Deena.. Mereka sepertinya lagi merencanakan sesuatu," lapor Ren setelah terdiam beberapa saat. Winarno mengangguk. "Bapak sudah suruh orang untuk mengawasi mereka. Jadi kalau ada tindakan mereka yang aneh, akan segera ketahuan oleh kita." "Apa Bapak yakin untuk gak menahan langkah mereka lebih dulu? Ren siap jika resikonya harus membongkar identitas Ren, Pak." "Tidak. Tahan dulu. Kita buat mereka merasa di atas angin. Lagipula," jeda sejenak. "Nona Sheira pasti akan kaget mengetahui kenyataan itu. Pelan-pelan saja." "Baik Pak." Istri Winarno kembali datang dengan membawa secangkir kopi. "Ini Nak, minum dulu. Ibu sudah siapkan makanan buat kamu di atas meja. Setelah ini kamu mandi terus langsung makan." "Iya Bu. Terimakasih." Winarno melirik istrinya yang kembali masuk ke dalam. Ia teringat ketika pertama kali membawa Ren kerumah mereka. Istrinya dengan penuh suka cita menerima kehadiran Ren yang saat itu masih berusia 6 tahun. Asri, istrinya, memang sudah lama mendambakan kehadiran seorang anak di tengah keluarga mereka. Namun apa daya, Tuhan berkehendak lain pada mereka. Dengan kehadiran Ren di rumahnya, semangat istrinya seolah menyala kembali. Dibandingkan dengan dirinya, Ren justru terlihat lebih dekat dengan istrinya. Melihat istrinya yang bahagia, tentu pengaruh Ren sangat besar bagi keharmonisan keluarganya. *** Jordy Miller baru saja pulang dari kantornya dengan wajah lelah ketika sang istri tergesa-gesa menghampirinya. "Aku baru saja dapat telpon dari wali kelasnya Sheira, Mas." Begitulah, tanpa menunggu lebih lama, Nyonya Miller langsung mengeluarkan unek-uneknya. "Dia bilang, Sheira dibawa pulang oleh Ren saat jam pelajaran masih berlangsung." "Ren pasti punya alasan mengapa melakukan itu Ma," sahut Jordy seraya melepaskan ikatan dasinya. "Aku sangat percaya pada Ren." "Kamu selalu saja membelanya." Nyonya Miller memukul pelan lengan suaminya dengan wajah bersungut-sungut. "Kamu sudah bertanya pada Sheira mengenai apa yang terjadi?" Nyonya Miller menggeleng. "Sheira cuma bilang kalau dia sedikit pusing." "Nah! Sudah aku duga. Ren pasti khawatir akan terjadi sesuatu pada anak kita sehingga dia membawanya pulang Ma." Jody menanggapi ucapan istrinya sambil berjalan menaiki tangga menuju kamar mereka. "Tapi caranya sudah keterlaluan Mas." Bibir Nyonya Miller melengkung kesal setelah ia berkata demikian. "Mas tau, wali kelasnya bercerita padaku kalau Ren berjalan membopong Sheira di tengah-tengah sekolah. Untung gak banyak yang melihat. Mau ditaruh dimana muka kita Mas jika berita itu tersebar sampai ke telinga publik? Masa seorang pengawal pribadi melakukan hal tidak sopan begitu pada majikannya." "Benarkah?" tanya Jody tak percaya. "Mungkin saat itu Sheira terlalu lelah untuk berjalan sendiri Ma. Kamu jangan berpikiran yang macam-macam. Ren sudah melakukan tugasnya dengan benar." "Mas ini laki-laki. Wajar saja gak mengerti. Aku gak ingin hal yang selama ini kutakutkan terjadi Mas." "Apa yang kau takutkan Ma? Menurutku selama ini Ren tidak pernah melakukan kesalahan apapun. Dia juga sangat menghormatimu," sahut Jody lalu melepaskan jas hitam yang dikenakannya dan menyampirkannya di atas kasur. Nyonya Miller menepuk bahu suaminya itu dengan gemas. "Kamu selalu saja begini. Yang aku maksud itu, bagaimana jika Ren jatuh cinta pada anak kita? Atau anak kita yang jatuh cinta padanya? Aku gak ingin memiliki menantu seorang bodyguard, Mas." Mendengar perkataan istrinya, Jordy Miller langsung tertawa. Ia lalu merebahkan pantatnya ke atas kasur dan mulai melepaskan sepatu yang dikenakannya. "Jangan tertawa. Kamu gak menganggap ini serius? Dari dulu aku sudah gak suka pada anak itu. Begitu pertama kali aku melihatnya, aku yakin anak itu akan membawa bencana bagi keluarga kita Mas," celoteh Nyonya Miller lagi dengan raut wajah semakin kesal. Jordy menyentuh kedua tangan istrinya dengan lembut dan menariknya untuk duduk disisinya. Diusap-usapnya perlahan punggung tangan itu dengan sorot mata penuh cinta. "Kamu tenang saja ya Ma. Aku sangat yakin bahwa hal yang kamu takutkan itu gak akan pernah terjadi. Mereka gak bisa bersama. Itu suatu hal yang benar-benar mustahil Ma." "Ah!" Nyonya Miller menarik kedua tangannya dari genggaman suaminya. "Bagaimana mungkin kamu bisa seyakin itu Mas? Ren itu tampan, kuat, pintar. Anak tetangga kita saja menyukainya. Bagaimana dengan Sheira? Sheira pasti akan terpikat dengan anak itu!" "Tenanglah sayang, itu gak akan terjadi. Aku berani jamin." "Aku gak mau tau, pokoknya kamu harus segera mengusir Ren dari rumah ini Mas. Kita harus menjauhkan Ren dari anak kita!" pinta Nyonya Miller setengah memaksa pada suaminya. "Ma, jangan begitu. Ren sudah dianggap anak oleh Winarno. Jika kita mengusir Ren, itu berarti kita akan mengusir Winarno juga. Mereka sudah setia bekerja pada keluargaku selama puluhan tahun. Kakek dan Ayahnya Winarno-" "Mas tidak mengerti perasaanku sebagai seorang Ibu! Mata hatiku bisa melihat dengan jelas jika Ren itu tidak baik bagi keluarga kita. Ren itu laki-laki. Sheira perempuan. Dan mereka sebaya. Selama ini mereka selalu bersama. Cinta pasti datang pada keduanya Mas!" seru istrinya dengan suara semakin keras karena marah. Mendengar omelan istrinya terus menerus, Jordy Miller yang sedari tadi bersikap sabar mulai terlihat tidak senang. "Pokoknya kamu tenang saja Ma. Hal yang kamu takutkan itu gak akan pernah terjadi. Itu mustahil. Sekarang aku sangat lelah. Bisakah kita berhenti membicarakan ini dan siapkan aku makan malam?" "Jika Mas gak mau mendengar permintaanku, tidak akan ada makan malam!" Nyonya Miller langsung berdiri dari sisi suaminya. "Ma!!" Jordy spontan langsung membentak istrinya. Diperlakukan demikian, bukannya diam, Nyonya Miller justru semakin berapi-api. "Jadi Mas lebih memilih anak pungut itu daripada aku! Begitu?! Mas lebih membela dia? Iya?" seru Nyonya Miller. Ia semakin terpancing emosi mendapati suaminya yang selama ini lembut mendadak membentaknya. "Mas bisa pilih, aku yang keluar dari rumah ini atau Ren yang keluar!" "Sandra!!" Kali ini Jordy berteriak seraya menyebut nama istrinya itu. "Aku sudah bilang padamu hal itu gak akan terjadi! Ren, dia sebenarnya adalah seorang perempuan!!" Tanpa bisa dibendung kalimat itu meluncur saja dari mulut Jordy. Nyonya Miller langsung terpaku ditempatnya. Matanya terbelalak tidak percaya. "A.. Apa maksud Mas? Ren.. Dia perempuan? Gak mungkin Mas. Mas ingin membohongiku supaya berhenti untuk mengusir anak itu kan!!" "Sandra!! Demi Tuhan aku bersungguh-sungguh!! Aku sendiri yang melihatnya dengan kedua mataku! Anak itu memang perempuan!! Aku yang memintanya untuk berpura-pura menjadi laki-laki! Aku melakukannya demi dirimu! Aku tau kamu tidak akan menyukainya! Jadi aku memintanya untuk mengganti identitasnya agar bisa menjaga putri kita!!" jelas Jody dengan berang. "Ma.. Mana mungkin.." Nyonya Miller langsung terduduk lemas di atas kasur. "Ma.." Jordy merangkul bahu istrinya itu dengan lembut. "Sekarang kamu mengerti kan? Hal yang kamu takutkan itu tidak mungkin terjadi." Bukannya tenang, Nyonya Miller menepis tangan suaminya dengan kasar. "Jadi selama ini Mas membohongiku?! Mas benar-benar keterlaluan!!" Sehabis berkata demikian, Nyonya Miller berjalan keluar dari kamarnya. Suara bantingan pintu terdengar kuat begitu ia keluar kamar. Jody hanya bisa menggeleng sambil menarik nafas berat melihat kelakuan istrinya itu. *** Sheira terbangun dari tidurnya dengan perasaan aneh. Dia mengalami mimpi yang sangat buruk. Sangat buruk hingga ia takut untuk kembali tertidur. Sheira mengerjapkan matanya sejenak, mencoba mengumpulkan seluruh kesadarannya. Kepalanya sedikit pusing akibat kurang tidur semalam. Namun hal ini tidak membuatnya lantas berlama-lama di kasurnya. Sheira harus segera bersiap-siap untuk berangkat ke sekolah. Sheira berkali-kali mondar mandir di dalam kamarnya. Tubuhnya menegang sejak tadi. Berkali-kali ia berkata pada dirinya sendiri bahwa ini tidak mungkin. Dia pasti sedang bermimpi! Mungkin ada sesuatu yang salah dengan telinganya. Mungkinkah dia sudah gila? Sheira berharap, ketika ia bangun tidur pagi ini, apa yang di dengarnya semalam hanyalah mimpi belaka. Namun, ketika ia turun untuk sarapan pagi ini, suasana meja makan yang biasanya di isi gelak tawa orangtuanya tidak terdengar. Ini berarti kejadian semalam bukanlah mimpi. Kedua orangtuanya bertengkar dan.. Dan mereka menyebut sesuatu mengenai Ren. Suatu rahasia besar yang seharusnya tidak Sheira dengar! *** "Lo kenapa?" Vello menyikut lengan Sheira perlahan, menyadarkan gadis itu dari lamunannya. Soal-soal yang diberikan oleh guru Bahasa Inggris mereka bahkan sama sekali belum dikerjakannya. "Gue gak apa-apa," jawab Sheira gugup. Kepalanya kemudian menoleh kebelakang, melirik Ren yang masih sibuk menulis. "Kenapa? Dari tadi lo ngeliatin dia terus," bisik Vello di telinganya. "Enggak," elak Sheira cepat lalu buru-buru mengalihkan pandangannya dari sang bodyguard. "Ini udah ketujuh kalinya lo nengok kebelakang ngeliatin dia. Apa lo keinget kejadian kemarin? Gak ada yang ngeliat elo digendong Ren kecuali temen-temen sekelas kita. Tapi kayaknya beritanya bakal nyebar dengan cepat hari ini." Sheira menggelengkan kepalanya mencoba mengusir pikiran aneh yang sejak kemarin terus mengganggunya. Diliriknya Vello yang masih melihatnya dengan wajah tak mengerti. Tiba-tiba sesuatu melintas dipikirannya. "Setelah apa yang dia lakuin ke lo kemarin, lo masih suka dia?" "Hum?" Vello terlihat kaget mendengar pertanyaan yang tidak diduga sebelumnya itu. "Pertanyaan lo aneh banget Shei. Jelaslah masih. Dia bersikap begitu karena dia gak mau gue terlalu berharap sama dia. Dan harus gue akui, caranya itu cukup gentle. Dia tau gue suka sama dia dan beda dengan cowok lainnya yang biasanya suka kasih harapan palsu, dia dengan tegas kasih gue jawaban supaya nantinya gue gak makin terluka." "Kalau ternyata dia gak sesuai sama apa yang lo bayangin, lo masih suka?" tanya Sheira hati-hati. "Maksud lo apa?" Vello menatapnya semakin bingung. "Gue suka sama Ren karena Ren adalah Ren. Dia gak mencoba untuk jadi orang lain." "Gak mencoba untuk jadi orang lain..," desis Sheira sambil menganggukan wajahnya dengan pelan. "Lo kenapa sih? Dari tadi aneh banget. Ada apa? Cerita aja ke gue. Mumpung sekarang kita lagi gak ada guru. Tugas gue juga udah kelar kok." Sheira menggeleng. "Lupain pertanyaan gue tadi." Sheira kembali berkonsentrasi mengerjakan soal-soal dibukunya. Ia tidak ingin hal-hal lain membuat konsentrasi belajarnya terganggu. "Sheira, bisa ngomong sebentar?" Baru beberapa menit Sheira mengerjakan soal, Bastian sudah berdiri di samping mejanya. "Ngomong aja," jawab Sheira tanpa mengalihkan pandangannya dari buku. "Gak bisa disini. Kapan lo punya waktu tanpa diganggu oleh orang lain? Terutama bodyguard lo itu." Sambil berbicara, Bastian melirik Ren yang duduk tepat di belakang Sheira. "Waktu yang lo maksud gak pernah ada di hidup gue." "Okee.. Jadi jangan salahin gue kalau malam minggu nanti gue muncul di rumah lo. Orangtua lo pasti gak bakal suka lihat kehadiran gue." Sheira langsung menghentikan gerakan tangannya yang sejak tadi sibuk menulis. Kepalanya mendongak menatap Bastian. "Silahkan. Tapi jangan salahin gue juga kalau setelah pulang dari rumah gue muka lo jadi hancur diremukin sama Ren." Sheira kembali melanjutkan mengerjakan tugasnya. "Sehebat itukah dia?" tanya Bastian sarkartis. "Lo belum tau?" "Belum." "Kalau begitu coba aja ke rumah," tantang Sheira. Bastian tergelak begitu mendengar ucapan gadis di hadapannya. "Oke". Setelah melemparkan senyum kearah Vello yang sedari tadi melihatnya dengan bingung, Bastian kembali ke kursinya. "Lo gak takut bakal pecah perang Baratayudha?" Vello berbisik di telinga Sheira dengan wajah cemas. "Enggak. Biar dia kapok." "Apa benar Ren sehebat itu? Selama ini gue gak pernah lihat dia berantem." Vello lalu menoleh ke belakang, memperhatikan Ren yang masih sibuk menulis. "Lo tau Dwayne Johnson gak?" "Atlet smackdown yang punya julukan The Rock itu?" Sheira mengangguk. "Ren pernah kalahin dia? Woaah.." Vello berdecak kagum. "Enggak." Sheira menggeleng. "Gue cuma tanya lo tau atau enggak." "Sompret!" Vello mendorong bahu Sheira dengan gemas. Ia tidak mengira Sheira ternyata bisa bercanda juga. "Penasaran banget memangnya?" "Bukan cuma gue. Chika sama Arra juga tuh," tunjuk Vello sambil mengarahkan dagunya ke bangku di depan mereka dimana Chika dan Arra tengah sibuk mengerjakan tugas yang diberikan. "Ke rumah gue aja malam minggu nanti," tawar Sheira kalem. "Ngapain ke rumah lo Shei?" "Mau ngadain acara ladies night lagi?" Arra dan Chika yang duduk di bangku depan langsung menoleh seketika. Mereka sepertinya tersadar bahwa baru saja dibicarakan oleh Vello. "Gak bisa denger kata malam minggu, radar jones kalian tuh langsung bereaksi," dengus Vello dengan mulut mengerucut gemas. Arra dan Chika kontan tertawa cekikikan. "Kita kan belum pernah having a wonderful night di rumahnya Sheira. Hehehe," kilah Arra. "Kali ini acaranya bukan bakar jagung. Gue punya koleksi beberapa DVD bagus buat kita tonton semaleman." "DVD apa Ra?" Vello memandang penuh curiga. "Gue ogah ya kalau bokep lagi." "Sstt.. Jangan keras-keras!" Arra membekap mulut Vello sehingga temannya itu kesulitan bernafas. "Kalau ada yang denger tar dikira gue doyan begituan lagi Vell." "Gimana Vello gak ngomong gitu ke elo Ra. Terakhir kali kita nonton DVD pas SMP, yang lo bawa kan DVD-" "Ish.. Kan udah gue bilang kalau itu ketuker sama punya Kak Arki. Tuh covernya aja yang gambar Dakota Fanning sama Chris Evans eh isinya justru Maria Ozawa." Arra cepat memotong ucapan Chika. "Jadi kali ini DVD apa Ra?" Chika bertanya penasaran. "Film India," sahutnya cepat. Plak! Sebuah buku tulis mendarat dengan mulus di wajah Arra. "Arra, serius ih!" Vello memandang temannya itu dengan jengkel. "Hehehe. Maap maap. Drama Korea Vell. Elo pasti suka deh.." Arra cengar-cengir sambil mengerlingkan matanya. "Kali ini jangan ada Kak Dennis, Bastian sama Kak Deena lagi deh. Oke?" pinta Chika diiringi anggukan setuju oleh ketiga temannya. *** Sheira melirik makhluk kasat mata disampingnya yang tengah menyetir entah untuk kesekian kalinya. Ketika Ren balas meliriknya, Sheira lekas-lekas membuang wajahnya ke samping, berpura-pura memperhatikan jalan lewat kaca mobilnya. Namun ketika Ren kembali berkonsentrasi menyetir, gadis itu kembali melirik Ren, memperhatikan Ren dengan sangat seksama. "Kenapa?" Ren yang memang sejak tadi merasa diperhatikan akhirnya bertanya. "Gak.." "Dari tadi lo curi-curi pandang ke gue." "Perasaan lo aja." Ren menghela nafas menyerah. Ia kembali berkonsentrasi mengemudi. Sialnya, siang itu jalanan cukup macet akibat iring-iringan duta dari negara asing yang berkunjung untuk menemui presiden. Membuat Ren semakin salah tingkah karena terus menerus diperhatikan oleh anak majikannya. "Ren," panggil Sheira setelah suasana hening cukup lama. "Apa?" "Sebelum lo kerja sama Papa, lo tinggal dimana?" Ren mengerutkan dahinya bingung. Tidak biasanya Sheira bertanya mengenai masa lalunya. Gadis itu bahkan tidak peduli mengenai apa yang dilakukan Ren selama ini. Jadi mengapa tiba-tiba Sheira ingin mengetahui asal usulnya? "Gue tinggal di jalanan," beritahu Ren jujur. "Om Winarno yang bawa lo ke Papa?" "Iya. Menurut Bapak, gue anak yang berani dan cocok untuk jadi bodyguard lo." "Dan Papa langsung setuju nerima lo jadi bodyguard gue?" "Iya." Ren mengangguk. "Orangtua kandung lo dimana?" Ren termenung. Untuk beberapa saat ia terdiam lalu mendesah pelan. "Sudah meninggal." "Sorry." Suara Sheira melunak. "Gak apa-apa." "Kenapa mereka meninggal?" "Kenapa lo mendadak jadi mau tau?" Sheira langsung terlihat gugup. "Err.. Kata Papa lo bakal jadi bodyguard gue untuk jangka waktu yang lama. Jadi, gak ada salahnya kalau gue harus tahu latar belakang keluarga lo." Wajah Ren langsung berubah tegang. Matanya masih menatap lurus ke depan namun kali ini dengan pandangan yang kosong. Seolah menerawang kembali ke masa lalu. Melihat reaksi yang ditunjukkan Ren, Sheira langsung merasa menyesal sudah menanyakan hal sensitif seperti ini pada bodyguardnya. Ia tidak pernah melihat Ren menunjukkan wajah seperti itu. Seolah kematian orangtuanya adalah hal yang ingin dihapus dari ingatannya. "Orangtua gue imigran gelap," ucap Ren sambil menggenggam erat stir dengan wajah muram. "Mereka mati ditembak waktu berusaha kabur dari polisi yang jaga perbatasan." "Sorry." Sheira terlihat semakin tidak enak hati. "Gue gak bermaksud-" "Lupain aja. Tolong jangan tanya mengenai mereka lagi." "Alright." Hening sejenak. "Ren, lo masih inget akun aneh yang kirimin gue pesan kalau lo itu.. Kalau lo itu.." Sheira tercekat. Ia tidak bisa melanjutkan kalimatnya. "Perempuan?" lanjut Ren sesantai mungkin. "Uhm.. Iya." "Masih. Kenapa?" "Lo gak ngerasa tersinggung?" "Enggak." "Oh." "Kenapa lo tiba-tiba tanya soal itu? Gue kira lo menganggap itu gak penting." "Eh? Itu.. Gue mendadak keinget aja." Ren tidak menanggapi. Kakinya sibuk menginjak rem dan kopling sedari tadi. "Ck, lama banget macetnya," rutuknya seolah pada diri sendiri. "Ren." Sheira kembali memanggil Ren agar perhatiannya kembali teralih padanya. "Hm?" Ren masih fokus dengan jalan di depannya. "Lo gak ngerahasiain apapun dari gue kan?" Ren langsung menoleh ke arah Sheira yang kini menatapnya dengan lekat. "Maksud lo?" "Gak ada rahasia yang lo sembunyiin dari gue kan?" ulang Sheira. Kali ini suaranya dibuat sejelas mungkin. Ren terdiam sejenak sebelum akhirnya menjawab, "Ada." ***
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD