"Ada."
Aku hampir saja tercekat mendengar jawaban Ren. Kupikir cowok ini, ralat, maksudku cewek ini, tidak akan semudah itu menjawab pertanyaanku barusan. Ini kesempatan bagiku untuk mengorek keterangan lebih lanjut darinya. Coba kalian bayangkan, majikan mana yang tidak akan kaget mengetahui bodyguard yang sudah 10 tahun bersamanya ternyata adalah seorang.. Ugh, berat sekali aku menyebutkannya. Perempuan.
"Apa itu?" Aku menatapnya semakin tajam sambil mencoba menetralkan degup jantungku yang tidak sabaran.
"Biarlah sebuah rahasia, akan tetap menjadi rahasia Shei."
Hatiku mencelos mendengar tuturannya. Ternyata memang tidak semudah itu. Oke, kupikir aku harus memaksanya kali ini. Menggunakan kekuasaanku sebagai majikan memang terdengar cukup buruk namun aku tidak mungkin tanpa ba bi bu langsung mengatakan padanya 'I know your secret, so tell me or you'll die'. Itu akan sangat menghancurkan kredibilitasku sebagai seorang nona muda yang selalu acuh padanya.
"Jadi lo gak mau kasih tau gue?"
"Bukan gak mau, tapi belum saatnya," jawabnya sambil fokus mengemudi. Kulirik salah satu lengannya yang kini sudah tidak terbalut perban.
"Kenapa harus tunggu sampe 'saatnya' itu dateng?"
"Kalau sekarang, lo pasti akan kaget."
"Jadi kalau 'saatnya' gue gak bakal kaget?" pancingku lagi.
"Bukan begitu.."
"Terus gimana?"
"Pokoknya belum saatnya."
"Harus sekarang!" Aku memaksa. Aku tahu Ren tidak akan bisa berbohong padaku. Rahasia yang ia maksud pastilah mengenai dirinya yang seorang.. Berat sekali aku mengatakannya. Perempuan.
"Enggak," tolak Ren keras kepala.
"Sekarang!"
"Enggak."
"Sekarang!!"
"Lo maksa?"
"Gue harus maksa?"
"Pokoknya enggak."
"Kasih tahu sekarang atau gue.." Aku bersiap hendak mengancamnya.
"Lompat dari mobil?" tebaknya.
"Iya!"
Clek!
"Lo telat, gue udah kunci knop pintunya."
Damn. Aku lupa bahwa ancaman yang sama tidak akan berlaku baginya. Lagi-lagi aku dibuat kesal setengah mati dengan sifat Ren yang keras kepala itu. Dia pikir siapa dirinya? Setiap kali kami berdebat seperti ini, entah mengapa selalu aku yang kalah. Oke, aku pernah menang. Hanya beberapa kali.
Aku duduk di kursiku sambil bersidekap. Aku harap ia menyadarinya bahwa aku sedang kesal. Namun harapanku itu pupus begitu saja. Ren tidak mempedulikanku. Ia justru sibuk merutuki iring-iringan duta asing yang membuat macet jalan-jalan utama di Jakarta. Aku tahu sore nanti dia ada janji dengan instrukturnya. Dia pasti takut terlambat. Setiap hari co- maksudku, cewek itu selalu latihan bela diri atas perintah Papa. Aku sudah tidak peduli berapa banyak cabang bela diri yang kini dia kuasai atau berapa jam dalam sehari yang dia habiskan untuk berlatih. Yang aku tahu, dia melakukannya demi diriku. Gadis mana yang tidak senang jika ada seseorang yang begitu gigih melakukan semua itu untuk dirinya? Tentu saja aku senang. Namun aku tidak ingin menunjukkan pada siapapun, terutama Ren, bahwa aku senang memiliki bodyguard seperti dirinya. Aku tidak ingin co-, maksudku cewek itu menjadi besar kepala.
Kulirik Ren sekali lagi. Memperhatikan penampilannya sepertinya sudah menjadi agenda tersendiri bagiku. Well, siapa yang tidak mengira jika bodyguard yang duduk di sampingku ini adalah.. Oke, lagi-lagi aku sedikit berat mengatakannya. Perempuan. Semua orang tidak akan pernah mengira! Tubuh Ren tegap, cukup atletis, bahunya bidang, meskipun tidak terlalu tinggi tapi dia sempurna. Wajahnya kebule-bulean. Pernah lihat aktor Korea dalam drama-drama yang kini banyak berhamburan di televisi? Kalian pasti akan kaget jika aku mengatakan bahwa Ren tidak akan kalah jika bersaing dengan wajah para aktor itu. Otaknya? Jangan ditanya. Ren sangat cerdas! Aku tidak habis pikir dari mana dia mendapatkan kecerdasannya. Jago berkelahi? Sudah tentu! Sempurna sekali bukan? Namun kesempurnaan itu harus pupus begitu saja begitu mengetahui kalau Ren adalah.. Oke, aku masih sedikit berat mengatakan ini. Perempuan.
"Sudah sampai."
"Apa?" Aku menoleh terkejut menatapnya.
"Sudah sampai."
Aku cukup kaget mendengar ucapannya. Refleks, aku memandang berkeliling. Kami sudah tiba di depan pintu rumahku. Sejak kapan? Apakah aku terlalu banyak melamun sehingga tidak menyadarinya? Aku merutuki diriku sendiri yang seperti orang t***l. Pasti selama diperjalanan tadi mataku tak berkedip memandanginya.
Ren turun lebih dulu lalu membukakan pintu mobil untukku. Hal yang selalu dilakukannya setiap kali aku hendak naik atau turun dari mobil. Aku sudah terbiasa diperlakukan demikian oleh bawahan Papa, namun setiap kali Ren yang melakukannya, aku merasa sedikit berbeda. Rasanya seperti seorang tuan putri sungguhan. Memalukan sekali bukan? Namun aku menikmatinya.
Tidak ada sambutan hangat dari Mama begitu aku memasuki rumah. Aneh. Biasanya Mama sudah menghampiriku begitu aku memasuki pintu. Apakah kedua orangtuaku masih bertengkar? Jika ya, maka pertengkaran mereka kali ini cukup serius. Biasanya mereka tidak akan berlama-lama saling berdiam diri satu sama lain.
Aku tidak bisa menyalahkan Mama sepenuhnya atas pertengkaran semalam. Mama benar. Ia hanya takut terjadi 'something' seperti yang pernah diucapkan Arra tempo hari padaku, 'something' antara aku dan Ren. Tapi, setelah mengetahui kondisi Ren yang sebenarnya, tidak seharusnya Mama ingin mengusirnya. Maksudku, aku TIDAK MUNGKIN menyukai seorang perempuan. Meskipun aku belum pernah berpacaran sebelumnya, tapi aku paham sekali dengan orientasi seksualku. Aku straight. Kupikir Ren juga sama denganku. Penampilannya hanya tuntutan profesi yang harus dilakukannya atas permintaan Papa.
Terdengar ketukan di pintu kamarku. Itu pasti Mama. Secepat kilat kubukakan pintu untuknya. Diluar dugaan, raut wajah Papa yang muncul dari balik pintu seraya tersenyum padaku.
"Papa?" Aku menatapnya kaget.
"Boleh Papa masuk?" Suaranya terdengar parau. Ada apa ini? Mengapa Papa yang biasanya tidak pernah berada di rumah pada jam-jam seperti ini mendadak ingin menemuiku, di kamarku.
"Iya." Kulebarkan daun pintuku untuk memberinya jalan. Papa terlihat sedikit kikuk. Ini bukan pertama kalinya Papa masuk ke kamarku. Tapi, mungkin ini pertama kalinya semenjak beberapa tahun belakangan. Karena kesibukannya, Papa jarang mengunjungi kamarku. Kami hanya berbicara seperlunya ketika berada di meja makan.
"Kenapa?" Aku menatap Papa yang kini duduk di atas sofa yang bersebrangan dengan sisi ranjangku.
"Ada yang ingin Papa bicarakan dengan kamu."
Jantungku seolah berhenti berdetak. Apakah Papa ingin memberitahuku bahwa ia akan berpisah dengan Mama? Oh ini tidak benar! Tidak boleh terjadi. Mereka hanya bertengkar mengenai hal kecil. Tapi kenapa mereka mudah sekali memutuskan untuk berpisah hanya karena hal sepele seperti itu.
"Ini mengenai Ren."
Hatiku sedikit lega mendengar ucapan Papa. Ya, setidaknya apa yang ia bicarakan bukanlah mengenai perceraian yang baru saja kutakutkan akan terjadi. Tapi tunggu dulu, mengapa Papa tiba-tiba ingin berbicara mengenai Ren? Apakah Papa ingin memberitahuku mengenai rahasia yang selama ini sudah ia tutup rapat bersama Ren?
"Oke, bicara saja." Aku menjaga suaraku agar tidak terdengar buru-buru. Setelah berkata demikian, aku mengambil posisi duduk di sampingnya, mencoba untuk terlihat sesantai mungkin.
Papa menatapku sebentar lalu mulai mengeluarkan pertanyaannya. "Sejauh ini, apakah kamu nyaman bersama Ren?"
"Ya," jawabku sambil mengangguk.
"Bagus. Awalnya Papa kira kamu gak akan bertahan lama dikawal olehnya. Tapi ini sudah lebih dari 10 tahun dan hingga sekarang kalian berdua masih baik-baik aja. Sejauh ini Ren sudah berhasil mengawal kamu dengan sangat baik."
"Kenapa pada awalnya Papa mikir begitu?"
Papa tersenyum sambil menepuk punggung tanganku dengan lembut. "Mungkin kamu sudah lupa karena saat itu kamu masih terlalu kecil. Dulu, semua bodyguard yang Papa tunjuk untuk menjaga kamu selalu kamu usir. Kamu berteriak dengan marah menyuruh mereka untuk gak menganggu kegiatan kamu."
"Benarkah?" Aku tidak pernah mengingat hal semacam itu. Kenangan masa kecil yang aku ingat hanya sepotong-sepotong. Seperti puzzle.
Papa mengangguk yakin. "Tapi begitu Papa mengenalkan Ren pada kamu hari itu, kamu sama sekali gak mengusirnya. Kamu bahkan membiarkan Ren mendekati kamu."
Itu karena aku pikir saat itu Ren bukanlah bodyguard ku. Siapa yang menyangka seorang anak berumur 6 tahun akan menjadi bodyguard? Tidak ada. Tentu saja hal ini tidak kuutarakan kepada Papa.
"Dan hingga hari ini, kalian bahkan masih melewati waktu bersama."
Oke harus kuakui aku hanya merasa nyaman jika bodyguard ku adalah Ren. Aku tidak memerlukan bodyguard yang lain. Apakah maksud Papa ke kamarku ingin memintaku beralih dari Ren ke sosok bodyguard lain? Setelah apa yang baru saja kualami dengan Om Surya? Oh tidak. Aku tidak akan mau menggantikan Ren dengan siapapun.
"Apa Papa.. Mau mengganti posisi Ren sebagai bodyguard Sheira?"
Papa langsung tergelak mendengar pertanyaanku. "Tentu saja tidak. Hanya Ren yang bisa melindungi kamu. Maksud Papa.. Kamu tau kan kalau Mama kamu gak suka dengan anak itu."
"Ya, aku tau." Aku bahkan mendengar kalian bertengkar karena meributkan Ren jeritku dalam hati.
"Papa mau meminta kamu untuk menyakinkan Mama.. Yah, supaya dia mau menerima kehadiran Ren. Ren itu sangat tangkas. Dia lebih dari cukup untuk menjaga kamu. Kamu sudah sering melihat beberapa aksinya kan? Papa gak bisa mencari pengganti yang sebaik dirinya. Jadi.."
"Aku ngerti. Aku akan bicara sama Mama," kataku memutuskan ucapannya.
Papa langsung memelukku sambil berkali-kali membisikkan ucapan terima kasih. Aku tahu Papa berharap banyak dariku untuk mencairkan hati Mama. Aku juga tidak ingin melihat mereka berdua bertengkar karena masalah ini. Selain itu, aku juga tidak sudi jika seseorang harus menggantikan posisi Ren sebagai pengawal pribadiku. Itu akan membuatku merasa sangat tidak nyaman. Jadi, demi Papa dan juga demi kenyamananku, aku akan berbicara dengan Mama.
***
Aku sedang duduk santai di sofa depan televisi sambil menunggu ketiga temanku untuk datang ketika aku mendengar langkah kaki itu. Aku menoleh dari majalah yang k****a dan mendapatkan Ren sudah berdiri dengan kaos putih dan celana jeans robeknya. Apa yang dia lakukan disini? Apakah ia ingin menemuiku? Belum hilang rasa penasaranku, kulihat Mama sudah bergerak menghampirinya dan mengajaknya untuk mengobrol di ruang kerja Papa.
Aku menjadi teringat percakapanku dengan Mama siang tadi. Meskipun tidak bisa dibilang sebagai percakapan, namun sebuah rayuan. Sulit sekali untuk meyakinkan Mama bahwa Ren lah satu-satunya orang yang tepat dan bisa menjagaku. Berulang kali ucapanku dibantah oleh Mama. Namun berkat pengalamanku yang sering berdebat dengan Ren, mungkin ada untungnya aku berdebat dengannya setiap hari, Mama akhirnya tidak bisa menolak paksaanku dan akhirnya mau mengalah demi kebahagiaanku. Yes! Haha.
Mungkin kehadiran Ren di ruang santaiku adalah permintaan dari Mama. Mungkin Mama ingin memintanya untuk tetap fokus menjagaku sambil tetap menjaga jarak aman dariku. Mungkin Mama ingin menasehatinya agar tidak mengulangi kesalahannya seperti kemarin yang dengan 'kurang ajar' nya menggendongku pulang ke rumah. Mungkin juga Mama.. Tunggu, mengapa aku selalu memikirkan kemungkinannya saja? Aku lebih baik menguping pembicaraan mereka sehingga aku tidak akan bertanya-tanya dalam hati apa yang mereka bicarakan. Tapi menguping? Yang benar saja! Itu sama sekali bukan caraku. Oh ya, aku memang sempat menguping pertengkaran Papa dan Mama kemarin malam. Tapi itu tidak sengaja, oke? Saat itu aku hendak turun kebawah mengambil minum lalu secara tidak sengaja lewat kamar keduanya dan mendengar pertengkaran mereka. Jadi itu tidak termasuk menguping.
Aku kembali menekuni majalah remaja langgananku, mencoba mengusir rasa penasaran yang semakin melanda. Sesekali aku melirik jam di dinding. Kenapa ketiga cewek itu lama sekali. Aku dan ketiga temanku memang sudah merencanakan untuk mengadakan ladies night di rumahku. Ini kali ketiga kami mengadakannya. Sepertinya acara ini akan rutin kami lakukan sampai salah seorang di antara kami mengganti statusnya dari single menjadi double.
Ketiga cewek itu datang setengah jam kemudian dengan wajah-wajah cerah seperti habis facial dari salon ternama. Aku mengajak ketiganya ke kamarku. Tante Asri, istri Om Winarno, sudah menyiapkan beberapa cemilan dan minuman untuk ketiganya di dalam kamar. Selain Om Winarno, Tante Asri memang bekerja di rumahku sebagai asisten pribadi Mama di dapur. Aku tidak ingin menyebutnya sebagai pembantu rumah tangga, selain karena tidak sopan, posisi Tante Asri bukanlah seperti pembantu rumah tangga pada umumnya. Pekerjaannya hanya mengontrol menu yang akan di masak, mengawasi apakah para pembantu lainnya di rumahku mengerjakan tugas-tugasnya dengan baik, dan sesekali melayaniku serta kedua orangtua ku jika kami memerlukan sesuatu.
Kulihat Arra sudah mengeluarkan DVD yang kemarin sempat digembar-gemborkannya itu. Aku sempat melihat covernya sejenak. Seorang wanita dan seorang pria tengah tidur di atas taburan bunga-bunga dengan posisi saling berhadapan. Judulnya 'Pinocchio'. Kata Arra, tokoh utama wanita memiliki Pinocchio syndrome yang setiap kali berbohong, maka akan menimbulkan cegukan bagi dirinya. Cegukan tidak akan berhenti sampai sang tokoh utama wanita itu mau jujur dan meralat kebohongannya. Menarik. Aku berharap Ren memiliki syndrom seperti itu. Akan lebih mudah bagiku untuk bertanya padanya bukan? Misalnya begini :
"Ren, menurut lo pesan aneh yang gue terima di sosmed ini gak penting?"
"Iya."
Hik!
Dan dia cegukan!
"Lo bohong. Ini berarti pesan aneh itu penting! Apa benar isi pesan ini?"
"Gak benar."
Hik!
Cegukan kedua.
"Jadi isi pesan yang bilang kalau lo perempuan ini benar?"
"Enggak."
Hik!
Cegukan ketiga!
"Jadi, lo sebenarnya perempuan?"
"Gue cowok!"
Hik! Hik!
Cegukan keempat dan kelima sekaligus!
"Iya, oke! Gue cewek!"
Cegukan berhenti.
Bukankah begitu lebih mudah? Aku tidak harus memaksanya untuk memberitahu rahasia apa yang ia simpan selama ini. Tinggal beri saja pertanyaan pancingan dan tadaaa, Ren akan mengakui dengan sendirinya.
Sudah hampir tiga jam kami berkutat dengan drama korea ini. Harus kuakui, ide ceritanya menarik. Vello bahkan berulang kali memuji akting sang tokoh pria nya. Chika bahkan berkata kalau tokoh pria itu cukup keren. Yang benar saja! Maksudku, bodyguardku jauh lebih keren. Tentu saja aku tidak mengatakan hal itu padanya. Mereka akan bergantian menggolokku dan mengatakan bahwa aku terlalu memuja bodyguard ku itu.
Ketika sedang terhanyut-terhanyutnya dengan jalan cerita drama korea itu, telingaku mendengar suara ramai dari bawah balkon kamarku. Awalnya aku tidak menggubrisnya. Kupikir itu suara para security yang sedang asik bermain kartu di pos satpam. Namun suara gaduh itu semakin keras dan tidak berhenti. Merasa terganggu, aku berjalan menuju balkon, ingin menyuruh mereka untuk segera diam. Namun, yang kudapati bukannya security yang sedang bermain kartu tapi sosok Bastian Angkasa yang berdiri dengan wajah penuh kemenangan setelah berhasil menaklukkan keempat security yang kini mengaduh kesakitan di dekat kakinya.
Merasa diperhatikan, Bastian mendongak menatapku. Dengan suara lantang, ia berteriak dari bawah. "Sheira! Gue penuhi janji gue kemarin!"
Gosh! Aku hampir saja melupakannya. Aku tidak mengira Bastian akan senekat itu. Dia benar-benar mengantarkan nyawanya. Aku melihat Ren keluar dari rumah dan menghampirinya. Oh, sepertinya perang Baratayudha yang dikhawatirkan Vello benar-benar akan terjadi. Entah sejak kapan, ketiga temanku yang tadi asik menonton sudah berdiri di kedua sisiku, ikut memperhatikan Bastian dan Ren yang kini sudah saling berhadap-hadapan.
"Waah Shei, kedua ksatria lagi memperebutkan tuan putri yang di kurung di dalam menara tinggi," celetuk Arra. Mungkin pengaruh drama tadi yang membuat bicaranya semakin berlebihan.
"Sst.. Kita lihat aja siapa yang menang Ra. Gimana kalau kita taruhan?" Chika sepertinya yang lebih berlebihan.
"Kalau gue pilih Ren. Kalian siapa?"
Oke, Vello yang biasanya paling rasional diantara ketiganya ikut-ikutan sinting. Lain kali, aku tidak ingin menemani mereka nonton drama korea lagi jika ingin menghadapi ujian. Akan sangat aneh jika mereka bertaruh siapa yang paling cepat menuliskan jawaban nomor satu ketika guru sedang memperhatikanmu bukan?
Baik, kembali ke Bastian dan Ren. Mereka terlihat saling berpandangan. Aku mendengar Bastian mengatakan sesuatu. Entah apa yang ia katakan pada Ren namun raut wajah Ren berubah menjadi lebih keras dan tegang. Ada apa? Apa yang sebenarnya Bastian katakan? Namun belum sempat aku berpikir lebih jauh, Bastian sudah bergerak mendekati Ren dan memukuli cewek itu. Hey, sejak kapan aku tidak kesulitan mengatakan kata itu. Mungkinkah aku sudah bisa menerima kenyataan kalau ternyata bodyguardku itu seorang perempuan?
Ada yang aneh. Ren tidak membalas pukulan Bastian. Ren terlihat seolah.. Mengalah! Aku tahu Ren tidak selemah itu. Pukulan Bastian bisa ditangkisnya dengan mudah. Ada apa ini? Apa yang sebenarnya terjadi? Apa yang sebenarnya Bastian katakan padanya tadi?
Bastian terus menghujani Ren dengan pukulannya. Di d**a, wajah, kaki, bahkan punggung. Tubuh Ren yang semula baik-baik saja kini penuh dengan lebam. Ada memar di pipinya dan hey, apa itu.. Di sudut bibirnya terlihat mengeluarkan darah! Ya Tuhan!
Begitu melihat darah di sudut bibirnya, hatiku mendadak bergemuruh dan dipenuhi rasa cemas yang luar biasa. Mendadak aku takut terjadi sesuatu yang buruk pada Ren. Ren sama sekali tidak terlihat ingin membalas seperti pada pertarungannya yang sebelumnya. Jika terus-terusan seperti ini, Ren bisa babak belur atau mungkin meninggal akibat pukulan dan tendangan Bastian yang aku tahu pasti sakit rasanya.
Aku sudah tidak mengubris ucapan ketiga temanku yang mengatakan bahwa Ren tidak sehebat yang mereka bayangkan. Apa peduliku jika mereka berpikir demikian? Aku sangat mengenal bodyguardku dan dia jauh lebih hebat dari itu.
Melihat kondisi Ren yang semakin parah, aku akhirnya tidak bisa lagi menahan diriku. Dengan setengah berlari, aku keluar dari kamarku. Tidak menghiraukan panggilan dari Vello. Aku menuruni tangga dengan tergesa-gesa kemudian bergegas menuju pintu. Tiba di halaman, kulihat Bastian masih memukuli Ren tanpa ampun.
"BERHENTI!!!"
Aku berteriak sangat lantang. Kupikir teriakanku barusan bisa terdengar hingga ruang makan di dalam rumahku. Untung saja nafasku tidak habis akibat berlari tadi. Namun aku dibuat cukup ngos-ngosan karenanya.
Teriakanku membuat Bastian menghentikan aksinya. Ia menatapku sambil tersenyum. Senyumannya sungguh membuatku jijik.
"Sudah gue bilang kalau gue bakal ke rumah lo." Sambil berkata demikian, Bastian berjalan mendekatiku.
"Jangan dekati dia." Ren yang masih terduduk lemas menahan sakit diperutnya kini bersuara. Kulihat ia mencoba bangkit dan bergerak menyusul Bastian.
Bastian masih berjalan mendekatiku.
"Gue bilang, JANGAN DEKATI DIA!!!" teriak Ren lagi. Nada suaranya sarat dengan amarah. Aku tidak pernah melihat Ren semarah ini.
BRUGH!!
Tiba-tiba saja Ren sudah melayangkan sebuah pukulan ke wajah Bastian. Membuat cowok itu langsung jatuh tersungkur sambil memegangi pipinya.
Bastian mengaduh sambil menahan sakit di pipinya. "Lo lupa? Gue bilang gue akan kasih kasih tahu Sheira mengenai rahasia lo kalau lo berani sentuh gue."
"Gue udah gak peduli," jawab Ren dengan nafas terengah. Matanya menatap liar ke arah Bastian. Bersiap ingin menerkamnya hidup-hidup. Sebuah tendangan kembali ia layangkan ke bagian perut Bastian. Membuat cowok itu kembali menjerit kesakitan.
Apa ini? Apa yang mereka bicarakan? Rahasia? Pantas saja Ren tidak mengelak dari serangan Bastian. Apakah dia sengaja mengalah? Kenapa? Dan kenapa Bastian menyebut rahasia? Apa Bastian tahu mengenai rahasia Ren? Rahasia yang mana? Apalah rahasia jika Ren adalah.. Jadi itu sebabnya Ren tidak bisa membalas pukulannya? Apa Ren tidak ingin Bastian memberitahukan rahasia itu.. Padaku? Jangan-jangan orang aneh yang mengirimi pesan-pesan aneh di sosial media adalah Bastian? Itu mungkin saja. Selama ini tidak ada yang pernah melakukan teror semacam itu sebelum aku bertemu dengan Bastian.
"Oke, gue akan kasih tahu Sheira sekarang." Setelah mencoba menahan sakit di perutnya, Bastian kini menatapku.
Otakku mulai mencerna apa yang sedang terjadi. Baik, aku tahu apa yang seharusnya kulakukan jika tidak ingin Bastian semakin berulah di halaman rumahku.
"Gue udah tahu rahasia apa yang mau lo bilang." Aku berkata dengan dingin sambil menatap Bastian lurus-lurus.
Ucapanku membuat wajah Bastian yang semula terlihat penuh kemenangan berubah menjadi pucat. Tentu saja. Rahasia yang dianggapnya menjadi senjata untuk dapat mengalahkan Ren itu sudah tidak berguna lagi. Berbeda dengan Bastian, Ren justru menatapku dengan ekspresi aneh. Matanya yang tajam dengan alis yang lebat itu seolah ingin mencari tahu kebenaran dibalik perkataanku.
"Sheira..," desisnya lirih.
***