Bab 14. The Real Diktator!

1260 Words
Blush! Seketika tiba-tiba wajah Maya memerah. Antara malu dan marah bercampur aduk. Tiba-tiba saja pria itu bicara sembarangan di depan banyak orang. Tentu saja suasana di ruangan luas itu menjadi sangat rusuh. “Gen-gendong,” ucap Maya pelan sambil salah tingkah. Maya memalingkan wajahnya dari Adrian. Dia duduk dan berencana membuka lagi laptopnya, siap melanjutkan kerjanya. Tiba-tiba tangan besar Adrian mendarat di atas laptop Maya. Wanita cantik itu sampai sedikit berjingkat kaget. “Coba aja kamu berani buka laptop ini lagi. Aku bakalan gendong kamu!” tegas Adrian yang sedari tadi tidak mengubah mimik wajahnya. “Ada apa lagi ini?” tanya Gavin saat dia keluar dari ruangannya setelah mendengar keributan. “Ck! Ngapain lagi dia,” geram Gavin yang kembali melihat Adrian membuat masalah dengan Maya. Gavin berjalan cepat dan kini dia sudah berdiri di depan Adrian. Dia melihat Maya hanya duduk pasrah sambil sedikit menunduk dan memegang map berkas. Gavin melihat Adrian yang berdiri dengan arogan di depannya. “Mau ngapain lagi kamu, hah? Gak ada puasnya kamu ganggu Maya. Mau bikin apa lagi kamu sekarang hah? Apa belum cukup kamu kasih dia SP1?!” bentak Gavin meluapkan rasa kesalnya. “Maya kena SP? Kok bisa ya?” “Ya ampun kasian Maya.” Ucapan simpati mulai berdatangan untuk Maya. Mereka tidak menyangka kalau staf rajin itu malah kena SP karena ulah candaan Adrian. Adrian menatap Gavin dengan tajam. “Gak ada SP yang turun untuk Maya. Itu semua kesalahan!” “Kesalahan? Kamu pikir surat yang keluar dari HRD itu main-main?” Gavin makin kesal dengan sikap arogan Adrian yang selalu berada di atasnya. “Cek aja kalo gak percaya.” Adrian kembali melihat ke Maya. “May, kamu gak denger apa yang aku bilang?” Maya yang sedang kebingungan, hanya bisa melihat ke arah Adrian. Dia bingunh mau mendengarkan siapa saat ini. Adrian menatap Maya dengan tatapan tajam tapi lembut. Dia berharap wanita itu akan percaya kepadanya. “Heh Adrian, jangan songong kamu ya. Emang kamu siapa berani nyuruh Maya pulang seenaknya. Ini masih jam kantor!” tegur Gavin. Adrian menatap sinis ke arah Gavin. “Apa Bapak gak liat, Maya lagi berantakan. Emang Bapak pikir dia bisa kerja dengan baik kalo keadaannya kayak gini?” Gavin melihat sebentar ke Maya. Wanita itu memang tidak seperti biasanya, karena banyak menangis. Tapi Gavin juga tidak bisa memberi izin begitu saja pada Maya, karena nanti pasti banyak yang protes. Adrian yang kesal karena Maya tidak juga membereskan barang-barangnya, segera mengambil tas Maya dan memasukkan baranh milik roommate-nya. Maya kaget ternyata Adrian senekat ini bahkan tidak peduli dengan ucapan Gavin. Dia langsung berusaha mencegah Adrian membereskan barangnya, tapi sayangnya gerakan tangan Adrian lebih cepat. Adrian langsung meraih tangan Maya dan mengajaknya berdiri. Dia menghadap Gavin sambil mengangkat dagunya. “Maya pulang. Gak usah khawatir kerjaannya gak beres hari ini. Besok pagi semua bakalan ada di meja, Bapak!” tegas Adrian memberikan jaminan. Gavin menyipitkan matanya. Dia tidak suka dengan nada bicara Adrian yang seperti sedang memerintahnya. “Berani melangkah pergi dari sini, saya akan pecat kamu!” ucap Gavin, mengancam Adrian. Rahang Adrian mengetat. Dia mendekat ke Gavin sampai mereka benar-benar sangat dekat. “Coba aja kalo berani. Yang bakalan kehilangan pekerjaan aku ato kamu!” tegas Adrian sama sekali tidak gentar. Adrian langsung menyibakkan badan Gavin yang berdiri di depannya agar dia bisa berjalan sambil membawa Maya. Dia melangkah tanpa menoleh lagi, membawa Maya pulang. Gavin mengepalkan tangannya kuat-kuat. Pegawai baru itu benar-benar menjatuhkan harga dirinya di depan semua orang. Para pegawai yang menjadi saksi perlawanan Adrian melindungi Maya dengan memamerkan kekuatannya langsung kembali bekerja. Dia tidak mau menjadi sasaran kemarahan Gavin yang bisa saja merembet ke mereka. Gavin memejamkan matanya, berusaha menahan emosi. “b******k! Siapa dia sebenernya. Kenapa dia bisa begitu percaya diri bahkan ngelawan aku,” geram Gavin kesal. “Siapa? Siapa orang yang ada di baliknya. Siapaaa?!!!!” pekik Gavin yang penasaran siapa orang kuat perusahaan yang menjadi pendukung Adrian. Adrian dan Maya sudah ada di dalam lift. Wajah Adrian masih tampak mengetat, meski tangannya masih memegang kuat pergelangan tangan Maya. Maya yang lebih pendek dari Adrian, berusaha mencuri pandang lewat pantulan pintu lift. Dia melihat wajah Adrian sangat menakutkan, tidak seperti biasanya. Maya berusaha melepaskan tangannya. Tapi sayangnya genggaman tangan Adrian lebih kuat. Adrian menoleh ke Maya. Wajah garang itu memancarkan sinar lembut, yang selama ini dia sukai. “Sampe rumah langsung mandi. Makan, tidur. Hari ini gak usah mikirin pekerjaan dulu. Kamu istirahat, ngerti?!” pesan Adrian. “Kamu pikir kamu siapa berani ngatur aku, hah?!” tolak Maya yang tidak suka hidupnya diatur oleh pria menyebalkan seperti Adrian. “Gak usah banyak bantak, May. Apa kamu mau aku di rumah dan ngawasin kamu?” “Gak! Gak usah!” tolak Maya yang pasti akan membuat mood-nya susah membaik kalau dia melihat Adrian terus. “Ya udah, kalo gitu gak usah bantah!” Dia orang itu langsung keluar dari lift dan menuju ke lobi. Beruntungnya, saat akan keluar dari lobi, ada taksi parkir yang baru saja menurunkan penumpangnya. Adrian langsung memasukkan Maya ke dalam taksi dan berdiri di pintu sambil memegang pintu. Adrian membungkuk sampai dia bisa melihat Maya yang sudah duduk di dalam mobil. “Udah tau apa yang harus kamu lakukan di rumah?” tanya Adrian lagi. Maya menoleh dan menatap Adrian sinis. “Iya, udah!” Adrian refleks mengacak rambut Maya dengan gemas. “Good! Jalan, Pak,” perintah Adrian pada sopir taksi yang kemudian langsung menutup pintu taksi. Setelah memastikan taksi itu sudah keluar dari gerbang perusahaannya, Adrian pun segera masuk kembali karena pekerjaannya banyak. Sementara itu Maya sedang duduk terdiam di dalam taksi. Tangannya meremas pegangan tas kantornya sambil menatap lurus ke depan. Dadanya berdegup kencang saat tadi Adrian dengan santainya memegang kepalanya. Sudah lama sekali tidak ada pria yang memperlakukannya seperti itu, setelah 4 tahun lalu dia putus dari pacar terakhirya. “Ih, apaan sih, May! Dia itu ngebelin tau! Dilarang baper ama orang nyebelin kayak dia!” gerutu Maya dalam hati, berusaha menyuruh jantung dan perasaannya tidak terlena dengan perlakuan Adrian tadi. ** Adrian pulang ke rumah lebih malam dari biasanya. Maya yang masih marah, tidak memasak untuk Adrian. Hanya sudah menghabiskan semua masakannya sendiri tanpa sisa. Dia juga mengurung di kamar dengan lampu padam, meski dia belum tidur. Adrian melihat meja makan kering kerontang. Tidak ada satu pun makanan di sana. Perut Adrian berbunyi. “Ah, tau gini tadi beli makan di luar.” Adrian menoleh ke kamar Maya. Sudah gelap. Tidak ingin mengganggu Maya, Adrian memesan makanannya sendiri secara online. Dia meletakkan laptop dan berkas pekerjaannya di meja, karena dia masih harus melanjutkan tugasnya membuat proposal presentasi untuk papanya pelajari besok. Adrian masuk ke kamarnya untuk mengambil baju ganti. Dia ingin segera mandi karena sudah gerah. Saat mendengar ada suara dari kamar mandi, Maya memberanikan membuka pintu kamarnya. Dia mengintip keluar untuk melihat keadaan. Ruang tengah kosong. Suara cipratan air dari kamar mandi terdengar lebih keras, karena Adrian sedang mandi. Maya membuka pintu kamarnya lebij lebar. Dia melihat barang Adrian masih ada di ruang makan. “Kapok! Salah sendiri bikin masalah sama aku. Makan tuh kerjaan sampe kenyang malam ini!” gumam Maya sambil cemberut. Maya melihat ada dua berkas di atas maja makan. Dia yang pernah penasaran pada pekerjaan Adrian, ingin melihat lagi memperkuat kecurigaannya lagi. “Dia kira-kira ngerjain apa sih. Tiap hari keliatan kayak stres banget di kantor,” gumam Maya sambil melangkah pelan ke meja makan. Tangan Maya terulur ke berkas paling atas. Dia membuka perlahan berkas yang selalu tampak rahasia itu di matanya. “Laporan pro—“
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD