Brak!
Adrian kaget saat dia mendengar ada suara pintu ditutup dengan sangat kencang. Dia tersenyum tipis, sudah menebak kalau Maya pasti sedang menghindarinya.
“Dia pasti masih ngambek. Ya udah lah, biarin aja. Besok juga baik lagi setelah dia tau apa yang bakalan terjadi,” gumam Adrian sambil menjemur handuknya di jemuran kecil.
Saat Adrian hendak ke kamarnya, dia mendengar ada suara bel di pintu rumah. Teriakan kurir makanan juga langsung terdengar, membuat perut Adrian langsung bergejolak.
Adrian sudah mendapatkan makanannya. Dia akan makan malam dulu, lalu kembali melanjutkan pekerjaannya yang masih tersisa.
Sementara itu Maya masih berdiri di balik pintu kamarnya. Dia masih takut melangkah, takut roommate-nya akan mendengar apa yang dia lakukan.
Saat Maya mulai mendengar ada suara-suara di dapur, dia berjalan berjinjit menuju ke tempat tidurnya. Dia menutupi kakinya yang telah duduk bersila di atas kasur dengan selimut. Maya terdiam sambil kembali mengingat apa yang dia lihat di berkas Adrian tadi.
“Laporan proyek. Mas Adrian lagi ngerjain proyek? Bukannya itu tugas Pak Gavin ya. Eh, manajer lain maksudnya,” gumam Maya sambil membaringkan tubuhnya perlahan di kasur.
“Kenapa dia yang ngerjain laporan itu ya. Aku aja belum pernah ngerjain laporan kayak gitu. Duh, dia ini siapa sih sebenernya.”
Pikiran Maya kembali memutar semua yang dikatakan oleh Adrian. Semua rasa percaya diri dan ucapan sombong Adrian yang terlihat sangat natural.
Bagaimana Adrian tidak takut pada siapa pun di kantor. Sikap sok kayanya yang terlihat sudah mengalir di darahnya sejak dulu terlihat tidak dibuat-buat seperti karyawan lain.
Keseriusannya bekerja juga terlihat sangat berbeda. Maya yang duduk tepat di depan Adrian, kerap mencuri pandang saat Adrian bekerja.
Vibes CEO-nya sangat kuat. Bahkan lebih kuat meski dibandingkan dengan Gavin yang benar-benar manajer.
Maya menarik selimutnya sampai menutupi lehernya. Pandangannya menembus plafon kamarnya yang dari semen cor.
“Apa jangan-jangan kecurigaan Pak Gavin bener kalo dia itu titipan orang atas ya. Tapi siapa? Penasaran banget aku,” gumam Maya pelan.
Maya tidak bisa tidur. Dia terus mengedip-ngedipkan matanya sambil berpikir. Dia kini malah dibuat penasaran dengan jati diri sebenarnya Adrian.
“Eh ya ampun!” ucap Maya kaget saat dia tiba-tiba mendengar ada suara ketukan di pintu kamarnya.
“May, aku beliin kebab kesukaan kamu. Makan gih, mumpung masih anget,” ucap Adrian dari depan pintu kamar Maya.
“Udah tidur!” pekik Maya kesal.
“Tidur?” Adrian sedikit kaget, tapi sedetik kemudian dia terkekeh.
“Aku gantungin di pintu kamar. Makan sambil merem juga gak papa,” ucap Adrian sambil membuka pintu kamar Maya sedikit, untuk menggantung kebab itu di dalam kamar.
Adrian menutup pintu kamar Maya sambil tertawa tanpa suara. Wanita di dalam kamar itu, masih tetap saja lucu meski sedang marah kepadanya.
Keadaan Maya di dalam kamar tidak baik-baik saja. Dia menutupi wajahnya dengan selimut. Dia merutuki kebodohannya sendiri dengan jawaban bodohnya.
Maya yakin kalau saat ini pasti Adrian sedang menertawakannya seperti biasanya. Maya meringkuk di balik selimut, berusaha tidur.
Tapi sayangnya, kata kebab yang menggantung di pintu kamar, malah membuat otaknya menyuruh lambung nakalnya itu berbunyi. Rayuan makanan kesukaannya itu, mengalahkan gengsi dan rasa malunya.
“Bodo ah! Kan udah dikasiin aku. Sayang kali gak dimakan,” gerutu Maya sambil berjalan mengambil kebabnya.
Maya makan kebab kiriman Adrian di atas tempat tidur. Pria itu masih saja mengingatnya, meski sejak tadi pagi dia marahi.
“Dia makan apa ya? Kasian, harusnya dia tidur. Ini udah malam banget,” gumam Maya sambil mengunyah dan melihat jam dinding.
Maya beberapa kali melihat ke arah pintu kamarnya. Dia ingin keluar, tapi dia juga gengsi karena masih kesal pada kelakuan Adrian.
Maya memutuskan tidak mudah luluh hanya karena sepotong kebab. Dia meneruskan makan dan kembali tidur agar besok tidak terlambat masuk kantor.
Adrian masih di ruang makan. Dia menikmati makan malam yang terlambat sambil mengerjakan tugasnya. Materi presentasi pertama yang dia buat untuk proyek penting.
Alarm ponsel Maya berbunyi. Wanita cantik itu menggeliat, meluruskan tulangnya yang kaku.
Maya menggelung rambutnya ke atas lalu segera berjalan keluar kamar. Saat akan berjalan ke kamar mandi, Maya dikagetkan dengan pemandangan tidak lazim di rumah ini.
Adrian tertidur di meja makan. Sisa makan malamnya masih ada di meja, bahkan pekerjaannya juga masih berserakan di atas meja. Sepertinya pria itu ketiduran saat mengerjakan tugasnya semalam.
“Kasian banget dia. Lembur sampe jam berapa sih emangnya,” tanya Maya bermonolog sendiri sambil meraih sampah bekas makanan Adrian di atas meja.
Maya yang biasanya marah saat ada sesuatu yang berantakan di rumah, kini jadi lebih lembut. Dia melihat ke Adrian yang tengah tertidur pulas.
Guratan lelah itu masih ada di wajah tampannya. Dengkuran kecil juga terdengar, tanda tidurnya sangat lelap.
“Aku buatin sarapan deh,” ucap Maya pelan, sambil beranjak ke dapur.
Brak!
“Jam berapa ini?” tanya Adrian tiba-tiba saat dia terbangun dari tidurnya.
Maya melihat jam bulat besar di dinding ruang tengah. “Jam 6 lebih,” jawab Maya.
Adrian menoleh ke Maya. “Jam 6? Mati aku! Aku telat!”
“Telat? Jam kantor masih lama kok,” gumam Maya bingung.
Adrian tidak lagi menjawab. Dia mengecek pekerjaannya semalam di laptop. Setelah semua aman, dia segera merapikan semua berkasnya yang masih berantakan dan membawa semua barang itu ke kamarnya.
Maya masih terdiam di dapur, melihat apa yang dilakukan Adrian. Dia bahkan lupa apa yang tadi akan dia kerjakan, hanya bisa berdiri diam, melihat kehebohan Adrian.
Adrian berjalan cepat ke kamar mandi. Dia melewati Maya begitu saja, tanpa menggodanya seperti biasanya.
“May, tolong pesenkan aku grab sekarang dong. Tolong banget,” pekik Adrian dari dalam kamar mandi.
“Grab? Iya ... aku pesenin,” jawab Maya.
“Ni orang lagi ngelindur apa ya. Jam segini udah mau ke kantor. Ck! Biarin aja, lagi mode karyawan rajin kali dia.”
Maya segera ke kamarnya untuk memesan taksi online untuk roommate-nya yang tampak sangat terburu-buru itu. Dia kemudian kembali keluar dari kamar menuju ke dapur.
Maya masih disuguhkan dengan pemandangan Adrian yang sangat terburu-buru. Tapi dia gengsi mau bertanya, karena dia masih ingin melanjutkan mode ngambeknya.
Pagi ini berakhir dengan kedua orang itu untuk pertama kalinya pergi ke kantor tidak bersama. Maya masih penasaran ke mana Adrian pergi tadi pagi.
Pria itu tidak mengatakan akan pergi ke mana kepadanya. Adrian hanya mengatakan kalau mereka akan bertemu nanti di kantor.
Maya tiba di kantor. Dia masuk kantor sudah dengan wajah cerah jika dibandingkan kemarin.
Maya berjalan ke ruang kerjanya sendiri. Pandangannya langsung tertuju ke meja kerja Adrian.
Sepi. Meja itu masih rapi, seperti belum disentuh sama sekali.
Maya melihat ada tumpukan berkas di atas meja kerjanya. Dia duduk di kursi kerjanya dan mengambil sebuah catatan kecil di atas tumpukan berkas itu.
“Udah aku kerjakan semuanya. Koreksi lagi, siapa tau ada yang salah. Adrian,” ucap Maya pelan, membaca pesan di kertas kecil itu.
“Mas Adrian ngerjain semua tugas aku?! Yang bener aja.”
Maya yang tidak percaya langsung memeriksa semua berkas itu, mengingat kemarin dia sama sekali tidak bisa mengerjakannya. Raut wajah Maya semakin tegang saat dia memeriksa semua berkas itu.
Semua dikerjakan sangat rapi. Bahkan Adrian bisa menemukan detail salah kecil dan langsung pria itu benarkan juga.
“Ya ampun, dia beneran kerjain semua ini kemaren. Apa gara-gara ini dia kemaren sampe lembur?” gumam Maya bermonolog sendiri.
Maya jadi merasa bersalah pada Adrian. Dia yang mengira Adrian tidak peduli padanya, malah menyelamatkan dia dari tumpukan pekerjaan yang harus dia kerjakan hari ini.
Maya mengangkat pandangannya. Melihat meja kerja Adrian yang masih terlihat sepi, padahal jam kantor sudah hampir tiba.
“Tapi dia ke mana ya? Kok sampe sekarang belum dateng, padahal dia udah pergi dari pagi,” gumam Maya mencari keberadaan Adrian yang tidak dia lihat