“May,” panggil seseorang sambil menyentuh pundak Maya.
“Mas,” ucap Maya sambil menoleh ke belakang.
Wajah cerah Maya mendadak hilang saat dia melihat siapa yang ada di depannya.
“Pak ... Pak Gavin,” lanjut Maya setelah dia mengetahui siapa yang ada di depannya.
Gavin sedikit kesal karena Maya sepertinya menunggu kedatangan Adrian dari pada dia.
Gavin tersenyum garing. “Kenapa, May? Nyari Adrian ya?” tanya Gavin.
Gavin melihat ke meja Adrian yang masih rapi. “Kayaknya dia belum dateng. Ato emang bener dia mundur,” lanjut Gavin.
“Mundur?! Apa maksudnya Mas Adrian mundur, Pak?” tanya Maya dengan mata yang terbuka lebar.
Gavin melihat ke Maya. Dia tidak suka dengan reaksi yang diberikan Maya untuk Adrian.
“Kenapa dia kayak gini. Apa dia terlalu khawatir sama si b******k itu?” gerutu Gavin dalam hati.
Maya melihat Gavin. Pria itu bukannya menjawab pertanyaannya, malah menatapnya saja.
“Pak, apa maksudnya Mas Adrian mundur? Apa dia gak akan kerja lagi?” tanya Maya berharap dia akan menjawab jawaban.
Gavin melihat ke sekitarnya. Pegawai lain mulai berdatangan, akan tidak nyaman kalau mereka akan menjadi perhatian banyak orang.
“Keruangan saya dulu. Saya jelaskan di sana.”
Gavin segera berjalan lebih dulu ke ruang kerjanya. Dia mulai kesal karena Maya sepertinya lebih ingin tahu kabar Adrian dari pada kabar yang akan dia sampaikan.
Maya menyambar ponselnya lalu segera berjalan mengikuti Gavin. Dia segera duduk di depan meja kerja Gavin, berhadapan dengan pria tampan yang selalu baik kepadanya.
Gavin mengambil amplop putih yang baru saja dia dapatkan dari HRD. Dia menyerahkan amplop itu ke Maya.
“Buat kamu, May,” ucap Gavin sambil tersenyum.
Maya melihat ke amplop di depannya itu lalu ke Gavin. Tatapan Maya penuh pertanyaan dan kegelisahan.
Gavin menyandarkan punggungnya ke sandaran kursi kerjanya. Dia menautkan jari-jarinya di depan perutnya sambil terus tersenyum pada Maya.
“Akhirnya SP kamu di batalkan, May,” ucap Gavin.
Maya mengangkat pandangannya dengan ekspresi kaget. “Dibatalkan?”
Gavin mengangguk. “Iya. Setelah saya negosiasi sama Pak Bambang, akhirnya semua dibatalkan.”
“Karena Pak Gavin?” Ada sedikit nada kecewa di suara Maya.
“Iya. Padahal kemaren pas rapat saya cuma ngomong dikit aja loh sama Pak Bambang. Gak taunya Pak Bambang langsung ngerti dan akhrinya surat ini keluar.” Gavin memamerkan jasanya ke Maya.
Maya tersenyum canggung. Entah mengapa dia tidak bisa full senyum dan bahagia mendengar kabar baik ini.
Pikirannya masih tersita ke Adrian. Dia masih ingin tahu soal keberadaan Adrian saat ini.
Maya membaca surat keputusan terbaru yang dia terima. Senyum tipis tergambar di bibirnya.
Senyum lebar Gavin menghilang. Dia tidak suka dengan reaksi yang ditunjukkan Maya kepadanya.
“Kenapa, May? Apa kamu gak seneng sama keputusan ini?” tanya Gavin.
“Oh, gak gitu, Pak. Saya ... saya makasih banget dengan usaha Pak Gavin udah bantu saya. Lega rasanya,” jawab Maya.
“Tapi kamu kenapa keliatan sedih, May?” tanya Gavin lagi.
Maya memberanikan diri menatap Gavin. “Emm ... maaf, Pak. Saya boleh tanya sesuatu?” tanya Maya ragu.
“Apa? Kamu mau tau apa?”
“Soal ... soal Mas Adrian, Pak. Tadi kayaknya Pak Gavin tahu sesuatu soal Mas Adrian.”
Wajah Gavin mendadak berubah menjadi kesal. Padahal dia berharap kalau Maya hari ini akan banyak bertanya pada dirinya tentang bagaimana dia membujuk Bambang. Atau setidaknya Maya akan mati-matian berterima kasih pada dirinya.
Tapi semua malah di luar prediksinya. Yang menjadi pusat perhatian Maya justru adalah Adrian. Pria menyebalkan yang malah menyita perhatian Maya, yang selama ini sedang dia perjuangkan.
Gavin mendengus kesal. “Adrian. Saya gak tau dia di mana. Tapi saya dengar, ada yang dipecat dari peristiwa kemarin. Bisa aja kan itu Adrian. Kan di—“
“Gak mungkin! Mas Adrian semalam masih lembur sampe pagi, Pak. Dia bahkan berangkat ke kantor pagi-pagi banget,” potong Maya, mengungkap fakta yang dia ketahui.
Alis Gavin mengerut. “May, kamu kok tau semua tentang Adrian. Emang kamu tinggal bareng sama dia?”
DEG!
Maya terjebak pada jawabannya sendiri. Dia salah bicara, yang membuat dirinya malah berada dalam posisi sulit.
Maya panik. Dia menyuruh otaknya bekerja cepat menemukan jawaban masuk akal atas pertanyaan mematikan Gavin.
“Ting-tinggal serumah? Ya gak mungkinlah, Pak. Mana ada ya tinggal sama dia,” bantah Maya sambil tersenyum penuh keterpaksaan.
“Lalu, kenapa kamu bisa tau kalo dia semalam lembur sampe pagi dan pergi ke kantor pagi-pagi?” cecar Gavin.
“Oh kalo soal itu ... itu karena dia tinggal di ... di apartemen sebelah saya, Pak. Iya, dia tinggal di sana.”
“Kan kami satu kampung, jadi dia tinggal sama teman kami yang kerja di kantor lain. Dan temen saya yang itu yang kasih kabar, Pak.” Maya mengarang cerita bebas lagi dan berharap Gavin akan percaya.
“Kalian tinggal bersama?” ulang Gavin pelan.
“Sebelahan, Pak. Iya ... sebelahan.”
“Hmmm. Trus kenapa kamu tau dia lembur dan pergi pagi-pagi?” Gavin berusaha percaya meski dia masih sangsi.
“Saya tadi mampir ke situ. Bagi sarapan pagi, Pak. Kata temen saya, Mas Adrian udah pergi.”
“Maaf Pak, tapi yang kabarnya dipecat itu bukan Mas Adrian kan?” Maya segera mengalihkan pembicaraan karena dia tidak ingin terus dicecar oleh Gavin.
“Kalo soal siapa yang dipecat itu ... jujur saya juga belum tau. Tapi saya sudah mendengar kabar itu.”
Maya semakin panik. Apa lagi dia masih belum melihat Adrian di kantor pagi ini.
Gavin makin kesal dengan sikap Maya yang terang-terangan memperlihatkan kekhawatirannya. Wanita itu sampai memainkan kukunya sendiri dan tenggelam dalam pikirannya yang pastinya tertuju ke Adrian.
Maya melihat ke Gavin. “Pak Gavin, hmm ... nanti kalau Bapak tau siapa orang yang dipecat, tolong kabari saya ya, Pak?” pinta Maya dengan tulus.
Gavin melepas napas berat. “Kamu kayaknya khawatir sekali dengan Adrian. Ada hubungan apa kamu sama dia, May?” tanya Gavin yang tidak ingin menyembunyikan perasaan penasarannya.
“Hub-hubungan?” Maya menggeleng. “Gak ada kok, Pak. Hanya sebatas rekan kerja saja,” jawab Maya gugup.
“Maaf Pak, saya pamit dulu. Sekali lagi makasih atas bantuannya, Pak,” pamit Maya yang tidak sanggup lagi menyembunyikan rasa gugupnya.
Maya segera meninggalkan ruang kerja Gavin. Dia tidak mau diinterogasi terus oleh Gavin tentang Adrian. Dia tidak pandai berbohong, dia takut kalau semua orang akan tahu kalau dia dan Adrian tinggal bersama.
Maya kembali ke meja kerjanya. Dia melihat meja kerja Adrian yang masih rapi dan papan nama yang masih tergeletak di sana.
“Mas, kamu di mana? Kenapa kamu gak di kantor? Kamu di mana sebenarnya?” tanya Maya dalam hati.