Bab 17. Kehilangan

1324 Words
Maya melihat ponselnya. Tidak ada pesan masuk atau pun panggilan masuk dari orang yang dia tunggu sejak tadi. Keadaan meja di depannya juga tetap tidak berubah. Rapi, tanpa penghuni. Maya menjatuhkan punggungnya ke sandaran kursi. Pikirannya kembali pecah hari ini. Bukan karena masalah, tapi khawatir akan keberadaan Adrian. Sejak tadi pria yang biasanya mengganggunya itu hilang dari peredaran. Maya melepas napas berat. Dia memegang ponselnya. Mencari nama Adrian yang hari ini terlalu sunyi. “Sampe siang dia gak di kantor. Dia juga gak ada pesan. Dia ke mana sih sebenernya?” gumam Maya pelan. “Apa dia ikut marah ya gara-gara kemaren?” Maya memejamkan matanya, bingung harus berkata apa. “Apa aku telpon aja dia? Ah, aku kirim chat aja lah.” Maya segera mengetik pesan untuk Adrian. Tentu saja dia hanya ingin tahu di mana roommate-nya itu berada. Berulang kali dia menghapus pesan itu, karena tidak yakin kalimatnya tepat. Maya berulang kali merevisi pesan itu, seolah dia akan mengirim pesan pada atasannya saja. “Ya udahlah, gini aja. Ini udah yang paling datar,” gumam Maya pelan mencoba meyakinkan itu pilihan terbaik, setelah dia berulang kali mencoba. “May!” panggil Silvi yang duduk di samping Maya. “Eh ya ampun!” Maya terlonjak kaget saat tangan Silvi mendarat tanpa aba-aba di pundaknya. Mata Maya melotot. “Yaaah ... kok ... kok malah kekirim sih. Aaahhh!” pekik Maya frustrasi saat melihat pesannya itu terkirim sendiri saat dia kaget tadi. “Apanya yang kekirim, May?” tanya Silvi sambil mencoba mengintip ponsel Maya. Maya menutup ponselnya. “Gak bukan apa-apa. Kenapa?” tanya Maya pada Silvi. “Makan yuk. Dah jam istirahat.” Maya melihat ke jam dinding besar di ruangan luas itu. Ternyata memang benar sudah jam makan siang dan Adrian belum juga datang. Maya melihat ponselnya. Dia teringat pesan yang terkirim secara tidak sengaja itu. “Bodo ah! Lagian itu pesan biasa aja kok,” gumam Maya pelan. Maya menutup layar laptopnya. “Yuk ah. Aku juga laper. Maya dan Silvi segera berjalan bersama menuju ke lift. Mereka akan menuju ke lantai 2, di mana kantin berada. Maklumnya, tanggal sedang ada di tengah leher, harus banyak menghemat untuk akhir bulan. Seperti biasanya Maya dan Silvi mengantre sebelum mendapatkan makanan mereka. Saat melihat antrean di jalur para petinggi kosong, Maya kembali teringat pada Adrian lagi. Pria yang selalu saja cerewet dan mengomentari apa pun yang dia lihat di perusahaan, membuat Maya pusing sendiri. Tapi kini saat Adrian tidak ada, ada sisi yang hilang di hati dan pikiran Maya. Maya merindukan Adrian. “May,” panggil Silvi yang berdiri di belakangnya. “Hemm “ “Adrian ke mana sih? Kok dia gak masuk?” tanya Silvi ingin tahu. “Gak tau. Ngapain nanya ke aku.” “Ya kan selama ini kamu yang deket ama dia, May.” Maya sedikit melirik. “Deket tapi bukan berarti harus tau semuanya ya!” tegas Maya. Maya mengambil makanannya. Dia mencari tempat duduk kosong, sambil menunggu Silvi selesai mengambil makanannya. Untungnya ada satu sisi meja panjang yang kosong. Maya dan Silvi segera bergabung dengan pengguna lain dan makan bersama sebelum jam istirahat selesai. “Eh ... katanya Pak Irwan naik jabatan ya?” “Katanya gitu. Katanya mau gantiin Pak Bambang.” “Pak Bambang? Pak Bambang HRD kah? Kenapa di pecat?” tanya Maya dalam hati saat dia mendengarkan obrolan karyawan lain. “Baguslah kalo dia dipecat. Sebel banget aku ama orang itu.” “Iya. Kabarnya kemaren dia sembarangan keluarkan SP. Jadi aja sekarang langsung kena pecat. Salah sendiri kerja sembarangan.” “Bukannya habis di kasih SP1 ya?” “Iya emang. Makanya sekarang dipecat. Bukannya introspeksi, malah bikin masalah lagi.” Maya terus mendengarkan cuitan di tetangga duduknya. Nafsu makannya berkurang banyak, karena kembali teringat Adrian. “Berarti yang dipecat bukan Mas Adrian. Yang dipecat Pak Bambang,” gumam Maya dalam hati. “Dia udah tau belum ya? Ah, aku kasih tau aja lah biar dia segera ke kantor karena ada kesalahpahaman.” Maya langsung meletakkan alat makannya dan mengambil ponselnya. Dia akan mengabarkan ke Adrian kalau dia tidak dipecat dan harus segera kembali ke kantor. Maya mulai mengetik berita pemberitahuan itu dengan bahasa yang sopan. Dia takut Adrian ikut marah kepadanya, karena tadi pagi langsung pergi tanpa pamit lalu menghilang. Maya selesai mengirim pesan. Dia melihat pesan yang pertama dia kirimkan. “Kok masih centang 1? Di ke mana sih, kenapa pesanku gak kekirim,” gerutu Maya yang kini kembali dihantui rasa bersalah. Maya nekat menghubungi Adrian. Tapi ternyata ponsel Adrian gak aktif. Perasaan tidak tenang kembali menyerang Maya. Setelah dia memberanikan diri menghubungi Adrian, kini malah disajikan dengan kabar kalau pria itu tidak bisa dihubungi. Maya panik! Pikiran aneh-aneh menyerangnya. Takut Adrian pergi tanpa pamit. Takut Adrian putus asa dan akan berakhir lebih buruk. Karena Adrian, Maya tidak nafsu makan. Dia meninggalkan kantin lebih dulu, padahal dia baru makan beberapa suap saja. “Mas kamu di mana? Kenapa kamu. Gak bisa di hubungi?” “Mas, kamu gak papa kan? Jangan bikin aku khawatir!” “Cepet kabari aku ato aku usir kamu dari rumah!” “Mas, tolonglah. Kalo marah jangan sampe ngilang gini. Jangan sampe kamu hilang akal ya. Yang dipecat bukan kamu kok. Cepet kabari aku ya.” “Mas! Kamu sengaja ya! Ya udah, aku makin marah!” Maya mengirim pesan suara pada Adrian dengan berbagai emosi. Dia makin kesal karena ternyata pesannya juga tidak kunjung centang dua. “Awas aja ya, kalo sampe besok dia gak muncul. Aku bakalan lapor polisi dan bikin pengumuman orang ilang!” geram Maya yang makin kesal. Akhirnya jam pulang kantor tiba. Maya yang sedari tadi tidak bisa fokus bekerja, memutuskan pulang saja dan mengerjakannya di rumah. Maya ingin mengecek kamar Adrian. Dia ingin melihat apa Adrian masih di apartemennya atau tidak. Setibanya di rumah, Maya langsung meletakkan barangnya di meja makan. Dia langsung menuju ke kamar Adrian dan berdiri di depan pintu. Maya mendongak ke atas. Gelap, lampu kamar belum menyala yang artinya penghuninya tidak ada. Maya mengetuk pintu kamar Adrian. Tidak ada respons. “Mas, kamu di dalem? Aku masuk ya?” tanya Maya sekedar meminta izin sebelum masuk ke kamar Adrian. Maya menarik napas dalam. Dia membuka pintu kamar dan menyalakan lampu. Dia melihat koper besar Adrian masih ada di sana. Perlengkapan skincare juga masih tertata rapi di atas meja kecil di kamar itu. Beberapa pakaian Adrian juga masih tergantung di balik pintu. Adrian masih ada, tapi entah ada di mana. Maya masuk ke kamar Adrian. Dia duduk di tepi ranjang sambil melihat sekeliling kamar yang tidak terlalu luas itu. Kamat itu sedikit berantakan, pasti karena tadi pagi Adrian pergi terburu-buru. Baju kotornya juga masih ada di atas tempat tidur, yang pasti dilempar pemiliknya tadi pagi. “Dia gak pergi, tapi dia ke mana seharian dia gak di rumah. Dia pergi ke mana sih?” ucap Maya pelan karena masih belum mendapatkan titik terang tentang keberadaan Adrian. Maya menyugar rambutnya kasar. Dia menjatuhkan kepalanya yang terasa berat memikirkan keberadaan roommate-nya yang masih tidak jelas. Maya bahkan mulai menitikkan air mata, menyesali kemarahannya kemarin yang mungkin terlaku menyakiti Adrian. Saat Maya sudah sangat patah harapan, tiba-tiba terdengar suara dari arah pintu depan. Ada yang menekan kombinasi angka pembuka apartemen. Maya langsung menegakkan punggungnya. Dia melihat ke arah pintu, berharap itu adalah Adrian. Maya mulai melangkah keluar dari kamar Adrian. Dia ingin melihat siapa yang datang. Pintu depan terbuka. Seorang pria tampan yang sedari tadi memenuhi pikiran Maya muncul di hadapan Maya. “Mas!” pekik Maya begitu dia melihat Adrian datang. Tanpa berpikir lagi, Maya langsung berlari ke arah Adrian dan langsung memeluk pria itu. Adrian yang tadi kaget karena Maya berteriak memanggilnya, kini malah semakin kaget saat wanita itu tiba-tiba memeluknya dan memeluk pinggangnya erat. Tangan Adrian yang memegang barang di kedua tangannya jadi bingung dengan kejadian ini. Dadanya sudah terasa basah, karena air mata Maya. “May, kamu kenapa? Kenapa nangis?” tanya Adrian kebingungan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD