Bab 18. Kangen Yang Mematikan

1146 Words
“May, ada apa?” tanya Adrian kaget saat tiba-tiba Maya memeluknya tanpa aba-aba. Adrian yang tidak tahu apa-apa hanya berdiri sambil merentangkan kedua tangannya ke samping. Bukan karena tidak mau memeluk Maya, tapi kedua tangannya sedang memegang barang. Tidak mungkin dia membalas pelukan Maya yang pasti nanti badan mungilnya akan terkena barang bawaannya. Adrian merasakan dadanya basah. Maya menangis. “May, kenapa? Kok nangis? Ada apa? Bilang dong?” tanya Adrian yang takut Maya baru saja mendengar berita buruk tentang keluarganya. Maya masih saja menangis. Dia tidak memedulikan pertanyaan Adrian. Yang ada di pikiran Maya hanya dia merasa lega karena Adrian kembali dalam keadaan sehat. Adrian masih ada di rumahnya. Maya baru tersadar kalau dia di pelukan Adrian saat pria yang dia peluk itu mengusap punggungnya, tapi bokongnya kena pukul tas yang dipegang Adrian. Maya langsung melepas pelukannya dan mendorong Adrian. Dia langsung membuang muka dan menyeka air matanya. Adrian terhuyung dan hampir jatuh. Untung saja di belakangnya ada pintu, sehingga dia tidak jadi jatuh. Adrian melihat Maya yang masih berdiri di depannya. Wanita itu membuang muka darinya, sambil masih sesenggukan. Adrian maju selangkah. “May, kamu kenapa?” tanya Adrian pelan, ingin tahu apa yang terjadi pada Maya. Maya menatap sinis ke arah Adrian, tapi sedetik kemudian pandangannya turun lagi. “Gak papa!” jawabnya ketus dengan suara serak, sisa tangisnya. “Kalo gak papa kenapa nangis, May?” Adrian kembali maju selangkah, mendekati Maya. Maya menatap sinis ke Adrian. Wajahnya mengetat, bahkan bibirnya sudah komat-kamit. Adrian berdiri di depan Maya sambil melepas sepatunya. Dia menanti jawaban Maya yang sepertinya sedang tidak baik-baik saja. “Dari mana kamu?” tanya Maya berusaha menahan amarahnya agar tidak meledak. “Aku? Aku dari Bandung,” jawab Adrian sambil menunjukkan kotak oleh-oleh yang tadi dia beli di Bandung. Alis mata Maya mengerut. “Bandung?” Adrian mengangguk. “Iya. Aku dari Bandung. Tadi aku nem—“ “KENAPA GAK BILANG KALO KE BANDUNG!” pekik Maya meluapkan emosinya. Adrian mundur selangkah. “Eh buset! Ngamuk dia,” ucap Adrian pelan, kaget dengar teriakan Maya tepat di depan mukanya. “Kenapa kamu gak bilang kalo kamu ke Bandung. Kenapa gak hubungi aku! Kenapa kamu gak bales chat aku! Kenapa?!” Maya masih histeris. Adrian terdiam sejenak. Dia kemudian tersenyum tipis melihat reaksi Maya yang meledak, seperti sedang mengkhawatirkannya sejak pagi. Adrian sedikit membungkuk, agar bisa melihat wajah cantik Maya yang sedang bengkak, sisa tangisannya. “Kamu nangis gara-gara aku ngilang ya? Kangen aku ya?” Mendengar pernyataan yang terdengar sangat kurang ajar itu, Maya segera membulatkan matanya. Tentu saja dia malu kalau sampai Adrian tahu dia menangis karena mengkhawatirkan pria tampan itu. “Siapa yang nangisin kamu! Aku gak nangis gara-gara kamu!” bantah Maya. “Na trus nangis karena apa?” ledek Adrian yang tetap saja yakin kalau Maya menangis karena dia. “Aku ... aku tadi liat ... liat drakor. Iya, aku liat drakor!” “Ah masa?” Adrian semakin menggoda Maya. Maya memonyongkan bibirnya. “Bodo ah! Aku marah sama kamu!” Maya langsung berbalik dan berjalan cepat menuju ke kamarnya. Dia tidak mau terus menerus diledek oleh Adrian. Maya membanting pintu kamarnya dan langsung berjalan sambil mengentak-entakkan kakinya di lantai, membuang rasa kesal. Tentu saja dia kesal, setelah dia ketahuan mengkhawatirkan Adrian. Bukan hanya sekedar khawatir, Maya malah menangis juga. Tentu saja ini membuat dia sangat malu. Maya meninju bantalnya berkali-kali. Dia bahkan menarik-narik selimutnya seperti akan menyobeknya melampiaskan amarahnya pada dirinya sendiri yang sangat malu. “Adrian b******k! Ngapain juga tadi aku pake nangis depan dia. Iihh!!! Nyebeliin!” Maya merutuki dirinya sendiri yang pasti sedang jadi bahan tertawaan Adrian saat ini. Dia menyesal kenapa dia terlalu mengkhawatirkan pria itu apa lagi sampai bertindak berlebihan seperti itu. Maya frustrasi! Adrian terkikik melihat reaksi Maya tadi. Dia tidak menyangka kalau Maya akan sekhawatir itu kepadanya. Padahal kemarin wanita itu sangat marah kepadanya. Tapi dia juga salah, karena tidak pamit papa Maya. Tapi itu semua karena dia bangun kesiangan. Dia bahkan tidak sempat membawa ponselnya, karena papanya sudah menunggu di depan apartemennya. Adrian yang kemarin hanya diminta untuk membuat bahan presentasi, mendadak tadi malam dihubungi agar dia saja yang presentasi. Adrian juga tidak mengira kalau dia akan dibawa ke Bandung oleh papanya. Adrian meletakkan kantong oleh-olehnya di meja. “May, aku beli batagor Bandung. Makan yuk,” panggil Adrian yang ingin menikmati batagor itu bersama Maya. “Gak mau! Makan aja sendiri!” jawab Maya masih ketus. Adrian menoleh ke pintu kamar Maya. “Yah, ngambek lagi dia. Dia yang khawatir, dia yang nangis, eh ... dia juga yang ngambek,” gumam Adrian pelan. Adrian meletakkan dulu tas ya ke kamar. Dia sedikit kaget karena kamarnya terbuka dan lampunya menyala. Adrian terkekeh. “Apa dia barusan masuk sini? Dia pasti ngecek apa aku kabur.” Adrian meletakkan tasnya di meja lalu dia mengganti pakaiannya. Adrian mencari ponselnya, yang sedari tadi tertinggal di kamar. “Sampe mati begini. Pantes aja dia ngamuk,” ucap Adrian yang mendapati ponselnya mati. Adrian yang sudah kelaparan segera keluar dari kamar. Dia membuka bungkusan batagor dan kue yang dia beli. “Yah, kudu di panasin ya,” ucap Adrian pelan saat dia membaca petunjuk di kemasan batagor. “May, batagornya harus di panasin. Bantuin dong,” pinta Adrian. “Gak mau!” Maya masih ngambek karena malu. “Aku gak bisa, May.” “Ya udah gak usah makan!” Adrian menoleh ke pintu kamar Maya. “Ih, ngambeknya beneran ni orang.” Adrian yang sudah ingin memakan batagor itu terpaksa masuk ke dapur. Dia membuka kemasan itu dan menaruh penggorengan di atas kompor. “Ini gimana ya? Muternya ke kanan apa ke kiri?” Adrian kebingungan menyalakan kompor. Maklumlah, dia tidak pernah masuk dapur selama ini. Beberapa kali Adrian mencoba menyalakan kompor tapi tetap saja apinya tidak mau menyala. Kesabarannya yang setipis tisu itu mulai teruji. “b*****t! Lu mau nyala gak sih!” umpat Adrian yang sudah mulai marah. Suara kompor di nyalakan berulang-ulang mengganggu Maya yang ada di dalam kamar. Dia takut Adrian akan membakar rumah ini, kalau pria itu emosi pada kompor. Maya keluar dari kamar. “Mau ngapain kamu? Mau bakar rumah ini?” tanya Maya sambil berjalan ke arah dapur. Adrian melihat ke Maya. “Ini loh, gak mau nyala dia. Abis kali gasnya.” “Kamu aja yang gak bisa.” Maya menyalakan kompornya. “Tuh bisa!” Senyum Adrian mengembang. “Kalo gitu sekalian goreng ya, May. Aku mau mandi.” “Gak mau! Goreng sendiri.” “Goreng lah. Ntar kita makan bareng. Aku bau nih!” Adrian sengaja mengangkat tangannya agar keteknya mendekat ke Maya. “Adrian! Jorok tau! Buruan mandi sana!” pekik Maya sambil memukul badan Adrian dengan sutil. Adrian tertawa. “Bau tapi di kangenin ya, May. “Adrian!!! Kusiram minyak panas ntar ya!!!” pekik Maya yang kesal karena pria itu masih saja meledeknya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD