Bab 19. Mendadak Intim

1317 Words
Maya menyajikan batagor bawaan Adrian di atas meja makan. Si pemilik masih di dalam kamarnya, berganti pakaian setelah mandi. Adrian keluar dari kamarnya. Dia melihat Maya sedang menata makanan yang dia beli tadi. “Kok cuma satu porsi, May?” tanya Adrian sambil mengacak rambutnya yang masih basah. “Makan aja sendiri,” jawab Maya masih ketus. “Eh, kok gitu? Emang kam—“ “Gak! Aku mau tidur!” “Eh, kok gitu sih. Aku beli buat kita berdua loh.” “Bodo amat! Aku mau ti—“ Belum selesai Maya bicara, tiba-tiba tangannya di tarik kuat oleh Adrian. Badan mungil Maya mendarat sempurna di d**a Adrian yang langsung mengunci pinggang wanita itu dengan sangat posesif. “Aduh! Kamu ken—“ Kali ini ucapan Maya terhenti karena tatapannya bertabrakan dengan Adrian. Tatapan tajam dan dalam, yang membuat dadanya berdegup kencang. Adrian melangkah maju meletakkan tubuh Maya di pinggiran meja makan. Kedua tangannya kini berpegangan di meja makan, mengunci tubuh Maya, agar tidak lepas dari kuasanya. Tatapan Adrian tertuju pada wanita di depannya yang menjadi tempatnya berbagi rahasia. Wanita yang mengganggunya, tapi juga sangat dia cemaskan keadaannya. “Maaf. Maaf aku tadi gak hubungi kamu. Ponselku ketinggalan di kamar karena aku tadi buru-buru. Maaf kalo aku bikin kamu cemas,” ucap Adrian pelan dengan suara dalamnya. Oh god! Adrian minta maaf. Bahkan pada papanya saja dia tidak minta maaf. “Aku sama sekali gak bermaksud bikin kamu khawatir. Ini emang keteledoran aku aja. Maaf kalo bikin kamu khawatir sampai nangis,” lanjut Adrian yang tadi di kamar sudah melihat semua pesan yang dikirimkan Maya kepadanya. Adrian tidak menyangka wanita yang kerap kali marah padanya itu ternyata memiliki perhatian sangat besar padanya. Maya bahkan sampai menangis saat dia datang, pasti Maya sangat kebingungan karena dia menghilang seharian. Maya tak bisa mengalihkan pandangannya dari Adrian. Pria itu terus menatapnya dengan sangat lembut, yang mampu melumpuhkan benteng ngambek yang dia buat. Ucapan Adrian terdengar sangat hangat, padahal biasanya pria itu kerap kali membantah dan membuatnya kesal. Maya mengedipkan matanya beberapa kali. Dia menyadarkan dirinya agar tidak terpesona pada adegan receh Adrian yang sering dia lihat di drama. Maya mendorong d**a Adrian. “Minggir sana. Bau tau!” “Bau? Aku udah mandi loh, May. Udah wangi aku,” protes Adrian yang tidak terima karena masih dibilang bau. “Bau!” Adrian kembali menarik Maya ke dalam pelukannya. Tapi kali ini satu tangan Adrian menggantung di kepala Maya, membuka ketiaknya. “Tuh, wangi kan? Wangi loh udah,” Adrian menunjukkan aroma tubuhnya pada Maya. Maya yang sempat meleleh lagi pada tindakan Adrian, langsung memukul ketek Adrian yang terbuka yang otomatis bisa membuat dia keluar lagi dari kungkungan Adrian yang kesakitan. “Apaan sih! Jorok tau!” sembur Maya. “Apaan sih! Sakit tau!” protes Adrian sambil memegangi keteknya yang panas, efek kena pukul Maya. “Buruan makan sana. Keburu gak enak ntar.” “Sama kamu! Aku beli buat kita berdua.” “Aku gak makan tengah malam. Gemuk aku ntar.” Maya menolak dengan berbagai cara. “Gak papa. Aku masih suka kok.” Blussh! Maya tercengang dan wajahnya bersemu merah, mendengar ucapan tidak terduga Adrian. Entah mengapa, tenaganya untuk menolak, mendadak menghilang dan dia malah menurut saat Adrian menuntunnya duduk di kursi. Adrian duduk di samping Maya. Tentu saja agar mereka bisa makan satu piring berdua. Meski Maya menyiapkan dua jenis batagor, tapi tetap saja dia ingin makan berdua dengan Maya. “Nih garpunya. Apa perlu aku ambil mangkok lagi?” tanya Adrian takut Maya tidak nyaman jika mereka makan di satu tempat yang sama. “Gak usah, Mas. Aku yakin kamu sehat. Bebas rabies,” sahut Maya asal. “Rabies? Kamu yakin aku gak kena Rabies? Mau cek dulu gak, May?” ucap Adrian kembali menggoda Maya sambil memainkan alisnya. Maya langsung melirik sinis ke Adrian. “Gak usah modus!” Dia menancapkan garpu di tangannya ke d**a Adrian. “Aduh. Sakit, May.” Adrian berpura-pura kesakitan sambil menjatuhkan badannya ke Maya. Maya mendengus. “Jadi makan gak? Kalo gak, aku mau tidur!” tegas Maya. Adrian langsung menegakkan badannya. “Iya jadi!” Maya tersenyum tipis melihat pria absurd di sampingnya. Entah mengapa malam ini Adrian bersikap manis kepadanya. Adrian langsung memakan batagor yang direkomendasikan Beni kepadanya. Dia tadi bingung akan membawa oleh-oleh apa, karena ponselnya tertinggal jadi tidak bisa bertanya pada Maya. “Mas, kamu kok tiba-tiba ke Bandung sih? Kenapa gak bilang aku?” tanya Maya ingin tahu. “Dadakan. Sebenernya kemaren cuma mau bikin proposal aja. Gak taunya semalan dikasih kabar suruh ikut,” jawab Adrian. Adrian menoleh ke Maya. “Sorry gak pamit. Aku beberan panik tadi pagi. Tau sendiri aku kesiangan,” lanjut Adrian. “Bikin repot aja kamu emang. Mana hp sampe ketinggalan juga lagi,” gerutu Maya. “Kalo gak gitu kamu gak kangen aku dong.” Adrian menyenggol pundak Maya. “Iya kan???” goda Adrian lagi. “Dih, siapa yang kangen. Malesin!” Adrian mencebikkan bibirnya. “Mas, kamu di mana? Kenapa kamu gak ada kabar? Ken—“ “Diem! Bisa diem gak!” Maya membungkam mulut Adrian dengan tangannya saat Adrian mengucapkan semua pesannya yang pasti udah dibaca oleh pria itu. Adrian tertawa. Maya sangat lucu kalau sedang malu. Maya menunduk lebih dalam. Malu sekali rasanya saat Adrian mengetahui perasaan kalutnya hari ini. “Trus kamu ke Bandung sama siapa?” tanya Maya mengalihkan pembahasan mereka. “Sama Pak Be—“ Adrian menghentikan ucapannya sejenak. “Sama Pak Herman,” lanjut Adrian yang asal menyebut nama pimpinan proyek di Bandung. Maya menoleh ke Adrian. “Pak Herman? Pak Herman siapa sih, Mas? Kok kayak gak pernah denger aku nama itu.” Adrian menyodorkan batagor di garpunya ke mulut Maya. “Ya gak akan tau. Kan kamu bukan orang lapangan.” “Kok kamu bisa ngurusin lapangan? Emang kenapa kamu sekarang ngurusin proyek, Mas? Kamu mau pindah divisi?” “Enggak. Kebetulan aja kok. Aku diminta sama orang yang bantu aku di kantor buat bikin proposal aja.” Maya kembali menatap Adrian. “Emang siapa sih Mas orang yang kamu kenal di perusahaan itu? Penasaran aku.” Adrian menoleh ke Maya. “Ntar aja. Kalo dia ketauan ada di belakang aku, ntar malah jadi masalah.” “Tapi aku penasaran.” Adrian menatap nakal ke Maya. “Penasaran? Kalo aku kasih tau, kamu mau kasih aku apa?” tanya Adrian dengan senyum menggoda. Bibir Maya otomatis langsung cemberut. “Kebiasaan,” dengusnya kesal. Adrian terkekeh. “Makanya gak usah nanya. Ntar aja, kalo udah saatnya pasti tau sendiri.” Maya hanya tersenyum tipis. Dia mencoba percaya saja pada pria di depannya ini. Adrian berjalan ke lemari es. Dia mengambil botol air minum dan dua gelas di dapur. Adrian menuangkan minuman itu ke dalam gelas. “Oh ya, gimana ama SP kamu? Batalkan?” tanya Adrian ingin tahu. Maya mengangguk. “Iya, Mas. Udah dibatalkan. Untung aja dibatalin, kalo gak ... pasti aku masih drop.” Adrian meletakkan gelasnya lagi setelah dia minum isinya. “Emang ngaco itu. Kan aku udah bilang kalo itu salah.” “Iya. Untungnya ada Pak Gavin yang bantuin bujuk Pak Bambang. Jadinya ak—“ “Siapa? Siapa yang bantuin?” potong Adrian yang mendadak telinganya gatal saat Maya menyebut nama Gavin. “Pak Gavin.” Mimik wajah Adrian berubah drastis. “Gavin? Kok Gavin sih?!” Tentu saja Adrian tidak terima karena usahanya malah dimanfaatkan oleh Gavin buat menarik simpati Maya. “Iya. Kata Pak Gavin dia bujuk Pak Bambang biar SP-ku dicabut.” “b******k! Bisa-bisanya dia ngaku itu karena dia!” umpat Adrian tidak terima. Maya kaget melihat Adrian marah lagi. “Loh, emang kenapa, Mas? Bagus kan kalo Pak Gav—“ “Bukan Gavin yang bantu kamu. Bohong dia!” tegas Adrian kesal karena Maya masih saya memuja kebaikan palsu Gavin. “Bohong? Trus ... kalo bukan Pak Gavin, siapa dong?”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD