Bab 20. Membuatnya Diam!

1267 Words
Maya menatap Adrian penuh penantian. Dia ingin tahu siapa yang membantunya, kalau Adrian mengatakan orang itu bukan Gavin. Adrian tak berani menatap mata Maya. Dia terlihat sangat kikuk, bingung mencari jawaban yang tepat untuk pertanyaan Maya. “Mas, siapa? Siapa yang bantu aku?” tanya Maya lagi. “Kamu kah?” tebak Maya. Adrian menoleh ke Maya. “Iya,” jawabnya ragu. “Kok bisa? Gimana caranya? Apa kamu ngadu ke temen kamu itu ya?” Adrian segera mengangguk. “He em. Aku ngadu ke dia. Lagian yang salah kan aku, bukan kamu.” “Eh Mas.” Maya menggeser posisinya dan menyentuh lengan Adrian. “Katanya ada yanh dipecat karena kejadian kemaren. Itu bukan kamu kan, Mas?” tanya Maya penuh khawatir. “Bukanlah. Mana ada yang bisa pecat aku. Berani pecat, bakalan aku obrak-abrik perusahaan itu.” Maya mencebikkan bibirnya lagi. “Hmm ... mulai deh, kumat. Emang kamu siapa busa obrak-obrik perusahaan sebesar itu, Mas?” Maya memilih melanjutkan makannya saja dari pada mendengar ucapan tinggi Adrian. “Kamu gak percaya? Ntar deh, gak lama lagi aku bakalan obrak-abrik semuanya.” Maya mengangguk sambil menyuapi Adrian batagor agar mulutnya diam, tidak membual lagi. “Iya deh iya. Aku percaya. Tapi jangan aku ya.” “Kalo kamu di obrak-abrik yang lain aja.” “Aduh! Aduh May ... sakit, May,” keluh Adrian tiba-tiba saat tangan Maya tiba-tiba sudah menjambak rambutnya. “Makanya jangan ngomong sembarangan!” tegas Maya memberikan peringatan. Adrian mengusap kepalanya yang sedikit nyeri setelah dijambak Maya. “Ish! Kamu nih ya. Jadi cewek tuh yang lembut gitu loh. Galak banget. Pantes gak ada yang mau sama kamu,” gerutu Adrian sambil terus mengusap kepalanya yang sedikit panas. Maya menoleh ke Adrian. “Menurutmu gimana? Kamu bakalan suka gak?” pancing Maya tidak mau kalah.” Adrian menatap Maya. Wanita di depannya itu tidak terlalu jelek jika diperhatikan lebih dalam. Bahkan wajah polos Maya tanpa make up, terlihat sangat alami. Kecantikan alami tanpa kepalsuan, seperti kebanyakan wanita yang dulu sering mendekatinya. Adrian terus menatap Maya, bahkan dia sampai menopang kepalanya dengan tangan. Menikmati wajah cantik Maya yang tersembunyi. Melihat aksi Adrian, tentu saja Maya langsung salah tingkah. Dia bingung harus berbuat apa karena keadaan malah jadi lebih canggung. Maya menutup mata Adrian dengan tangannya. “Apaan sih liatin terus! Kurang kerjaan banget!” protes Maya. “Katanya suruh liatin kamu biar suka ama kamu.” “Gak usah! Gak perlu!” Adrian menyingkirkan tangan Maya dari matanya. “Tapi aku suka kok.” Maya makin salah tingkah. Dia segera berdiri dan mengambil dua mangkok yang isinya telah tandas. “Bodo ah! Aku abis ini mau tidur,” ucap Maya sambil kabur dari hadapan Adrian. “Tidur? Tidur bareng?” “Mas!” pekik Maya kesal sambil melempar laser matanya ke Adrian. Adrian hanya tertawa, lalu segera melangkah ke kamarnya. “Aku tidur duluan ya. Ngantuk banget, capek. Makasih udah temenin aku makan.” Adrian yang sudah lelah karena baru saja datang dari luar kota, segera masuk ke dalam kamarnya. Dia ingin istirahat karena besok pagi dia juga harus bekerja lagi. Maya masih di dapur. Dadanya masih berdegup tidak biasa, saat dia menghadapi Adrian malam ini. Entah ketempelan setan dari mana, tiba-tiba saja Adrian menjadi sangat manis kepadanya. Maya sampai tersenyum sendiri menahan malu. Dia jadi ingat bagaimana mantan pacarnya dulu juga memperlakukannya dengan manis. ** Maya dan Adrian masuk ke ruang kerja mereka bersama. Adrian melihat Gavin masuk ke dalam ruang kerjanya dengan tatapan kesal. Dia ingin sekali membuat perhitungan dengan pria yang dengan seenaknya mengklaim kalo dirinya adalah orang yang menolong Maya. “Hei, ke mana aja kemaren kok gak masuk? Maya galau tuh kamu gak masuk,” tanya Silvi saat dia melihat Adrian datang. “Apaan sih, Sil. Mana ada aku galau ya,” bantah Maya, tidak ingin Adrian besar kepala lagi. “Dinas luar. Lupa kemaren gak bilang dia. Tapi udah beres kok galaunya. Udah disembuhin semalam,” jawab Adrian sambil tersenyum pada Maya. Maya kaget dengan pernyataan mengejutkan Adrian yang membuatnya melotot. “Eh, kalian pacaran?” “Gak! Mana ada aku pacaran ama dia. Gak usah didengerin omongannya!” Maya mengancam Adrian lagi dengan bibirnya, yang hanya mendapat balasan tawa dari si pria tampan. Adrian dan Maya duduk di tempat mereka masing-masing. Mereka mulai menyiapkan barang mereka, sambil berbincang santai dengan teman-teman satu meja mereka. “Adrian,” panggil Gavin yang mendatangi meja kerja Adrian. Wajah ful senyum Adrian mendadak menghilang saat dia melihat ada pria menyebalkan berdiri di samping Maya. Tatapannya jadi lebih serius dan aura arogannya langsung menguasainya. Gavin menatap Adrian. Bawahannya satu ini auranya memang terasa sangat berbeda. Sejak Adrian datang, pria itu seperti orang kebal hukum. Tidak takut apa pun, tapi menurut kabar yang dia dengar, pekerjaan Adrian selalu bagus. “Dari mana kamu? Kenapa kemaren gak masuk?” tanya Adrian. “Tugas luar,” jawab Adrian santai. “Tugas luar? Kenapa gak bilang saya?” “Maaf, kemaren semuanya dadakan, Pak. Jadi saya gak sempet ijin.” “Harusnya tetep hubungi saya! Kalo kamu pergi tanpa ijin, sama aja kamu bolos kerja!” “Terserah. Yang pasti kemarin saya kerja. Kalo mau bukti, Pak Gavin boleh hubungi Pak Evan.” Adrian asal menyebutkan nama salah satu direktur yang tadi sempat dia lihat namanya di list pegawai “Pak Evan?” suara Gavin sedikit bergetar. Gavin sangat tahu kalau Evan adalah salah satu direktur paling galak di perusahaan ini. Orang yang dihindari banyak orang, karena sikap cerewetnya. “Apa yang bawa dia Pak Evan?” tanya Gavin dalam hati. Adrian melihat perubahan mimik wajah Gavin. Dia yakin kalau Gavin pasti mengira kalau dia titipan Evan. “Kenapa, Pak? Apa saya perlu telpon Pak Evan sekarang?” tanya Adrian dengan senyum kemenangan melawan manajer sok berkuasa itu. “Gak, gak usah!” Gavin ganti melihat Maya. “May, kamu udah siap buat rapat pagi ini?” tanya Gavin yang tidak ingin berurusan lagi dengan Adrian. “Sudah, Pak. Tapi kayaknya nanti butuh satu notulen lagi, Pak. Soalnya kan ad—“ “Aku ikut!” sahut Adrian tiba-tiba. Maya melihat ke Adrian. “Kamu luang, Mas? Ada rapat direksi abis ini.” “Luang kok. Luang banget.” Maya melihat ke Gavin. “Saya akan ajak Mas Adrian, Pak.” Gavin melihat ke Adrian sebentar. “Ya udah. Semoga dia gak menghancurkan rapat dengan sifat sok taunya!” gerutu Gavin yang kemudian segera pergi ke ruangannya, bersiap untuk rapat. Adrian kembali tersenyum setelah dia berhasil memukul diam Gavin. Sepertinya pukulan ini akan membuat Gavin berpikir ulang untuk membuat masalah dengannya. Ruang rapat utama di lantai 10 terasa sangat dingin, sedingin suasana hati Maya yang sejak tadi duduk gelisah di kursi notulen. Dia berusaha fokus mengikuti rapat, untuk bahan laporannya nanti. Adrian duduk di samping Maya, sibuk mendengarkan rapat. Dia mengawasi satu persatu direksi rapat dan semua bahan presentasi laporan mereka. Di ujung meja panjang, Surya Aditama duduk dengan wibawa yang mengintimidasi. Sesekali Surya melihat ke arah putranya yang tidak dia sangka akan datang ke rapat penting ini, meski hanya sebagai notulen. ​Gavin berdiri dengan percaya diri di depan layar besar. Dia mengenakan jas terbaiknya. Manajer tampan itu siap memamerkan analisis proyek yang sudah dia susun sejak kemarin. ​“Jadi, menurut analisis pasar yang saya buat, ekspansi ke wilayah timur harus segera dilakukan bulan depan dengan memangkas biaya operasional sebesar 20%. Ini adalah langkah paling efisien,” ucap Gavin sambil tersenyum bangga ke arah Surya. ​Beberapa manajer mengangguk-angguk setuju. Mereka sangat antusias mendengar presentasi Gavin yang memamerkan hasil kerjanya. ​“Analisis sampah!” celetuk Adrian di tengah presentasi Gavin. ​
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD