Bab 10. Sebuah Permintaan

1782 Words
Gavin menatap Maya tajam. “May, saya liat kamu deket sama Adrian. Kamu tau siapa dia?” tanya Gavin pelan dengan nada yang penuh selidik. Maya memundurkan badannya saat atasannya itu mendekat kepadanya. Dia menatap bingung, tidak mengerti dengan maksud Gavin. “Maaf Pak, maksudnya gimana ya?” tanya Maya meminta kejelasan pertanyaan Gavin. Gavin menoleh ke kanan dan ke kiri, memastikan kalau Adrian belum datang. “May, kamu tau kana kalo penampilan Adrian itu agak aneh. Setelannya mahal dan juga gayanya itu, May. Gayanya kayak orang kaya. Dia gak mungkin orang biasa.” Gavin menatap tajam ke Maya. “Kamu kenal dia di mana?” tanya Gavin berharap Maya akan jujur kepadanya. Maya kaget mendengar pertanyaan Gavin yang secara detail menyebutkan apa saja bahan kecurigaannya pada Adrian. Tapi tidak mungkin juga dia akan mengatakan kalau dia dan Adrian tinggal satu rumah. “Emm ... dia orang biasa aja kok, Pak. Menurut saya dia biasa aja,” jawab Maya sambil menghindari tatapan mata Gavin. “Jangan bohong! Adrian itu bukan mental staf admin biasa, May. Dia berani menantang saya seolah dia punya bekingan raksasa. Dia titipan siapa? Anak pemegang saham yang sedang main-main ato anak salah satu direktur di sini? Bilang ... bilang sama saya, dia titipan siapa.” “Gak tau, Pak. Saya gak tau dia titipan siapa. Dari awal saya kenal dia, orangnya emang udah kayak gitu.” Maya terus mengelak. Gavin sedikit memiringkan wajahnya. “Sejak pertama kamu kenal dia? Kapan itu?” “Emm ... dah lama, Pak. Dia dari kampung saya. Iya, dia dari kampung kok.” “Kampung? Kamu yakin dia dari kampung?” Gavin semakin sulit menerima alasan Maya. “May, kamu tau gak ... kemaren setelah dia wawancara sama Pak Bambang, Pak Bambang langsung kena SP1. Gila kan itu? Emang kamu masih percaya kalo dia orang biasa aja?” Maya mengerutkan keningnya. “Pak Bambang kena SP1?” “Iya. Itu tepat setelah beliau wawancara Adrian.” Maya terdiam sesaat. Dia memikirkan apa yang dikatakan oleh Gavin kepadanya. Tapi Maya masih saja sulit menerima kalau Adrian itu titipan orang penting di perusahaan ini. Apa yang dia lihat dari Adrian, tidak ada yang mengarah ke sana, selain penampilannya yang terlihat perlente. “Maaf Pak, bukan saya mau bela Adrian ya ... tapi saya rasa kecurigaan Bapak itu gak beralasan deh. Saya kenal betul siapa Adrian. Dan kalau soal SP1 itu, kayaknya kebetulan aja deh, Pak.” “Kalo dia emang titipan orang penting, gak mungkin juga dia di tempatkan di posisi ini atau bekerja dengan sangat serius. Jadi kayaknya gak mungkin, Pak,” terang Maya membantah tuduhan Gavin. “Kok kamu bisa seyakin itu? Apa kamu punya buktinya?” Maya menunduk sambil meremas tali tasnya. Otaknya berputar cepat, mencoba mematahkan dugaan Gavin. “Bukan begitu, Pak. Aduh ... gimana ya?” Maya ragu menyampaikan apa yang dia ketahui. “Apa, May? Bilang aja gak papa.” Gavin membujuk Maya. Maya melihat ke Gavin. “Sebenarnya Adrian itu ... dia dulu punya usaha sendiri di kampung, Pak. Cukup sukses, tapi setahun lalu bangkrut total.” Gavin mengangkat sebelah alisnya. “Bangkrut?” “Iya, makanya dia masih belum bisa buang sifat 'bos'-nya. Dia masih kaget harus mulai dari bawah lagi. Jadinya ya gitu ... gayanya masih sombong, padahal cicilannya di mana-mana,” bohong Maya lancar, berharap Adrian tidak mendengarnya. “Dia kerabat jauh saya, Pak. Katanya dia kenal salah satu manajer di sini, makanya dia berani,” lanjut Maya menambahkan alasan agar lebih kuat. Gavin mencerna semua keterangan Maya. Tapi dia masih tampak curiga. Mata Gavin menyipit. “Kerabat? Seberapa dekat kamu sam—“ “May.” Belum juga Gavin menyelesaikan ucapannya, sebuah suara berat memotong dari belakang. Adrian berjalan mendekat ke Maya lalu menatap tajam ke arah Gavin. “Sudah selesai wawancaranya?” “Mas, tadi Pak Gav—“ Adrian menarik lengan Maya. “Ayo masuk. Ini jam kerja bukan jam gosip.” Sekali lagi Adrian menatap tajam ke Gavin. “Sebagai atasan harusnya tahu aturan mana jam kerja atau gam buat berbincang. Apa lagi omongannya gak penting, cuma mau ngorek keterangan tentang orang. Itu korupsi waktu namanya!” tegas Adrian. Tanpa berpamitan, Adrian menarik Maya pergi begitu saja, meninggalkan Gavin. Dia tadi tidak sengaja mendengar perbincangan Maya dan Gavin yang sedang mengorek tentang statusnya. Gavin berdiri di tempatnya sambil mengangkat dagunya. Dia yang mengepalkan tangan karena merasa harga dirinya diinjak lagi oleh Adrian. Maya tidak berani menolak. Dia hanya bisa diam dan menuruti ke mana Adrian membawanya. ** Sepulang kantor, Adrian masih sibuk dengan laptop dan pekerjaan yang dia bawa pulang. Pekerjaan hari ini lebih rumit dari biasanya. Adrian harus mulai belajar memeriksa proposal proyek yang masuk ke perusahaan. Maya yang tugasnya sudah selesai sejak di kantor tadi, kini sedang disibukkan dengan memasak di dapur. Adrian malam ini ingin makan capcay, maka dengan berbekal resep dari internet, Maya mengeksekusi bahan makanan di dapur menjadi makanan pesanan Adrian. Sambil memasak, Maya mencuri pandang ke Adrian yang tampak sangat serius bekerja. Sesekali pria tampan di rumahnya itu terlihat frustrasi, sambil menyugar rambutnya sendiri. “Dia ini apa bener anak orang kaya ya? Tapi dia di rumah biasa aja loh. Tapi kenapa perannya kalo di luar tuh beda banget ama di rumah ya?” gumam Maya pelan sambil terus melihat ke Adrian. Adrian tiba-tiba menoleh, tentu saja hal ini langsung membuat Maya kaget dan memalingkan wajahnya secepatnya. “Ngapain liat-liat?” tanya Adrian ketus. “Gak kok. Siapa juga yang liatin,” elak Maya. Adrian menutup berkasnya. Dia kemudian merenggangkan badannya yang tegang karena terlalu banyak bekerja. “Apa kamu masih terpengaruh ama pertanyaan Pak Gavin tadi?” tebak Adrian sambil berjalan ke ruang TV, agar dia bisa berbaring santai. “Pak Gavin? Enggak kok. Lagian Pak Gavin gak ngomong apa-apa kok.” Maya berbohong lagi. Adrian tidak menjawab. Dia sedang tidak berminat untuk berdebat dengan Maya. Maya melihat Adrian sudah santai di depan TV. Dia mulai menyiapkan masakannya, agar mereka bisa segera makan malam. “Mas, besok bisa gak penampilan kamu diubah sedikit. Orang-orang kantor banyak yang nanyain loh. Pak Gavin bahkan nanya macam-macam tadi ke aku,” pinta Maya serius yang akhirnya menceritakan tentang keadaan kantor setelah Adrian datang. “Gak mau. Ini gayaku kok. Ke kantor harus rapi,” jawab Adrian sambil menyimak berita berbahasa inggris di TV. “Ya paling gak jangan kelihatan kayak mau rapat direksi gitu lah, mas. Gaya Mas lebih nakutin dari Pak Gavin tau!” “Turunin poninya atau pakai kemeja yang lebih biasa. Kamu itu admin, bukan CEO!” imbuh Maya. “Ya emang kenapa sih, sirik amat ama penampilan orang.” Adrian menoleh ke Maya. “Lagian kalo gak suka, ya gak usah diliat. Ribet amat sih!” “Ato emang sebenernya Pak Gavin takut kesaingan ama aku ya?” lanjut Adrian. “Ih bukan gitu? Tapi kan di—“ “Apa? Kamu bakalan oleng ke aku kalo aku rapi terus? Iya?” ledek Adrian. Bibir Maya langsung maju secara otomatis. “Dih! Malesin banget! Ayo makan!” Maya langsung memasang wajah kesal. Dia menyajikan makanan di meja makan, agar mereka bisa segera makan. Adrian terkikik melihat Maya cemberut. Membuat Maya kesal sudah merupakan hiburan tersendiri bagi Adrian. Hiburan murah yang mampu membuatnya tertawa, di tengah penatnya pekerjaan. ** “Mas, ayo buruan! Ntar telat loh,” panggil Maya sambil mengelap sepatunya. “Bentar,” jawab Adrian dari dalam kamar. Adrian menatap bayangan dirinya di cermin. Dia tampak kesal dengan penampilannya sendiri. “Ish! Ini gimana sih?! Nyebelin banget!” geram Adrian yang pagi-pagi sudah emosi. “Bodo ah! Gimana pun juga, aku jauh lebih ganteng dari Gavin, si manajer julid itu!” Adrian segera menyambar tasnya. Dia siap berangkat ke kantor, siap mendapat berkas baru yang pastinya akan makin membuat kepalanya berdenyut. Adrian berjalan di lemari sepatu. Dia mengambil sepatunya dan memakainyan. “Mas, hari ini kit—“ ucapan Maya terhenti saat dia melihat Adrian yang sedang memakai sepatu di depannya Ada sesuatu yabg berbeda dari pria tampan itu. Perubahan yang membuat bibir Maya tidak bisa untuk tidak tersenyum. Rambut Adrian yang biasanya tersisir rapi ke belakang dengan pomade mahal, kini dibiarkan jatuh menutupi keningnya. Kesan “Tuan Muda Angkuh” itu sedikit memudar, berganti menjadi image pria tampan yang akan jadi incaran para wanita di kantor. Adrian melihat ke Maya yang melihatnya sambil tersenyum. Adrian hanya tersenyum tipis lalu dia berdiri tepat dia depan Maya. Gimana? Puas?” tanya Adrian dengan nada ketus, tapi telinganya sedikit memerah. Maya tersenyum lebih lebar, jempolnya terangkat. Wah ... Mas Adrian kalau begini malah kelihatan lebih muda. Cakep banget! Nah, gini dong, biar nggak mencolok banget.” “Cakep?” tanya Adrian sambil mengangkat kedua alisnya. “He em.” Maya mengangguk pasti. “Bikin kamu suka dong ama aku?” Senyum Maya mendadak hilang. “Mulai! Udah ah, ayo jalan. Keburu telat ntar!” Entah setan mana yang merasuki Adrian pagi ini. Tangan pria tampan itu tiba-tiba saja mencomot bibir manyun Maya yang membuat si pemilik bibir kaget. “Ni bibir kalo di suruh manyun, cepet banget deh. Gemes tau gak!” ucap Adrian gemas. “Ayo buruan,” ajak Adrian yang segera membuka pintu apartemen lebih dulu. Maya masih berdiri di tempatnya. Matanya menatap punggung Adrian dan tangannya memegangi bibirnya yang tadi dipegang oleh Adrian. Bukan karena kesakitan, tapi karena dadanya berdetak tidak stabil setelah Adrian memegang bibirnya. Maya memegang dadanya yang berdegup kencang. “Ih apa ini ya?” gumam Maya sendirian. “May,” panggil Adrian yang sudah ada di koridor apartemen. “Iya. Bentar, Mas,” pekik Maya. “Ah bodo lah!” Maya mengabaikan perasaan aneh itu dan segera menyusul Adrian. Dia tidak mau pria itu akan semakin mengomel kalau mereka terlambat. Selama dalam perjalanan ke kantor, sesekali Maya melirik ke Adrian yang ada di sampingnya. Pria itu terlihat biasa saja, tidak seperti dirinya yang masih deg-degan. “Ih May, kamu apaan sih pake deg-degan liat orang ini. Udahlah. Dilarang baper!” perintah Maya pada dirinya sendiri di dalam hati. Setibanya di kantor, Adrian kembali mengajak Maya pergi ke coffee shop kantor. Adrian memesankan kopi kesukaan Maya dan tentu saja satu kopi hitam untuknya. Maya mendekat ke Adrian. “Mas, ada apple pai. Titip sekalian dong, ntar aku ganti,” pinta Maya agar tidak mengantre lagi. Adrian langsung meminta apple pai pada pelayan. Adrian langsung memberikan kopi milik Maya pada pemiliknya. “Mau pesen apa, Bu?” sapa pelayan coffee shop. “Mau ... Adrian pengen apa ya pagi ini,” ucap wanita yang berdiri di sebelah Maya. Mendengar nama Adrian disebut, otomatis Adrian dan Maya menoleh ke pembeli yang baru datang itu. Mata Adrian membulat lebar, melihat siapa yang datang. “Mampus gue!” gerutu Adrian dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD