“Mampus gue! Ngapain dia di sini?!” ucap Adrian dalam hati bercampur panik.
Adrian mematung melihat wanita yang berdiri di samping Maya. Valerie ada di depannya, hanya terhalang beberapa jengkal.
Valerie, wanita yang akan dijodohkan dengannya seperti kebiasaan orang kaya, perjodohan bisnis, tiba-tiba muncul di kantor. Padahal papanya sudah mengabarkan kalau Adrian sedang diungsikan ke Amerika, demi menutupi drama pengusirannya.
Valerie yang baru saja memesan minumannya, menoleh ke arah Adrian. Dengan sigap, Adrian langsung menunduk dan memalingkan wajahnya agar tidak diketahui wanita glamor itu.
“Adrian,” ucap Valerie pelan, tidak yakin dengan apa yang dia lihat.
“Mas, ayo kit ... aduuh!!” pekik Maya di akhir kalimatnya karena tiba-tiba saja dia didorong dari belakang sampai jatuh di badan Valerie.
“Aaack!!” Valerie juga ikut memekik karena ketumpahan es americano milik Maya.
Kepanikan terjadi. Dua teriakan itu langsung menghebohkan coffee shop yang sedang ramai.
Para pegawai coffee shop langsung berdatangan untuk membantu Valerie dan Maya yang masih berada di depan meja pemesanan.
Tentu saja situasi yang sengaja di buat oleh Adrian itu hanya untuk menyelamatkannya. Begitu kehebohan terjadi, Adrian langsung pergi diam-diam dari coffee shop meninggalkan dua wanita itu.
“Bu, Ibu gak papa?” tanya seorang pelayan wanita yang membantu membersihkan baju mahal Valerie.
“Matamu gak bisa liat apa, hah?! Bajuku kotor semua!” pekik Valerie kesal.
Maya yang tadi menumpahkan kopinya ke Valerie hanya bisa terdiam membeku di depan wanita kelas atas itu. Dia tidak menyangka kalau pagi ini dia akan mendapat masalah yang dia bahkan tidak tahu bagaimana hal ini bisa terjadi.
Tangannya masih memegang gas kopinya yang tinggal setengah lagi. Dia terus melihat ke Valerie tanpa bisa berbuat apa-apa.
Valerie melihat Maya dengan tatapan penuh dengan laser kemarahan.
“Heh! Kamu punya mata nggak sih?! Jalan gak liat-liat!” sembur Valerie pada Maya.
“Ma-maaf, Bu. Say-saya beneran gak sengaja. Tadi ... tadi ad—“
“Gak sengaja? Enak aja kamu bilang gak sengaja ya! Kamu tahu gak ini baju harganya berapa? Kamu bisa beli motor dengan harga baju ini!” Valerie membentak Maya habis-habisan di depan semua orang.
Maya yang masih syok hanya bisa melihat baju Valerie yang menjadi hitam terkena kopinya. Dia juga yakin kalau harga baju itu mungkin bahkan akan menghabiskan gajinya beberapa bulan.
“Ma-maaf, Bu. Tadi saya ... saya didorong sam—“ Maya tercengang saat dia menoleh, Adrian sudah tidak ada.
“Didorong siapa?! Gak usah cari alasan!” Valerie meradang semakin meradang.
Maya mengedarkan pandangannya ke sekitar coffee shop. Dia benar-benar menyadari kalau Adrian sudah pergi meninggalkannya sendiri.
Pria yang membuatnya celaka itu telah pergi entah ke mana.
“b******k! Adrian sialaaaan!!!” pekik Maya dalam hati.
“Heh! Ganti bajuku sekarang juga!” pekik Valerie di sambil mendorong bahu Maya.
“Gan-ganti?” pikiran Maya mendadak kosong saat dia membayangkan seluruh gajinya akan habis hanya untuk mengganti baju wanita kaya di depannya.
“Tap-tapi saya gak salah, Bu. Tadi saya di—“
“Gak usah cari alesan kamu! Jelas-jelas di sini juga liat gimana kamu tuangkan kopi itu ke aku!”
“Ada apa ini?” suara berat Surya Aditama menginterupsi suara nyaring Valerie.
Pria paruh baya itu berdiri di pintu masuk coffee shop bersama Beni. Tentu saja orang yang dari tadi malah asyik menyaksikan perseteruan gratis itu langsung pergi meninggalkan coffee shop, takut kena masalah.
Surya yang baru datang, di kagetkan dengan keramaian di coffee shop. Kebetulan secara tidak sengaja dia melihat putranya keluar dari coffee shop dengan langkah cepat dan bersembunyi di dekat jendela toko kopi itu.
Curiga ini ulah putranya, Surya ingin tahu siapa yang membuat keributan di dalam sana.
Valerie yang melihat kedatangan Surya, seperti mendapat angin segar. Dia langsung mendatangi Surya, bersiap mengadu pada calon mertuanya itu.
“Om Surya, liat staf Om ini! Dia merusak baju Valerie, Om!” adu Valerie dengan manja.
Surya melihat ke arah baju Valerie yang kotor. Dia juga melihat Maya yang masih berdiri dengan ketakutan di depannya.
Beni mendekat ke Surya. “Ini Maya, Pak. Orang yang tinggal sama Pak Adrian,” bisik Beni.
Surya melirik Maya yang wajahnya sudah pucat pasi. Wanita yang menurut laporan yang dia terima tidak pernah terlibat masalah di kantor, sepertinya telah menjadi korban putranya agar bisa kabur.
Nyali Maya kian menciut saat dia melihat pimpinan perusahaan berdiri di depannya. Bayangan dia akan kehilangan pekerjaannya sudah ada di depan matanya.
Maya menunduk. Dia bahkan hampir menangis.
“Om, dia ... dia yang siram Valerie,” ucap Valerie mengadu lagi.
“Bukan saya, Pak. Say—“
“Maya, ngapain kamu masih di sini? Kembali ke ruanganmu. Ini udah jam kerja!” titah Surya memotong ucapan Maya.
“Om! Kok disuruh masuk sih? Harusnya pecat dia sek—“ tuntut Valerie, yang tidak terima atas perlindungan Surya pada wanita yang merusak gaunnya.
“Maya, cepat masuk!” titah Surya sekali lagi, yang membuat Maya langsung pergi meninggalkan coffee shop tanpa bicara lagi.
Maya tidak perlu menanyakan kenapa pimpinan perusahaan ini membelanya. Dia hanya ingin keluar dari tempat itu secepatnya dan membuat perhitungan dengan Adrian.
Valerie mengentakkan kakinya saat dia melihat Maya pergi begitu saja dari hadapannya tanpa mendapatkan hukuman.
Valerie menatap kesal ke Surya. “Om! Kenapa Om gak pe—“
“Nanti kita bicarakan di ruangan saya, Valerie. Beni, tolong antar Valerie ke butik langganan istri saya di depan, ganti bajunya dengan yang baru,” perintah Surya tegas, menutup perdebatan.
Surya langsung pergi dari coffee shop seperti tidak terjadi apa-apa. Dia meninggalkan Valerie bersama Beni, agar wanita itu tidak pergi dari kantornya.
Surya tahu pasti kalau Valerie pasti datang untuk mencari putranya. Wanita yang mengejar Adrian dan memaksa orang tuanya untuk menawarkan pernikahan bisnis dengannya itu, sangat percaya diri kalau Adrian akan menerima perjodohan ini.
Sementara itu Maya kembali ke meja kerjanya dengan tangan gemetar. Di sana, Adrian sedang duduk pura-pura sibuk mengetik, padahal laptopnya bahkan belum menyala.
Maya berjalan mendekat. Matanya mengunci Adrian, yang ingin sekali dia habisi saat ini juga.
GEBRAK!
Maya memukul meja Adrian dengan sisa tenaganya.
Adrian sampai terhentak saat dia melihat suara keras tepat di sampingnya. Bukan hanya Adrian, tapi semua orang juga langsung melihat ke Maya.
Adrian melihat sebentar ke arah Maya. Tapi sedetik kemudian dia langsung berpaling, menghindari tatapan tajam Maya kepadanya.
“Buset! Beneran marah dia kayaknya,” ucap Adrian dalam hati.
Maya menatap Adrian penuh amarah. Cuping hidungnya sampai bergerak-gerak.
“Mas! Kamu bener-bener jahat!” suara Maya bergetar.
Adrian mendongak, akting kaget. "Loh, kenapa? Kok tiba-tiba marah sih. Gak jelas!” Adrian masih berpura-pura tidak bersalah.
“Kenapa? Kamu masih tanya kenapa? Itu kamu kan? Kamu yang dorong aku!” geram Maya yang sudah hampir menangis karena sangat marah.
“Tad- tadi aku tiba-tiba kebelet pipis, May. Aku gak sengaja nyenggol kamu,” jawab Adrian, berharap Maya akan percaya.
“Gak sengaja kamu bilang? Kamu dorong aku, Mas! Jelas-jelas kamu dorong aku!”
“Ya kan aku udah bilang kalo aku gak sengaja. Gak usah sewot lah, namanya juga gak sengaja.” Adrian mulai ikut kesal karena tatapan semua orang kini mengarah kepadanya.
“Kalo gak sengaja kenapa kamu kabur? Kamu sengaja kan? Kamu sengaja bikin aku dalam masalah. Kamu sengaja bikin aku malu dan aku direndahkan sama orang itu di depan semua orang! Puas kamu sekarang, Mas? Puas?!” teriak Maya meluapkan semua emosinya.