Bab 12. Pahlawan Datang

1303 Words
Hati Adrian mencelos saat melihat air mata Maya menetes. Dia tidak menyangka kalau kejadian ini akan membuat Maya sesedih ini. Adrian tidak berani menatap Maya terlalu lama. Semakin dia mendengar isak tangis Maya, hatinya makin terasa perih. Maya sesenggukan di meja kerjanya. Dia bekerja sambil sesekali mengusap air mata dengan tisu yang sudah menumpuk. Pikirannya kacau. Dia tidak bisa konsentrasi kerja. Bayangan akan dipecat sudah memenuhi pikirannya. Maya tidak tahu, dosa apa yang sudah dia lakukan sampai dia harus mengalami kesialan seperti ini. Adrian yang mengira kalau dia akan baik-baik saja setelah menumbalkan Maya, ternyata salah besar. Pemandangan itu membuat hati Adrian terasa diremas. “b******k! Ngapain sih dia selebay itu. Biasa aja sih! Lagian kamu juga gak akan dipecat kok. Aku yang punya perusahaan!” geram Adrian dalam hati, berusaha mengabaikan rasa sakit yang menderanya saat ini. “Lagian cengeng banget sih jadi orang!” Adrian terdiam sejenak lalu memukul pelan meja dengan genggaman tangannya. “Ah sial! Gue emang keterlaluan tadi.” Adrian merasa kesal sekali pada tindakan pengecutnya tadi. Dia tidak menyangka kalau akibatnya seperti ini. Adrian kini sibuk merutuki dirinya sendiri. Ingin rasanya dia minta maaf, tapi apa daya gengsinya masih sangat melarangnya mendekati Maya. “May,” panggil seorang pria dengan nada lembut. Adrian dan Maya refleks menoleh ke sumber suara. Gavin berdiri di samping Maya dengan tatapan yang membuat Adrian ingin meninjunya. “May, katanya kamu abis kena masalah di bawah ya?” tanya Gavin dengan nada penuh perhatian. Maya kembali menunduk. “Iya, Pak,” jawab Maya dengan suara berat. “May, ku dengar orang itu calon mantunya Pak Surya loh.” “Heh! Jangan sembarang ngomong kamu ya! Siapa juga yang mau sama perempuan jelmaan ondel-ondel kayak Valerie!” geram Adrian protes di dalam hatinya sambil melotot ke Gavin. “Menantu?” tanya Maya kaget dengan wajah menyedihkan. Maya terjatuh di atas meja kerjanya. “Mati aku. Pasti aku bakalan dipecat,” keluh Maya yang rasanya ingin menangis keras. Maya teringat pada Adrian yang menjadi penyebab semua kesialannya. Dia mendongakkan kepalanya dan menatap Adrian dengan tatapan tajam. “Kamu. Kamu harus tanggung jawab kalo sampe aku di pecat. Kamu ... kamu yang bikin aku di situasi ini!” geram Maya sambil menipiskan bibirnya dan menggerak-gerakkan bibirnya. Adrian melihat ke Maya. Wanita yang biasanya selalu tampak lucu saat marah itu kini terlihat menakutkan. Sepertinya Maya bisa menelannya hidup-hidup kalau dirinya benar akan dipecat. Adrian menghindari pandangan menakutkan Maya. “Kok, kok aku sih. Kan aku gak sengaja tadi.” Gavin menoleh ke Adrian. “Adrian, apa yang udah kamu lakukan ke Maya?” tanya Gavin ingin tahu. Adrian menoleh ke Gavin. “Apaan sih. Aku gak ngap—“ “Kamu yang dorong aku! Kamu sengaja dorong aku sampe kopi aku tumpah ke mantunya Pak Surya!” potong Maya sambil menunjuk ke Adrian. “Dia bukan mantu Pak Surya, tau! Jangan sebut dia mantunya!” balas Adrian tidak terima Valerie disebut menantu di keluarganya. Adrian terdiam saat dia tersadar dengan ucapannya. Pandangan Maya dan Gavin langsung tertuju ke padanya, seolah sedang menunggu penjelasan lebih lanjut. Pandangan Adrian berpindah dari mata Maya ke mata Gavin. Belum lagi pandangan teman satu meja kerja mereka juga sedang menunggu kalimat selanjutnya yang akan keluar dari mulut Adrian. “Apa maksud kamu, Adrian. Apa kamu kenal sama mantu Pak Surya?” tanya Gavin. “b******k! Ni orang tetep aja bilang Valerie mantu. Gak akan! Perempuan jadi-jadian itu gak akan jadi istriku, apa pun alasannya!” gerutu geram Adrian dalam hati. “Em ... itu, Pak. Saya waktu itu sempat kenal sama orang itu. Dia itu ad—“ “Eh bentar! Adrian, kamu bukan mantan kelinci peliharaan calon mantunya pak bos kan, Dri?” celetuk teman kerja Adrian yang duduk di samping Maya. “Heh! Jangan kurang ajar ya ngomongnya! Lagian seleraku gak serendah dia!” Adrian makin kesal karena dianggap sebagai simpanan Valerie. “Santai aja, Bro. Kalo dia bukan seleramu, trus yang seleramu yang mana?” canda teman di samping Adrian sambil menepuk pundak Adrian. “Tau nih Adrian. Lagian tu orang bisa kasih semua kebutuhan kamu tanpa perlu kerja kayak gini kok,” sahut yang lain sambil terkekeh, yang menganggap Adrian pernah kerja sebagai penghibur wanita kaya kesepian. “Kalian ya ... awas aja kalo ntar ak—“ “Udah-udah!” tegur Gavin tegas, agar pembicaraan itu tidak merembet ke mana-mana. “Adrian Maya, masuk ke ruangan saya!” perintah Gavin agar masalah ini tidak menjadi konsumsi orang yang tidak berkepentingan. Gavin berjalan lebih dulu menuju ke ruang kerjanya. Dia ingin menyelesaikan masalah yang terjadi pada timnya. Maya melihat sinis ke arah Adrian. Tanpa ada tatapan ramah lagi, Maya segera berbalik dan berjalan ke arah ruangan Gavin. Tak ingin membuat masalah lagi dan membuat keadaan Maya semakin sulit, Adrian pun akhirnya mengikuti langkah Maya. Beberapa teman kerja mereka saling berkomentar tentang kejadian menghebohkan pagi ini. Adrian dan Maya berdiri di depan meja kerja Maya. Suasana menjadi sangat dingin dan terasa sangat canggung. Gavin melihat ke arah Maya dan Adrian secara bergantian. Pandangannya akhirnya berakhir di Adrian. “Adrian, kamu tau gak kalo candaan kami tadi itu sangat merugikan Maya. Kamu sebagai pegawai baru di sini, malah bikin senior kamu kariernya tergantung tidak jelas!” ucap Gavin sok tegas. “Santai aja kenapa sih. Gak akan ada apa-apa sama Maya,” jawab Adrian santai karena dia akan melindungi Maya. Brak! “Adrian! Kamu ini beneran sombong banget ya. Kamu sadar diri lah kalo kamu udah gak berkuasa lagi kayak dulu! Lagian tau apa kamu tentang perusahaan ini, hah!” Gavin kesal pada kesombongan Adrian yang melebihi batas. Adrian menatap tajam ke arah Gavin. “Ya emang gitu kok. Saya bisa jamin kalo Maya tidak akan pernah masalah!” tegas Adrian tidak ingin kalah. “Mas, udah lah! Kalo kamu emang seyakin itu, kamu harusnya gak di sini! Buktiin kalo emang omongan kamu bener!” Maya akhirnya bersuara dan menuntut atas ucapan Adrian. Gavin menertawakan Adrian. Dia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi sambil menyeringai. “Denger itu. Kalo kamu emang seyakin itu kalo Maya gak akan kena masalah, harusnya kamu bisa buktikan.” “Asal kamu tau ya, tadi saya gak sengaja dengar, katanya Pak Beni sudah memerintahkan Pak Bambang buat kasih Maya surat peringatan!” sambung Gavin sambil menaikkan kedua alisnya. Deg! Pukulan kedua datang ke d**a Maya. Maya menatap nanar ke Gavin. “Pak,” panggil Maya lemas. Gavin melihat ke Maya. “Tenang aja, May. Saya udah melobi Pak Bambang agar menyelidiki lagi tentang kasus ini. Dan saya rasa, kini saya bisa melapor ke Pak Bambang, siapa dalang di balik kejadian ini.” Gavin menatap Adrian sambil menyeringai, siap menjatuhkan pria itu ke dasar bumi. Adrian, sang pemilik perusahaan, sama sekali tidak takut mendengar ancaman receh Gavin kepadanya. Dia malah menaikkan dagunya, menantang Gavin, siapa yang lebih didengar ucapannya di tempat ini. Maya menatap Adrian. Perasaan di dalam hatinya tidak bisa dia baca dengan baik. Ada rasa lega karena ada yang membelanya, tapi entah mengapa ada perasaan sakit dan kasihan, jika Adrian harus kehilangan pekerjaan. Meski Adrian kerap kali membuatnya kesal, tapi hidup bersama Adrian ternyata membuatnya nyaman. Hampir 3 minggu Maya dan Adrian tinggal bersama. Meski Adrian masih kerap protes dan membantahnya, tapi pria tampan itu ternyata memiliki kepedulian kepadanya. Adrian banyak membantu Maya saat sia kesulitan mengerjakan lemburnya. Ide dari Adrian selalu dapat pujian dari Gavin. Terdengar suara ketukan dari luar. Seorang pegawai masuk ke dalam ruang kerja Gavin setelah dipersilakan. “Maaf Pak Gavin, ini ada titipan dari Pak Bambang,” ucap pria itu sambil mengulurkan sebuah surat yang dia bawa. Mata Maya dan Adrian melihat ke arah surat itu. Maya langsung melihat ke arah Adrian dan mendadak kakinya terasa lemas. Kening Adrian mendadak mengerut, karena ada surat dari ruang HRD. “Papa. Apa bener papa lakuin ini?” gumam Adrian dalam hati.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD